Saturday, June 29, 2013

Borgen—Semacam Review

Selama ini saya tak tahu jika Denmark ternyata melahirkan beberapa serial yang menarik dan menyita perhatian. Satu yang saya tahu kini adalah serial Borgen. Bukan serial percintaan atau thriller, genre yang banyak diproduksi Hollywood, tapi ini adalah drama serial politik. Genre ini menjadi menarik di tengah pilihan terbatas dari Hollywood sana. Tentu, ada konflik, dan percintaan juga di sini. Rumus seperti ini sudah jadi rumus kunci kayaknya dalam setiap serial. Untungnya, bumbu ini tidak terlalu mendominasi.

Di Australia, serial ini baru diputar tahun ini. Di beberapa Negara Eropa, serial ini sudah tuntas tayang sejak beberapa tahun lalu. Dan menurut beberap review yang say abaca, serial ini berhasil menarik perhatian, terutama di Inggris.

Awalnya saya tak begitu perhatian. Saat nonton season pertama, seingat saya saat itu pas lagi makan malam dan lagi malas ganti chanel tivi. Tapi saat menyaksikannya, kayaknya bagus dan terbukti, serial ini memang sangat bagus. Paling tidak dalam penilaian saya. Sekarang sudah season 10, dan saya masih terus tak sabar menanti season berikutnya.

Serial politik ini berbicara tentang dinamika politik di Denmark. Dalam kehidupan nyata, sebenarnya tak banyak berita tentang Denmark dan dunia politiknya. Beberapa hal tentang Denmark yang saya tahu adalah tentang Bulutangkis dan sepakbolanya. Entah karena politik yang stabil, sebagaimana negara Skandinavia lainnya, tapi yang pasti memang dunia politik Denmark jarang dapat pemberitaan.

Adalah Birgitte Nyborg, diperankan oleh aktris Denmark Sidse Babett Knudsen, tokoh utama dalam serial ini yang juga berperan sebagai Perdana Mentri Denmark. Perdana Menteri wanita pertama dalam sejarah politik Denmark. Ia memimpim pemerintahan federal Denmark. Sebelum terpilih jadi perdana menteri, ia merupakan ketua partai Moderat di Denmark. Ke kantor, ia selalu bersepeda dan tidak jarang ngopi di café selayaknya orang biasa. Beberapa tokoh penting lain juga ada, tapi favorit saya adalah Katrine Fønsmark, diperankan oleh aktris cantik Denmark, Birgitte Hjort Sørensen. Ia sosok jurnalis idealis yang rela memutuskan pacaranya yang instruktur fitnes karena tak tahu siapa nama menteri hukum.

Konflik dalam pemerintahan juga ditampilkan dalam serial ini, termasuk tentang konflik pribadi dari perdana menteri yang berakibat hubungan rumah tangganya jadi tidak harmonis. Untuk menghindari konflik kepentingan, suami sang perdana menteri diminta untuk tidak mengambil jabatan yang bisa dianggap memanfaatkan posisi istrinya sebagai pemimpin pemerintahan. Awalnya scenario ini berjalan mulus. Suami perdana menteri tetap memilih menjadi dosen di sekolah bisnis di Copenhagen. Namun ini tak bertahan lama. Setelah menolak beberapa kali untuk mengisi jabatan eksekutif di beberapa perusahaan multinasional, kali ini iya tak bisa menolak lagi.

Pemberontakan dari sang suami sebenarnya bukan karena pertimbanga finansial semata. Menjadi suami perdana menteri, membesarkan dua orang anak, tentu pekerjaan berat baginya. Belum lagi ia seperti tak mendapatkan istri dan ibu bagi anak-anaknya. Kesibukan, dan urusan kenegaraan menyita waktu bagi keluarga, termasuk pengorbanan sang suami untuk urusan ranjang yang selalu tertunda.

Konflik tentang gender ini memang pas dengan kondisi politik di Australia. Entah mengapa, saat season 10 yang mengisahkan tentang konflik di pemerintahan dan rumah tangga sang perdana Menteri, tepat beberapa saat sebelum akhirnya Julia Gillard berhenti sebagai perdana menteri Australia. Sebuah ketidak-sengajaan memang, tentu saja.

Meski hanya fiksi, Borgen ini menunjukkan realitas politik sesungguhnya. Permainan politik yang cenderung kotor, politisi yang selalu berusaha mendapatkan keuntungan dari kebijakan Negara, hingga konflik personal dan rumah tangga yang muncul dari akibat aktifitas politik. Semuanya disajikan dengan apik. Satu hal yang menyesakkan, contoh-contoh baik yang disajikan disini, tentang upaya menghindari konflik kepentingan dan penolakan terhadap keinginan mengambil keuntungan pribadi dari duit Negara, sayangnya masih sebatas imajinasi. Berita-berita politik negeri, masih tak jauh dari kisah seperti ini. Untuk sementara, menonton serial Borgen ini sudah cukup..

Photo credit: freeproject.eu

Wednesday, May 01, 2013

Lima Tahun

Lama tak menjenguk tempat bermain ini. Sekali menjenguk hanya ingin menuliskan sedikit catatan menjelang lima tahun usiamu, Nak. Saya masih ingat, saat mamamu akan melahirkanmu, saya sempat berdebat dengan perawat. Dia mengatakan bahwa kamu masih butuh waktu lama untuk lahir, sedangkan saya yakin waktunya tidak lama lagi. Bukan mengapa, saya hari itu tanggal 2 Mei, dan bagi bangsa kita itu adalah hari istimewa karena hari Pendidikan Nasional. Sebenarnya saya dan mamamu tak menarget hari tertentu untukmu lahir. Saya cuma tak tega lihat mamamu yang kesakitan luar biasa. Sehari sebelumnya saya telah membawanya ke rumah sakit, tapi karena belum menunjukkan tanda yang cukup berarti kami pun diminta pulang dan kembali esok hari. Padahal saat itu mamamu sudah merasakan sakit yang tak terkira, menurutnya. Dan saya percaya. tepat lima tahun yang lalu, kamu pun hadir. Senang tak terkira saat itu, dan kita cuma bertiga.

Saat catatan ini saya tulis, kamu dan mamamu sedang bertemu dokter. Pagi tadi dadamu sudah discan untuk memastikan tidak ada masalah. Sejak saya tinggal untuk sekolah hampir sebulan lalu, kata mamamu asma dan batuk silih berganti datang menghampirimu. Kadang kamu seharian harus minum obat dan diuap dengan bantuan nebuliser. Alat bantu uap ini kita beli sesaat sebelum saya balik ke sekolah. Bersama mamamu kami berpikir mungkin itu akan sedikit membantu derita sesak napasmu yang rutin datang jika pagi menjelang.

