Saya masih memendam keinginan bahwa suatu saat saya akan ke Amerika. Sebenarnya saat mengambil program master di tahun 2005, saya ada kesempatan untuk kesana. Beasiswa yang saya dapat saat itu, Ford Foundation, memungkinkan saya untuk ke Amerika. Apalagi, lembaga pemberi beasiswanya juga berasal dari amerika.
Namun saat itu saya memutuskan untuk ke Inggris, apalagi UK memang tujuan belajar saya sejak lama. Masih teringat soal harapan melihat gedung-gedung tua dan juga melihat sisa kejayaan negeri penjajah ini. Selain itu, pilihan ke UK juga karena pilihan pragmatis. Apalagi sejak beberapa cerita dari angkatan sebelumnya dan juga berita di Koran yang menyatakan bahwa (saat itu) bepergian ke amerika makin dipersulit. Isu terorisme dan keamanan nasional menjadi dasar dari pelaksanaan kebijakan ini.
Masih saya ingat, seorang kawan yang harus memasukkan aplikasi visa sampai dua kali. Saat itu, kami berkesimpulan bahwa pilihan ke amerika bukanlah pilihan yang baik, apalagi jika nama da nasal kita makin merujuk pada kedekatan dengan tokoh teroris.
Nah, kejadian ini terulang kembali. Ceritanya begini.
Sejak awal tahun, saya sudah mempersiapkan paper untuk conference di Amerika. Informasi mengenai conference ini sudah lama saya ketahui dari pembimbing, dan dia juga yang meminta saya memasukkan paper ke konferensi ini. Konfrensi ini diadakan di Atlanta, pada akhir Agustus. Sejak awal tahun paper sudah saya siapkan, dan kemudian dikirim ke panitia konferensi. Sekitar awal April, saya mendapat konfirmasi bahwa paper saya diterima dan bisa dipresentasikan pada konferensi kali ini.
Senang tentu saja. Apalagi, konferensi ini sangat penting mengingat topik bahasan tesis saya banyak yang berhubungan dengan tema besar konferensi kali ini. Dalam daftar pembicara dan juga training pre-konfrensi (yang dikhususkan untuk mahasiswa PhD), saya menemukan beberapa nama yang selama ini artikelnya saya kutip dan saya baca. Intinya, konferensi kali ini adalah kesempatan yang sangat baik bagi saya. Alasan kedua, tentu saja karena konferensi ini diadakan di Amerika, maka ini kesempatan berharga memenuhi salah satu keinginan dalam bucket list saya.
Maka saya pun mempersiapkan diri mengurus visa dan segala urusan adminstrasi. Saya pun kemudian mengunduh, mempelajari dan mengisi form untuk aplikasi visa. Di saat yang sama, saya juga mempersiapkan urusan administrasi di kampus. Saya memang mengajukan aplikasi conference grant dari kampus, sebab untuk membiayai sendiri perjalanan ke sana, rasanya mustahil. Urusan adminsitrasi ini juga berkaitan dengan supporting documents dari kampus untuk pengurusan visa. Tak ketinggalam saya pun mengajukan surat permohonan bantuan biaya kepada organisasi mahasiswa pascasarjana yang ada di kampus. Alhamdulillah, aplikasi saya diterima dan bantuan sebesar $700 pun telah ditransfer ke rekening saya.
Setelah form saya submit via system visa konsulat amerika, saya pun mendapatkan jadwal wawancara visa, yaitu 22 April 2013. Hari itu saya kemudian diwawancara. Tak lama sebenarnya, dan Cuma beberapa hal yang ditanyakan saat itu. Soal tujuan, apa yang akan saya lakukan dan mengapa saya menggunakan paspor dinas (biru) dan bukannya paspor regular (hijau). Semua pertanyaan saya jawab, dan semua dokumen pendukung yang diminta juga sudah saya lampirkan dalam aplikasi. Intinya, saya sangat yakin tidak ada masalah berarti dalam pengurusan visa ini. Apalagi, (ini asumsi saya) aplikasi visa saya ajukan dari Australia.
Ternyata, petugas di sana memberikan form biru, dan menjelaskan bahawa aplikasi saya sudah lengkap, tak dibutuhkan lagi dokumen tambahan, namun masih diperlukan tambahan proses administrasi dan screening.
Sejak wawancara itu, hamper setiap hari saya cek aplikasi saya melalui system check online. Saya pun membaca informasi bahwa kondisi seperti ini memang bisa terjadi. Menurut website resmi kedutaan Amerika di Canberra, proses administrasi (administrative processing) ini bisa sampai 60 hari. Beberapa hari yang lalu saya cek, tenggat waktu diperpanjang lagi hingga 90 hari. Namun saya masih tetap yakin saja. Apalagi, saya juga mengajukan aplikasi, paling tidak, jauh hari dari hari keberangkatan yang saya rencanakan.
Ringkas cerita, hingga H-10, informasi mengenai aplikasi visa saya masih tetap sama sejak hari pertama saya mengajukan aplikasi. Masih administrative processing. Tak hanya 60 hari, tapi telah lebih 90 hari terlewati sejak saya wawancara. Jika mengacu pada informasi resmi yang ada, maka seharusnya keputusan soal visa saya ini sudah keluar sejak lama. Apalagi, saya harus mengurus tiket pesawat dan akomodasi, yang tentu saja selain harga yang sudah tidak sama, juga makin sulit didapatkan.
Upaya untuk mengetahui kondisi aplikasi visa saya telah saya lakuka, baik itu telpon langsung ke kantor konsuler atau via email. Jawaban mereka tetap sama, aplikasi saya masih di proses dan saya diminta bersabar.
Nah, H-1, aplikasi visa saya masih tetap sama, masih dalam proses administrasi. Saat itulah saya meyakinkan diri bahwa tidak mungkin lagi saya ke amerika untuk menghadiri konferensi ini. Satu keinginan batal lagi terwujud. Padahal masalah finansial sudah teratasi, apalagi ada bonus grant juga dari organisasi mahasiswa.
Bersama kawan, saya kemudian menganalisis mengapa hal ini bisa terjadi. Dan akhirnya, kami tiba pada beberapa hal yang tentu saja sangat tidak mungkin untuk diklarifikasi kebenarannya. Tapi namanya juga analisis tidak mendalam..
Pertama, nama saya Abdullah, yang tentu saja masih menyisakan pertanyaan besar bagi Amerika. Kata bapak kos saya, seharusnya waktu aplikasi visa saya ganti nama. Ia tentu bercanda, tapi bahkan ia pun sadar dan percaya, bahwa nama menjadi factor penting yang menjadi perhatian dalam aplikasi visa. Tentu, ini berbeda tiap orang, karena ada orang yang namanya mungkin lebih teroris (maaf, mengukurnya saya juga bingung) tapi tetap dapat visa juga.
Kedua, teman saya melihat saya sering membaca berita seputar kebocoran informasi NSA oleh Edward Snowden. Ditambah lagi, saya mem-follow Glenn Greenwald, wartawan Guardian, yang juga merupakan orang pertama yang mengabarkan soal Snowden dan mewawancarainya di Hongkong. Nah, kawan ini menganalisis bahwa pilihan berita yang saya baca membuat America jadi curiga. Saya ketawa saja dengar analisisnya. Tapi mungkin maksudnya menghibur.
Yah, begitulah. Satu keinginan tahun ini tertunda. Semoga masih ada kesempatan di tahun depan, mungkin dengan konferensi dan Negara yang berbeda. Semoga..
Monday, August 26, 2013
Friday, August 16, 2013
Pemimpin dan Sejarahnya
Hari ini, sudah dua pekan lebih kampanye pemilihan federal dilaksanakan di Australia. Dua partai besar, Liberal dan Labour sudah genacar melakukan banyak upaya menggaet suara saat Pemilu Federal 7 September mendatang. Tak ketinggalan, Komisi pemilihan umum Australia yang gencar meminta masayrakat yang memiliki hak suara untuk "Enroll". Metode yang mereka pakai relatif seragam, iklan elektronik di televisi dan radio, juga internet. Tentu saja, jalur media tradisional seperti koran, poster, dan surat ke rumah-rumah masyarakat juga dilakukan. Satu hal yang menarik, tak seperti di Indonesia, tak ada satupun spanduk dan baligo di jalan-jalan, hahaha..
Nah, ada yang menarik di artikel koran Guardian Australia hari ini, kisah tentang calon Perdana Mentri Australia kelak, Tony Abbott. Dia yang berasal dari partai Liberal memiliki pandangan tentang masa depan Australia yang berbeda dengan Kevin Rudd yang berasal dari partai Buruh. Perbedaan ini selain berlatar ideologi (Conservative Vs Socialist), namun sedikit banyaknya juga dipengaruhi oleh kepemimpinan di masing-masing partai. Tentu, menjadi pertanyaan, apakah individu yang kemudian memberi warna pada partai (lembaga) atau lembaga kemudian yang mewarnai pandangan politik seorang individu. Namun terlepas dari hal tersebut, artikel menarik tentang Tony Abbott hari ini memuat kisahnya saat kuliah di Oxford.
Seperti Margaret Thatcher, mantan PM Inggris dari Partai Konservative, Abbott ternyata pernah mengenyam pendidikan di salah satu kampus elit di dunia. Ia kuliah selama 2 tahun disana dengan dukungan beasiswa Rhodes, salah satu beasiswa prestigious juga di kalangan commonwealth. Di sana, ia belajar politik dan filsafat. Sebelum studi pascasarjana di Oxford, ia juga kuliah di University of Sidney.
Membaca koran, berita di media elektronik dan gosip, banyak pihak sebenarnya meragukan pria ini. Selain dianggap amatir dalam politik, kemenangannya yang tipis atas rival di dalam partainya untuk posisi ketua partai membuatnya seperti tidak terlegitimasi. Belum lagi olok-olok menyangkut fisik dan cara bicaranya. Bahkan kemarin ada yang menulis begini di koran. "Can not stand to even look at the man, My TV goes off as soon as he appears on it". Ya, bahkan di negara yang mengklaim maju dan canggih seperti Australia ini, masih ada saja yang berpandangan demikian. Tapi tentu saja, pandangan serupa itu tidak dominan dan hanya sedikit. Apalagi banyak dari pandangan tidak senang ini disampaikan dalam bentuk sarkas yang sangat tajam, yang mebacanya malah menyenangkan dan menggelitik.
Yang menarik juga dari Abbot ini adalah sejarahnya yang dekat dengan politik sayap kanan bahkan sejak ia belum ke Oxford. Dan saat di Oxford inilah, bibit sayap kanan yang dimilikinya tersemaikan dan mendapat tempat. Ini tentu saja menarik, bahwa terlepas dari preferensi masing-masing orang akan Abbott, tapi ia bukan orang yang tiba-tiba saja datang dan merasa layak jadi calon PM. Ia telah melewati banyak fase politik dalam hidupnya. Ia bukan orang yang tiba-tiba datang dan mengaku memiliki ideologi politik tertentu. Ada bukti dan catatan sejarah tentang mengapa ia memilih sebuah kebijakan saat ini, misalnya. Sekali lagi, lepas dari apakah pilihan itu baik atau tidak. Kita bisa tahu mengapa dan bagaimana ia bisa sampai pada sebuah pandangan.
Ya, poin saya adalah bahwa ketika bicara pemimpin, apalagi untuk sebuah negeri, selain ideologi tentu patutlah dilihat jejak-rekam sang calon. Kehidupan pribadi, ketika ia memilih menjadi pejabat publik, maka harus pula menjadi catatan dan perhatian. Tapi tentu, penekanannya adalah pada pandangan dan harapannya ke depan yang dibangun sejak lama. Fokus pada kehidupan pribadi sejatinya tidak melepaskan haknya untuk tetap memiliki rahasia, tentu saja ketika itu menyangkut hidup pribadinya dan tidak berhubungan dengan publik.
Tony Abbot memang tidak terlalu populer, meski demikian polling menunjukkan ada peningkatan suara dan kepercayaan padanya. Bisa jadi, kenaikan ini disebabkan karena jenuhnya orang akan pemimpin dan kebijakannya yang sekarang. Tapi entahlah, sekali lagi suara dan poling tak bisa dilepas juga dari kepiawaian 'public relations' dan kemasannya. Kita juga tentu ingat, bagaimana Margaret Thatcher dan Davide Cameron di Inggris, dua pemimpin partai Konservativ yang berhasil naik menjadi Perdana Menteri. Keduanya sangat tidak populer dalam polling dan juga perbincangan sehari-hari. Namun sejarah menunjukkan bagaimana itu semua tidak menghalangi mereka berdua menjadi PM Inggris. Mungkin sejarah yang sama akan terjadi bagi partai Liberal di Australia setelah terakhir terjadi tahun 2007.
Nah, ada yang menarik di artikel koran Guardian Australia hari ini, kisah tentang calon Perdana Mentri Australia kelak, Tony Abbott. Dia yang berasal dari partai Liberal memiliki pandangan tentang masa depan Australia yang berbeda dengan Kevin Rudd yang berasal dari partai Buruh. Perbedaan ini selain berlatar ideologi (Conservative Vs Socialist), namun sedikit banyaknya juga dipengaruhi oleh kepemimpinan di masing-masing partai. Tentu, menjadi pertanyaan, apakah individu yang kemudian memberi warna pada partai (lembaga) atau lembaga kemudian yang mewarnai pandangan politik seorang individu. Namun terlepas dari hal tersebut, artikel menarik tentang Tony Abbott hari ini memuat kisahnya saat kuliah di Oxford.
Seperti Margaret Thatcher, mantan PM Inggris dari Partai Konservative, Abbott ternyata pernah mengenyam pendidikan di salah satu kampus elit di dunia. Ia kuliah selama 2 tahun disana dengan dukungan beasiswa Rhodes, salah satu beasiswa prestigious juga di kalangan commonwealth. Di sana, ia belajar politik dan filsafat. Sebelum studi pascasarjana di Oxford, ia juga kuliah di University of Sidney.
Membaca koran, berita di media elektronik dan gosip, banyak pihak sebenarnya meragukan pria ini. Selain dianggap amatir dalam politik, kemenangannya yang tipis atas rival di dalam partainya untuk posisi ketua partai membuatnya seperti tidak terlegitimasi. Belum lagi olok-olok menyangkut fisik dan cara bicaranya. Bahkan kemarin ada yang menulis begini di koran. "Can not stand to even look at the man, My TV goes off as soon as he appears on it". Ya, bahkan di negara yang mengklaim maju dan canggih seperti Australia ini, masih ada saja yang berpandangan demikian. Tapi tentu saja, pandangan serupa itu tidak dominan dan hanya sedikit. Apalagi banyak dari pandangan tidak senang ini disampaikan dalam bentuk sarkas yang sangat tajam, yang mebacanya malah menyenangkan dan menggelitik.
Yang menarik juga dari Abbot ini adalah sejarahnya yang dekat dengan politik sayap kanan bahkan sejak ia belum ke Oxford. Dan saat di Oxford inilah, bibit sayap kanan yang dimilikinya tersemaikan dan mendapat tempat. Ini tentu saja menarik, bahwa terlepas dari preferensi masing-masing orang akan Abbott, tapi ia bukan orang yang tiba-tiba saja datang dan merasa layak jadi calon PM. Ia telah melewati banyak fase politik dalam hidupnya. Ia bukan orang yang tiba-tiba datang dan mengaku memiliki ideologi politik tertentu. Ada bukti dan catatan sejarah tentang mengapa ia memilih sebuah kebijakan saat ini, misalnya. Sekali lagi, lepas dari apakah pilihan itu baik atau tidak. Kita bisa tahu mengapa dan bagaimana ia bisa sampai pada sebuah pandangan.
Ya, poin saya adalah bahwa ketika bicara pemimpin, apalagi untuk sebuah negeri, selain ideologi tentu patutlah dilihat jejak-rekam sang calon. Kehidupan pribadi, ketika ia memilih menjadi pejabat publik, maka harus pula menjadi catatan dan perhatian. Tapi tentu, penekanannya adalah pada pandangan dan harapannya ke depan yang dibangun sejak lama. Fokus pada kehidupan pribadi sejatinya tidak melepaskan haknya untuk tetap memiliki rahasia, tentu saja ketika itu menyangkut hidup pribadinya dan tidak berhubungan dengan publik.
Tony Abbot memang tidak terlalu populer, meski demikian polling menunjukkan ada peningkatan suara dan kepercayaan padanya. Bisa jadi, kenaikan ini disebabkan karena jenuhnya orang akan pemimpin dan kebijakannya yang sekarang. Tapi entahlah, sekali lagi suara dan poling tak bisa dilepas juga dari kepiawaian 'public relations' dan kemasannya. Kita juga tentu ingat, bagaimana Margaret Thatcher dan Davide Cameron di Inggris, dua pemimpin partai Konservativ yang berhasil naik menjadi Perdana Menteri. Keduanya sangat tidak populer dalam polling dan juga perbincangan sehari-hari. Namun sejarah menunjukkan bagaimana itu semua tidak menghalangi mereka berdua menjadi PM Inggris. Mungkin sejarah yang sama akan terjadi bagi partai Liberal di Australia setelah terakhir terjadi tahun 2007.
Thursday, August 15, 2013
Kejutan
Dalam beberapa hal, kejutan itu perlu, termasuk dalam hidup. Di Youtube, banyak ditemukan video-video bertopik kejutan, yang norak, romantic, hingga yang paling tidak masuk akal sekalipun. Tema-tema kejutan banyak ditampilkan dalam audisi-audisi pencarian bakat seperti X Factor, [Nama Negara] Got Talent, The Voice dan lain-lain.
Saya bukan full time pengamat Youtube, so mungkin banyak video lain yang serupa dari non-audisi pencarian bakat. Saat jenuh dan bosan dengan artikel dan draft yang sepertinya tak habis-habis, youtube menjadi saluran pencerahan. Iya, saya paham, dalam banyak hal, youtube adalah penggangu paling hebat dalam proses belajar mandiri, seperti yang saya alami saat ini.
Tapi baiklah, saya ingin cerita sedikit tentang salah satu video favorit bertema ‘surprise’ dari X Factor UK tahun 2011. Peserta audisi ini namanya Craig Colton, seorang pekerja di pabrik biskuit dari Liverpool. Ada beberapa hal menarik dari video ini. Dialog-dialog yang tejadi antara Craig dan Jury [selalu senang dengar pronociation ‘judges’ khas British] di awal-awal sungguh segar, lucu dan sangat alami. Intinya, dia ingin memberi kejutan kepada orang tuanya, yang ternyata tak mengetahui bahwa ia akan tampil dalam audisi ini.
