Monday, October 11, 2010

Baliho Saja tak Cukup

Di harian Lokal beberapa waktu lalu Gubernur Syahrul Yasin Limpo (SYL) menyampaikan kegerahannya dengan berita tentang banyaknya foto beliau di baliho.
Akibatnya, beliau mengindikasikan untuk menarik baliho-baliho yang sudah banyak terpajang itu. Kita harus memberi apresiasi dan mendukung langkah yang akan diambil gubernur ini karena beberapa alasan.
Pertama, baliho dan poster bergambar Gubernur SYL sudah terlalu banyak dan menjejali ruang publik di kota ini. Cobalah berjalan-jalan mengitari kota, dan bisa dipastikan Anda tak begitu sulit untuk mendapatkan baliho bergambar SYL.
Kedua, pemasangan begitu banyak baliho bergambar SYL mengindikasikan ketidakpercayaan yang tinggi dari SYL. Beliau seperti tidak percaya diri sebagai gubernur. Begitu tingginya, sehingga diperlukan baliho untuk mendongkrak percaya diri, seolah ini masih dalam tahapan kampanye. Seharusnya beliau tahu, ia sudah menjabat dua tahun lebih, sehingga mustahil ada yang tidak mengenalnya sebagai gubernur.
Ketiga, penarikan baliho dan segala atribut itu menjadi penting karena kehadiran baliho tersebut menjadi penanda dari ‘sesat pikir pemasaran’ yang selama ini dipercaya banyak pejabat daerah. Sesat pikir tersebut adalah bahwa dengan memasang baliho yang bergambar dirinya, berarti pemerintah telah melakukan upaya pemasaran. Sesat pikir yang lain adalah bahwa kepercayaan bahwa iklan layanan atau iklan pemerintah tak seharusnya kreatif.
Teori pemasaran tradisional memang menekankan pentingnya promosi, dalam hal ini dapat berupa pemasangan baliho. Namun pemasaran lebih dari sekedar komunikasi (baliho). Pemasangan baliho sebagai bagian dari implementasi saluran pemasaran pun memerlukan langkah pra-kondisi yang harus secara serius dilakukan. Mengetahui target, memilih pesan, menentukan pembawa pesan, adalah contoh kegiatan pra-kondisi yang harus serius dipikirkan. Tak berhenti di situ, setelah baliho terpasang pun seharusnya ada evaluasi (post campaign evaluation) untuk mengukur efektifitasnya.
Iklan Layanan
Sosialisasi yang selama ini dilakukan dengan baliho oleh gubernur merupakan salah satu bentuk dari public service announcement (PSA). Hal ini karena program dan pesan yang ingin disampaikan berkaitan dengan pelayanan publik. Gerakan sadar wisata, gerakan sayang museum, program kesehatan dan pendidikan gratis, merupakan hal-hal yang berkaitan dengan pelayanan publik.
Balihonya sendiri merupakan salah satu bentuk dari media pemasaran. Tujuannya tentu saja adalah memberikan informasi, mendidik dan membujuk pasar (masyarakat) untuk ikut serta dalam program tersebut.
Namun sayangnya, tanpa perlu menjadi ahli pemasaran, kita sudah tahu hasilnya. Hampir semua gerakan-gerakan yang dicanangkan berbuah nihil tanpa gerak. Baliho-baliho yang banyak bertebaran di jalan protokol kota ini pun bisa dikatakan ramai tapi bisu. Artinya, ramai dalam jumlah namun bisu dalam dampak.
Bisu karena pesan yang ditonjolkan tidak lengkap, dan membuat auidens (masyarakat) tidak percaya bahwa mereka akan merasakan manfaat yang dijanjikan serta tidak membuat mereka terinspirasi untuk bertindak.
Padahal seharusnya, gambar, teks dalam baliho itu mewakili pesan yang ingin disampaikan. Pesan apa yang bisa kita tangkap dari baliho Sulsel Go Green yang hanya berisi foto pejabat dengan seragam dinasnya? Apakah kemudian kita menjadi terinspirasi untuk peduli lingkungan? Pun tidak ada manfaat dan informasi detail yang kita bisa peroleh dengan melihat baliho Samsat Drive Thru yang dimonopoli oleh gambar gubernur dan pejabat kepolisian.