Sebelumnya dirimu seperti terjadwal dapat sakit lumayan parah 2 bulan sekali. Jika itu yang terjadi, kita punya dua dokter idola dan andalan. Keduanya kami anggap baik dan cocok denganmu. Sebelumnya, saat gejala asma pertama kali muncul, hampir semua dokter anak di Makassar telah kita datangi. Belum lagi dokter kulit dan ahli gizi yang tak terhitung berapa kali kita sambangi. Ini karena selain asma, dirimu juga tak bisa sembarang mengkonsumsi makanan. Susu sapi tak boleh, apalagi keju dan mentega. Makanya badanmu terlihat sangat kurus. Tingkat kekurusan kelihatan makin bertambah parah saat dirimu sakit. Jika sesak napas, tak tega rasanya melihat dadamu yang kelihatan tulang rusuknya itu. Dalam hati saya selalu sedih memikirnnya. Kamu tak minum susu formula yang katanya banyak vitamin dan zat penting untuk pertumbuhan anak itu bukan karena kami tak bisa membelikannya untukmu. Bukan, tapi karena dirimu memang tak bisa menikmatinya. Belum lagi setiap ada kawanmu yang ulang tahun, kamu tak pernah bisa mencicipi kue ulang tahun mereka. Saya dan ibumu selalu sedih, nak.

Selain dokter, beberapa kali dirimu juga dipertemukan dengan banyak orang tua, dan orang pintar. Jika situasi seperti ini, saya selalu berbeda pendapat dengan mamamu. Satu sisi saya masih percaya bahwa sakitmu ini masih bisa dicarikan 'jalan ilmiah'nya atau bertanya pada dokter dan belajar pada banyak literatur. Satu sisi, mamamu selalu menekankan pentingnya kita menghargai upaya orang lain, termasuk dari kakek dan nenekmu untuk mencoba segala usaha dan upaya agar kamu sembuh. Kamu pernah dibawa ke Bone, Enrekang, Maros, hingga beberapa tempat di sekitaran BTP. Ada yang memberikanmu ramuan tradisional, lengkap dengan beberapa bacaan doa. Namun ada juga yang sekedar memijat dan mengurutmu. Katanya sih agar peredaran darahmu lancar.

Begitulah nak, banyak upaya yang sudah kita lakukan bersama. Kami bercerita ini bukan sebagai bentuk putus asa. Saya masih percaya kamu tetap ciptaan tuhan yang spesial buat kami. Jika ada hal yang paling saya suka dari beberapa nasihat alternatif diluar kunjungan ke dokter, adalah dengan berjalan bersamamu, bermain dan berenang di pantai. Ya, beberapa orang, termasuk dokter menyarankan kamu untuk rajin-rajin direndam di air laut. Ini agar tubuhmu menjadi lebih kuat dan juga baik untuk melatih pernapasanmu.

Kadang ada ups dan downs dari saya maupun ibumu. Tapi percayalah, itu tak lebih karena kami masih manusia yang menyayangimu tiada tara. Semua upaya rasanya sudah dilakukan. Apalagi mamamu, hapir banyak hal yang dikorbankannya untukmu. Tak terhitung berapa kali mamamu menangis tersedu jika lihat kondisimu. Saat jauh, tangisnya itu dibaginya kepadaku. Mungkin ia tak kuat menanggungnya sendiri. Dan kau tahu, ia selalu nyaman jika menangis dipundakku. Makanya, saat seperti ini, saya jauh dari kamu dan mamamu, saya jadi tak bisa melakukan banyak hal. Untunglanh, kita punya banyak saudara, teman dan keluarga yang selalu menguatkan dan memberi semangat, juga alternatif pengobatan.

Tapi sekali lagi, kami selalu percaya dirimu spesial. Mungkin kami saja yang belum menemukan cara spesial yang tepat untuk merawatmu. Sebenanrnya kami tak ingin terlalu larut dan berserah begitu saja dengan apa yang kamu derita. Saya percaya, termasuk beberapa informasi yang kami terima, bahwa penyakit itu perlu sedikit dilawan. Saat kamu sesak atau alergi misalnya, saya tetap berpikiran untuk membawamu ke luar rumah. Tinggal di dalam rumah lebih dari dua hari tentu tak baik untuk seusiamu yang selalu ingin bermain dan ingin tahu banyak hal. Soal makanan pun kami pernah bersepakat untuk sedikit menurunkan standar toleransi. Beberapa kali nenekmu mencobakan mie, yang telah dicuci berkali-kali dan tanpa bumbu diberikan kepadamu. hasilnya, kadang kulitmu memerah karena alergi yang kamu derita. Tapi kamu juga tetap bertahan dan untungnya kita bisa lewati meski progressnya relatif lambat.

Selalu sedih jika meliha menu makanmu yang hampir itu-itu saja. Sayur tanpa garam dan penyedap rasa. Ikan yang dibakar tanpa bumbu. Cemilan yang serba dikukus karena efek minyak goreng belum cukup kuat diterima tubuhmu. Karena tak ada cemilan yang khas dikonsumsi anak-anak seusiamu, buah segar selalu menjadi pilihan. Kami paham nak, sebenarnya dirimu diberkati dengan nafsu makan yang baik. Makanya saat kamu sehat, kamu bisa makan hingga lima kali sehari. Tapi ya itu tadi, tak banyak pilihan makanan yang bisa kamu konsumsi. Mungkin kamu masih ingat, sata hanya jalan berdua denganmu, kita pernah mampir ke KFC. Mamamu sebenarnya sudah peringatkan untuk tidak sembarangan memberimu makan. Makanya kita dibekali dengan makanan dari rumah. Cuma karena saya berfikir saat itu kamu baik-baik saja dan tidak sedang sesak, maka mampirlah kita ke KFC. Kita makan berdua, dan sesekali saya membolehkanmu mencicipi ayam goreng yang kulit kriuknya sudah saya bersihkan. Singkat cerita, kamu ternyata baik-baik saja dan tidak ada efek berarti di tubuhmu. tak seperti biasa yang jika ada barang yang tak cocok, tubuhmu langsung bereaksi instan. Entah itu anggota tubuh yang memerah, atau batuk dan sesak napas.