Ya, kejutan untuk orang tua dan ingin membuat keduanya bangga. Itu saja, kata Craig. Entahlah, bagaimana akhir dari perjalanan Craig dan orang tuanya. Saya hanya menonton satu video tentangnya dan tak tahu kelanjutannya. Meskipun dari iseng-iseng google tentangnya, ternyata di seorang gay. Tapi, ‘kejutan’ itu yang menarik bagi saya. Sisanya, well, beyond this article, I think.
Tahun, tepat 16 tahun sejak kepergian Bapak. Jujur, saya tak mengenalnya terlalu jauh. Sebagai anak laki-laki satu-satunya, kelar SD saya diminta Bapak sekolah di pesantren. ‘Diminta’ itu bentuk lain dari ‘dipaksa’, sebenarnya. Tapi saya tak menyesal, tak sedikit pun menyesal kini. Namun jika ada yang rasanya perlu saya sesali, tak lain bahwa saya tak begitu dekat dengan bapak.
Selain karena pekerjaan, Bapak juga saat itu seperti punya agenda lain. Agenda agar saya tak melulu di rumah dan jadi manja, dan juga menjadi sangat bergantung pada orang-orang di rumah. Menjadi anak bungsu dan laki-laki satu-satunya, tentu lebih dari cukup menjadi alasan untuk dapat perlakuan-perlakuan istimewa. Oh ya, ini hanya analisa saya pribadi, tak sempat mengkonfirmasinya dengan bapak. Ia keburu dipanggil oleh Allah. Doa dan Alfatihah untuknya.
Nah, kembali ke soal kejutan, rasanya belum pernah sekalipun saya memberi kejutan kepada bapak. Dan ini membuat saya merasa berhutang luar biasa. Tak ada kewajiban memberi kejutan dalam bentuk finansial atau kebanggan duniawi. Bukan itu yang saya maksud, meski kebanggan serupa itu tentu saja baik dan menyenangkan. Tak kurang, saya pun punya keingingan besar untuk berbagi kebahagiaan dengan Bapak-ibu. Mengajak mereka liburan, melihat cucu-cucu mereka, mencukupkan kebutuhan dasar dan tentu saja, merawat mereka dengan baik. Entahlah, tapi saya merasa belum cukup berbakti, jika itu tadi indikatornya.
Malam ini, saya rindu Bapak. Itu saja.
Saya bukan full time pengamat Youtube, so mungkin banyak video lain yang serupa dari non-audisi pencarian bakat. Saat jenuh dan bosan dengan artikel dan draft yang sepertinya tak habis-habis, youtube menjadi saluran pencerahan. Iya, saya paham, dalam banyak hal, youtube adalah penggangu paling hebat dalam proses belajar mandiri, seperti yang saya alami saat ini.
Tapi baiklah, saya ingin cerita sedikit tentang salah satu video favorit bertema ‘surprise’ dari X Factor UK tahun 2011. Peserta audisi ini namanya Craig Colton, seorang pekerja di pabrik biskuit dari Liverpool. Ada beberapa hal menarik dari video ini. Dialog-dialog yang tejadi antara Craig dan Jury [selalu senang dengar pronociation ‘judges’ khas British] di awal-awal sungguh segar, lucu dan sangat alami. Intinya, dia ingin memberi kejutan kepada orang tuanya, yang ternyata tak mengetahui bahwa ia akan tampil dalam audisi ini.
Ya, kejutan untuk orang tua dan ingin membuat keduanya bangga. Itu saja, kata Craig. Entahlah, bagaimana akhir dari perjalanan Craig dan orang tuanya. Saya hanya menonton satu video tentangnya dan tak tahu kelanjutannya. Meskipun dari iseng-iseng google tentangnya, ternyata di seorang gay. Tapi, ‘kejutan’ itu yang menarik bagi saya. Sisanya, well, beyond this article, I think.
Tahun, tepat 16 tahun sejak kepergian Bapak. Jujur, saya tak mengenalnya terlalu jauh. Sebagai anak laki-laki satu-satunya, kelar SD saya diminta Bapak sekolah di pesantren. ‘Diminta’ itu bentuk lain dari ‘dipaksa’, sebenarnya. Tapi saya tak menyesal, tak sedikit pun menyesal kini. Namun jika ada yang rasanya perlu saya sesali, tak lain bahwa saya tak begitu dekat dengan bapak.
Selain karena pekerjaan, Bapak juga saat itu seperti punya agenda lain. Agenda agar saya tak melulu di rumah dan jadi manja, dan juga menjadi sangat bergantung pada orang-orang di rumah. Menjadi anak bungsu dan laki-laki satu-satunya, tentu lebih dari cukup menjadi alasan untuk dapat perlakuan-perlakuan istimewa. Oh ya, ini hanya analisa saya pribadi, tak sempat mengkonfirmasinya dengan bapak. Ia keburu dipanggil oleh Allah. Doa dan Alfatihah untuknya.
Nah, kembali ke soal kejutan, rasanya belum pernah sekalipun saya memberi kejutan kepada bapak. Dan ini membuat saya merasa berhutang luar biasa. Tak ada kewajiban memberi kejutan dalam bentuk finansial atau kebanggan duniawi. Bukan itu yang saya maksud, meski kebanggan serupa itu tentu saja baik dan menyenangkan. Tak kurang, saya pun punya keingingan besar untuk berbagi kebahagiaan dengan Bapak-ibu. Mengajak mereka liburan, melihat cucu-cucu mereka, mencukupkan kebutuhan dasar dan tentu saja, merawat mereka dengan baik. Entahlah, tapi saya merasa belum cukup berbakti, jika itu tadi indikatornya.
Malam ini, saya rindu Bapak. Itu saja.
Saturday, June 29, 2013
Borgen—Semacam Review
Selama ini saya tak tahu jika Denmark ternyata melahirkan beberapa serial yang menarik dan menyita perhatian. Satu yang saya tahu kini adalah serial Borgen. Bukan serial percintaan atau thriller, genre yang banyak diproduksi Hollywood, tapi ini adalah drama serial politik. Genre ini menjadi menarik di tengah pilihan terbatas dari Hollywood sana. Tentu, ada konflik, dan percintaan juga di sini. Rumus seperti ini sudah jadi rumus kunci kayaknya dalam setiap serial. Untungnya, bumbu ini tidak terlalu mendominasi.Di Australia, serial ini baru diputar tahun ini. Di beberapa Negara Eropa, serial ini sudah tuntas tayang sejak beberapa tahun lalu. Dan menurut beberap review yang say abaca, serial ini berhasil menarik perhatian, terutama di Inggris.
Awalnya saya tak begitu perhatian. Saat nonton season pertama, seingat saya saat itu pas lagi makan malam dan lagi malas ganti chanel tivi. Tapi saat menyaksikannya, kayaknya bagus dan terbukti, serial ini memang sangat bagus. Paling tidak dalam penilaian saya. Sekarang sudah season 10, dan saya masih terus tak sabar menanti season berikutnya.
Serial politik ini berbicara tentang dinamika politik di Denmark. Dalam kehidupan nyata, sebenarnya tak banyak berita tentang Denmark dan dunia politiknya. Beberapa hal tentang Denmark yang saya tahu adalah tentang Bulutangkis dan sepakbolanya. Entah karena politik yang stabil, sebagaimana negara Skandinavia lainnya, tapi yang pasti memang dunia politik Denmark jarang dapat pemberitaan.
Adalah Birgitte Nyborg, diperankan oleh aktris Denmark Sidse Babett Knudsen, tokoh utama dalam serial ini yang juga berperan sebagai Perdana Mentri Denmark. Perdana Menteri wanita pertama dalam sejarah politik Denmark. Ia memimpim pemerintahan federal Denmark. Sebelum terpilih jadi perdana menteri, ia merupakan ketua partai Moderat di Denmark. Ke kantor, ia selalu bersepeda dan tidak jarang ngopi di café selayaknya orang biasa. Beberapa tokoh penting lain juga ada, tapi favorit saya adalah Katrine Fønsmark, diperankan oleh aktris cantik Denmark, Birgitte Hjort Sørensen. Ia sosok jurnalis idealis yang rela memutuskan pacaranya yang instruktur fitnes karena tak tahu siapa nama menteri hukum.
Konflik dalam pemerintahan juga ditampilkan dalam serial ini, termasuk tentang konflik pribadi dari perdana menteri yang berakibat hubungan rumah tangganya jadi tidak harmonis. Untuk menghindari konflik kepentingan, suami sang perdana menteri diminta untuk tidak mengambil jabatan yang bisa dianggap memanfaatkan posisi istrinya sebagai pemimpin pemerintahan. Awalnya scenario ini berjalan mulus. Suami perdana menteri tetap memilih menjadi dosen di sekolah bisnis di Copenhagen. Namun ini tak bertahan lama. Setelah menolak beberapa kali untuk mengisi jabatan eksekutif di beberapa perusahaan multinasional, kali ini iya tak bisa menolak lagi.
Pemberontakan dari sang suami sebenarnya bukan karena pertimbanga finansial semata. Menjadi suami perdana menteri, membesarkan dua orang anak, tentu pekerjaan berat baginya. Belum lagi ia seperti tak mendapatkan istri dan ibu bagi anak-anaknya. Kesibukan, dan urusan kenegaraan menyita waktu bagi keluarga, termasuk pengorbanan sang suami untuk urusan ranjang yang selalu tertunda.
Konflik tentang gender ini memang pas dengan kondisi politik di Australia. Entah mengapa, saat season 10 yang mengisahkan tentang konflik di pemerintahan dan rumah tangga sang perdana Menteri, tepat beberapa saat sebelum akhirnya Julia Gillard berhenti sebagai perdana menteri Australia. Sebuah ketidak-sengajaan memang, tentu saja.
Meski hanya fiksi, Borgen ini menunjukkan realitas politik sesungguhnya. Permainan politik yang cenderung kotor, politisi yang selalu berusaha mendapatkan keuntungan dari kebijakan Negara, hingga konflik personal dan rumah tangga yang muncul dari akibat aktifitas politik. Semuanya disajikan dengan apik. Satu hal yang menyesakkan, contoh-contoh baik yang disajikan disini, tentang upaya menghindari konflik kepentingan dan penolakan terhadap keinginan mengambil keuntungan pribadi dari duit Negara, sayangnya masih sebatas imajinasi. Berita-berita politik negeri, masih tak jauh dari kisah seperti ini. Untuk sementara, menonton serial Borgen ini sudah cukup..
Photo credit: freeproject.eu
Wednesday, May 01, 2013
Lima Tahun
Lama tak menjenguk tempat bermain ini. Sekali menjenguk hanya ingin menuliskan sedikit catatan menjelang lima tahun usiamu, Nak. Saya masih ingat, saat mamamu akan melahirkanmu, saya sempat berdebat dengan perawat. Dia mengatakan bahwa kamu masih butuh waktu lama untuk lahir, sedangkan saya yakin waktunya tidak lama lagi. Bukan mengapa, saya hari itu tanggal 2 Mei, dan bagi bangsa kita itu adalah hari istimewa karena hari Pendidikan Nasional. Sebenarnya saya dan mamamu tak menarget hari tertentu untukmu lahir. Saya cuma tak tega lihat mamamu yang kesakitan luar biasa. Sehari sebelumnya saya telah membawanya ke rumah sakit, tapi karena belum menunjukkan tanda yang cukup berarti kami pun diminta pulang dan kembali esok hari. Padahal saat itu mamamu sudah merasakan sakit yang tak terkira, menurutnya. Dan saya percaya. tepat lima tahun yang lalu, kamu pun hadir. Senang tak terkira saat itu, dan kita cuma bertiga.
Saat catatan ini saya tulis, kamu dan mamamu sedang bertemu dokter. Pagi tadi dadamu sudah discan untuk memastikan tidak ada masalah. Sejak saya tinggal untuk sekolah hampir sebulan lalu, kata mamamu asma dan batuk silih berganti datang menghampirimu. Kadang kamu seharian harus minum obat dan diuap dengan bantuan nebuliser. Alat bantu uap ini kita beli sesaat sebelum saya balik ke sekolah. Bersama mamamu kami berpikir mungkin itu akan sedikit membantu derita sesak napasmu yang rutin datang jika pagi menjelang.
Sebelumnya dirimu seperti terjadwal dapat sakit lumayan parah 2 bulan sekali. Jika itu yang terjadi, kita punya dua dokter idola dan andalan. Keduanya kami anggap baik dan cocok denganmu. Sebelumnya, saat gejala asma pertama kali muncul, hampir semua dokter anak di Makassar telah kita datangi. Belum lagi dokter kulit dan ahli gizi yang tak terhitung berapa kali kita sambangi. Ini karena selain asma, dirimu juga tak bisa sembarang mengkonsumsi makanan. Susu sapi tak boleh, apalagi keju dan mentega. Makanya badanmu terlihat sangat kurus. Tingkat kekurusan kelihatan makin bertambah parah saat dirimu sakit. Jika sesak napas, tak tega rasanya melihat dadamu yang kelihatan tulang rusuknya itu. Dalam hati saya selalu sedih memikirnnya. Kamu tak minum susu formula yang katanya banyak vitamin dan zat penting untuk pertumbuhan anak itu bukan karena kami tak bisa membelikannya untukmu. Bukan, tapi karena dirimu memang tak bisa menikmatinya. Belum lagi setiap ada kawanmu yang ulang tahun, kamu tak pernah bisa mencicipi kue ulang tahun mereka. Saya dan ibumu selalu sedih, nak.
Selain dokter, beberapa kali dirimu juga dipertemukan dengan banyak orang tua, dan orang pintar. Jika situasi seperti ini, saya selalu berbeda pendapat dengan mamamu. Satu sisi saya masih percaya bahwa sakitmu ini masih bisa dicarikan 'jalan ilmiah'nya atau bertanya pada dokter dan belajar pada banyak literatur. Satu sisi, mamamu selalu menekankan pentingnya kita menghargai upaya orang lain, termasuk dari kakek dan nenekmu untuk mencoba segala usaha dan upaya agar kamu sembuh. Kamu pernah dibawa ke Bone, Enrekang, Maros, hingga beberapa tempat di sekitaran BTP. Ada yang memberikanmu ramuan tradisional, lengkap dengan beberapa bacaan doa. Namun ada juga yang sekedar memijat dan mengurutmu. Katanya sih agar peredaran darahmu lancar.
Begitulah nak, banyak upaya yang sudah kita lakukan bersama. Kami bercerita ini bukan sebagai bentuk putus asa. Saya masih percaya kamu tetap ciptaan tuhan yang spesial buat kami. Jika ada hal yang paling saya suka dari beberapa nasihat alternatif diluar kunjungan ke dokter, adalah dengan berjalan bersamamu, bermain dan berenang di pantai. Ya, beberapa orang, termasuk dokter menyarankan kamu untuk rajin-rajin direndam di air laut. Ini agar tubuhmu menjadi lebih kuat dan juga baik untuk melatih pernapasanmu.
Kadang ada ups dan downs dari saya maupun ibumu. Tapi percayalah, itu tak lebih karena kami masih manusia yang menyayangimu tiada tara. Semua upaya rasanya sudah dilakukan. Apalagi mamamu, hapir banyak hal yang dikorbankannya untukmu. Tak terhitung berapa kali mamamu menangis tersedu jika lihat kondisimu. Saat jauh, tangisnya itu dibaginya kepadaku. Mungkin ia tak kuat menanggungnya sendiri. Dan kau tahu, ia selalu nyaman jika menangis dipundakku. Makanya, saat seperti ini, saya jauh dari kamu dan mamamu, saya jadi tak bisa melakukan banyak hal. Untunglanh, kita punya banyak saudara, teman dan keluarga yang selalu menguatkan dan memberi semangat, juga alternatif pengobatan.
Tapi sekali lagi, kami selalu percaya dirimu spesial. Mungkin kami saja yang belum menemukan cara spesial yang tepat untuk merawatmu. Sebenanrnya kami tak ingin terlalu larut dan berserah begitu saja dengan apa yang kamu derita. Saya percaya, termasuk beberapa informasi yang kami terima, bahwa penyakit itu perlu sedikit dilawan. Saat kamu sesak atau alergi misalnya, saya tetap berpikiran untuk membawamu ke luar rumah. Tinggal di dalam rumah lebih dari dua hari tentu tak baik untuk seusiamu yang selalu ingin bermain dan ingin tahu banyak hal. Soal makanan pun kami pernah bersepakat untuk sedikit menurunkan standar toleransi. Beberapa kali nenekmu mencobakan mie, yang telah dicuci berkali-kali dan tanpa bumbu diberikan kepadamu. hasilnya, kadang kulitmu memerah karena alergi yang kamu derita. Tapi kamu juga tetap bertahan dan untungnya kita bisa lewati meski progressnya relatif lambat.
Selalu sedih jika meliha menu makanmu yang hampir itu-itu saja. Sayur tanpa garam dan penyedap rasa. Ikan yang dibakar tanpa bumbu. Cemilan yang serba dikukus karena efek minyak goreng belum cukup kuat diterima tubuhmu. Karena tak ada cemilan yang khas dikonsumsi anak-anak seusiamu, buah segar selalu menjadi pilihan. Kami paham nak, sebenarnya dirimu diberkati dengan nafsu makan yang baik. Makanya saat kamu sehat, kamu bisa makan hingga lima kali sehari. Tapi ya itu tadi, tak banyak pilihan makanan yang bisa kamu konsumsi. Mungkin kamu masih ingat, sata hanya jalan berdua denganmu, kita pernah mampir ke KFC. Mamamu sebenarnya sudah peringatkan untuk tidak sembarangan memberimu makan. Makanya kita dibekali dengan makanan dari rumah. Cuma karena saya berfikir saat itu kamu baik-baik saja dan tidak sedang sesak, maka mampirlah kita ke KFC. Kita makan berdua, dan sesekali saya membolehkanmu mencicipi ayam goreng yang kulit kriuknya sudah saya bersihkan. Singkat cerita, kamu ternyata baik-baik saja dan tidak ada efek berarti di tubuhmu. tak seperti biasa yang jika ada barang yang tak cocok, tubuhmu langsung bereaksi instan. Entah itu anggota tubuh yang memerah, atau batuk dan sesak napas.