Masih kurang? Coba tengok baliho-baliho lain yang ada. Semuanya seragam, menunjukkan foto gubernur dengan pose yang melambai, senyum lebar, atau berbaju dinas. Tak jelas betul apa manfaat foto-foto itu ada di sana.
Sebenarnya tidak ada masalah dengan pemakaian foto tokoh sebagai pembawa pesan. Namun yang harus dicermati adalah bahwa pemilihan pembawa pesan tersebut seharusnya mempertimbangkan aspek perceived expertise (ahli), trust worthiness (terpercaya), dan likeability (disenangi).
Dengan memperhatikan tiga aspek tersebut, maka rasanya sedikit saja yang tidak sepakat jika foto Dara dan Daeng yang menjadi duta pesan ketimbang foto gubernur untuk kampanye promosi wisata, misalnya.
Pesan Kunci
Mengembangkan komunikasi adalah proses yang dimulai dari menentukan pesan kunci, yang disesuaikan dengan tujuan pemasaran dan target pasar. Dalam menentukan pesan kunci, tiga pertanyaan mendasar yang harus dikemukakan oleh pembuat pesan adalah, apa yang harus diketahui audiens, apa yang harus dipercaya, dan apa yang kita harapkan audiens lakukan.
Sepertinya, tiga pertanyaan mendasar ini tak pernah coba digali oleh pemerintah daerah dalam setiap upaya penyampaian pesannya, dalam hal ini pembuatan baliho. Okelah kalau gubernur mengaku tak tahu-menahu tentang pemakaian fotonya di banyak baliho oleh SKPD, tapi kok tidak gelisah melihat baliho itu menjadi mubazir dan pesan yang ingin disampaikan menjadi kabur?
Kampanye go Green tentu saja mengharapkan masyarakat terinspirasi untuk menjaga lingkungan, memelihara pohon, dan menjaga ekosistem yang ada agar mampu dinikmati oleh anak-anak cucu kita kelak. Namun jika tidak ada informasi jelas tentang mengapa dan bagaimana masyarakat berpartisipasi, apa yang bisa kita harapkan?
Kreatif
Satu hal lagi yang harus menjadi perhatian adalah iklan layanan pemerintah baik melalui saluran komunikasi berupa baliho atau spanduk, tidak seharusnya mengabaikan sisi kreatifitas. Kreatif di sini tak berarti terbatas pada desain belaka, namun juga pada metode dan strategi penyampaiannya.
Gerakan kesehatan dan pendidikan gratis, misalnya, seharusnya memberikan pesan yang jelas sebab manfaatnya bertujuan untuk meningkatkan mutu hidup masyarakat.
Dengan demikian, fokus dan komitmen tidak boleh berhenti hanya sampai memasang baliho. Strategi penyampaian pesannya pun tak hanya dimonopoli dengan pilihan saluran seperti baliho.
Di bidang kesehatan, perlu pula dipikirkan upaya-upaya pencegahan dan meningkatkan kesadaran kesehatan dan bagaimana memasarkan ide ini. Gerakan sayang museum perlu pula ditindaklanjuti dengan evaluasi bagaimana keberhasilan program ini setelah dicanangkan. Sudah seberapa meningkat jumlah pengunjung yang datang dan seberapa besar manfaat dari tingginya tingkat kunjungan ini. Perlu pula dievaluasi kendala yang membuat gerakan ini tak optimal berjalan.
Berangkat dari pemikiran di atas, alangkah baik dan bijaknya jika Gubernur meminta jajarannya menata kembali bagaimana pesan-pesan layanan masyarakat disampaikan. Kepada mereka pun Gubernur sebaiknya meminta untuk bertindak sebagai pengelola dan penyampai pesan yang baik.
Jika ini dilakukan, kita tentu bisa berharap bahwa pesan dan kampanye yang dilakukan pemerintah daerah di masa mendatang akan semakin efektif dan tepat. Tepat pesannya yang disampaikan melalui saluran yang tepat dan ditujukan kepada target yang tepat pula.