Begitulah nak, lima tahun usiamu kini dan belum banyak perkembangan berarti dari kesehatanmu. Dalam seminggu, paling banyak kamu masuk sekolah itu cuma 5 hari. Ada saat dimana kamu sebulan bersekolah full. Tapi lebih banyak rasanya kamu masuk sekolah dua hari, dan ijin untuk sisa harinya. Meski begitu, selalu menarik mendengarmu kisah ketika pulang sekolah. Tentang kawan-kawanmu yang tak henti saling mengerjai, termasuk cerita tentang beberapa kawanmu yang sering menjadikanmu objek penderita. Mungkin karena tubuhmu yang paling kecil. Kamu pernah cerita berada dalam posisi dilema karena ada dua kawan 'besar' yang erbkelahi. Kamu dipaksa memilih bermain dengan siapa, dan jika tidak akan kena pukul. Ketawa saya mendengar ceritamu itu nak. begitulah dunia anak-anak. Kepadamu saya cuma cerita bahwa kamu harus tentukan pilihan sendiri dan belajar mandiri. Soal berkelahi, biasalah itu. Asal tak melukai saja, semuanya oke-oke saja.

Tapi saya tak mau cerita soal derita saja. Meskipun sebenarnya itu bukan derita. Itu bagian dari hidup bersamamu. Tak elok rasanya jika hanya menanti tawamu tanpa mau ambil tangismu juga. Semangat ini saya bagi juga dengan mamamu, dan syukurlah kini dia lebih kuat.

Oh yah, satu kebanggaan lagi saat kamu menang lomba mewarnai. Tak main-main, lomba mewarnai se-BTP raya. Guru dan teman-temanmu tidak pernah tahu ternyata kita tiap malam punya aktifitas wajib, yaiut mewarnai. Tak terhitung sudah berapa buku mewarnai yang kita tamatkan berdua. Dan entah kenapa, saya selalu menjadi pilihan utamamu dalam mewarnai. Mungkin karena saya selalu terima jiak diminta mewarnai apa saja, termasuk dengan warna apa saja. Nah, saat kamu menang itu, kamu dapat piala. Luar biasa nak. Saat seusiamu, saya tak pernah dapat piala. Jadi paling tidak kamu sudah lebih baik dari saya saat seusiamu. Tapi jangan dulu berbangga. Saat TK dulu lomba mewarnai belum begitu populer di sekolahku, jadi masih masuk akallah alasanku.

Bercerita tentangmu selalu tak ada habisnya. Tapi baiklah, kini kau sudah lima tahun. Tak banyak yang saya minta pada tuhan nak. Semoga kamu tetap dilimpahi kekuatan dan kesehatan. Kami pun akan selalu menjagamu, sepanjang yang kami bisa. Jadi kuatlah. Kau tahu, banyak orang yang menyayangimu. Jadi kuatlah, supaya kamu bisa menjelajah lagi. Kita akan pergi ke banyak tempat, sebab hanya dengan begitu kita jadi banyak tahu dan makin sadar bahwa kita belum tahu banyak. Kita masih punya banyak rencana besar bersama mamamu. Makanya, di usiamu yang kelima ini, banyak doa kami panjatkan. Be strong, my boy...

Friday, November 09, 2012

Sebuah Catatan Merayakan Perkawanan

catatan ini diniatkan sebagai kado buat kawan yang bulan depan melangsungkan pernikahan...

Gary S. Backer, seorang ekonom dari University of Chicago pernah menulis sebuah artikel menarik dengan judul “A Theory of Marriage”. Bagi Gary, teori-teori ekonomi sebenarnya bisa digunakan untuk menjelaskan banyak hal, termasuk perkawinan. Hal ini diungkapkannya untuk memperkuat argumen bahwa sesungguhnya teori-teori ekonomi memiliki kekuatan analitik untuk menjelaskan fenomena yang terjadi di masyarakat.
Dalam penjelasannya, Gary menggunakan dua prinsip dasar ekonomi. Pertama, jika diasumsikan bahwa perkawinan itu bersifat sukarela, entah itu oleh calon pengantin dan dengan kerelaan dari pihak orang tua, maka sesungguhnya pernikahan menjadi upaya untuk meningkatkan tingkat utilitas (berdasarkan theory of preference) ketimbang tetap melajang. Prinsip kedua, sejak pria dan wanita ‘bersaing’ untuk mendapatkan pasangan, maka bisa dikatakan bahwa ‘pasar’ dalam pernikahan itu ada dan setiap orang akan berusaha mendapatkan pasangan ideal sesuai dengan mekanisme pasar yang ada.

Tapi tak setiap pernikahan memberi pembenaran atas teori Gary tersebut. Dan saya percaya, pilihan kawan Boge untuk menikah, tak melulu atas pertimbangan ekonomi, sebagaimana yang diisyaratkan Gary. Prinsip persaingan rasanya juga tak ada dalam daftar ‘motivasi untuk menikah’ Boge. Memakai istilah Daniel Kahneman, peraih Nobel Ekonomi 2002, keputusan menikah ini ‘mungkin’ merupakan perpaduan karakter berpikir dalam otak kita yaitu ‘Sistem 1’ dan ‘Sistem 2’ sekaligus. Artinya, keputusan ini diambil dalam keadaan sadar dan tidak sadar sekaligus, juga cepat tapi lambat pada dasarnya.

Dalam beberapa kesempatan, pilihan untuk menikah, selalu disebutnya sebagai upaya untuk menyempurnakan ke-Islamannya dan mencari bahagia yang paripurna. Ya, sebab kebahagiaan hanya milik mereka yang berani. Nah, kembali ke pembagian dalam otak sebagaimana yang dikemukakan Kahneman tadi, keputusan berani, yang merupakan kombinasi dari kesadaran, keinginan, dan intuisi ini berpadu menjadi satu dalam diri Boge.

Bicara soal berani ini, kami sering berbagi canda dan sindiran soal mengapa kawan-kawan masih memilih menjadi bujangan. Tentu saja, soal keberanian menjadi senjata andalan, bahwa mereka yang memilih untuk membujang cukup lama itu berarti tidak cukup berani. Tentu, dengan segala hormat, ini hanya lelucon dan sindiran dalam konteks pertemanan kami yang terbatas, tidak lebih. Begitulah cara kami merayakan perkawanan. Bahwa melajang pun butuh keberanian berlipat, tentu beberapa pihak setuju dan membenarkannya.