Begitulah nak, lima tahun usiamu kini dan belum banyak perkembangan berarti dari kesehatanmu. Dalam seminggu, paling banyak kamu masuk sekolah itu cuma 5 hari. Ada saat dimana kamu sebulan bersekolah full. Tapi lebih banyak rasanya kamu masuk sekolah dua hari, dan ijin untuk sisa harinya. Meski begitu, selalu menarik mendengarmu kisah ketika pulang sekolah. Tentang kawan-kawanmu yang tak henti saling mengerjai, termasuk cerita tentang beberapa kawanmu yang sering menjadikanmu objek penderita. Mungkin karena tubuhmu yang paling kecil. Kamu pernah cerita berada dalam posisi dilema karena ada dua kawan 'besar' yang erbkelahi. Kamu dipaksa memilih bermain dengan siapa, dan jika tidak akan kena pukul. Ketawa saya mendengar ceritamu itu nak. begitulah dunia anak-anak. Kepadamu saya cuma cerita bahwa kamu harus tentukan pilihan sendiri dan belajar mandiri. Soal berkelahi, biasalah itu. Asal tak melukai saja, semuanya oke-oke saja.
Tapi saya tak mau cerita soal derita saja. Meskipun sebenarnya itu bukan derita. Itu bagian dari hidup bersamamu. Tak elok rasanya jika hanya menanti tawamu tanpa mau ambil tangismu juga. Semangat ini saya bagi juga dengan mamamu, dan syukurlah kini dia lebih kuat.
Oh yah, satu kebanggaan lagi saat kamu menang lomba mewarnai. Tak main-main, lomba mewarnai se-BTP raya. Guru dan teman-temanmu tidak pernah tahu ternyata kita tiap malam punya aktifitas wajib, yaiut mewarnai. Tak terhitung sudah berapa buku mewarnai yang kita tamatkan berdua. Dan entah kenapa, saya selalu menjadi pilihan utamamu dalam mewarnai. Mungkin karena saya selalu terima jiak diminta mewarnai apa saja, termasuk dengan warna apa saja. Nah, saat kamu menang itu, kamu dapat piala. Luar biasa nak. Saat seusiamu, saya tak pernah dapat piala. Jadi paling tidak kamu sudah lebih baik dari saya saat seusiamu. Tapi jangan dulu berbangga. Saat TK dulu lomba mewarnai belum begitu populer di sekolahku, jadi masih masuk akallah alasanku.
Bercerita tentangmu selalu tak ada habisnya. Tapi baiklah, kini kau sudah lima tahun. Tak banyak yang saya minta pada tuhan nak. Semoga kamu tetap dilimpahi kekuatan dan kesehatan. Kami pun akan selalu menjagamu, sepanjang yang kami bisa. Jadi kuatlah. Kau tahu, banyak orang yang menyayangimu. Jadi kuatlah, supaya kamu bisa menjelajah lagi. Kita akan pergi ke banyak tempat, sebab hanya dengan begitu kita jadi banyak tahu dan makin sadar bahwa kita belum tahu banyak. Kita masih punya banyak rencana besar bersama mamamu. Makanya, di usiamu yang kelima ini, banyak doa kami panjatkan. Be strong, my boy...
Saat catatan ini saya tulis, kamu dan mamamu sedang bertemu dokter. Pagi tadi dadamu sudah discan untuk memastikan tidak ada masalah. Sejak saya tinggal untuk sekolah hampir sebulan lalu, kata mamamu asma dan batuk silih berganti datang menghampirimu. Kadang kamu seharian harus minum obat dan diuap dengan bantuan nebuliser. Alat bantu uap ini kita beli sesaat sebelum saya balik ke sekolah. Bersama mamamu kami berpikir mungkin itu akan sedikit membantu derita sesak napasmu yang rutin datang jika pagi menjelang.
Sebelumnya dirimu seperti terjadwal dapat sakit lumayan parah 2 bulan sekali. Jika itu yang terjadi, kita punya dua dokter idola dan andalan. Keduanya kami anggap baik dan cocok denganmu. Sebelumnya, saat gejala asma pertama kali muncul, hampir semua dokter anak di Makassar telah kita datangi. Belum lagi dokter kulit dan ahli gizi yang tak terhitung berapa kali kita sambangi. Ini karena selain asma, dirimu juga tak bisa sembarang mengkonsumsi makanan. Susu sapi tak boleh, apalagi keju dan mentega. Makanya badanmu terlihat sangat kurus. Tingkat kekurusan kelihatan makin bertambah parah saat dirimu sakit. Jika sesak napas, tak tega rasanya melihat dadamu yang kelihatan tulang rusuknya itu. Dalam hati saya selalu sedih memikirnnya. Kamu tak minum susu formula yang katanya banyak vitamin dan zat penting untuk pertumbuhan anak itu bukan karena kami tak bisa membelikannya untukmu. Bukan, tapi karena dirimu memang tak bisa menikmatinya. Belum lagi setiap ada kawanmu yang ulang tahun, kamu tak pernah bisa mencicipi kue ulang tahun mereka. Saya dan ibumu selalu sedih, nak.
Selain dokter, beberapa kali dirimu juga dipertemukan dengan banyak orang tua, dan orang pintar. Jika situasi seperti ini, saya selalu berbeda pendapat dengan mamamu. Satu sisi saya masih percaya bahwa sakitmu ini masih bisa dicarikan 'jalan ilmiah'nya atau bertanya pada dokter dan belajar pada banyak literatur. Satu sisi, mamamu selalu menekankan pentingnya kita menghargai upaya orang lain, termasuk dari kakek dan nenekmu untuk mencoba segala usaha dan upaya agar kamu sembuh. Kamu pernah dibawa ke Bone, Enrekang, Maros, hingga beberapa tempat di sekitaran BTP. Ada yang memberikanmu ramuan tradisional, lengkap dengan beberapa bacaan doa. Namun ada juga yang sekedar memijat dan mengurutmu. Katanya sih agar peredaran darahmu lancar.
Begitulah nak, banyak upaya yang sudah kita lakukan bersama. Kami bercerita ini bukan sebagai bentuk putus asa. Saya masih percaya kamu tetap ciptaan tuhan yang spesial buat kami. Jika ada hal yang paling saya suka dari beberapa nasihat alternatif diluar kunjungan ke dokter, adalah dengan berjalan bersamamu, bermain dan berenang di pantai. Ya, beberapa orang, termasuk dokter menyarankan kamu untuk rajin-rajin direndam di air laut. Ini agar tubuhmu menjadi lebih kuat dan juga baik untuk melatih pernapasanmu.
Kadang ada ups dan downs dari saya maupun ibumu. Tapi percayalah, itu tak lebih karena kami masih manusia yang menyayangimu tiada tara. Semua upaya rasanya sudah dilakukan. Apalagi mamamu, hapir banyak hal yang dikorbankannya untukmu. Tak terhitung berapa kali mamamu menangis tersedu jika lihat kondisimu. Saat jauh, tangisnya itu dibaginya kepadaku. Mungkin ia tak kuat menanggungnya sendiri. Dan kau tahu, ia selalu nyaman jika menangis dipundakku. Makanya, saat seperti ini, saya jauh dari kamu dan mamamu, saya jadi tak bisa melakukan banyak hal. Untunglanh, kita punya banyak saudara, teman dan keluarga yang selalu menguatkan dan memberi semangat, juga alternatif pengobatan.
Tapi sekali lagi, kami selalu percaya dirimu spesial. Mungkin kami saja yang belum menemukan cara spesial yang tepat untuk merawatmu. Sebenanrnya kami tak ingin terlalu larut dan berserah begitu saja dengan apa yang kamu derita. Saya percaya, termasuk beberapa informasi yang kami terima, bahwa penyakit itu perlu sedikit dilawan. Saat kamu sesak atau alergi misalnya, saya tetap berpikiran untuk membawamu ke luar rumah. Tinggal di dalam rumah lebih dari dua hari tentu tak baik untuk seusiamu yang selalu ingin bermain dan ingin tahu banyak hal. Soal makanan pun kami pernah bersepakat untuk sedikit menurunkan standar toleransi. Beberapa kali nenekmu mencobakan mie, yang telah dicuci berkali-kali dan tanpa bumbu diberikan kepadamu. hasilnya, kadang kulitmu memerah karena alergi yang kamu derita. Tapi kamu juga tetap bertahan dan untungnya kita bisa lewati meski progressnya relatif lambat.
Selalu sedih jika meliha menu makanmu yang hampir itu-itu saja. Sayur tanpa garam dan penyedap rasa. Ikan yang dibakar tanpa bumbu. Cemilan yang serba dikukus karena efek minyak goreng belum cukup kuat diterima tubuhmu. Karena tak ada cemilan yang khas dikonsumsi anak-anak seusiamu, buah segar selalu menjadi pilihan. Kami paham nak, sebenarnya dirimu diberkati dengan nafsu makan yang baik. Makanya saat kamu sehat, kamu bisa makan hingga lima kali sehari. Tapi ya itu tadi, tak banyak pilihan makanan yang bisa kamu konsumsi. Mungkin kamu masih ingat, sata hanya jalan berdua denganmu, kita pernah mampir ke KFC. Mamamu sebenarnya sudah peringatkan untuk tidak sembarangan memberimu makan. Makanya kita dibekali dengan makanan dari rumah. Cuma karena saya berfikir saat itu kamu baik-baik saja dan tidak sedang sesak, maka mampirlah kita ke KFC. Kita makan berdua, dan sesekali saya membolehkanmu mencicipi ayam goreng yang kulit kriuknya sudah saya bersihkan. Singkat cerita, kamu ternyata baik-baik saja dan tidak ada efek berarti di tubuhmu. tak seperti biasa yang jika ada barang yang tak cocok, tubuhmu langsung bereaksi instan. Entah itu anggota tubuh yang memerah, atau batuk dan sesak napas.
Begitulah nak, lima tahun usiamu kini dan belum banyak perkembangan berarti dari kesehatanmu. Dalam seminggu, paling banyak kamu masuk sekolah itu cuma 5 hari. Ada saat dimana kamu sebulan bersekolah full. Tapi lebih banyak rasanya kamu masuk sekolah dua hari, dan ijin untuk sisa harinya. Meski begitu, selalu menarik mendengarmu kisah ketika pulang sekolah. Tentang kawan-kawanmu yang tak henti saling mengerjai, termasuk cerita tentang beberapa kawanmu yang sering menjadikanmu objek penderita. Mungkin karena tubuhmu yang paling kecil. Kamu pernah cerita berada dalam posisi dilema karena ada dua kawan 'besar' yang erbkelahi. Kamu dipaksa memilih bermain dengan siapa, dan jika tidak akan kena pukul. Ketawa saya mendengar ceritamu itu nak. begitulah dunia anak-anak. Kepadamu saya cuma cerita bahwa kamu harus tentukan pilihan sendiri dan belajar mandiri. Soal berkelahi, biasalah itu. Asal tak melukai saja, semuanya oke-oke saja.
Tapi saya tak mau cerita soal derita saja. Meskipun sebenarnya itu bukan derita. Itu bagian dari hidup bersamamu. Tak elok rasanya jika hanya menanti tawamu tanpa mau ambil tangismu juga. Semangat ini saya bagi juga dengan mamamu, dan syukurlah kini dia lebih kuat.
Oh yah, satu kebanggaan lagi saat kamu menang lomba mewarnai. Tak main-main, lomba mewarnai se-BTP raya. Guru dan teman-temanmu tidak pernah tahu ternyata kita tiap malam punya aktifitas wajib, yaiut mewarnai. Tak terhitung sudah berapa buku mewarnai yang kita tamatkan berdua. Dan entah kenapa, saya selalu menjadi pilihan utamamu dalam mewarnai. Mungkin karena saya selalu terima jiak diminta mewarnai apa saja, termasuk dengan warna apa saja. Nah, saat kamu menang itu, kamu dapat piala. Luar biasa nak. Saat seusiamu, saya tak pernah dapat piala. Jadi paling tidak kamu sudah lebih baik dari saya saat seusiamu. Tapi jangan dulu berbangga. Saat TK dulu lomba mewarnai belum begitu populer di sekolahku, jadi masih masuk akallah alasanku.
Bercerita tentangmu selalu tak ada habisnya. Tapi baiklah, kini kau sudah lima tahun. Tak banyak yang saya minta pada tuhan nak. Semoga kamu tetap dilimpahi kekuatan dan kesehatan. Kami pun akan selalu menjagamu, sepanjang yang kami bisa. Jadi kuatlah. Kau tahu, banyak orang yang menyayangimu. Jadi kuatlah, supaya kamu bisa menjelajah lagi. Kita akan pergi ke banyak tempat, sebab hanya dengan begitu kita jadi banyak tahu dan makin sadar bahwa kita belum tahu banyak. Kita masih punya banyak rencana besar bersama mamamu. Makanya, di usiamu yang kelima ini, banyak doa kami panjatkan. Be strong, my boy...
Friday, November 09, 2012
Sebuah Catatan Merayakan Perkawanan
catatan ini diniatkan sebagai kado buat kawan yang bulan depan melangsungkan pernikahan...
Gary S. Backer, seorang ekonom dari University of Chicago pernah menulis sebuah artikel menarik dengan judul “A Theory of Marriage”. Bagi Gary, teori-teori ekonomi sebenarnya bisa digunakan untuk menjelaskan banyak hal, termasuk perkawinan. Hal ini diungkapkannya untuk memperkuat argumen bahwa sesungguhnya teori-teori ekonomi memiliki kekuatan analitik untuk menjelaskan fenomena yang terjadi di masyarakat.
Dalam penjelasannya, Gary menggunakan dua prinsip dasar ekonomi. Pertama, jika diasumsikan bahwa perkawinan itu bersifat sukarela, entah itu oleh calon pengantin dan dengan kerelaan dari pihak orang tua, maka sesungguhnya pernikahan menjadi upaya untuk meningkatkan tingkat utilitas (berdasarkan theory of preference) ketimbang tetap melajang. Prinsip kedua, sejak pria dan wanita ‘bersaing’ untuk mendapatkan pasangan, maka bisa dikatakan bahwa ‘pasar’ dalam pernikahan itu ada dan setiap orang akan berusaha mendapatkan pasangan ideal sesuai dengan mekanisme pasar yang ada.
Tapi tak setiap pernikahan memberi pembenaran atas teori Gary tersebut. Dan saya percaya, pilihan kawan Boge untuk menikah, tak melulu atas pertimbangan ekonomi, sebagaimana yang diisyaratkan Gary. Prinsip persaingan rasanya juga tak ada dalam daftar ‘motivasi untuk menikah’ Boge. Memakai istilah Daniel Kahneman, peraih Nobel Ekonomi 2002, keputusan menikah ini ‘mungkin’ merupakan perpaduan karakter berpikir dalam otak kita yaitu ‘Sistem 1’ dan ‘Sistem 2’ sekaligus. Artinya, keputusan ini diambil dalam keadaan sadar dan tidak sadar sekaligus, juga cepat tapi lambat pada dasarnya.
Dalam beberapa kesempatan, pilihan untuk menikah, selalu disebutnya sebagai upaya untuk menyempurnakan ke-Islamannya dan mencari bahagia yang paripurna. Ya, sebab kebahagiaan hanya milik mereka yang berani. Nah, kembali ke pembagian dalam otak sebagaimana yang dikemukakan Kahneman tadi, keputusan berani, yang merupakan kombinasi dari kesadaran, keinginan, dan intuisi ini berpadu menjadi satu dalam diri Boge.
Bicara soal berani ini, kami sering berbagi canda dan sindiran soal mengapa kawan-kawan masih memilih menjadi bujangan. Tentu saja, soal keberanian menjadi senjata andalan, bahwa mereka yang memilih untuk membujang cukup lama itu berarti tidak cukup berani. Tentu, dengan segala hormat, ini hanya lelucon dan sindiran dalam konteks pertemanan kami yang terbatas, tidak lebih. Begitulah cara kami merayakan perkawanan. Bahwa melajang pun butuh keberanian berlipat, tentu beberapa pihak setuju dan membenarkannya.
Saat mendengar Boge akan menikah, saya sebenarnya masih ragu akan informasi ini. Bukan mengapa, selain sebagai kawan yang paling besar, ia juga menjadi kawan yang selalu jadi korban hoax dan beragam ‘informasi tak benar’ lainnya. Klarifikasi menjadi penting untuk urusan serius semisal perkawinan. Setelah telpon sana-sini, saya berhasil diyakinkan dan meyakinkan diri bahwa informasi ini sifatnya A1. Tidak ada keraguan lagi di dalamnya.
Sebagai kawan, saya tentu bahagia, dan sekali lagi, berbagi kebahagiaan selama ini adalah cara kami merayakan perkawanan. Dari sekedar traktiran, hingga cerita soal anak masing-masing kami yang sudah mulai bisa menyebut nama dan memanggil papa, ayah dan abi. Jika sudah sampai pada bagian yang terakhir, kami yang sudah menikah duluan kadang tak enak hati kepada kawan lain yang masih bujang. Jika bukan karena perkawanan, maka habislah kami ini dicaci –maki dan dianggap tidak manusiawi. Tapi ya itu tadi, begitu cara kami merayakan perkawanan.
Dan sebagai kawan, saya juga percaya, Boge sudah menemukan cinta sejatinya, meski dengan cara yang tidak saya duga sama sekali. Benar kata orang, cinta sejati selalu menemukan jalan. Ada saja kebetulan, nasib, takdir, atau apalah sebutannya sebagai jalan. Tapi saya percaya ini bukan kebetulan semata. Menurut kabar, tak kecil usaha dan kerja keras Boge untuk tiba pada keputusan menikah ini.
Saya pun percaya ini bukan pembuktian, sebab ia tak perlu membuktikan apa-apa. Sebagai lelaki, ia kawan yang tangguh, penuh percaya diri dan rajin belajar. Dalam beberapa hal, ia termasuk kawan yang kreatif dan menyenangkan. Perpaduan aneh tapi nyata. Kreatif karena ia sering memilih cara-cara yang tak lazim dan berbuah lelucon, bahkan untuk urusan kecil dan remeh-temeh. Namun begitu, ia juga menyenangkan, sebab mereka yang tak setuju tak berarti tidak suka dengannya. Paling tidak, dengan begitu kami punya tambahan stok dalam berbagi canda.
Pada akhirnya Boge sudah memutuskan untuk menikah tanpa berteori. Marilah kita berdoa dan berbahagia saja. Mari merayakan kehidupan baru.