Wednesday, April 28, 2010

Tunda Island--Day 3




Hari ini hari terakhir kami berada di pulau Tunda. Seharusnya kami disini sampai hari senin. Namun karena esok harinya bupati dan stafnya ingin datang, kami khawatir pelatihan yang kami jadi bakal sepi. Apalagi ada ‘imbauan’ dari perangkat desa untuk menyambut datangny bupati. Sang bupati juga kembali mencalonkan diri untuk periode kedua. Makanya, sebagai bagian dari penyambutan, di sekeliling kampong telah terpasang spanduk, baligo dan stiker kampanye.
Tak menyangka melihat antusiasme dan semangat peserta. Bapak-bapak dan ibu-ibu ini sungguh tekun belajar pembukuan sederhana. Banyak dari mereka memang tidak menamatkan SMP. Selain karena saat mereka muda gedung SMP belum ada di Pulau Tunda, biaya sekolah dan segala kebutuhannya memang tidak terjangkau untuk ukuran mereka, nelayan, yang hidupnya bergantung pada kebaikan alam.
Pertanyaan yang mereka ajukan pun luar biasa menarik, meski kami harus sabar menjelaskan kolom per kolom dan penempatan transaksi sesuai kolomnya. Belum lagi masuk pada kolom saldo, menjumlahkan setiap transaksi menjadi begitu menarik karena celetukan-celetukan spontan dari mereka.
Sore hari kami diajaka ke bagian timur dari pulau Tunda. Jika kemarin kami mengunjungi sisi barat pulau ini, maka hari ini kami memilih suasana baru. Kami berjalan sekitar 15 menit untuk mencapai sisi timur pulau, melewati kebun-kebun petani. Banyak jenis tanaman yang mereka tanam. Timun, kacang panjang, jagung, singkong, pisang, kelapa. Saya heran juga, dengan tanah berpasir seperti itu, kok bisa ya tanaman darat bisa tumbuh. Satu hal yang pasti, bahwa air tawar yang digunakan untuk mandi dan minum di pulau ini tak payau. Hampir sama dengan air di darat. Mungkin ini yang menjadi sebab mengapa tanama-tanaman itu bisa tumbuh. Itu hanya prediksi tidak ilmiah saya, soal ini bukan wewenang saya kayaknya..
Sisi timur pulau ini tak semenarik sisi barat, yang memiliki suar, rumah-rumah penduduk disekeliling pantai atau deretan pohon kelapa yang indah menjadi siluet karena matahari yang ingin terbenam. Yang ada hanya deretan mangrove dan sampah-sampah kiriman yang entah datang dari mana. Sampah-sampah kecil serupa kemasan sampo dan makanan ringan hingga bangkai sofa dan kayu-kayu bekas tebangan. Kata pak Khilman yang menjadi pemandu kami kali ini, mereka selalu kewalahan menghadapi sampah-sampah ini. Kadang jika kondisi angin barat daya, tumpukan sampah yang mampir ke pulau ini bisa jadi lebih banyak lagi. Akibatnya, mereka tak lagi dapat memancing di sekitar pantai. Dan pantai mereka pun tak lagi nyaman untuk berenang.
Karena tak puas dengan sisi timur pulau ini, saya pun memohon, tepatnya mendesak, agar kami juga sekalian melihat bagian utara pulau. Alasan saya, esok pagi saya harus kembali ke Serang untuk terus ke Jakarta, dan entah kapan saya ada waktu lagi ke Pulau Tunda. Untunglah, pak Khilman tak keberatan, namun ia member syarat. Kami harus berjalan menyusuri pantai, bukan lagi didaratan pantai. Sebab pohon mangrove telah menutupi jalan yang selama ini ada. Artinya, saya harus menggulung celana dan juga bersiap untuk basah.
Tak ada masalah, tanpa pertimbangan kami pun menyetujui syarat, atau tepatnya permintaan ini. Menyusuri pantai terasa sangat menyenangkan, apalagi angin di pantai lagi tenang-tenangnya. Berbeda dengan kondisi kemarin, yang membuat saya masuk angin dan tak nyaman. Sampah masih menjadi pemandangan tetap yang kami peroleh. Tapi tetap ada yang menarik. Deretan mangrove yang tumbuh subur menjadi pemandangan indah. Belum lagi deretan karang yang jelas terlihat karena jernih dan beningnya air pantai. Perjalanan kami kembali diselingi dengan cerita-cerita mistik khas jagoan dan cerita tentang beberapa penduduk dan pendatang yang melihat makhluk halus. Cerita seperti ni sebenarnya bukan baru, dan hampir semua tempat pasti memiliki ragam cerita mistik. Tapi yang membuat saya kaget bercampur tak percaya, karena mas Karim yang juga turut serta dalam ‘tour’ kali menunjukan titik tempat kami berdiri sebagai tempat orang-orang melihat makhluk itu. Ada satu lagi cerita menarik dari mas Karim. Menurutnya, pulau ini dulunya tidak ada. Tapi proses ratusan tahun menaikkan tanah ini menjadi daratan pulau. Buktinya, pernah ada yang membuat sumur di tengah pulau dan menemukan kerangka kapal. Tak sedikit yang menemukan batu-batu besar khas dasar laut.
Setelah 20 menit menyusuri pantai dan celana yang makin terasa berat karena basah, kami pun tiba di sisi utara. Sisi ini terasa lebih nyaman dan bersih. Tepian pantainya pun lebih panjang. Cocok sekali untuk pariwisata. Saya pun mengusulkan mas Karim untuk membuat tempat yang lebih nyaman di bibir pantai agar orang mau datang berwisata. Belum juga mas Karim menjawab, pak Khilman menimpali, “kalau dia mah tempat karaokean aja pikirannya, mana sempat mikir tempat wisata”. Kami semua sontak tertawa.
Tak terasa waktu magrib sudah dekat. Kami memutuskan untuk batal melanjutkan perjalan ke sisi selatan pulau. Selain gelap, kaki ini sudah pegal luar biasa. Bahkan, beberapa menit sempat keram. Padahal perjalanan yang saya tempuh sebenarnya tidak jauh-jauh amat. Berjalan sejam lebih masih biasa saya lakukan.
Yang pasti, hari ini kami sudah melihat pemandangan lain yang tak kelah sedap. Mas Karim menjanjikan malam ini kami bakal menyantap ikan Ela dan teripang. Nama ikan ini masih asing bagi saya, ini yang menambah semangat untuk segera pulang..