Saat mendengar Boge akan menikah, saya sebenarnya masih ragu akan informasi ini. Bukan mengapa, selain sebagai kawan yang paling besar, ia juga menjadi kawan yang selalu jadi korban hoax dan beragam ‘informasi tak benar’ lainnya. Klarifikasi menjadi penting untuk urusan serius semisal perkawinan. Setelah telpon sana-sini, saya berhasil diyakinkan dan meyakinkan diri bahwa informasi ini sifatnya A1. Tidak ada keraguan lagi di dalamnya.

Sebagai kawan, saya tentu bahagia, dan sekali lagi, berbagi kebahagiaan selama ini adalah cara kami merayakan perkawanan. Dari sekedar traktiran, hingga cerita soal anak masing-masing kami yang sudah mulai bisa menyebut nama dan memanggil papa, ayah dan abi. Jika sudah sampai pada bagian yang terakhir, kami yang sudah menikah duluan kadang tak enak hati kepada kawan lain yang masih bujang. Jika bukan karena perkawanan, maka habislah kami ini dicaci –maki dan dianggap tidak manusiawi. Tapi ya itu tadi, begitu cara kami merayakan perkawanan.

Dan sebagai kawan, saya juga percaya, Boge sudah menemukan cinta sejatinya, meski dengan cara yang tidak saya duga sama sekali. Benar kata orang, cinta sejati selalu menemukan jalan. Ada saja kebetulan, nasib, takdir, atau apalah sebutannya sebagai jalan. Tapi saya percaya ini bukan kebetulan semata. Menurut kabar, tak kecil usaha dan kerja keras Boge untuk tiba pada keputusan menikah ini.

Saya pun percaya ini bukan pembuktian, sebab ia tak perlu membuktikan apa-apa. Sebagai lelaki, ia kawan yang tangguh, penuh percaya diri dan rajin belajar. Dalam beberapa hal, ia termasuk kawan yang kreatif dan menyenangkan. Perpaduan aneh tapi nyata. Kreatif karena ia sering memilih cara-cara yang tak lazim dan berbuah lelucon, bahkan untuk urusan kecil dan remeh-temeh. Namun begitu, ia juga menyenangkan, sebab mereka yang tak setuju tak berarti tidak suka dengannya. Paling tidak, dengan begitu kami punya tambahan stok dalam berbagi canda.

Pada akhirnya Boge sudah memutuskan untuk menikah tanpa berteori. Marilah kita berdoa dan berbahagia saja. Mari merayakan kehidupan baru.

Baraka-alahu-lakuma
Wa Baraka alaikuma
Wa jam’a bainakuma fil khair


Saturday, October 20, 2012

64 Tahun FE Unhas, Berhentilah Merasa Tua (Bagian 2)

baiklah dilanjutkan....


Lalu, bagaimana dengan FEB-Unhas sendiri? Tak perlu jauh-jauh mencari perbandingan dengan sekolah-sekolah bisnis terkenal itu. Perbandingan seperti itu hanya membuat kita frustasi tak berkesudahan. FEB-Unhas saat ini masih belum bisa beranjak dari masalah-masalah elementer. Soal minimnya anggaran, atmosfer akademik yang tidak terasa, rendahnya penelitian dari dosen baik dari segi kuantitas maupun kualitas hingga pelayanan akademik yang mengecewakan bagi dosen dan mahasiswa. Infrastruktur yang ada pun layak dimasukkan dalam dafatar masalah yang setia menemani perjalanan FEB-Unhas. Lihatlah kampus Magister Manajemen yang tak lebih baik dari gedung beberapa SD Inpress di Makassar.

Ingin melihat yang lebih jauh dan substantif lagi? Tengoklah bagaimana dosen dan mahasiswa berinteraksi di kelas. Interaksi yang ada memberi gambaran bahwa mengajar dan diajar tak lebih sekedar rutinitas belaka. Tak ada gairah yang terlihat sebagai sebuah aktifitas untuk mendapatkan dan bermanfaat bagi pengetahuan. Dosen masuk kelas dengan minim persiapan, materi yang disampaikan tidak uptodate, hingga waktu perkuliahan habis untuk membahas masalah pribadi sang dosen masih sering kita dengar hingga saat ini. Belum lagi tugas yang diberikan kadang tidak relevan dengan mata kuliahnya, hingga kasus jual-beli nilai yang sulit untuk dibuktikan namun gaungnya ramai terdengar.

Tentu, menuntut mereka untuk berlaku layaknya civitas akademika idel mensyaratkan ketersediaan sumber pengetahuan seperti buku dan jurnal ilmiah. Lalu, bagaimana mengharapkan yang terbaik jika persputakaan yang ada dikelola layaknya kantor kelurahan?

Lembaga kemahasiswaan yang ada pun saat ini masih belum bisa 'move on' hingga tak ingin berbuat sesuatu yang berbeda dari seniornya yang dulu. Dialektika yang ada di antara mereka masih seputar hal remeh-temeh seperti pengkaderan, penggunaan anggaran kemahasiswaan dan demo-demo yang sifatnya reaksional semata. Tak pernah ada upaya serius untuk keluar dari bayang-bayang masa lalu mahasiswa, meskipun slogan dalam setiap aksi mereka adalah 'everybody has the right for their own history'. Ada dua kemungkinan hal ini bisa terjadi. Pertama, kondisi FEB-Unhas saat ini dirasa sudah cukup memuaskan hingga tak perlu ada diskusi lagi. Kondisi kedua, lembaga mahasiswa bingung untuk memutuskan kontribusi apa yang bisa dilakukan untuk memperbaiki kondisi yang ada dan dari mana memulainya. Hubungan yang ada jadinya seperti 'LDR' padahal jarak kantornya cuma sepelemparan batu.

Mengurai satu per satu masalah yang pasti tak ada habisnya. Namun demikian, kita tak bisa meminggirkan peran universitas yang juga sangat menentukan. Sebagai sebuah institusi yang perannya terhadap pengetahuan dan pengembangannya terhadap kehidupan begitu berpengaruh, maka FEB-Unhas hanyalah bagian kecil dari harapan itu. Sayangnya, dalam lingkup Universitas, kondisi yang sama juga terjadi. Universitas dikelola layaknya kantor pemerintah semata hingga yang lahir dari dalamnya serupa kebijakan-kebijakan tanpa dasar dan kadang tidak masuk akal. Padahal, menurut Lyotard (1984): "The university’s relation to knowledge is articulated by a metanarrative of ‘the realization of the life of the spirit or the emancipation of
humanity and its ‘unifying idea’ and ideal of aligning culture and society".