Baraka-alahu-lakuma
Wa Baraka alaikuma
Wa jam’a bainakuma fil khair
Gary S. Backer, seorang ekonom dari University of Chicago pernah menulis sebuah artikel menarik dengan judul “A Theory of Marriage”. Bagi Gary, teori-teori ekonomi sebenarnya bisa digunakan untuk menjelaskan banyak hal, termasuk perkawinan. Hal ini diungkapkannya untuk memperkuat argumen bahwa sesungguhnya teori-teori ekonomi memiliki kekuatan analitik untuk menjelaskan fenomena yang terjadi di masyarakat.
Dalam penjelasannya, Gary menggunakan dua prinsip dasar ekonomi. Pertama, jika diasumsikan bahwa perkawinan itu bersifat sukarela, entah itu oleh calon pengantin dan dengan kerelaan dari pihak orang tua, maka sesungguhnya pernikahan menjadi upaya untuk meningkatkan tingkat utilitas (berdasarkan theory of preference) ketimbang tetap melajang. Prinsip kedua, sejak pria dan wanita ‘bersaing’ untuk mendapatkan pasangan, maka bisa dikatakan bahwa ‘pasar’ dalam pernikahan itu ada dan setiap orang akan berusaha mendapatkan pasangan ideal sesuai dengan mekanisme pasar yang ada.
Tapi tak setiap pernikahan memberi pembenaran atas teori Gary tersebut. Dan saya percaya, pilihan kawan Boge untuk menikah, tak melulu atas pertimbangan ekonomi, sebagaimana yang diisyaratkan Gary. Prinsip persaingan rasanya juga tak ada dalam daftar ‘motivasi untuk menikah’ Boge. Memakai istilah Daniel Kahneman, peraih Nobel Ekonomi 2002, keputusan menikah ini ‘mungkin’ merupakan perpaduan karakter berpikir dalam otak kita yaitu ‘Sistem 1’ dan ‘Sistem 2’ sekaligus. Artinya, keputusan ini diambil dalam keadaan sadar dan tidak sadar sekaligus, juga cepat tapi lambat pada dasarnya.
Dalam beberapa kesempatan, pilihan untuk menikah, selalu disebutnya sebagai upaya untuk menyempurnakan ke-Islamannya dan mencari bahagia yang paripurna. Ya, sebab kebahagiaan hanya milik mereka yang berani. Nah, kembali ke pembagian dalam otak sebagaimana yang dikemukakan Kahneman tadi, keputusan berani, yang merupakan kombinasi dari kesadaran, keinginan, dan intuisi ini berpadu menjadi satu dalam diri Boge.
Bicara soal berani ini, kami sering berbagi canda dan sindiran soal mengapa kawan-kawan masih memilih menjadi bujangan. Tentu saja, soal keberanian menjadi senjata andalan, bahwa mereka yang memilih untuk membujang cukup lama itu berarti tidak cukup berani. Tentu, dengan segala hormat, ini hanya lelucon dan sindiran dalam konteks pertemanan kami yang terbatas, tidak lebih. Begitulah cara kami merayakan perkawanan. Bahwa melajang pun butuh keberanian berlipat, tentu beberapa pihak setuju dan membenarkannya.
Saat mendengar Boge akan menikah, saya sebenarnya masih ragu akan informasi ini. Bukan mengapa, selain sebagai kawan yang paling besar, ia juga menjadi kawan yang selalu jadi korban hoax dan beragam ‘informasi tak benar’ lainnya. Klarifikasi menjadi penting untuk urusan serius semisal perkawinan. Setelah telpon sana-sini, saya berhasil diyakinkan dan meyakinkan diri bahwa informasi ini sifatnya A1. Tidak ada keraguan lagi di dalamnya.
Sebagai kawan, saya tentu bahagia, dan sekali lagi, berbagi kebahagiaan selama ini adalah cara kami merayakan perkawanan. Dari sekedar traktiran, hingga cerita soal anak masing-masing kami yang sudah mulai bisa menyebut nama dan memanggil papa, ayah dan abi. Jika sudah sampai pada bagian yang terakhir, kami yang sudah menikah duluan kadang tak enak hati kepada kawan lain yang masih bujang. Jika bukan karena perkawanan, maka habislah kami ini dicaci –maki dan dianggap tidak manusiawi. Tapi ya itu tadi, begitu cara kami merayakan perkawanan.
Dan sebagai kawan, saya juga percaya, Boge sudah menemukan cinta sejatinya, meski dengan cara yang tidak saya duga sama sekali. Benar kata orang, cinta sejati selalu menemukan jalan. Ada saja kebetulan, nasib, takdir, atau apalah sebutannya sebagai jalan. Tapi saya percaya ini bukan kebetulan semata. Menurut kabar, tak kecil usaha dan kerja keras Boge untuk tiba pada keputusan menikah ini.
Saya pun percaya ini bukan pembuktian, sebab ia tak perlu membuktikan apa-apa. Sebagai lelaki, ia kawan yang tangguh, penuh percaya diri dan rajin belajar. Dalam beberapa hal, ia termasuk kawan yang kreatif dan menyenangkan. Perpaduan aneh tapi nyata. Kreatif karena ia sering memilih cara-cara yang tak lazim dan berbuah lelucon, bahkan untuk urusan kecil dan remeh-temeh. Namun begitu, ia juga menyenangkan, sebab mereka yang tak setuju tak berarti tidak suka dengannya. Paling tidak, dengan begitu kami punya tambahan stok dalam berbagi canda.
Pada akhirnya Boge sudah memutuskan untuk menikah tanpa berteori. Marilah kita berdoa dan berbahagia saja. Mari merayakan kehidupan baru.
Baraka-alahu-lakuma
Wa Baraka alaikuma
Wa jam’a bainakuma fil khair
Saturday, October 20, 2012
64 Tahun FE Unhas, Berhentilah Merasa Tua (Bagian 2)
baiklah dilanjutkan....
Lalu, bagaimana dengan FEB-Unhas sendiri? Tak perlu jauh-jauh mencari perbandingan dengan sekolah-sekolah bisnis terkenal itu. Perbandingan seperti itu hanya membuat kita frustasi tak berkesudahan. FEB-Unhas saat ini masih belum bisa beranjak dari masalah-masalah elementer. Soal minimnya anggaran, atmosfer akademik yang tidak terasa, rendahnya penelitian dari dosen baik dari segi kuantitas maupun kualitas hingga pelayanan akademik yang mengecewakan bagi dosen dan mahasiswa. Infrastruktur yang ada pun layak dimasukkan dalam dafatar masalah yang setia menemani perjalanan FEB-Unhas. Lihatlah kampus Magister Manajemen yang tak lebih baik dari gedung beberapa SD Inpress di Makassar.
Ingin melihat yang lebih jauh dan substantif lagi? Tengoklah bagaimana dosen dan mahasiswa berinteraksi di kelas. Interaksi yang ada memberi gambaran bahwa mengajar dan diajar tak lebih sekedar rutinitas belaka. Tak ada gairah yang terlihat sebagai sebuah aktifitas untuk mendapatkan dan bermanfaat bagi pengetahuan. Dosen masuk kelas dengan minim persiapan, materi yang disampaikan tidak uptodate, hingga waktu perkuliahan habis untuk membahas masalah pribadi sang dosen masih sering kita dengar hingga saat ini. Belum lagi tugas yang diberikan kadang tidak relevan dengan mata kuliahnya, hingga kasus jual-beli nilai yang sulit untuk dibuktikan namun gaungnya ramai terdengar.
Tentu, menuntut mereka untuk berlaku layaknya civitas akademika idel mensyaratkan ketersediaan sumber pengetahuan seperti buku dan jurnal ilmiah. Lalu, bagaimana mengharapkan yang terbaik jika persputakaan yang ada dikelola layaknya kantor kelurahan?
Lembaga kemahasiswaan yang ada pun saat ini masih belum bisa 'move on' hingga tak ingin berbuat sesuatu yang berbeda dari seniornya yang dulu. Dialektika yang ada di antara mereka masih seputar hal remeh-temeh seperti pengkaderan, penggunaan anggaran kemahasiswaan dan demo-demo yang sifatnya reaksional semata. Tak pernah ada upaya serius untuk keluar dari bayang-bayang masa lalu mahasiswa, meskipun slogan dalam setiap aksi mereka adalah 'everybody has the right for their own history'. Ada dua kemungkinan hal ini bisa terjadi. Pertama, kondisi FEB-Unhas saat ini dirasa sudah cukup memuaskan hingga tak perlu ada diskusi lagi. Kondisi kedua, lembaga mahasiswa bingung untuk memutuskan kontribusi apa yang bisa dilakukan untuk memperbaiki kondisi yang ada dan dari mana memulainya. Hubungan yang ada jadinya seperti 'LDR' padahal jarak kantornya cuma sepelemparan batu.
Mengurai satu per satu masalah yang pasti tak ada habisnya. Namun demikian, kita tak bisa meminggirkan peran universitas yang juga sangat menentukan. Sebagai sebuah institusi yang perannya terhadap pengetahuan dan pengembangannya terhadap kehidupan begitu berpengaruh, maka FEB-Unhas hanyalah bagian kecil dari harapan itu. Sayangnya, dalam lingkup Universitas, kondisi yang sama juga terjadi. Universitas dikelola layaknya kantor pemerintah semata hingga yang lahir dari dalamnya serupa kebijakan-kebijakan tanpa dasar dan kadang tidak masuk akal. Padahal, menurut Lyotard (1984): "The university’s relation to knowledge is articulated by a metanarrative of ‘the realization of the life of the spirit or the emancipation of
humanity and its ‘unifying idea’ and ideal of aligning culture and society".
Ambil contoh pelarangan masuk angkutan kota ke dalam kampus namun kendaraan pribadi tetap tak dibatasi. Apalagi alasan yang digunakan adalah demi lingkungan dan keteraturan kampus. Padahal, kendaraan pribadi dosen dan mahasiswa luar bisa banyaknya hingga parkir di pinggir jalan dan membuat kemacetan setiap jam-jam padat. Pola pikir seperti ini tentu sangat disayangkan muncul dari kalangan kampus. Belum lagi perpustakaan kampus yang tidak pernah mendapat perhatian lebih seperti gedung rektorat yang sudah direnovasi beberapa kali. Artinya, hal-hal yang berkaitan langsung dengan pengembangan pengetahuan tak begitu berarti untuk mendapat perhatian ketimbang hal-hal artifisial dan seremonial lainnya.
Lalu Bagaimana?
Ada pendapat yang mengatakan seperti ini, bahwa marah terhadap kondisi yang buruk itu adalah sesuatu hal yang bagus. Namun marah-marah saja karena keadaan yang buruk, lama-lama menjadi aktifitas yang meletihkan dan menjengkelkan. Nah, agar tak terjengkelkan dan terletihkan, maka ada beberapa hal yang bisa menjadi perhatian FEB-Unhas di 64 tahun usianya kini.
Pertama, berhentilah selalu merasa tua. Dalam setiap perayaan Dies Natalis, selalu didengungkan bahwa FEB-Unhas adalah yang tertua di Indonesia. Tidak salah memang, apalagi dokumen sejarah yang ada membuktikan itu. Tapi pemikiran dan kebanggaan semu seperti ini membuat kita jumawa dan lupa bahwa usia bukan segalanya. Kerja dan bakti nyata itu yang perlu. Perlu juga dipikirkan perayaan Dies Natalis itu dibatasi sekali dalam dua tahun saja. Seremoni yang tidak jelas sudah terlalu banyak di kampus. Perlu menitikberatkan esensi daripada seremoni belaka.
Kedua, perlu upaya serius membenahi fasilitas kampus yang ada saat ini. Fasilitas ini tentu saja sangat bergantung pada ketersediaan dana yang dialokasikan universitas. Namun alternatif pembiayaan bukannya tidak ada. Wadah alumni bisa dimanfaatkan dan juga pihak ketiga lainnya seperti korporasi dan individu. Tentu saja, akuntabilitas dan transaparansi menjadi syarat dasar agar hal ini bisa dijalankan.
Ketiga, tak boleh lagi sekedar duduk bersama mendiskusikan soal bagaimana sebaiknya iklim akademik di fakultas bisa dibenahi. Road map dan diskusi tak terhitung lagi berapa kali dilaksanakan namun minim implementasi. Meski tata-kelola dan prosedur tak boleh dilanggar, namun ini seharusnya tidak memberi batas akan kreatifitas dan pikiran berbeda untuk berkembang. Sudah saatnya pengelola fakultas berhenti berpikir dan berparadigma pejabat kelurahan.
Dalam konteks perkuliahan, perlu dibangun kesadaran bersama dari dosen untuk tidak lagi sekedar menggugurkan kewajiban semata. Insentif untuk mereka yang serius di riset perlu juga dikaji. Selain itu, perlu pula dipikirkan kerjasama dengan pihak swasta untuk menjembatani teori-praktek yang selama ini terkesan diabaikan. Tak ada salah memanggil praktisi untuk mengisi jadwal kuliah. Tentu, tak sekedar mengisi kuliah semata, tapi diharapkan mampu berbagi pengalaman tentang realitas di luar yang mungkin saja luput dari perhatian kita di kampus. Generasi hi-tech saat ini sudah tidak dapat lagi didekati dengan pendekatan a la 'jadul', meski prinsip-prinsip dasar dalam belajar masih tetap harus dipertahankan. Prinsip-prinsip seperti kesungguhan, kerja keras dan kejujuran harus menjadi basis dalam setiap aktifitas pembelajaran. Pelibatan makin banyak dan beragam
Kampus sudah selayaknya tak hanya berfungsi sebagai penyebar pengetahuan (disseminator of the knowledge) tp menjadi basis dari pengetahuan itu sendiri (a site of knowledge production). Namun jika masih dikelola seperti kondisi yang ada saat ini, rasanya keinginan itu masih jauh sekali. Kampus puh tidak boleh lepas dari akar kulturalnya. Dalam visi besar FEB-Unhas, semangat bahari jelas termaktub. Bagaimana implementasinya? Sederhana menjawabnya, tidak ada mata kuliah khusus yang membahas dan menerjemahkan visi ini.
Padahal, jika betul dipahami dengan baik, maka ini bisa menjadi basis pembeda FEB-Unhas dengan FEB yang lain. Selain itu, semangat bahari dan ekonomi kerakyatan yang menjadi spiritnya, bisa digunakan sebagai dasar dalam membentuk ‘narratives of expertise’ dari FEB-Unhas.
Akhirnya, semoga Dies Natalis kali ini menjadi langkah awal menjadi lebih baik dan bermanfaat. Tak harus selalu merasa tua.. Dirgahayu FE-Unhas ke-64.
Lalu, bagaimana dengan FEB-Unhas sendiri? Tak perlu jauh-jauh mencari perbandingan dengan sekolah-sekolah bisnis terkenal itu. Perbandingan seperti itu hanya membuat kita frustasi tak berkesudahan. FEB-Unhas saat ini masih belum bisa beranjak dari masalah-masalah elementer. Soal minimnya anggaran, atmosfer akademik yang tidak terasa, rendahnya penelitian dari dosen baik dari segi kuantitas maupun kualitas hingga pelayanan akademik yang mengecewakan bagi dosen dan mahasiswa. Infrastruktur yang ada pun layak dimasukkan dalam dafatar masalah yang setia menemani perjalanan FEB-Unhas. Lihatlah kampus Magister Manajemen yang tak lebih baik dari gedung beberapa SD Inpress di Makassar.
Ingin melihat yang lebih jauh dan substantif lagi? Tengoklah bagaimana dosen dan mahasiswa berinteraksi di kelas. Interaksi yang ada memberi gambaran bahwa mengajar dan diajar tak lebih sekedar rutinitas belaka. Tak ada gairah yang terlihat sebagai sebuah aktifitas untuk mendapatkan dan bermanfaat bagi pengetahuan. Dosen masuk kelas dengan minim persiapan, materi yang disampaikan tidak uptodate, hingga waktu perkuliahan habis untuk membahas masalah pribadi sang dosen masih sering kita dengar hingga saat ini. Belum lagi tugas yang diberikan kadang tidak relevan dengan mata kuliahnya, hingga kasus jual-beli nilai yang sulit untuk dibuktikan namun gaungnya ramai terdengar.
Tentu, menuntut mereka untuk berlaku layaknya civitas akademika idel mensyaratkan ketersediaan sumber pengetahuan seperti buku dan jurnal ilmiah. Lalu, bagaimana mengharapkan yang terbaik jika persputakaan yang ada dikelola layaknya kantor kelurahan?
Lembaga kemahasiswaan yang ada pun saat ini masih belum bisa 'move on' hingga tak ingin berbuat sesuatu yang berbeda dari seniornya yang dulu. Dialektika yang ada di antara mereka masih seputar hal remeh-temeh seperti pengkaderan, penggunaan anggaran kemahasiswaan dan demo-demo yang sifatnya reaksional semata. Tak pernah ada upaya serius untuk keluar dari bayang-bayang masa lalu mahasiswa, meskipun slogan dalam setiap aksi mereka adalah 'everybody has the right for their own history'. Ada dua kemungkinan hal ini bisa terjadi. Pertama, kondisi FEB-Unhas saat ini dirasa sudah cukup memuaskan hingga tak perlu ada diskusi lagi. Kondisi kedua, lembaga mahasiswa bingung untuk memutuskan kontribusi apa yang bisa dilakukan untuk memperbaiki kondisi yang ada dan dari mana memulainya. Hubungan yang ada jadinya seperti 'LDR' padahal jarak kantornya cuma sepelemparan batu.
Mengurai satu per satu masalah yang pasti tak ada habisnya. Namun demikian, kita tak bisa meminggirkan peran universitas yang juga sangat menentukan. Sebagai sebuah institusi yang perannya terhadap pengetahuan dan pengembangannya terhadap kehidupan begitu berpengaruh, maka FEB-Unhas hanyalah bagian kecil dari harapan itu. Sayangnya, dalam lingkup Universitas, kondisi yang sama juga terjadi. Universitas dikelola layaknya kantor pemerintah semata hingga yang lahir dari dalamnya serupa kebijakan-kebijakan tanpa dasar dan kadang tidak masuk akal. Padahal, menurut Lyotard (1984): "The university’s relation to knowledge is articulated by a metanarrative of ‘the realization of the life of the spirit or the emancipation of
humanity and its ‘unifying idea’ and ideal of aligning culture and society".