Hari Ke-2 @ Pulau Tunda


Setelah beristirahat cukup, saya pun terbangun di pagi hari. Shalat subuh dan setelah itu bersiap untuk pelatihan bagi anggota koperasi di Pulau Tunda.
Pesertanya anggota koperasi, pengurus dan kelompok nelayan, petani, serta ibu-ibu penggerak usaha kecil. Sangat menarik karena beragam perserta dan juga karena mereka memang ada niat untuk belajar. Niat tinggi untuk belajar ini bukannya tanpa sebab. Pengurus koperasi sebelumnya beberapa kali melakukan kecurangan dan menyelewengkan bantuan yang diterima atas nama koperasi. Namun mereka tidak bisa melakukan apa pun, meski mereka sebenarnya tahu ada penyimpangan dan penyelewengan. Masalahnya, mereka tidak punya bukti kuat dan tidak mengerti prosedur pencatatan dalam koperasi. Pengurus lama selalu berkelit dengan dalih telah dicatat dalam pembukuan. Ringkasnya, pengurus lalu telah melakukan penyimpanan dengan model canggih, katakanlah financial engineering.
Pelatihan berjalan lancar, tak terkira partisipasi mereka luar biasa aktif. Tak sedikit pertanyaan mereka lontarkan, terutama saat kami pada sesi pembukuan sederhana. Pokoknya semuanya ditanyakan, sampai kolom-kolom pada buku kas dan maksud kata per kata mereka tanyakan.
Saat waktu istirahat tiba, kami kemudian makan siang dan berbincang. Menu hari ini telur rebus dan sayur kulit melinjo. Saya bertanya, kok telur, ini kan pulau nelayan? Ternyata tidak ada nelayan yang melaut saat Jumat. Ini adalah hari libur ‘tak resmi’ para nelayan. Mereka kadang tetap melaut, jika kondisi laut sangat baik dan ikan pun banyak jumlahnya. Kulit melinjo sendiri masih asing bagi saya. Kutanya Pak Hilman sang bendahara koperasi, jawabnya isinya dibuat untuk kerupuk dan dimakan orang darat, kulitnya untuk orang Pulau.
Ada nada prihatin dari jawaban pak Hilman. Sejak kemarin, saya memang melihat kemiskinan begitu lekat dengan kehidupan mereka. Terlepas bahwa ada yang memilih menjadi tki dan tkw, kemudian memberikan penghidupan lebih bak bagi keluarganya, tapi jumlah mereka tak banyak. Kata mas Karim, jumlahnya tak lebih dari 80 orang, dari total 1500-an populasi di pulau Tunda.
Menikmati sayur di pulau ini adalah ritual mahal. Jangankan lagi daging ayam atau sapi. Jumlah tangkapan nelayan sebenarnya cukup aja. Masalahnya, kebanyakan mereka terlilit utang pada tengkulak, dalam Bahasa mereka ‘Si Bos’. Utang itu untuk menutupi biaya perahu, beli mesin, GPS, soalr, dan kadang-kadang untuk biaya sekolah dan rumah sakit keluarga mereka. Pengakuan mas Karim, 99% nelayan di pulau ini semuanya berutang. Dan jumlah terkecil dari utang mereka adalah 3-4 juta rupiah, sedangkan yang terbesar berada pada kisaran 20-an juta rupiah.
Terbayang betapa kerja keras mereka sebenarnya tdak mendapat imbalan yang pas. Si Bos sering menekan harga serendah mungkin. Ikan tenggiri yang di tempat lain dihargai 17 ribu, hanya dihargai 7 ribu oleh si bos. Nelayan tidak punya pilihan selain menjual ke bos karena ikatan utang tadi. Jika ada yang berani menjual selain kepada bos, maka esoknya ia akan ditagih untuk segera melunasi hutangnya. Berat dan dilematis. Maka jangan heran, meski mereka nelayan, tapi jangan berharap mendapatkan ikan baronang, cepa, kerapu, ada dalam hidangan keseharian mereka. Betul, ada saja yang menghidangkan cumi, seperti yang saya nikmati semalam di rumah bu Romlah, tapi itu sekedar pengganti ikan yang memang tidak diperoleh suaminya.
Ada juga hal menarik yang saya dapat saat rehat siang tadi. Ternyata, untuk bersaing dalam segala hal di pulau ini, tak cukup dengan modal dan pengetahuan. Ilmu kanuragan dan magic-magic perlu. Banyak cerita dari peserta yang menguatkan ini. Mulai dari gejala-gejala biasa yang aneh seperti bau menyan sampe keluarnya benda tajam dan benda lain seperti paku dari dalam tubuh. Sebenarnya di tempat lain juga ada, cuma jadi ingat Si Pitung yang katanya sih memang dari Banten.
Sorenya kami diajak berjalan-jalan di sekitar pantai. Sebenarnya enak juga, apalagi pantainya bersih dengan pasir putih. Yang membuat saya tak nyaman hanya karena anginnya yang berhembus kencang. Akibatnya, saya kena masuk angin dan harus segera mencari alternative tempat membuang hajat. Untunglah, karena rasa kekeluargaan, mas Karim mudah saja minta ama nelayan yang ada disitu untuk memakai toilet mereka.