Ambil contoh pelarangan masuk angkutan kota ke dalam kampus namun kendaraan pribadi tetap tak dibatasi. Apalagi alasan yang digunakan adalah demi lingkungan dan keteraturan kampus. Padahal, kendaraan pribadi dosen dan mahasiswa luar bisa banyaknya hingga parkir di pinggir jalan dan membuat kemacetan setiap jam-jam padat. Pola pikir seperti ini tentu sangat disayangkan muncul dari kalangan kampus. Belum lagi perpustakaan kampus yang tidak pernah mendapat perhatian lebih seperti gedung rektorat yang sudah direnovasi beberapa kali. Artinya, hal-hal yang berkaitan langsung dengan pengembangan pengetahuan tak begitu berarti untuk mendapat perhatian ketimbang hal-hal artifisial dan seremonial lainnya.

Lalu Bagaimana?

Ada pendapat yang mengatakan seperti ini, bahwa marah terhadap kondisi yang buruk itu adalah sesuatu hal yang bagus. Namun marah-marah saja karena keadaan yang buruk, lama-lama menjadi aktifitas yang meletihkan dan menjengkelkan. Nah, agar tak terjengkelkan dan terletihkan, maka ada beberapa hal yang bisa menjadi perhatian FEB-Unhas di 64 tahun usianya kini.

Pertama, berhentilah selalu merasa tua. Dalam setiap perayaan Dies Natalis, selalu didengungkan bahwa FEB-Unhas adalah yang tertua di Indonesia. Tidak salah memang, apalagi dokumen sejarah yang ada membuktikan itu. Tapi pemikiran dan kebanggaan semu seperti ini membuat kita jumawa dan lupa bahwa usia bukan segalanya. Kerja dan bakti nyata itu yang perlu. Perlu juga dipikirkan perayaan Dies Natalis itu dibatasi sekali dalam dua tahun saja. Seremoni yang tidak jelas sudah terlalu banyak di kampus. Perlu menitikberatkan esensi daripada seremoni belaka.

Kedua, perlu upaya serius membenahi fasilitas kampus yang ada saat ini. Fasilitas ini tentu saja sangat bergantung pada ketersediaan dana yang dialokasikan universitas. Namun alternatif pembiayaan bukannya tidak ada. Wadah alumni bisa dimanfaatkan dan juga pihak ketiga lainnya seperti korporasi dan individu. Tentu saja, akuntabilitas dan transaparansi menjadi syarat dasar agar hal ini bisa dijalankan.

Ketiga, tak boleh lagi sekedar duduk bersama mendiskusikan soal bagaimana sebaiknya iklim akademik di fakultas bisa dibenahi. Road map dan diskusi tak terhitung lagi berapa kali dilaksanakan namun minim implementasi. Meski tata-kelola dan prosedur tak boleh dilanggar, namun ini seharusnya tidak memberi batas akan kreatifitas dan pikiran berbeda untuk berkembang. Sudah saatnya pengelola fakultas berhenti berpikir dan berparadigma pejabat kelurahan.

Dalam konteks perkuliahan, perlu dibangun kesadaran bersama dari dosen untuk tidak lagi sekedar menggugurkan kewajiban semata. Insentif untuk mereka yang serius di riset perlu juga dikaji. Selain itu, perlu pula dipikirkan kerjasama dengan pihak swasta untuk menjembatani teori-praktek yang selama ini terkesan diabaikan. Tak ada salah memanggil praktisi untuk mengisi jadwal kuliah. Tentu, tak sekedar mengisi kuliah semata, tapi diharapkan mampu berbagi pengalaman tentang realitas di luar yang mungkin saja luput dari perhatian kita di kampus. Generasi hi-tech saat ini sudah tidak dapat lagi didekati dengan pendekatan a la 'jadul', meski prinsip-prinsip dasar dalam belajar masih tetap harus dipertahankan. Prinsip-prinsip seperti kesungguhan, kerja keras dan kejujuran harus menjadi basis dalam setiap aktifitas pembelajaran. Pelibatan makin banyak dan beragam

Kampus sudah selayaknya tak hanya berfungsi sebagai penyebar pengetahuan (disseminator of the knowledge) tp menjadi basis dari pengetahuan itu sendiri (a site of knowledge production). Namun jika masih dikelola seperti kondisi yang ada saat ini, rasanya keinginan itu masih jauh sekali. Kampus puh tidak boleh lepas dari akar kulturalnya. Dalam visi besar FEB-Unhas, semangat bahari jelas termaktub. Bagaimana implementasinya? Sederhana menjawabnya, tidak ada mata kuliah khusus yang membahas dan menerjemahkan visi ini.

Padahal, jika betul dipahami dengan baik, maka ini bisa menjadi basis pembeda FEB-Unhas dengan FEB yang lain. Selain itu, semangat bahari dan ekonomi kerakyatan yang menjadi spiritnya, bisa digunakan sebagai dasar dalam membentuk ‘narratives of expertise’ dari FEB-Unhas.

Akhirnya, semoga Dies Natalis kali ini menjadi langkah awal menjadi lebih baik dan bermanfaat. Tak harus selalu merasa tua.. Dirgahayu FE-Unhas ke-64.





64 Tahun FE Unhas, Berhentilah Merasa Tua

Setiap bulan Oktober adalah bulan istimewa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unhas (FEB-Unhas). 8 Oktober 1948, Fakultas ini dibentuk sebagai bagian dari upaya desentralisasi pendidikan tinggi saat itu. Niat awalnya untuk memenuhi kebutuhan guru-guru ilmu ekonomi dan pemegang buku di sekolah-sekolah menengah di Indonesia.

Tahun ini, tepat 64 tahun FEB-Unhas. Sebuah usia yang tak bisa dikatakan muda lagi. Namun sayangnya, dalam setiap tahun acara peringatan Dies Natalis ini, praktis tidak banyak perubahan berarti. Usia yang tak muda lagi rupanya berimplikasi pada kinerja kelembagaan yang tak juga beranjak meninggi. Ini tak menafikan beberapa perubahan yang ada. Namun demikian, perubahan itu seharusnya sudah terjadi beberapa tahun lalu.