Ambil contoh pelarangan masuk angkutan kota ke dalam kampus namun kendaraan pribadi tetap tak dibatasi. Apalagi alasan yang digunakan adalah demi lingkungan dan keteraturan kampus. Padahal, kendaraan pribadi dosen dan mahasiswa luar bisa banyaknya hingga parkir di pinggir jalan dan membuat kemacetan setiap jam-jam padat. Pola pikir seperti ini tentu sangat disayangkan muncul dari kalangan kampus. Belum lagi perpustakaan kampus yang tidak pernah mendapat perhatian lebih seperti gedung rektorat yang sudah direnovasi beberapa kali. Artinya, hal-hal yang berkaitan langsung dengan pengembangan pengetahuan tak begitu berarti untuk mendapat perhatian ketimbang hal-hal artifisial dan seremonial lainnya.
Lalu Bagaimana?
Ada pendapat yang mengatakan seperti ini, bahwa marah terhadap kondisi yang buruk itu adalah sesuatu hal yang bagus. Namun marah-marah saja karena keadaan yang buruk, lama-lama menjadi aktifitas yang meletihkan dan menjengkelkan. Nah, agar tak terjengkelkan dan terletihkan, maka ada beberapa hal yang bisa menjadi perhatian FEB-Unhas di 64 tahun usianya kini.
Pertama, berhentilah selalu merasa tua. Dalam setiap perayaan Dies Natalis, selalu didengungkan bahwa FEB-Unhas adalah yang tertua di Indonesia. Tidak salah memang, apalagi dokumen sejarah yang ada membuktikan itu. Tapi pemikiran dan kebanggaan semu seperti ini membuat kita jumawa dan lupa bahwa usia bukan segalanya. Kerja dan bakti nyata itu yang perlu. Perlu juga dipikirkan perayaan Dies Natalis itu dibatasi sekali dalam dua tahun saja. Seremoni yang tidak jelas sudah terlalu banyak di kampus. Perlu menitikberatkan esensi daripada seremoni belaka.
Kedua, perlu upaya serius membenahi fasilitas kampus yang ada saat ini. Fasilitas ini tentu saja sangat bergantung pada ketersediaan dana yang dialokasikan universitas. Namun alternatif pembiayaan bukannya tidak ada. Wadah alumni bisa dimanfaatkan dan juga pihak ketiga lainnya seperti korporasi dan individu. Tentu saja, akuntabilitas dan transaparansi menjadi syarat dasar agar hal ini bisa dijalankan.
Ketiga, tak boleh lagi sekedar duduk bersama mendiskusikan soal bagaimana sebaiknya iklim akademik di fakultas bisa dibenahi. Road map dan diskusi tak terhitung lagi berapa kali dilaksanakan namun minim implementasi. Meski tata-kelola dan prosedur tak boleh dilanggar, namun ini seharusnya tidak memberi batas akan kreatifitas dan pikiran berbeda untuk berkembang. Sudah saatnya pengelola fakultas berhenti berpikir dan berparadigma pejabat kelurahan.
Dalam konteks perkuliahan, perlu dibangun kesadaran bersama dari dosen untuk tidak lagi sekedar menggugurkan kewajiban semata. Insentif untuk mereka yang serius di riset perlu juga dikaji. Selain itu, perlu pula dipikirkan kerjasama dengan pihak swasta untuk menjembatani teori-praktek yang selama ini terkesan diabaikan. Tak ada salah memanggil praktisi untuk mengisi jadwal kuliah. Tentu, tak sekedar mengisi kuliah semata, tapi diharapkan mampu berbagi pengalaman tentang realitas di luar yang mungkin saja luput dari perhatian kita di kampus. Generasi hi-tech saat ini sudah tidak dapat lagi didekati dengan pendekatan a la 'jadul', meski prinsip-prinsip dasar dalam belajar masih tetap harus dipertahankan. Prinsip-prinsip seperti kesungguhan, kerja keras dan kejujuran harus menjadi basis dalam setiap aktifitas pembelajaran. Pelibatan makin banyak dan beragam
Kampus sudah selayaknya tak hanya berfungsi sebagai penyebar pengetahuan (disseminator of the knowledge) tp menjadi basis dari pengetahuan itu sendiri (a site of knowledge production). Namun jika masih dikelola seperti kondisi yang ada saat ini, rasanya keinginan itu masih jauh sekali. Kampus puh tidak boleh lepas dari akar kulturalnya. Dalam visi besar FEB-Unhas, semangat bahari jelas termaktub. Bagaimana implementasinya? Sederhana menjawabnya, tidak ada mata kuliah khusus yang membahas dan menerjemahkan visi ini.
Padahal, jika betul dipahami dengan baik, maka ini bisa menjadi basis pembeda FEB-Unhas dengan FEB yang lain. Selain itu, semangat bahari dan ekonomi kerakyatan yang menjadi spiritnya, bisa digunakan sebagai dasar dalam membentuk ‘narratives of expertise’ dari FEB-Unhas.
Akhirnya, semoga Dies Natalis kali ini menjadi langkah awal menjadi lebih baik dan bermanfaat. Tak harus selalu merasa tua.. Dirgahayu FE-Unhas ke-64.
64 Tahun FE Unhas, Berhentilah Merasa Tua
Setiap bulan Oktober adalah bulan istimewa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unhas (FEB-Unhas). 8 Oktober 1948, Fakultas ini dibentuk sebagai bagian dari upaya desentralisasi pendidikan tinggi saat itu. Niat awalnya untuk memenuhi kebutuhan guru-guru ilmu ekonomi dan pemegang buku di sekolah-sekolah menengah di Indonesia.
Tahun ini, tepat 64 tahun FEB-Unhas. Sebuah usia yang tak bisa dikatakan muda lagi. Namun sayangnya, dalam setiap tahun acara peringatan Dies Natalis ini, praktis tidak banyak perubahan berarti. Usia yang tak muda lagi rupanya berimplikasi pada kinerja kelembagaan yang tak juga beranjak meninggi. Ini tak menafikan beberapa perubahan yang ada. Namun demikian, perubahan itu seharusnya sudah terjadi beberapa tahun lalu.
Perubahan paling sederhana (dan mungkin malah yang paling tinggi tingkat pencapaiannya) adalah perubahan nama dari Fakultas Ekonomi (FE) menjadi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB). Perubahan ini sayangnya tidak diikuti dengan perubahan paradigma yang berarti. Sederhananya, perubahan ini sekedar mengikuti trend perubahan nama di beberapa perguruan tinggi lain. Perubahan lain yang juga mencolok adalah pembangunan fisik dan kampus yang sedikit tertata. Namun sekali lagi, tak perlu visi dan usaha luar biasa besar untuk perubahan 'kecil' seperti ini.
Mengelola FEB-Unhas memang bukan pekerjaan mudah. Apalagi, sebagai bagian integral dari Unhas dan kementrian pendidikan dan kebudayaan, tentu ada mekanisme dan tata-aturan yang harus diikuti. Pemahaman prosedural memang menjadi penting ketika ingin melihat institusi ini secara utuh.
Meski begitu, hal ini tak bisa menjadi alasan pembenar dari 'lambat-gerak' FEB-Unhas menghadapi masa depan. Apalagi disadari, tantangan pendidikan tinggi ke depan semakin besar. Tantangan yang besar ini dibarengi pula dengan tuntutan yang tinggi akan kontribusi institusi pendidikan tinggi, yang bagi beberapa kalangan dirasa belum berarti (untuk tidak mengatakannya tidak ada sama sekali).
FEB-Unhas sebagaimana Fakultas Ekonomi yang lain sebenarnya berdiri di persimpangan jalan. Berbicara ekonomi dan bisnis maka kita tentu tak bisa melepaskan diri dari persinggungannya dengan sosial, politik dan budaya. Ini pula yang melatari banyak kritik terhadap pendidikan ekonomi di perguruan tinggi. Kita mungkin bisa belajar dari perjalanan panjang sekolah-sekolah bisnis di Amerika dan Eropa. Di era pasca perang dunia II, di Amerika khususnya, sekolah-sekolah bisnis (business schools) dikritik tak ubahnya sebagai 'trade schools'. Hal ini dilatari dari minimnya kontribusi pengetahuan, yang diakibatkan oleh lemahnya riset-riset dari perguruan tinggi tersebut. Kesenjangan ini ditambah lagi dengan kurang aplikatifnya riset-riset yang telah dilakukan sebelumnya.
Beberapa sekolah-sekolah bisnis top kemudian memperkenalkan model pengajaran berbasis kasus (case study) sebagai upaya untuk menutup celah 'ketidak-sesuaian' antara teori dan praktek ini. Kelas-kelas yang bersifat aplikatif seperti program MBA dan kelas eksekutif pun diperkenalkan. Dengan harapan, ini bisa menjadi jembatan antara kebutuhan bisnis dan tuntutan riset yang harus dilakoni oleh civitas akademika.
Sampai di sini kritik bukannya tidak ada. Beberapa kalangan kemudian menilai bahwa sekolah-sekolah bisnis telah berubah menjadi sebuah industri tersendiri, yang melihat mahasiswa tak ubahnya sebagai konsumen semata. Kritik lain menyebutkan bahwa sekolah-sekolah bisnis itu sudah tak berideologi mulia lagi, dimana keuntungan finansial menjadi tujuan utama layaknya sebuah korporasi dan mempertaruhkan integritas akademiknya.
Tak berhenti di situ, kondisi ekonomi global yang tidak menggembirakan juga ditengarai sebagai akibat dari sistem pendidikan ekonomi dan bisnis yang sangat kaku dan tidak bermoral. Diawali dari runtuhnya Enron dan diikuti dengan beberapa korporasi besar lainnya. Semuanya bermuara pada pengajaran ekonomi dan bisnis yang dianggap menjadikan orang menjadi rakus dan amoral. Keuntungan finansial menjadi segalanya tanpa perlu merisaukan urusan lain.
Yang paling anyar kritik (tepatnya refleksi) disampaikan oleh Professor Howard Davies yang mengambil kisah dari ketidak-puasan Jean-Claude Trichet, mantan gubernur bank sentral Eropa, terhadap terbatasnya kemampuan 'ilmu ekonomi' untuk mengatasi masalah-masalah ekonomi yang mendera banyak negara kini. Menurutnya, model-model konvensional yang ditawarkan ilmu ekonomi tak lagi cukup dan mumpuni untuk digunakan sebagai landasan untuk mengambil keputusan. Akhirnya, gubernur bank sentral Eropa ini meminta bantuan kepada ahli dari bidang lain seperti ahli fisika, biologi, hingga ahli psikologi untuk menjelaskan apa sebenarnya yang terjadi dengan ekonomi global.
to be continued
Tahun ini, tepat 64 tahun FEB-Unhas. Sebuah usia yang tak bisa dikatakan muda lagi. Namun sayangnya, dalam setiap tahun acara peringatan Dies Natalis ini, praktis tidak banyak perubahan berarti. Usia yang tak muda lagi rupanya berimplikasi pada kinerja kelembagaan yang tak juga beranjak meninggi. Ini tak menafikan beberapa perubahan yang ada. Namun demikian, perubahan itu seharusnya sudah terjadi beberapa tahun lalu.
Perubahan paling sederhana (dan mungkin malah yang paling tinggi tingkat pencapaiannya) adalah perubahan nama dari Fakultas Ekonomi (FE) menjadi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB). Perubahan ini sayangnya tidak diikuti dengan perubahan paradigma yang berarti. Sederhananya, perubahan ini sekedar mengikuti trend perubahan nama di beberapa perguruan tinggi lain. Perubahan lain yang juga mencolok adalah pembangunan fisik dan kampus yang sedikit tertata. Namun sekali lagi, tak perlu visi dan usaha luar biasa besar untuk perubahan 'kecil' seperti ini.
Mengelola FEB-Unhas memang bukan pekerjaan mudah. Apalagi, sebagai bagian integral dari Unhas dan kementrian pendidikan dan kebudayaan, tentu ada mekanisme dan tata-aturan yang harus diikuti. Pemahaman prosedural memang menjadi penting ketika ingin melihat institusi ini secara utuh.
Meski begitu, hal ini tak bisa menjadi alasan pembenar dari 'lambat-gerak' FEB-Unhas menghadapi masa depan. Apalagi disadari, tantangan pendidikan tinggi ke depan semakin besar. Tantangan yang besar ini dibarengi pula dengan tuntutan yang tinggi akan kontribusi institusi pendidikan tinggi, yang bagi beberapa kalangan dirasa belum berarti (untuk tidak mengatakannya tidak ada sama sekali).
FEB-Unhas sebagaimana Fakultas Ekonomi yang lain sebenarnya berdiri di persimpangan jalan. Berbicara ekonomi dan bisnis maka kita tentu tak bisa melepaskan diri dari persinggungannya dengan sosial, politik dan budaya. Ini pula yang melatari banyak kritik terhadap pendidikan ekonomi di perguruan tinggi. Kita mungkin bisa belajar dari perjalanan panjang sekolah-sekolah bisnis di Amerika dan Eropa. Di era pasca perang dunia II, di Amerika khususnya, sekolah-sekolah bisnis (business schools) dikritik tak ubahnya sebagai 'trade schools'. Hal ini dilatari dari minimnya kontribusi pengetahuan, yang diakibatkan oleh lemahnya riset-riset dari perguruan tinggi tersebut. Kesenjangan ini ditambah lagi dengan kurang aplikatifnya riset-riset yang telah dilakukan sebelumnya.
Beberapa sekolah-sekolah bisnis top kemudian memperkenalkan model pengajaran berbasis kasus (case study) sebagai upaya untuk menutup celah 'ketidak-sesuaian' antara teori dan praktek ini. Kelas-kelas yang bersifat aplikatif seperti program MBA dan kelas eksekutif pun diperkenalkan. Dengan harapan, ini bisa menjadi jembatan antara kebutuhan bisnis dan tuntutan riset yang harus dilakoni oleh civitas akademika.
Sampai di sini kritik bukannya tidak ada. Beberapa kalangan kemudian menilai bahwa sekolah-sekolah bisnis telah berubah menjadi sebuah industri tersendiri, yang melihat mahasiswa tak ubahnya sebagai konsumen semata. Kritik lain menyebutkan bahwa sekolah-sekolah bisnis itu sudah tak berideologi mulia lagi, dimana keuntungan finansial menjadi tujuan utama layaknya sebuah korporasi dan mempertaruhkan integritas akademiknya.
Tak berhenti di situ, kondisi ekonomi global yang tidak menggembirakan juga ditengarai sebagai akibat dari sistem pendidikan ekonomi dan bisnis yang sangat kaku dan tidak bermoral. Diawali dari runtuhnya Enron dan diikuti dengan beberapa korporasi besar lainnya. Semuanya bermuara pada pengajaran ekonomi dan bisnis yang dianggap menjadikan orang menjadi rakus dan amoral. Keuntungan finansial menjadi segalanya tanpa perlu merisaukan urusan lain.
Yang paling anyar kritik (tepatnya refleksi) disampaikan oleh Professor Howard Davies yang mengambil kisah dari ketidak-puasan Jean-Claude Trichet, mantan gubernur bank sentral Eropa, terhadap terbatasnya kemampuan 'ilmu ekonomi' untuk mengatasi masalah-masalah ekonomi yang mendera banyak negara kini. Menurutnya, model-model konvensional yang ditawarkan ilmu ekonomi tak lagi cukup dan mumpuni untuk digunakan sebagai landasan untuk mengambil keputusan. Akhirnya, gubernur bank sentral Eropa ini meminta bantuan kepada ahli dari bidang lain seperti ahli fisika, biologi, hingga ahli psikologi untuk menjelaskan apa sebenarnya yang terjadi dengan ekonomi global.
to be continued
Labels:
Berbagi,
catatan sekedarnya,
WorkOnProgress
Saturday, October 13, 2012
Analysis of Non-Market Strategies Implemented by Firms In Emerging Economies (The Case of Indonesia)
Abstract
Over the last two decades, a growing body of research, both theoretical and empirical, on exploring the relationship between business and government has been emerging. While in the past, the performance of the firms mainly relied on market environment, many scholars revealed that non-market environment also play an important role in the firm’s performance. Non-market strategies include political donation, lobbying, CSR and business owners turning into politicians themselves. This proposed research will identify and examine the nature of the non-market environment as well as non-market strategies implemented by firms in emergent economies. In addition, the proposed research will analyse the relationship between non-market strategies and the performance of firms. In-depth case studies will be carried out in two firms in the region South Sulawesi, Indonesia. The expected outcomes of this study are: 1) knowledge of how the non-market environment influences the choice of non-market strategies in emergent economies; 2) knowledge on how non-market strategies influence business performance; 3) clarification of the role of government in an emergent economy with particular emphasis on government policies on business development under volatile market conditions. It is expected that this study will fill in the gap in literature on various types of non-market strategies in conditions of emergent economies.
Over the last two decades, a growing body of research, both theoretical and empirical, on exploring the relationship between business and government has been emerging. While in the past, the performance of the firms mainly relied on market environment, many scholars revealed that non-market environment also play an important role in the firm’s performance. Non-market strategies include political donation, lobbying, CSR and business owners turning into politicians themselves. This proposed research will identify and examine the nature of the non-market environment as well as non-market strategies implemented by firms in emergent economies. In addition, the proposed research will analyse the relationship between non-market strategies and the performance of firms. In-depth case studies will be carried out in two firms in the region South Sulawesi, Indonesia. The expected outcomes of this study are: 1) knowledge of how the non-market environment influences the choice of non-market strategies in emergent economies; 2) knowledge on how non-market strategies influence business performance; 3) clarification of the role of government in an emergent economy with particular emphasis on government policies on business development under volatile market conditions. It is expected that this study will fill in the gap in literature on various types of non-market strategies in conditions of emergent economies.
Karena Ibadah Bukan Hanya Shalat Jumat
Sudah berapa jumat yang saya lewati, khutbah jumat siang tadi adalah yang paling berani dan paling berbekas. Berani sebab sang khatib bicara soal sederhana namun menyentuh. Ia berbicara tentang betapa Sahalat Jumat, yang seharusnya dimuliakan dan utama sering kita abaikan.