Catatan Perjalanan ke Pulau Tunda


Day 1:
Berangkat dari Makassar dengan Airbus seri terbaru Garuda. Tiba di cengkareng, langsung ke Serang, dengan 2 jam perjalanan darat. Sampai di serang, makan siang trus langsung berangkat lagi ke pulau tunda melalui karang hantu. Ada kapal yang telah disiapkan. Ditemani Lutfi dari Oxfam, dan mas Karim pemandu dari Pulau Tunda. Saya harus mencari kartu Indosat. Di pulau ini tak ada sinyal lain selain indosat.
Pulau tunda merupakan batas paling utara provinsi Banten. Pulaunya memanjang, kepala keluarga skitar 350. Dalam perjalanan kami diteman angin barat laut, yang membuat ombak besar dan sangat menakutkan. Perjalanan laut hampir tiga jam terasa sehari saja rasanya.
Awalnya saya duduk di luar, namun pindah masuk ke ruang mesin karena tempias ombak yang membuat tubuh basah kuyup. Selain itu karena takut terlempar ke lautan aja, karena perahu sudah bergerak dengan bebasnya. Di ruang kemudi saya sedikit tenang. Ada surat kecakapan milik sang kapten ditempel didinding kapanl. Ada pula pelampung. Dan yang utama, ada stiker bergambar popeye si pelaut dengan sekaleng penuh bayam di tangannya. Disana juga tertulis, perhatian, zero accident. Pelautnya orang bugis, bangga juga punya saudara yang luar biasa hingga Banten.
Sampai di Tunda, kami melapor ke pos polisi. Berbincang sejenak dengan briptu prasetya yang menanyakan maksud dan tujuan kedatangan kami. Setelah itu kami langsung menuju ke rumah bu Romlah. Suami dari bu Romlah merupakan ketua dari kelompok nelayan. Hari ini sang suami masih melaut.
Aroma kekeluargaan terasa kental disini. Hampir semua yang kemai temui menyapa dan mengajak mampir. Serasa di kampong sendiri saja rasanya. Penduduk disini kebanyakan nelayan. Pernah sih ada yang emncoba bertani dan segala usaha pertanian. Namun harga pupuk yang mahal, jangka waktu panen yang lama dan harga jual produk pertanian yang rendah membuat mereka kembali ke habitat asli sebagai nelayan.
Ada yang luar biasa dari mereka soal nelayan ini. Tak ada astu pun dari nelayan di pulau Tunda yang memakai jarring atau pukat. Mereka menangkap ikan masih dengan cara memancing. Ya, memancing satu per satu ikan. Makanya hasil tangkapan mereka tak pernah bisa sebanyak nelayan di pulau lain atau yang didaratan Serang. Alasan mereka sederhana, agar mancingnya tak maruk dan agar ikan tak cepat hasbis. Local wisdom yang sederhana tapi sungguh mumpuni.
Meski demikian, godaan untuk menyentuh modernitas dalam hal memancing yang ditandai dengan perahu besar dan pukat serta jarring bukannya tidak ada. Apalagi disasadari, hasil yang mereka dapat dengan memancing jauh dari cukup. Iya kalau dapat ikan, sebab tak jaran mereka melaut tiga hari dan tidak mendapatkan apa-apa. Yang perih lagi, pernah ada yang ikut melaut bersama seorang juragan ikan. Dua minggu melaut dan upah mereka hanya 15 ribu!