Perubahan paling sederhana (dan mungkin malah yang paling tinggi tingkat pencapaiannya) adalah perubahan nama dari Fakultas Ekonomi (FE) menjadi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB). Perubahan ini sayangnya tidak diikuti dengan perubahan paradigma yang berarti. Sederhananya, perubahan ini sekedar mengikuti trend perubahan nama di beberapa perguruan tinggi lain. Perubahan lain yang juga mencolok adalah pembangunan fisik dan kampus yang sedikit tertata. Namun sekali lagi, tak perlu visi dan usaha luar biasa besar untuk perubahan 'kecil' seperti ini.

Mengelola FEB-Unhas memang bukan pekerjaan mudah. Apalagi, sebagai bagian integral dari Unhas dan kementrian pendidikan dan kebudayaan, tentu ada mekanisme dan tata-aturan yang harus diikuti. Pemahaman prosedural memang menjadi penting ketika ingin melihat institusi ini secara utuh.

Meski begitu, hal ini tak bisa menjadi alasan pembenar dari 'lambat-gerak' FEB-Unhas menghadapi masa depan. Apalagi disadari, tantangan pendidikan tinggi ke depan semakin besar. Tantangan yang besar ini dibarengi pula dengan tuntutan yang tinggi akan kontribusi institusi pendidikan tinggi, yang bagi beberapa kalangan dirasa belum berarti (untuk tidak mengatakannya tidak ada sama sekali).

FEB-Unhas sebagaimana Fakultas Ekonomi yang lain sebenarnya berdiri di persimpangan jalan. Berbicara ekonomi dan bisnis maka kita tentu tak bisa melepaskan diri dari persinggungannya dengan sosial, politik dan budaya. Ini pula yang melatari banyak kritik terhadap pendidikan ekonomi di perguruan tinggi. Kita mungkin bisa belajar dari perjalanan panjang sekolah-sekolah bisnis di Amerika dan Eropa. Di era pasca perang dunia II, di Amerika khususnya, sekolah-sekolah bisnis (business schools) dikritik tak ubahnya sebagai 'trade schools'. Hal ini dilatari dari minimnya kontribusi pengetahuan, yang diakibatkan oleh lemahnya riset-riset dari perguruan tinggi tersebut. Kesenjangan ini ditambah lagi dengan kurang aplikatifnya riset-riset yang telah dilakukan sebelumnya.

Beberapa sekolah-sekolah bisnis top kemudian memperkenalkan model pengajaran berbasis kasus (case study) sebagai upaya untuk menutup celah 'ketidak-sesuaian' antara teori dan praktek ini. Kelas-kelas yang bersifat aplikatif seperti program MBA dan kelas eksekutif pun diperkenalkan. Dengan harapan, ini bisa menjadi jembatan antara kebutuhan bisnis dan tuntutan riset yang harus dilakoni oleh civitas akademika.

Sampai di sini kritik bukannya tidak ada. Beberapa kalangan kemudian menilai bahwa sekolah-sekolah bisnis telah berubah menjadi sebuah industri tersendiri, yang melihat mahasiswa tak ubahnya sebagai konsumen semata. Kritik lain menyebutkan bahwa sekolah-sekolah bisnis itu sudah tak berideologi mulia lagi, dimana keuntungan finansial menjadi tujuan utama layaknya sebuah korporasi dan mempertaruhkan integritas akademiknya.

Tak berhenti di situ, kondisi ekonomi global yang tidak menggembirakan juga ditengarai sebagai akibat dari sistem pendidikan ekonomi dan bisnis yang sangat kaku dan tidak bermoral. Diawali dari runtuhnya Enron dan diikuti dengan beberapa korporasi besar lainnya. Semuanya bermuara pada pengajaran ekonomi dan bisnis yang dianggap menjadikan orang menjadi rakus dan amoral. Keuntungan finansial menjadi segalanya tanpa perlu merisaukan urusan lain.

Yang paling anyar kritik (tepatnya refleksi) disampaikan oleh Professor Howard Davies yang mengambil kisah dari ketidak-puasan Jean-Claude Trichet, mantan gubernur bank sentral Eropa, terhadap terbatasnya kemampuan 'ilmu ekonomi' untuk mengatasi masalah-masalah ekonomi yang mendera banyak negara kini. Menurutnya, model-model konvensional yang ditawarkan ilmu ekonomi tak lagi cukup dan mumpuni untuk digunakan sebagai landasan untuk mengambil keputusan. Akhirnya, gubernur bank sentral Eropa ini meminta bantuan kepada ahli dari bidang lain seperti ahli fisika, biologi, hingga ahli psikologi untuk menjelaskan apa sebenarnya yang terjadi dengan ekonomi global.

to be continued


Saturday, October 13, 2012

Analysis of Non-Market Strategies Implemented by Firms In Emerging Economies (The Case of Indonesia)

Abstract

Over the last two decades, a growing body of research, both theoretical and empirical, on exploring the relationship between business and government has been emerging. While in the past, the performance of the firms mainly relied on market environment, many scholars revealed that non-market environment also play an important role in the firm’s performance. Non-market strategies include political donation, lobbying, CSR and business owners turning into politicians themselves. This proposed research will identify and examine the nature of the non-market environment as well as non-market strategies implemented by firms in emergent economies. In addition, the proposed research will analyse the relationship between non-market strategies and the performance of firms. In-depth case studies will be carried out in two firms in the region South Sulawesi, Indonesia. The expected outcomes of this study are: 1) knowledge of how the non-market environment influences the choice of non-market strategies in emergent economies; 2) knowledge on how non-market strategies influence business performance; 3) clarification of the role of government in an emergent economy with particular emphasis on government policies on business development under volatile market conditions. It is expected that this study will fill in the gap in literature on various types of non-market strategies in conditions of emergent economies.