Sang khatib memberi contoh. Rasulullah menganjurkan kita melihat ibadah Jumat sebagai ibdaha utama di setiap pekan kita. Makanya, persiapan seperti berbersih diri, memakai pakaian bersih dan wewangian hingga menyegerakan datang sebelum khatib berbicara adalah sebagian anjurannya. Namun yang terjadi, shalat jumat sering dianggap biasa. Kita kadang memilih datang telat, hanya karena selalu menganggap khutbah jumat itu lebih bahaya dari obat tidur. Bahkan, beberapa jamaah memang lebih memilih bermain dengan telepon genggam mereka ketimbang mendengarkan khatib berbagi kebenaran. Tentu saja, tidak semua khatib sesuai harapan dan keinginan kita. Tapi dalam ilmu psikologi kita juga tahu, sebagai manusia kita lebih sering mencari informasi yang sesuai keinginan. Nah, dalam urusan beragama, keinginan dan harapan itu kadang dibenturkan dengan perintah dan larangan.
Padahal, lanjut sang khatib, film berdurasi lebih 2 jam tak membuat kita ngantuk dan mengalihkan perhatian. Intinya, urusan dunia sering membuat kita menjadi perhitungan dengan Allah.
Betul, di negara ini yang Islam bukan mayoritas, kita harus menyesuaikan diri dengan lingkungan. Namun ini lebih banyak dipakai sebagai kedok ketimbang berbicara soal kenyataan yang ada. Selalu punya banyak alasan untuk kemalasan. Alasan memang begitu dekat dengan kemalasan. Kita sering berharap doa dikabulkan, namun tak pernah perhatikan apa yang menjadi kewajiban.
Sang khatib memberi contoh. Rasulullah menganjurkan kita melihat ibadah Jumat sebagai ibdaha utama di setiap pekan kita. Makanya, persiapan seperti berbersih diri, memakai pakaian bersih dan wewangian hingga menyegerakan datang sebelum khatib berbicara adalah sebagian anjurannya. Namun yang terjadi, shalat jumat sering dianggap biasa. Kita kadang memilih datang telat, hanya karena selalu menganggap khutbah jumat itu lebih bahaya dari obat tidur. Bahkan, beberapa jamaah memang lebih memilih bermain dengan telepon genggam mereka ketimbang mendengarkan khatib berbagi kebenaran. Tentu saja, tidak semua khatib sesuai harapan dan keinginan kita. Tapi dalam ilmu psikologi kita juga tahu, sebagai manusia kita lebih sering mencari informasi yang sesuai keinginan. Nah, dalam urusan beragama, keinginan dan harapan itu kadang dibenturkan dengan perintah dan larangan.
Padahal, lanjut sang khatib, film berdurasi lebih 2 jam tak membuat kita ngantuk dan mengalihkan perhatian. Intinya, urusan dunia sering membuat kita menjadi perhitungan dengan Allah.
Betul, di negara ini yang Islam bukan mayoritas, kita harus menyesuaikan diri dengan lingkungan. Namun ini lebih banyak dipakai sebagai kedok ketimbang berbicara soal kenyataan yang ada. Selalu punya banyak alasan untuk kemalasan. Alasan memang begitu dekat dengan kemalasan. Kita sering berharap doa dikabulkan, namun tak pernah perhatikan apa yang menjadi kewajiban.
Thursday, August 16, 2012
A Separation-- Semacam Review
Suntuk dengan bacaan dengan topik yang itu-itu saja, serta lelah dengan paper yang rasanya tak beranjak dari halaman terakhir, menonton film adalah pilihan bijak, meski tak pasti bestari. Masalahnya, tak ada toko dvd bajakan disini. Beberapa alternatif sebenarnya tersedia. Blockbuster, atau VideoEazy sebenarnya bisa. Tapi karena tak tahu bagaimana caranya, maka pilihan jatuh ke i-tunes.
Banyak pilihan film, tapi tak banyak menarik. Apalagi harga film rental yang terbaru masih relatif mahal. Bosan juga dengan genre action yang masih mendominasi. Setelah browsing beberapa lama, pilihan jatuh ke film independent "A Separation" yang disutradarai oleh Asghar Farhadi. Testimoni yang ada cukup menjanjikan. Film ini berhasil meraih Oscar 2011 untuk film berbahasa asing terbaik. Penghargaan dari festifal film dari beberapa negara juga telah diraih film ini. Review singkat film ini pun menjanjikan alur cerita yang menarik.
Film ini bercerita tentang sepasang suami istri kelas menengah Iran. Sang istri bernama Simin (saya duga) adalah seorang Dosen dan suaminya, Nader adalah seorang karyawan bank. Simin berniat pindah ke negara lain demi mencari penghidupan yang lebih baik. Sampai disini, sebenarnya tidak banyak disinggung mengapa ia mau keluar dari Iran. Dalam film, kehidupan mereka sebenarnya baik-baik saja, standar kelas menengah kota besar. Apartemen ada. Anak gadis yang pintar dan penurut pun melengkapi kehidupan mereka.
Masalahnya, Nader tak setuju dengan ide sang istri. Apalagi ia memiliki ayah yang mengidap Alchezemir dan butuh perawatan. Gambaran anak berbakti dengan jelas bisa kita lihat dari peran Nader ini. Ia memandikan sang ayah, mengganti pakaiannya dan membelikan koran setiap hari. Ia tak tega meninggalkan sang ayah, meski Simin berkali-kali mengatakan bahwa bahkan ayahnya tak tahu siapa nama anaknya. Toh, meninggalkan ayah dalam kondisi seperti itu tak berarti apa-apa. Akhirnya, Simin memutuskan untuk menggugat cerai sang suami. Di pengadilan, bukannya persetujuan, tapi ceramah hakim yang didapatnya. Menurut sang hakim, alasan untuk bercerai yang disampaikan Simin tak cukup kuat. Tak ada kekerasan rumah tangga, pun sang suami tidak ada kendala dalam memberi nafkah lahir dan batin.
Tanpa restu pengadilan, Simin akhirnya meninggalkan sang suami dengan anaknya. Ia pergi entah kemana. Dalam kondisi seperti ini, Nader tak punya banyak pilihan. Kerjaan tak mungkin ditinggal, sementara ayahnya butuh perawatan maksimal. Ia rekrutlah seorang wanita bernama Razieh untuk menjadi semacam pembantu rumah tangga, yang tugasnya mengatur rumah dan menjaga sang ayah. Razieh digambarkan sebagai wanita dengan seorang anak perempuan, taat beribadah dan memegang teguh prinsip ke-Islaman. Gambaran khas wanita Iran dengan tutup kepala besar dan hitam.
Dalam perjalanannya, konflik kemudian muncul. Baru 2 hari bekerja, Nader pulang ke rumah dan menemukan ayahnya terjatuh dari tempat tidur dengan selang oksigen yang tidak terpasang dengan baik. Ia panik tak terkira dan berusaha membangunkan ayahnya. Selang beberapa lama, Razieh sang pembantu datang ke rumah. Murkalah Nader kepada Razieh, yang menurutnya tidak bertanggung jawab atas kerjaan yang diberikan. Belum lagi ia kemudian menemukan bahwa sejumlah uangnya hilang. Konflik yang khas dan sarat dalam film-film Indonesia bergenre 'sedih - berakhir bahagia'.
Razieh berusaha membela diri dan meyakinkan Nader bahwa ia tak seperti yang dipikirkannya. Namun dengan penuh murka Nader mengusir Razieh, yang parahnya membuat Razieh terbanting keluar dari pintu hingga terjatuh. Sampai disini semuanya berjalan biasa, hingga beberapa hari kemudian Razieh ditemukan terbaring di rumah sakit karena keguguran. Razieh, si pembantu itu ternyata hamil dan tuduhan beralih ke Nader sebagai penyebab keguguran. Konflik pun beralih antara Nader dan suami Razieh, yang tentu saja tak terima istrinya tersakiti dan kehilangan jabang bayi dalam waktu bersamaan.
Dan ternyata saudara-saudara, Simin yang sebelumnya digambarkan telah pergi ke negeri seberang, masih ada di Iran. Ia tinggal dirumah orang tuanya. Ternyata ia tak begitu berani pergi meninggalkan negeri tanpa anaknya. Kekhawatiran terbesar pada anaknya itulah yang membuatnya tak jua meninggalkan kota. Dan sang istri pun mengikuti dibalik layar kehidupan suaminya, yang ternyata tak mulus. Ia pun berinisiatif mengatur jalan damai dengan keluarga korban agar suaminya tak sampai harus mendekam di penjara. Ia bahkan rela menjual mobilnya untuk membayar denda 'uang kemantian' sebagaimana disyaratkan pengadilan.
Ini tak berjalan mulus. Ada konflik lain yang dihadirkan sang sutradara. Hingga disini saya merasa film ini tak ada habisnya. Habis satu konflik terbit konflik yang lain. Dalam rumus film, ini mungkin kriteria film yang bagus, entahlah..
Singkat cerita, pertemuan untuk jalan damai antara dua keluarga pun disiapkan. Nader bersedia membayar tebusan, dengan satu syrat, Razieh mau bersumpah di atas Alquran bahwa Naderlah penyebab kematian calon bayinya dan mengakibatkannya masuk rumah sakit. Razieh, yang digambarkan sebagai seorang muslimah yang taat, menolak. Baginya, ia sendiri tak yakin dengan itu. Apalagi suaminya memang berkepentingan terhadap pembayaran denda itu karena telah dikejar-kejar kreditor yang ingin menagih utang yang telah menumpuk.
Film ini ditutup dengan adegan pengadilan, sekali lagi. Kali ini, pengadilan dalam kasus perwalian anak. Scene film ini tak jauh dari apartemen Nader, dan pengadilan. Dua jam lebih tak terasa, dan film ini terus mengaduk-ngaduk perasaan. Namun film ini rasanya tak menggambarkan Iran dengan utuh. Atau jangan-jangan ini film diniatkan menjadi 'duta perdamaian' bagi Iran di dunia global yang terlanjur mencitrakan negara ini sebagai negara ekstrimis dan tidak bershabat dengan kaum perempuan.
Namun dibalik pertanyaan itu, saya menikmati betul dialek Persia yang enak di dengar itu. Sebab kenikmatan menonton film ini tentu akan rusak jika disulih-suarakan. Dan syukurlah, karena kategori Oscar yang didapatnya adalah film berbahasa asing, maka hal itu tidak terjadi.
Sebuah film yang bagus, namun agak sangsi ini bisa diterima oleh orang Iran sendiri.
Photo credit: http://www.disassociated.com
Monday, July 23, 2012
Ramadhan 2012
Alhamdulillah, akhirnya bertemu Ramdahan lagi. Selayaknya resolusi hidup itu dimulai di ramadhan. Memperbaiki diri dan hidup. Banyak manfaat dan berkah di bulan ini. Meski jauh dari rumah dan keluarga, tapi pengalaman puasa ini tetap berkesan,
Yang selalu dinanti orang berpuasa biasanya saat berbuka. Katakanlah ini anak tangga paling rendah dari tingkat keimanan. Tapi bukankah Rasulullah sendiri berkata demikian?
Nah, soal berbuka ini, karena dirumah semua kawan tak berpuasa, maka saya memilih berbuka di kampus. Dari kawan, saya dengar bahwa mesjid kampus menyediakan takjil untuk mahasiswa.
Setengah jam sebelum waktu berbuka, saya sudah berada di mesjid. Ini kali pertama, dan tepat di ramadhan hari pertama. Jejeran takjil sudah tersedia. Beberapa pengurus islamic society dari guild sedang sibuk menyiapkan takjil. Sederhana memang. Ada kurma, biskuit dan susu yang dicampur sari buah. Semua dikerjakan bersama. Saya hanya membantu menyiapkan tikar dan tidak ingin terlibat terlalu jauh. Toh, sudah banyak pemuda disana.
Saat adzan dikumandangkan, kami semua berbuka. Duduk mengitari piring berisi takjil tadi, sekitar 4-5 orang per piring. Makan bersama jadi pengobat rindu akan puasa di kampung sendiri. Setelah Maghrib, kami pun kembali ke tempat semual. kali ini, yang disediakan nasi sebakul besar beserta ayam kari. Satu baki dimakan 4-5 orang lagi. Jangan bicara hyginietasnya, ini makan bersama dan sesuai sunnah nabi, begitu saya dengar dari seorang jamaah disamping. Menariknya, selain mahasiswa, banyak juga kaum muslimina lain yang hadir. Ada sopir taksi, teknisi perusahaan listrik, hingga para manula. Kebanyakan mereka bersala dari Pakistan, Afghanistan, Libya dan negara timur tengah. Tak heran, model berbuka yang dipakai adalah khas dari tumur tengah.
Alhamdulillah, Ramdahan karim.. semoga berkah puasa menyertai kita semua.
Wednesday, July 11, 2012
Hubungan Gelap
Demokrasi sejatinya adalah pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Namun bagaimana jika satu atau beberapa bagian dari rakyat lebih kuat dan berdaya ketimbang yang lain?
Pertanyaan ini menarik jika kita mengacu pada ramainya berita tentang sumbangan beberapa pengusaha kepada Polda Sulsel-Bar beberapa waktu lalu. Sumbangan yang diterima beragam, tanah dan bahan bangunan, hingga kendaraan bermotor. Jumlahnya pun luar biasa, total lebih dari Rp 7,8 Milyar, (Tribun-timur.com)
Kritikan bukannya tidak ada. Beberapa pihak menilai keputusan Polda untuk menerima sumbangan itu menunjukkan betapa institusi ini belum punya niat kuat untuk melaksanakan reformasi kepolisian dengan sungguh-sungguh. Apalagi ada kesan bahwa sumbangan tersebut akan menyandera kepolisian sebab pengusaha tersebut disinyalir bermasalah dan pernah berperkara.
Namun betulkah semua kesalahan layak ditimpakan kepada pihak kepolisian semata?
Hubungan antara pengusaha dan pengambil kebijakan, termasuk kepolisian, memang menjadi faktor penting, khususnya dalam bidang manajemen strategi. Dalam prakteknya, perusahaan mempunyai dua strategi besar. Pertama, strategi yang berkaitan dengan pasar (corporate market strategy). Strategi ini berkaitan langsung dengan produk/jasa yang dihasilkan oleh perusahaan. Kedua, strategi yang tidak berkaitan secara langsung dengan produk/jasa yang dihasilkan atau biasa juga disebut non-market strategy.
Nah, dalam konteks Indonesia, strategi yang paling dominan dijalankan perusahaan dan pengusaha (kelihatannya) adalah strategi non-pasar ini. Rupa-rupa implementasinya. Mulai dari menjadi dermawan, memberikan bantuan sosial, dan hingga menjadi politisi. Dalam bentuk ekstrim, penyuapan juga menjadi pilihan. Strategi-strategi ini dilaksanakan sebagai upaya untuk mempercepat urusan dan menghindarkan dari kondisi ketidakpastian.
Dalam literatur strategi politik perusahaan, ada dua hal utama yang menyebabkan mengapa pengusaha memilih strategi non-pasar ini. Pertama, tingginya tingkat ketidakpastian kebijakan yang berkaitan dengan dunia usaha. Dalam kondisi ini, pengusaha praktis tidak memiliki informasi yang baku dan kemudian bisa dipakai dalam menentukan strategi jangka panjang.
Meski pemerintah (pusat dan daerah) selalu mengklaim perbaikan iklim usaha, termasuk dengan pembentukan pelayanan satu atap, namun realitanya membuktikan hal yang berbalik. Kutipan tidak resmi masih menghantui kalangan pengusaha.
Kedua, lemahnya penegakan hukum. Kondisi ini bukan baru terjadi belakangan ini, namun sayangnya, belum banyak perubahan berarti yang bisa kita lihat. Kepolisian, sebagai salah satu institusi yang bertanggung jawab untuk hal ini, belum mampu menunjukkan perubahan berarti. Maka, dalam konteks ini kita bisa pahami mengapa penolakan beberapa kalangan terhadap sumbangan yang diberikan pengusaha muncul.
Dalam menghadapi dua kondisi di atas, pengusaha dituntut untuk cerdas. Maka strategi non-pasar ini menjadi penting. Strategi ini sebenarnya tak lebih dari membangun hubungan baik dengan penentu kebijakan. Harapannya adalah, agar perusahaan mendapatkan ‘keunggulan kompetitif’ dibanding perusahaan yang lain.
Tanpa memperbaiki lingkungan bisnis yang ada, maka ‘hubungan gelap’ pengusaha dan penguasa akan terus berkembang. Bahkan bisa jadi, meski aturan makin banyak dan berlipat, tapi hubungan gelap ini akan mewujud dalam bentuk yang lebih canggih. Konflik kepentingan sebagaimana kekhawatiran banyak kalangan, akan terus tumbuh.
Ke depan, untuk meminimalisir konflik kepentingan yang mungkin timbul, perlu dibuat aturan yang jelas dan detail. Aturan ini tentu saja harus diikuti dengan penegakan hukum yang serius. Hal lain yang perlu dilakukan adalah membangun koalisi strategis antara pemerintah, swasta, dan masyarakat. Ketiganya harus berhubungan dalam koridor yang harmonis, sehat, transparan, dan akuntabel. Intinya, prinsip keadilan untuk semua. Dalam hal ini penikmat dari semua kebijakan bukan hanya pengusaha, tetapi juga seluruh komponen bangsa.
Menuntut kontribusi perusahaan dalam pembangunan memang wajar di tengah minimnya anggaran Negara. Namun itu tidak berarti membenarkan segala macam cara. Sekali lagi, bantuan beberapa pengusaha kepada Polda beberapa waktu itu lalu tentu saja menyisakan cerita tentang konflik kepentingan yang bakal timbul di masa mendatang.
Para pengusaha tidak berarti mengabaikan pentingnya strategi non-pasar ini. Namun penelitian menunjukkan bahwa perusahaan yang bergantung dengan strategi seperti ini, tidak akan bertahan lama. Energi pun akan habis untuk urusan yang tidak produktif. Perusahaan menjadi tidak berkembang dan akan berputar dalam isu-isu yang tidak ada kaitannya dengan kemajuan perusahaan. Keunggulan kompetitif yang didapat pun akan dengan mudah hilang seiring pergantian kekuasaan dan politik.
Kombinasi penguasa dan pengusaha bisa menjadi kekuatan yang luar biasa untuk pengembangan bangsa ini. Namun jika ini tidak diawasi, maka keputusan politik dan bisnis bisa terkonsentrasi pada beberapa kelompok kecil semata, yang tentu saja berdampak negatif bagi kemajuan bangsa.
Kita butuh polisi yang tangguh, dan pengusaha yang tidak manja. Sebuah harapan berat, namun bukan berarti tidak bisa.