Yang ada akhirnya adalah mereka hidup dari utang, dan memancing atau melaut tujuan utamanya adalah menebus utang. Utang mereka bakal bertambah jika waktu-waktu sekolah dan tahun ajaran baru dimulai. Belum lagi kalau ada yang sakit dan urusan pangan lainnya.
Mendengar cerita mereka, betapa jelas tergambar penderitaan dan rumitnya masalah yang dihadapi penduduk disini. Keterisolasian menjadi masalah paling utama. tidak ada pilihan lain, Hasil tangkapan mereka akhirnya hanya bisa dijual ke ‘bos’. Meski si bos membeli lebih sering dengan harga yang ditekan. Itu pun dengan jujur mereka akui, timbangan yang digunakan untuk mengukur hasil tangkapan mereka adalah timbangan yang curang. Pilihan untuk menjual sendiri ke daratan adalah mustahil, sebab biaya untuk ke daratan jauh lebih besar dari hasil tangkapan mereka.
Makanya, kondisi kesehatan mereka relative buruk dibanding lainnya. Jangan lagi bicara soal asupan gizi. Anak-anak mereka banyak yang terkena gizi buruk serta pendidikan yang tidak tuntas. Pokoknya, hampir semua masalah dasar kemiskinan, ada disini. Bukannya keidupan tidak lebih baik dari yang dulu. Pengakuan pak Lurah Tunda, sejak jaman Soeharto, mereka sudah sering mendapat bantuan. Cuman payahnya, bantuan yang mereka terima selalu bersyarat. Pilih ini dan jangan pilh itu, menjadi syarat mutlak dari setiap bantuan.
Salah satu upaya mengatasi hal ini adalah dengan mengirim istri-istri nelayan menjadi TKI di luar negeri. Kebanyakan dari mereka berangkat ke Arab Saudi. Mas Karim, orang pulau ini punya lelucon, kalau mau lihat istri siapa yang jadi TKI, lihat saja rumahnya. Semua rumah yang ‘bagus’ pasti istrinya pernah jadi TKI.
Bu Romlah sendiri yang rumahnya kami tempati pernah menjadi TKI di Arab Saudi. Saya kemudian bertanya ke mas KArim, kok istrinya ga diminta ke luar negeri aja agar taraf kehidupan mereka lebih baik. Jawabannya singkat, tak kuat ditinggal lama. Belum lagi kasus-kasus TKI disiksa dan contoh buruk seorang TKW yang strees di kampung sebelah karena mengalami pemerkosaan dari majikannya.
Yang menarik bagi saya adalah soal listrik. Mereka pernah mendapat bantuan solar panel dari pemerintah. Namun karena alat yang diberi merupakan spesifikasi terendah, mulai dari aki hingga panelnya, maka alat itu tak bertahan lama. Si Kapten, pemilik kapal fery kemudian membuat bisnis listrik. Dengan generator yang ia miliki, listrik pun dialirkan kerumah-rumah. Yang mencengangkan, tagihannya itu lho. Betul, ini di pulau dimana segalanya terbatas, tapi ga kebayang bu Romlah membyar tagihan listrik tiga kali lebih banyak dari yang saya bayar dirumah. Rinciannya, Rp 1500/ untuk setiap unit lampu dan alat listrik. Di rumah bu Romlah, ada 3 lampu, dan sebuah tipi. Jadi kebayang kan berapa banyak yang harus ia keluarkan untuk listrik itu saja.
Bu Romlah, PLN mungkin ga tertarik ke pulau Tunda. .