Karena Ibadah Bukan Hanya Shalat Jumat

Sudah berapa jumat yang saya lewati, khutbah jumat siang tadi adalah yang paling berani dan paling berbekas. Berani sebab sang khatib bicara soal sederhana namun menyentuh. Ia berbicara tentang betapa Sahalat Jumat, yang seharusnya dimuliakan dan utama sering kita abaikan.
Sang khatib memberi contoh. Rasulullah menganjurkan kita melihat ibadah Jumat sebagai ibdaha utama di setiap pekan kita. Makanya, persiapan seperti berbersih diri, memakai pakaian bersih dan wewangian hingga menyegerakan datang sebelum khatib berbicara adalah sebagian anjurannya. Namun yang terjadi, shalat jumat sering dianggap biasa. Kita kadang memilih datang telat, hanya karena selalu menganggap khutbah jumat itu lebih bahaya dari obat tidur. Bahkan, beberapa jamaah memang lebih memilih bermain dengan telepon genggam mereka ketimbang mendengarkan khatib berbagi kebenaran. Tentu saja, tidak semua khatib sesuai harapan dan keinginan kita. Tapi dalam ilmu psikologi kita juga tahu, sebagai manusia kita lebih sering mencari informasi yang sesuai keinginan. Nah, dalam urusan beragama, keinginan dan harapan itu kadang dibenturkan dengan perintah dan larangan.
Padahal, lanjut sang khatib, film berdurasi lebih 2 jam tak membuat kita ngantuk dan mengalihkan perhatian. Intinya, urusan dunia sering membuat kita menjadi perhitungan dengan Allah.
Betul, di negara ini yang Islam bukan mayoritas, kita harus menyesuaikan diri dengan lingkungan. Namun ini lebih banyak dipakai sebagai kedok ketimbang berbicara soal kenyataan yang ada. Selalu punya banyak alasan untuk kemalasan. Alasan memang begitu dekat dengan kemalasan. Kita sering berharap doa dikabulkan, namun tak pernah perhatikan apa yang menjadi kewajiban.

Thursday, August 16, 2012

A Separation-- Semacam Review


Suntuk dengan bacaan dengan topik yang itu-itu saja, serta lelah dengan paper yang rasanya tak beranjak dari halaman terakhir, menonton film adalah pilihan bijak, meski tak pasti bestari. Masalahnya, tak ada toko dvd bajakan disini. Beberapa alternatif sebenarnya tersedia. Blockbuster, atau VideoEazy sebenarnya bisa. Tapi karena tak tahu bagaimana caranya, maka pilihan jatuh ke i-tunes.

Banyak pilihan film, tapi tak banyak menarik. Apalagi harga film rental yang terbaru masih relatif mahal. Bosan juga dengan genre action yang masih mendominasi. Setelah browsing beberapa lama, pilihan jatuh ke film independent "A Separation" yang disutradarai oleh Asghar Farhadi. Testimoni yang ada cukup menjanjikan. Film ini berhasil meraih Oscar 2011 untuk film berbahasa asing terbaik. Penghargaan dari festifal film dari beberapa negara juga telah diraih film ini. Review singkat film ini pun menjanjikan alur cerita yang menarik.

Film ini bercerita tentang sepasang suami istri kelas menengah Iran. Sang istri bernama Simin (saya duga) adalah seorang Dosen dan suaminya, Nader adalah seorang karyawan bank. Simin berniat pindah ke negara lain demi mencari penghidupan yang lebih baik. Sampai disini, sebenarnya tidak banyak disinggung mengapa ia mau keluar dari Iran. Dalam film, kehidupan mereka sebenarnya baik-baik saja, standar kelas menengah kota besar. Apartemen ada. Anak gadis yang pintar dan penurut pun melengkapi kehidupan mereka.

Masalahnya, Nader tak setuju dengan ide sang istri. Apalagi ia memiliki ayah yang mengidap Alchezemir dan butuh perawatan. Gambaran anak berbakti dengan jelas bisa kita lihat dari peran Nader ini. Ia memandikan sang ayah, mengganti pakaiannya dan membelikan koran setiap hari. Ia tak tega meninggalkan sang ayah, meski Simin berkali-kali mengatakan bahwa bahkan ayahnya tak tahu siapa nama anaknya. Toh, meninggalkan ayah dalam kondisi seperti itu tak berarti apa-apa. Akhirnya, Simin memutuskan untuk menggugat cerai sang suami. Di pengadilan, bukannya persetujuan, tapi ceramah hakim yang didapatnya. Menurut sang hakim, alasan untuk bercerai yang disampaikan Simin tak cukup kuat. Tak ada kekerasan rumah tangga, pun sang suami tidak ada kendala dalam memberi nafkah lahir dan batin.

Tanpa restu pengadilan, Simin akhirnya meninggalkan sang suami dengan anaknya. Ia pergi entah kemana. Dalam kondisi seperti ini, Nader tak punya banyak pilihan. Kerjaan tak mungkin ditinggal, sementara ayahnya butuh perawatan maksimal. Ia rekrutlah seorang wanita bernama Razieh untuk menjadi semacam pembantu rumah tangga, yang tugasnya mengatur rumah dan menjaga sang ayah. Razieh digambarkan sebagai wanita dengan seorang anak perempuan, taat beribadah dan memegang teguh prinsip ke-Islaman. Gambaran khas wanita Iran dengan tutup kepala besar dan hitam.

Dalam perjalanannya, konflik kemudian muncul. Baru 2 hari bekerja, Nader pulang ke rumah dan menemukan ayahnya terjatuh dari tempat tidur dengan selang oksigen yang tidak terpasang dengan baik. Ia panik tak terkira dan berusaha membangunkan ayahnya. Selang beberapa lama, Razieh sang pembantu datang ke rumah. Murkalah Nader kepada Razieh, yang menurutnya tidak bertanggung jawab atas kerjaan yang diberikan. Belum lagi ia kemudian menemukan bahwa sejumlah uangnya hilang. Konflik yang khas dan sarat dalam film-film Indonesia bergenre 'sedih - berakhir bahagia'.

Razieh berusaha membela diri dan meyakinkan Nader bahwa ia tak seperti yang dipikirkannya. Namun dengan penuh murka Nader mengusir Razieh, yang parahnya membuat Razieh terbanting keluar dari pintu hingga terjatuh. Sampai disini semuanya berjalan biasa, hingga beberapa hari kemudian Razieh ditemukan terbaring di rumah sakit karena keguguran. Razieh, si pembantu itu ternyata hamil dan tuduhan beralih ke Nader sebagai penyebab keguguran. Konflik pun beralih antara Nader dan suami Razieh, yang tentu saja tak terima istrinya tersakiti dan kehilangan jabang bayi dalam waktu bersamaan.

Dan ternyata saudara-saudara, Simin yang sebelumnya digambarkan telah pergi ke negeri seberang, masih ada di Iran. Ia tinggal dirumah orang tuanya. Ternyata ia tak begitu berani pergi meninggalkan negeri tanpa anaknya. Kekhawatiran terbesar pada anaknya itulah yang membuatnya tak jua meninggalkan kota. Dan sang istri pun mengikuti dibalik layar kehidupan suaminya, yang ternyata tak mulus. Ia pun berinisiatif mengatur jalan damai dengan keluarga korban agar suaminya tak sampai harus mendekam di penjara. Ia bahkan rela menjual mobilnya untuk membayar denda 'uang kemantian' sebagaimana disyaratkan pengadilan.