Pertanyaan ini menarik jika kita mengacu pada ramainya berita tentang sumbangan beberapa pengusaha kepada Polda Sulsel-Bar beberapa waktu lalu. Sumbangan yang diterima beragam, tanah dan bahan bangunan, hingga kendaraan bermotor. Jumlahnya pun luar biasa, total lebih dari Rp 7,8 Milyar, (Tribun-timur.com)
Kritikan bukannya tidak ada. Beberapa pihak menilai keputusan Polda untuk menerima sumbangan itu menunjukkan betapa institusi ini belum punya niat kuat untuk melaksanakan reformasi kepolisian dengan sungguh-sungguh. Apalagi ada kesan bahwa sumbangan tersebut akan menyandera kepolisian sebab pengusaha tersebut disinyalir bermasalah dan pernah berperkara.
Namun betulkah semua kesalahan layak ditimpakan kepada pihak kepolisian semata?
Hubungan antara pengusaha dan pengambil kebijakan, termasuk kepolisian, memang menjadi faktor penting, khususnya dalam bidang manajemen strategi. Dalam prakteknya, perusahaan mempunyai dua strategi besar. Pertama, strategi yang berkaitan dengan pasar (corporate market strategy). Strategi ini berkaitan langsung dengan produk/jasa yang dihasilkan oleh perusahaan. Kedua, strategi yang tidak berkaitan secara langsung dengan produk/jasa yang dihasilkan atau biasa juga disebut non-market strategy.
Nah, dalam konteks Indonesia, strategi yang paling dominan dijalankan perusahaan dan pengusaha (kelihatannya) adalah strategi non-pasar ini. Rupa-rupa implementasinya. Mulai dari menjadi dermawan, memberikan bantuan sosial, dan hingga menjadi politisi. Dalam bentuk ekstrim, penyuapan juga menjadi pilihan. Strategi-strategi ini dilaksanakan sebagai upaya untuk mempercepat urusan dan menghindarkan dari kondisi ketidakpastian.
Dalam literatur strategi politik perusahaan, ada dua hal utama yang menyebabkan mengapa pengusaha memilih strategi non-pasar ini. Pertama, tingginya tingkat ketidakpastian kebijakan yang berkaitan dengan dunia usaha. Dalam kondisi ini, pengusaha praktis tidak memiliki informasi yang baku dan kemudian bisa dipakai dalam menentukan strategi jangka panjang.
Meski pemerintah (pusat dan daerah) selalu mengklaim perbaikan iklim usaha, termasuk dengan pembentukan pelayanan satu atap, namun realitanya membuktikan hal yang berbalik. Kutipan tidak resmi masih menghantui kalangan pengusaha.
Kedua, lemahnya penegakan hukum. Kondisi ini bukan baru terjadi belakangan ini, namun sayangnya, belum banyak perubahan berarti yang bisa kita lihat. Kepolisian, sebagai salah satu institusi yang bertanggung jawab untuk hal ini, belum mampu menunjukkan perubahan berarti. Maka, dalam konteks ini kita bisa pahami mengapa penolakan beberapa kalangan terhadap sumbangan yang diberikan pengusaha muncul.
Dalam menghadapi dua kondisi di atas, pengusaha dituntut untuk cerdas. Maka strategi non-pasar ini menjadi penting. Strategi ini sebenarnya tak lebih dari membangun hubungan baik dengan penentu kebijakan. Harapannya adalah, agar perusahaan mendapatkan ‘keunggulan kompetitif’ dibanding perusahaan yang lain.
Tanpa memperbaiki lingkungan bisnis yang ada, maka ‘hubungan gelap’ pengusaha dan penguasa akan terus berkembang. Bahkan bisa jadi, meski aturan makin banyak dan berlipat, tapi hubungan gelap ini akan mewujud dalam bentuk yang lebih canggih. Konflik kepentingan sebagaimana kekhawatiran banyak kalangan, akan terus tumbuh.
Ke depan, untuk meminimalisir konflik kepentingan yang mungkin timbul, perlu dibuat aturan yang jelas dan detail. Aturan ini tentu saja harus diikuti dengan penegakan hukum yang serius. Hal lain yang perlu dilakukan adalah membangun koalisi strategis antara pemerintah, swasta, dan masyarakat. Ketiganya harus berhubungan dalam koridor yang harmonis, sehat, transparan, dan akuntabel. Intinya, prinsip keadilan untuk semua. Dalam hal ini penikmat dari semua kebijakan bukan hanya pengusaha, tetapi juga seluruh komponen bangsa.
Menuntut kontribusi perusahaan dalam pembangunan memang wajar di tengah minimnya anggaran Negara. Namun itu tidak berarti membenarkan segala macam cara. Sekali lagi, bantuan beberapa pengusaha kepada Polda beberapa waktu itu lalu tentu saja menyisakan cerita tentang konflik kepentingan yang bakal timbul di masa mendatang.
Para pengusaha tidak berarti mengabaikan pentingnya strategi non-pasar ini. Namun penelitian menunjukkan bahwa perusahaan yang bergantung dengan strategi seperti ini, tidak akan bertahan lama. Energi pun akan habis untuk urusan yang tidak produktif. Perusahaan menjadi tidak berkembang dan akan berputar dalam isu-isu yang tidak ada kaitannya dengan kemajuan perusahaan. Keunggulan kompetitif yang didapat pun akan dengan mudah hilang seiring pergantian kekuasaan dan politik.
Kombinasi penguasa dan pengusaha bisa menjadi kekuatan yang luar biasa untuk pengembangan bangsa ini. Namun jika ini tidak diawasi, maka keputusan politik dan bisnis bisa terkonsentrasi pada beberapa kelompok kecil semata, yang tentu saja berdampak negatif bagi kemajuan bangsa.
Kita butuh polisi yang tangguh, dan pengusaha yang tidak manja. Sebuah harapan berat, namun bukan berarti tidak bisa.
Tuesday, June 26, 2012
Sekolah Kehidupan
Namanya Juan, asli Chile. Usianya sudah 66 tahun. Bersama seorang teman dari Makassar, kami sering mempelesetkan namanya dengan 'Iwang'. Ya, dengan huruf 'g' di belakang, khas makassar. Tepat setahun ia pensiun dari kerjaannya sebagai supervisor di pabrik bata merah. Kami bertemu beberapa kali. Sebelumnya kami haya duduk menanti bis yang datang. Tapi kali ini kami berbagi kisah. Tepatnya, ia membagi kisahnya. Porsi saya, 30 % mendengarkan. Mirip dengan penguasaan bola tim Inggris saat melawan Italia lah di piala Eropa kali ini.
Awalnya ia bercerita soal buah Nenas dan Nangka yang ia kenal dari Indonesia. Sejurus kemudian ia berbagi tentang kekamampuannya bercakap lima bahasa. Chile (tentu saja), English (ini juga tentu saja--ia PR disini dan telah hidup 45 tahun di Perth), Portugis, Spanyol, dan Italia. Wah, kagum juga gumam saya. Namun seperti mengerti gumaman saya, ia pun berujar, "tak perlu kagum anak muda, semua bahasa itu, kecuali English, adalah bahasa serumpun. Kamu relatif bisa memahaminya karena bahasa itu mirip-mirip adanya, meski banyak juga kata yang berbeda makna".
Lepas soal bahasa, ia bertanya soal kehidupan saya. Tak banyak yang bisa saya bagi, dan memang niat saya ingin mendengar saja. Sejak pagi saya sudah bicara dalam diskusi dengan pembimbing saya. Kali ini, ijinkan saya hanya mendengar.
"Anak muda, sekolahmu memang tinggi. Tapi tahukah kamu, sekolah yang tertinggi itu adalah kehidupan. Saya memang hanya tamat sekolah kejuruan di Chile sebelum saya menjadi imigran dan sampai disini. Tapi saya belajar banyak dalam rentang waktu itu."
Ia lalu bercerita bagaiman usia mudanya diisi dengan pesta. Rokok, bir dan wanita. Tapi ia kemudian berkata, "semuanya itu menjadi pelajaran bagi saya. kamu boleh salah, tapi jangan sampai mengulang kesalahanmu. Hidup ini juga singkat, maka jangan habiskan hidupmu dengan mengurusi urusan orang lain. Berbicaralah seperlunya. Tapi jika itu menyangkut hakmu, maka kamu harus berani berteriak".
Saya lalu bertanya, pertanyaan retorik sebenarnya. "Mengapa di usia 66 taun, kamu masih terlihat muda?". sambil tertawa dia berujar, " Kuncinya, nikmati hdiupnmu. Kamu hanya bisa menikmatinya hanya jika kamu tenang, maka tenangkan dirimu dengan mengecilkan porsi mengurusi urusan orang lain. Sayangin keluargamu, dan bermainlah sebagai manusia".
Bis yang dia nanti telah tiba. percakapan kami belum tuntas. Dia beranjak dan saya tetap saja di tempat. Saya pikir-pikir, pesannya tidak ada yang baru. Sejak kecil dan di sekolah, kami semua rasanya diajar seperti itu. Tapi mengapa ketika yang menyampaikannya itu Juan aka Iwang, rasanya menjadi lebih dalam. Betul, kehidupan ini adalah sekolah. Dan hari ini, gurunya Juan.
Awalnya ia bercerita soal buah Nenas dan Nangka yang ia kenal dari Indonesia. Sejurus kemudian ia berbagi tentang kekamampuannya bercakap lima bahasa. Chile (tentu saja), English (ini juga tentu saja--ia PR disini dan telah hidup 45 tahun di Perth), Portugis, Spanyol, dan Italia. Wah, kagum juga gumam saya. Namun seperti mengerti gumaman saya, ia pun berujar, "tak perlu kagum anak muda, semua bahasa itu, kecuali English, adalah bahasa serumpun. Kamu relatif bisa memahaminya karena bahasa itu mirip-mirip adanya, meski banyak juga kata yang berbeda makna".
Lepas soal bahasa, ia bertanya soal kehidupan saya. Tak banyak yang bisa saya bagi, dan memang niat saya ingin mendengar saja. Sejak pagi saya sudah bicara dalam diskusi dengan pembimbing saya. Kali ini, ijinkan saya hanya mendengar.
"Anak muda, sekolahmu memang tinggi. Tapi tahukah kamu, sekolah yang tertinggi itu adalah kehidupan. Saya memang hanya tamat sekolah kejuruan di Chile sebelum saya menjadi imigran dan sampai disini. Tapi saya belajar banyak dalam rentang waktu itu."
Ia lalu bercerita bagaiman usia mudanya diisi dengan pesta. Rokok, bir dan wanita. Tapi ia kemudian berkata, "semuanya itu menjadi pelajaran bagi saya. kamu boleh salah, tapi jangan sampai mengulang kesalahanmu. Hidup ini juga singkat, maka jangan habiskan hidupmu dengan mengurusi urusan orang lain. Berbicaralah seperlunya. Tapi jika itu menyangkut hakmu, maka kamu harus berani berteriak".
Saya lalu bertanya, pertanyaan retorik sebenarnya. "Mengapa di usia 66 taun, kamu masih terlihat muda?". sambil tertawa dia berujar, " Kuncinya, nikmati hdiupnmu. Kamu hanya bisa menikmatinya hanya jika kamu tenang, maka tenangkan dirimu dengan mengecilkan porsi mengurusi urusan orang lain. Sayangin keluargamu, dan bermainlah sebagai manusia".
Bis yang dia nanti telah tiba. percakapan kami belum tuntas. Dia beranjak dan saya tetap saja di tempat. Saya pikir-pikir, pesannya tidak ada yang baru. Sejak kecil dan di sekolah, kami semua rasanya diajar seperti itu. Tapi mengapa ketika yang menyampaikannya itu Juan aka Iwang, rasanya menjadi lebih dalam. Betul, kehidupan ini adalah sekolah. Dan hari ini, gurunya Juan.
Kembali (Lagi)
Entah sudah berapa kali, isi postingan serupa ini saya posting. Niatnya sederhana, bahwa blog yang semata wayang ini akan kembali diaktifkan. Rupa-rupa alasan selalu mengemuka. Maka, kini tak ada lagi alasan. Semoga bisa istiqamah.. Menulis, memang sebuah upaya mengekalkan kenangan juga.
Beberapa komen yang masuk di beberapa postingan, soal pulau Tunda dan artikel 'serius' soal penguasa - pengusaha. Menyesal sangat diri ini tak sempat membalas. Memoderasi komentar yang masuk, dan ternyata tak pernah mengecek dashboard, maka komen lama itu pun tak pernah dijawab. Bagi mereka, maafkanlah diriku, dan saya berkenan berkirim email dan informasi. Mari, seilahkan datang.
Beberapa komen yang masuk di beberapa postingan, soal pulau Tunda dan artikel 'serius' soal penguasa - pengusaha. Menyesal sangat diri ini tak sempat membalas. Memoderasi komentar yang masuk, dan ternyata tak pernah mengecek dashboard, maka komen lama itu pun tak pernah dijawab. Bagi mereka, maafkanlah diriku, dan saya berkenan berkirim email dan informasi. Mari, seilahkan datang.
Tuesday, December 20, 2011
Raja Punya Taman
Weekend kemarin mendapat tugas menemani beberap tamu dari Makassar. Bukan tamu sesungguhnya, tepatnya kawan. Ya, saat diperantauan, maka setiap orang yang datang dari kampung selalu dianggap kawan bahkan keluarga.
Nah, mereka, tiga orang dosen dari Politani yang ke Perth untuk tujuan short course. Urusan pelatihan tentu ditangani oleh universitas, namun urusan jalan-jalan, maka kami semua di sini berbagi peran. Nah, weekend kemarin giliran saya dan pak Ferdy. Kami berdua mengantar ke pusat perbelanjaan di business district di pusat kota.
Untuk klarifikasi, saya tidak berposisi mengantar, tapi menemani pak Ferdy yang mengantar. Ini karena saya pun orang baru di sini, jadi tidak cukup keberanian untuk menjadi guide.
Yang pertama dan utama, tentu saja belanja. Hampir 5 jam kami menunggu mereka menjajal satu per satu toko yang ada. Lumayan membosankan menunggu itu, tapi karena tugas mulia untuk kawan, maka kami coba menikmatinya. Habis dua cup kopi dan seporsi kebab Turki.
Lepas urusan belanja, kami pun menuju King's Park yang terletak di barat laut Perth. Taman ini berada di atas bukit. Saya pun baru pertama kalinya ke sini. Jadi selain menemani, juga memang beruntung bisa ikut jalan-jalan. Taman ini terdiri dari padang rumput yang luas, kebun, taman makam pahlawan sisa perang dunia dan juga arena publik yang betul-betul dijaga dan bisa dinikmati oleh semua.
Selalu iri melihat fasiltas publik yang betul-betul milik publik. Taman dijaga dengan dana dari pajak yang dibayarkan masyarakat. Makanya, masyarakat menjaga dan berhak untuk menikmatinya. Rasanya, tak perlu menjadi negara maju untuk bisa seperti ini. Untuk kasus Indonesia, perlu banyak yang diperbaiki agar kita pun bisa memiliki fasilitas serupa ini.
Dari atas bukit, kita bisa menyaksikan landmark kota Perth yang terdiri dari gedung-gedung pencakar langit. Kita pun bisa menyaksikan teluk dan perahu layar yang hilir mudik. Sibuk tak hanya di darat, tapi juga di perairan. Mengenai pemandangan itu satu hal, tapi yang membuat saya banyak berfikir adalah bagaimana kondisi ini bisa tercipta. Kesadaran akan sejarah bersanding dengan baik dengan pemanfaatan sumber daya untuk kepentingan bersama. Banyak keluarga yang datang piknik disini. Mereka bermain cricket, sekedar bercanda sampai bbq. Semuanya menikmati dan menjadi alternatif hiburan menarik saat weekend.
Saya kemudian teringat bagaimana Makassar yang mengklaim diri sebagai menjadi kota dunia yang minim fasilitas untuk publik. Ruang publik kemudian hanya diterjemahkan menjadi mall dan pusat perbelanjaan. Tak ada alternatif bagi masyarakat. Mau kemana coba? Musium, taman, tidak pernah mendapat perhatian serius dari pemerintah. Akhirnya pilihan keluarga Indonesia praktis hanya ke mall.
Rasanya, keprihatinan seperti ini masih harus disimpan untuk sekian lama. Melihat prioritas yang ada tidak pernah memasukkan fasilitas publik di urutan pertama. Kasihan..
Sunday, December 04, 2011
Mengais Rezeki Dari "Sampah"
Saatnya saya bercerta tentang teman-teman serumah. Bukan soal baik dan buruknya kali ini, sebab itu tentu tak elok. lagi pula, di sini kami sama-sama berjuang, maka tak ada ceritanya saling mencibir. Bukannya tak ada riak, tapi itu cukup disimpan sebagai bagian dari dinamika perjalanan bermanusia.
satu hal yang menarik dari teman-teman ini, semua mereka tersandera dengan nasib beasiswa yang hanya meng-cover tiga tahun pendidikan. sementara normalnya PhD adalah empat tahun. paling hebatlah itu 3,5 tahun.
Nah, mengahadapi kondisi ini, beberapa kawan, bahkan mayoritas mahasiswa asal Indonesia memilih bekerja part time di sela-sela waktu kuliah. kebanyakan dari mereka memilih pekerjaan 'sederhana'. sederhana disini maksdunya karena tidak melibatkan pikiran dan intelektualitas. pekerjaan sederhana yang paling banyak dilakukan adalah menjadi cleaner. ya, tukang bersih-bersih. ada yang membersihkan di kampus, juga ada yang di hotel, kampus dan juga sekolah.
Selain cleaner, kerja sederhana lain adalah pengantar katalog. di sini disebut junk mail. Banyak retailer dan toko-toko membuat katalog dan bahan promosi lainnya. nah, tuga kawan-kawan ini adalah mengantarkan katalog-katalog ini dari rumah ke rumah. jumlahnya bisa ratusan katalog. belum lagi banyak rumah yang sengaja memasang stiker 'no junk mail' di setiap kotak suratnya. medan yang mereka lalui juga berat. meski pedestrian disini sangat bagus, tapi jarak dan teriknya matahari membuat lelah dan kadang dehidrasi.
Begitulah, demi dollar dan untuk ketahanan finansial saat studi, kerjaan sederhana bisa menjadi sedikit penolong.