Saturday, January 02, 2010

Simalakama

Tahun baru harusnya dilalui dengan perasaan gembira dan suka cita. Namun tidak bagi saya. Apa pasal? saya sudah pernah posting sekali soal sampah. Kali ini perasaan tak bisa ditolak untuk menulis lagi. Ya, soal sampah.

Di dekat rumah sudah dipasang papan baru yang menyatakan bahwa dilarang membuang sampah disini. bunyinya tegas dan jelas. ditulis pula dalam huruf besar (kapital). dalam tata krama dunia sms, penggunaan huruf kapital berarti penegasan. sayangnya, tak semua bisa membaca. kalau toh bisa, tak juga mengerti maksud dan pesan yang disampaikan papan itu.

bayangkan, beberapa orang membuang sampah tepat dibawah papan itu. beberapa orang lainnya berpura-pura mematuhi aturan itu dengan membuang hanya beberapa meter dari papan larangan itu. mereka mungkin berpikir bahwa mereka tak melanggar aturan dan bisa membaca. kan mereka membuangnya tidak tepat di bawah papan larangan itu.

sebenarnya saya harusnya cuek aja. apalagi tak ada sedikit pun hak saya melarang. itu bukan wilayah dari 'kekuasaan' saya. apalagi itu juga tanah kosong yang pemiliknya sendiri pun tak pernah berkeberatan. tapi saya juga wajar protes. sampah yang mereka buang kebanyakan palstik dan sampah basah. selain mencemari lingkungan, bau menyengat dari sampah itu sungguh mencederai indera perasa dan pembau. jika semilir angin berhembus, akan terasa sangat bauk tak sedap itu.

saya sebenarnya telah berusul kepada developer dan pengelola perumahan untuk menyediakan tempat pembuangan sementara. tapi takut repot barangkali, sehingga usul saya hanya tinggal dalam berangkas usul.

saya pun tak enak hati menegur mereka yang membuang sampah. apalagi mereka adalah tetangga dekat rumah, yang tentu peringatan sekecil itu bisa berakibat pada hubungan yang fluktuatif. itu yang saya hindari.

ada yang telah berkali-kali saya tegur, dengan sehalus mungkin tentunya. tapi tetap saja, sampah makin menggunung di sektar rumah. yang saya khawatirkan adalah saat musim hujan tiba. sampah-sampah itu bakal terbawa arus air dan menjadikan jalanan di depan rumah menjadi tempat sampah baru. dalam skala yang lebih besar, ini tentu seperti tidak percaya akan bahaya kerusakan lingkungan. saya tahu, saya bukanlah orang yang seperti penerima hadiah kalpataru yang sedikit itu. bukan juga penyayang lingkungan dalam arti seperti aktifis greenpeace. tapi perasaan terganggu membuat saya tersadar, lingkungan haruslah diperhatikan. membuang sampah pada tempatnya, adalah sebuah contoh kecil tentang bagaimana kita bisa berkontribusi.

semoga tahun baru ini para tetangga bisa memiliki resolusi tahun baru yang berkaitan dengan sampah. jika tidak, saya harus memperbanyak stok sabar dalam diri.