Wednesday, November 30, 2011
Tepat Seminggu
Iya, tepat seminggu sudah saya di Perth, dan sampai hari saya terus bersyukur karena selama ini dimudahkan. Pertama, saya dijemput di bandara jadi tak perlu naik taksi dan repot mencari tempat tujuan. Kedua, karena saya dapat tumpangan, meski tidak gratis. Sejak hari pertama hingga kini, saya masih numpang di rumah kawan-kawan yang menyewa satu rumah. Ada empat kamar, dan setiap kamar diisi dua orang. Kebanyakan dari makassar, jadi feels like home. Teman-teman ini sangat membantu. Mulai dari urusan administrasi di kampus hingga urusan sepele lainnya, seperti mencari alat makan, selimut untuk tidur dan mencari kartu telepon untuk berkomunikasi dengan keluarga di Indonesia.
Saat ini sudah musim panas di Australia. Tapi tetap saja dingin bagi saya. Matahari memang terik, suhu kadang bisa sampai 35 derajat. Tapi karena panasnya tak seperti di Indonesia, ditambah angin yang berhembus kencang, dingin tetap saja terasa. Apalagi pas subuh hingga pagi, dinginnya terasa sangat. Teringat lagi saat di Inggris dulu.
Seminggu ini saya betul-betul hanya berusaha settle dulu dengan kondisi yang baru. Keliling kampus melihat dan mengingat rute, menuntaskan urusan administrasi, ke pasar, ke supermarket dan lain-lain. Tapi hari ini, semuanya sudah lebih baik rasanya. Kartu mahasiswa sudah di tangan, bank account sudah ada, dan police clearence juga sudah diurus. Hal lain yang belum tuntas adalah soal akomodasi. Karena disini agak lama, maka butuh kamar yang lebih nyaman. Saya sebenarnya tak keberatan share sekamar dengan dua orang. Tapi karena kamarnya kecil hingga kami berdua jadi terbatas ruang geraknya.
Pagi tadi sudah menemui pemilik rumah yang letaknya tak jauh dari rumah sementara saya saat ini. Sayangnya, kamar yang hanya tersedia awal january. Beberapa alternatif sebenarnya sudah pernah disambangi. Tapi karena memilih ruamah yang dekat dengan kampus, maka pengorbanan untuk bertahan sebulan lagi rasanya tak apa.
Semoga semua dimudahkan ke depannya.
Saat ini sudah musim panas di Australia. Tapi tetap saja dingin bagi saya. Matahari memang terik, suhu kadang bisa sampai 35 derajat. Tapi karena panasnya tak seperti di Indonesia, ditambah angin yang berhembus kencang, dingin tetap saja terasa. Apalagi pas subuh hingga pagi, dinginnya terasa sangat. Teringat lagi saat di Inggris dulu.
Seminggu ini saya betul-betul hanya berusaha settle dulu dengan kondisi yang baru. Keliling kampus melihat dan mengingat rute, menuntaskan urusan administrasi, ke pasar, ke supermarket dan lain-lain. Tapi hari ini, semuanya sudah lebih baik rasanya. Kartu mahasiswa sudah di tangan, bank account sudah ada, dan police clearence juga sudah diurus. Hal lain yang belum tuntas adalah soal akomodasi. Karena disini agak lama, maka butuh kamar yang lebih nyaman. Saya sebenarnya tak keberatan share sekamar dengan dua orang. Tapi karena kamarnya kecil hingga kami berdua jadi terbatas ruang geraknya.
Pagi tadi sudah menemui pemilik rumah yang letaknya tak jauh dari rumah sementara saya saat ini. Sayangnya, kamar yang hanya tersedia awal january. Beberapa alternatif sebenarnya sudah pernah disambangi. Tapi karena memilih ruamah yang dekat dengan kampus, maka pengorbanan untuk bertahan sebulan lagi rasanya tak apa.
Semoga semua dimudahkan ke depannya.
Sunday, November 27, 2011
The Journey Begin

Akhirnya saya menginjakkan kaki di sini, kota Perth. Kota ini sebenarnya tak jauh dari Indonesia, Cuma 3,5 jam penerbangan dari Denpasar. Jika dihitung-hitung, rasanya tak beda jika ke Jayapura dari Makassar atau dari Denpasar.
Tapi bukan jarak itu yang betul-betul menjadi perhatian. Tapi lebih bahwa inilah jejak pertama untuk memulai babak baru dalam catatan ‘belajar’ saya. Ya, selama kurang lebih tiga tahun ke depan, hidup saya bakal lebih banyak tercurah disini.
Untungnya, sebelum berangkat telah membuat kontak dengan beberapa ‘pendahulu’ yang telah ada di Perth, jadinya saya tak perlu menambah list ‘yang harus dikhawatirkan’.
Impresi pertama saat keluar dari bandara, saya merasa ‘de ja vu’. Pengalaman tiga tahun lalu di Inggris rasanya terulang disini. Tak heran karena memang sebagai salah satu negara commonwealth, Australia selalu melihat Inggris sebagai ‘kakak tertua’ dan mendekatkan banyak hal dengannya. Aroma negara berpedikat ‘maju’ mendapatkan pembenaran saat melihat alu lintas dan merasakan atmosfernya di sekitar kota.
Semoga ini menjadi bagian menyenangkan yang tak terpisahkan dalam periode belajar saya kali ini. Semoga tuhan melapangkan dan tak ada kendala yang berarti. Di sini, di Perth, salah satu babak dalam perjalanan saya baru saja dimulai.
foto: livingin-australia.com
Tuesday, October 25, 2011
Penguasa Pengusaha
Saat peluncuran majalan Fortune edisi Indonesia, Wapres Boediono kembali mengangkat isu etika bisnis, khususnya mengenai pengusaha yang merangkap sebagai penguasa, (KOMPAS, 28/07). Isu ini diangkat untuk menguatkan pentingnya etika bisnis. Belum lagi saat ini makin banyak pengusaha yang menjadi sorotan karena memanfaatkan kekuasaan yang dimilikinya untuk kepentingan bisnis mereka. Isu yang sama sebenarnya telah pula dimunculkan saat mantan menteri keuangan Sri Mulyani menyampaikan beberapa pendapatnya. Pendapat ini disampaikannya dalam beberapa acara perpisahan sebelum ia pindah ke Amerika menyangkut pengalamannya saat menjadi menteri keuangan. Ia kemudian menyindir bahwa kepentingan bisnis beberapa kelompok begitu mempengaruhi keputusan politik yang ada di negeri ini.
Sri Mulyani menyebutnya sebagai ‘perkawinan’ kepentingan ketimbang melihatnya sebagai politik kartel sebagaimana banyak disebutkan oleh pengamat. Meskipun kita tahu, keduanya menyiratkan makna yang serupa.
Kita kembali teringat dengan penggunaan kata ‘saudagar’ oleh Akbar Tandjung pada tahun 2008. Saat itu, marak terjadi pengusaha yang turun gelanggang politik untuk menjadi kepala daerah atau anggota dewan. Banyak yang menyebut bahwa gejala ini sebagai akibat perubahan landscape politik Indonesia. Saat rezim Soeharto, praktis hanya satu sumber yang harus didekati. Namun ketika reformasi bergulir, kepentingan bisnis menjadi kian bergantung kepada banyak politisi.
Secara natural, sebuah perusahaan baik itu multinasional maupun perusahaan lokal, pastilah memiliki apa yang disebut non-market strategy (NMS). NMS ini merupakan strategi di luar strategi pasar. Strategi pasar itu sendiri secara sederhana bisa diartikan sebagai strategi perusahaan yang berkaitan dengan harga, kualitas produk/jasa dan hal-hal teknis-pasar lainnya.
Sedangkan NMS lebih menyentuh aspek non-teknis. Dalam konteks global, NMS bisa dilihat dari dua pendekatan. Pertama, adalah strategy politik korporasi (corporate political strategy), dimana perusahaan berusaha ‘terlibat’ dalam setiap proses politik yang berkaitan dengan kepentingannya. Kedua, adalah strategi social perusahaan (corporate social strategy), dimana perusahan melakukan strategi berderma.
Keterlibatan pengusaha dalam politik melalui NMS seperti membetulkan ungkapan khas politisi di Washington. “In politics, if you are not at the table, you are on the menu!” begitu ungkapan yang khas itu.
Mungkin inilah salah satu alasan keterlibatan pengusaha dalam politik. Ketimbang menjadi menu, mereka memilih menjadi penikmat sajian. Para pengusaha, yang secara de facto memiliki kekuasaan dalam kehidupan sosial, berusaha untuk mendapatkan insentif ekonomi dengan memiliki kekuatan politik secara de jure.
Studi Bunkanwanicha dan Wiwattanakantang (2008) di Thailand juga menunjukkan bahwa nilai ekonomis perusahaan (market valuation) yang dimiliki oleh pengusaha yang juga penguasa menjadi meningkat secara signifikan. Studi ini juga menemukan bahwa keterlibatan pengusaha dalam politik membuat perusahaan mereka memiliki kekuatan lebih untuk mendominasi.
Kondisi seperti ini bukanlah sesuatu yang baru. Di Negara-negara lain, kita dapat menemukan pemilik bisnis yang terjun dalam dunia politik. Tung Chee Hwa di Hong Kong, Thaksin Shinawatra di Thailand, Ferenc Gyurcsany di Hungary, Silvio Berlusconi di Italy, dan Paul Martin di Canada.
Namun, sejarah juga mencatat bahwa keterlibatan para pengusaha dalam politik tidaklah steril dari masalah. Thaksin menghadapi kenyataan pahit menjadi pesakitan di negerinya sendiri, dan Berlusconi terus digoyang dengan skandal pajak dan monopoli.
Mengangkat kembali isu ini kemudian menjadi relevan jika kita melihat penanganan kasus Lumpur Lapindo yang sampai hari ini belum juga tuntas. Kasus laporan keuangan enam perusahaan Grup Bakrie yang baru-baru ini muncul juga menjadi penanda pentingnya penegakan etika bisnis.
Ke depan, untuk meminimalisir konflik kepentingan yang mungkin timbul, perlu dibuat aturan yang jelas dan detail. Aturan ini tentu saja harus diikuti dengan penegakan hukum yang serius. Hal lain yang perlu dilakukan adalah membangun koalisi strategis antara pemerintah, swasta, dan masyarakat. Ketiganya harus berhubungan dalam koridor yang harmonis, sehat, transparan, dan akuntabel. Intinya, prinsip keadilan untuk semua. Dalam hal ini penikmat dari semua kebijakan bukan hanya pengusaha, tetapi juga seluruh komponen bangsa.
Ketiga, kalangan pengusaha (swasta) perlu dilihat secara proporsional. Pendekatan yang tepat akan menjadikan swasta menjadi satu moda pertumbuhan yang sehat dan memiliki daya tahan dan fleksibilitas sistem yang tinggi. Keuntungan lainnya, kondisi harmonis dan pengusaha yang kuat akan melahirkan pasar yang sehat. Pasar yang sehat penting untuk membuka peluang bagi munculnya pelaku usaha baru, dan juga memelihara pelaku-pelaku lama menjadi pelaku-pelaku kemajuan.
Masyarakat pun diminta untuk terus mengkritisi kebijakan yang lahir demi kepentingan golongan tertentu. Kebijakan untuk memberi fasilitas dan kemudahan kepada kelompok tertentu telah terbukti membuat bangsa ini makin jauh dari kemajuan. Dan yang terpenting, kebijakan seperti ini tentulah sangat mengusik rasa keadilan.
Hal ini tidak berarti kemudian kita menaruh curiga berlebihan pada mereka yang pengusaha dan penguasa sekaligus. Apalagi disadari memang bahwa kehadiran pengusaha dalam politik diharapkan mampu membawa efisiensi ekonomis, sebuah kemampuan yang pasti diterapkan dalam menjalankan usahanya. Semangat kewirausahaan pun dapat ditularkan dari mereka. Semangat ini penting di tengah kaku dan tidak kreatifnya para birokrat yang kita miliki saat ini.
Namun demikian, kita pun dibuat belajar dari pengalaman bahwa kekuatan yang sangat terkonsentrasi bisa lahir dari perpaduan pengusaha dan penguasa sekaligus. Keputusan politik dan bisnis terkonsentrasi pada beberapa kelompok kecil, yang tentu saja berdampak negatif bagi kemajuan bangsa.
Kita butuh pengusaha yang tidak manja dan hanya bergantung pada fasilitas-fasilitas pemerintah. Demikian pula, kita butuh penguasa yang bekerja untuk semua, bukan hanya untuk kepentingan golongan, apalagi untuk kepentingan bisnisnya semata.
Sri Mulyani menyebutnya sebagai ‘perkawinan’ kepentingan ketimbang melihatnya sebagai politik kartel sebagaimana banyak disebutkan oleh pengamat. Meskipun kita tahu, keduanya menyiratkan makna yang serupa.
Kita kembali teringat dengan penggunaan kata ‘saudagar’ oleh Akbar Tandjung pada tahun 2008. Saat itu, marak terjadi pengusaha yang turun gelanggang politik untuk menjadi kepala daerah atau anggota dewan. Banyak yang menyebut bahwa gejala ini sebagai akibat perubahan landscape politik Indonesia. Saat rezim Soeharto, praktis hanya satu sumber yang harus didekati. Namun ketika reformasi bergulir, kepentingan bisnis menjadi kian bergantung kepada banyak politisi.
Secara natural, sebuah perusahaan baik itu multinasional maupun perusahaan lokal, pastilah memiliki apa yang disebut non-market strategy (NMS). NMS ini merupakan strategi di luar strategi pasar. Strategi pasar itu sendiri secara sederhana bisa diartikan sebagai strategi perusahaan yang berkaitan dengan harga, kualitas produk/jasa dan hal-hal teknis-pasar lainnya.
Sedangkan NMS lebih menyentuh aspek non-teknis. Dalam konteks global, NMS bisa dilihat dari dua pendekatan. Pertama, adalah strategy politik korporasi (corporate political strategy), dimana perusahaan berusaha ‘terlibat’ dalam setiap proses politik yang berkaitan dengan kepentingannya. Kedua, adalah strategi social perusahaan (corporate social strategy), dimana perusahan melakukan strategi berderma.
Keterlibatan pengusaha dalam politik melalui NMS seperti membetulkan ungkapan khas politisi di Washington. “In politics, if you are not at the table, you are on the menu!” begitu ungkapan yang khas itu.
Mungkin inilah salah satu alasan keterlibatan pengusaha dalam politik. Ketimbang menjadi menu, mereka memilih menjadi penikmat sajian. Para pengusaha, yang secara de facto memiliki kekuasaan dalam kehidupan sosial, berusaha untuk mendapatkan insentif ekonomi dengan memiliki kekuatan politik secara de jure.
Studi Bunkanwanicha dan Wiwattanakantang (2008) di Thailand juga menunjukkan bahwa nilai ekonomis perusahaan (market valuation) yang dimiliki oleh pengusaha yang juga penguasa menjadi meningkat secara signifikan. Studi ini juga menemukan bahwa keterlibatan pengusaha dalam politik membuat perusahaan mereka memiliki kekuatan lebih untuk mendominasi.
Kondisi seperti ini bukanlah sesuatu yang baru. Di Negara-negara lain, kita dapat menemukan pemilik bisnis yang terjun dalam dunia politik. Tung Chee Hwa di Hong Kong, Thaksin Shinawatra di Thailand, Ferenc Gyurcsany di Hungary, Silvio Berlusconi di Italy, dan Paul Martin di Canada.
Namun, sejarah juga mencatat bahwa keterlibatan para pengusaha dalam politik tidaklah steril dari masalah. Thaksin menghadapi kenyataan pahit menjadi pesakitan di negerinya sendiri, dan Berlusconi terus digoyang dengan skandal pajak dan monopoli.
Mengangkat kembali isu ini kemudian menjadi relevan jika kita melihat penanganan kasus Lumpur Lapindo yang sampai hari ini belum juga tuntas. Kasus laporan keuangan enam perusahaan Grup Bakrie yang baru-baru ini muncul juga menjadi penanda pentingnya penegakan etika bisnis.
Ke depan, untuk meminimalisir konflik kepentingan yang mungkin timbul, perlu dibuat aturan yang jelas dan detail. Aturan ini tentu saja harus diikuti dengan penegakan hukum yang serius. Hal lain yang perlu dilakukan adalah membangun koalisi strategis antara pemerintah, swasta, dan masyarakat. Ketiganya harus berhubungan dalam koridor yang harmonis, sehat, transparan, dan akuntabel. Intinya, prinsip keadilan untuk semua. Dalam hal ini penikmat dari semua kebijakan bukan hanya pengusaha, tetapi juga seluruh komponen bangsa.
Ketiga, kalangan pengusaha (swasta) perlu dilihat secara proporsional. Pendekatan yang tepat akan menjadikan swasta menjadi satu moda pertumbuhan yang sehat dan memiliki daya tahan dan fleksibilitas sistem yang tinggi. Keuntungan lainnya, kondisi harmonis dan pengusaha yang kuat akan melahirkan pasar yang sehat. Pasar yang sehat penting untuk membuka peluang bagi munculnya pelaku usaha baru, dan juga memelihara pelaku-pelaku lama menjadi pelaku-pelaku kemajuan.
Masyarakat pun diminta untuk terus mengkritisi kebijakan yang lahir demi kepentingan golongan tertentu. Kebijakan untuk memberi fasilitas dan kemudahan kepada kelompok tertentu telah terbukti membuat bangsa ini makin jauh dari kemajuan. Dan yang terpenting, kebijakan seperti ini tentulah sangat mengusik rasa keadilan.
Hal ini tidak berarti kemudian kita menaruh curiga berlebihan pada mereka yang pengusaha dan penguasa sekaligus. Apalagi disadari memang bahwa kehadiran pengusaha dalam politik diharapkan mampu membawa efisiensi ekonomis, sebuah kemampuan yang pasti diterapkan dalam menjalankan usahanya. Semangat kewirausahaan pun dapat ditularkan dari mereka. Semangat ini penting di tengah kaku dan tidak kreatifnya para birokrat yang kita miliki saat ini.
Namun demikian, kita pun dibuat belajar dari pengalaman bahwa kekuatan yang sangat terkonsentrasi bisa lahir dari perpaduan pengusaha dan penguasa sekaligus. Keputusan politik dan bisnis terkonsentrasi pada beberapa kelompok kecil, yang tentu saja berdampak negatif bagi kemajuan bangsa.
Kita butuh pengusaha yang tidak manja dan hanya bergantung pada fasilitas-fasilitas pemerintah. Demikian pula, kita butuh penguasa yang bekerja untuk semua, bukan hanya untuk kepentingan golongan, apalagi untuk kepentingan bisnisnya semata.
Subscribe to:
Posts (Atom)