Ini tak berjalan mulus. Ada konflik lain yang dihadirkan sang sutradara. Hingga disini saya merasa film ini tak ada habisnya. Habis satu konflik terbit konflik yang lain. Dalam rumus film, ini mungkin kriteria film yang bagus, entahlah..

Singkat cerita, pertemuan untuk jalan damai antara dua keluarga pun disiapkan. Nader bersedia membayar tebusan, dengan satu syrat, Razieh mau bersumpah di atas Alquran bahwa Naderlah penyebab kematian calon bayinya dan mengakibatkannya masuk rumah sakit. Razieh, yang digambarkan sebagai seorang muslimah yang taat, menolak. Baginya, ia sendiri tak yakin dengan itu. Apalagi suaminya memang berkepentingan terhadap pembayaran denda itu karena telah dikejar-kejar kreditor yang ingin menagih utang yang telah menumpuk.

Film ini ditutup dengan adegan pengadilan, sekali lagi. Kali ini, pengadilan dalam kasus perwalian anak. Scene film ini tak jauh dari apartemen Nader, dan pengadilan. Dua jam lebih tak terasa, dan film ini terus mengaduk-ngaduk perasaan. Namun film ini rasanya tak menggambarkan Iran dengan utuh. Atau jangan-jangan ini film diniatkan menjadi 'duta perdamaian' bagi Iran di dunia global yang terlanjur mencitrakan negara ini sebagai negara ekstrimis dan tidak bershabat dengan kaum perempuan.

Namun dibalik pertanyaan itu, saya menikmati betul dialek Persia yang enak di dengar itu. Sebab kenikmatan menonton film ini tentu akan rusak jika disulih-suarakan. Dan syukurlah, karena kategori Oscar yang didapatnya adalah film berbahasa asing, maka hal itu tidak terjadi.

Sebuah film yang bagus, namun agak sangsi ini bisa diterima oleh orang Iran sendiri.


Photo credit: http://www.disassociated.com

Monday, July 23, 2012

Ramadhan 2012


Alhamdulillah, akhirnya bertemu Ramdahan lagi. Selayaknya resolusi hidup itu dimulai di ramadhan. Memperbaiki diri dan hidup. Banyak manfaat dan berkah di bulan ini. Meski jauh dari rumah dan keluarga, tapi pengalaman puasa ini tetap berkesan,
Yang selalu dinanti orang berpuasa biasanya saat berbuka. Katakanlah ini anak tangga paling rendah dari tingkat keimanan. Tapi bukankah Rasulullah sendiri berkata demikian?
Nah, soal berbuka ini, karena dirumah semua kawan tak berpuasa, maka saya memilih berbuka di kampus. Dari kawan, saya dengar bahwa mesjid kampus menyediakan takjil untuk mahasiswa.


Setengah jam sebelum waktu berbuka, saya sudah berada di mesjid. Ini kali pertama, dan tepat di ramadhan hari pertama. Jejeran takjil sudah tersedia. Beberapa pengurus islamic society dari guild sedang sibuk menyiapkan takjil. Sederhana memang. Ada kurma, biskuit dan susu yang dicampur sari buah. Semua dikerjakan bersama. Saya hanya membantu menyiapkan tikar dan tidak ingin terlibat terlalu jauh. Toh, sudah banyak pemuda disana.
Saat adzan dikumandangkan, kami semua berbuka. Duduk mengitari piring berisi takjil tadi, sekitar 4-5 orang per piring. Makan bersama jadi pengobat rindu akan puasa di kampung sendiri. Setelah Maghrib, kami pun kembali ke tempat semual. kali ini, yang disediakan nasi sebakul besar beserta ayam kari. Satu baki dimakan 4-5 orang lagi. Jangan bicara hyginietasnya, ini makan bersama dan sesuai sunnah nabi, begitu saya dengar dari seorang jamaah disamping. Menariknya, selain mahasiswa, banyak juga kaum muslimina lain yang hadir. Ada sopir taksi, teknisi perusahaan listrik, hingga para manula. Kebanyakan mereka bersala dari Pakistan, Afghanistan, Libya dan negara timur tengah. Tak heran, model berbuka yang dipakai adalah khas dari tumur tengah.
Alhamdulillah, Ramdahan karim.. semoga berkah puasa menyertai kita semua.

Wednesday, July 11, 2012

Hubungan Gelap

Demokrasi sejatinya adalah pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Namun bagaimana jika satu atau beberapa bagian dari rakyat lebih kuat dan berdaya ketimbang yang lain?
Pertanyaan ini menarik jika kita mengacu pada ramainya berita tentang sumbangan beberapa pengusaha kepada Polda Sulsel-Bar beberapa waktu lalu. Sumbangan yang diterima beragam, tanah dan bahan bangunan, hingga kendaraan bermotor. Jumlahnya pun luar biasa, total lebih dari Rp 7,8 Milyar, (Tribun-timur.com)
Kritikan bukannya tidak ada. Beberapa pihak menilai keputusan Polda untuk menerima sumbangan itu menunjukkan betapa institusi ini belum punya niat kuat untuk melaksanakan reformasi kepolisian dengan sungguh-sungguh. Apalagi ada kesan bahwa sumbangan tersebut akan menyandera kepolisian sebab pengusaha tersebut disinyalir bermasalah dan pernah berperkara.
Namun betulkah semua kesalahan layak ditimpakan kepada pihak kepolisian semata?
Hubungan antara pengusaha dan pengambil kebijakan, termasuk kepolisian, memang menjadi faktor penting, khususnya dalam bidang manajemen strategi. Dalam prakteknya, perusahaan mempunyai dua strategi besar. Pertama, strategi yang berkaitan dengan pasar (corporate market strategy). Strategi ini berkaitan langsung dengan produk/jasa yang dihasilkan oleh perusahaan. Kedua, strategi yang tidak berkaitan secara langsung dengan produk/jasa yang dihasilkan atau biasa juga disebut non-market strategy.
Nah, dalam konteks Indonesia, strategi yang paling dominan dijalankan perusahaan dan pengusaha (kelihatannya) adalah strategi non-pasar ini. Rupa-rupa implementasinya. Mulai dari menjadi dermawan, memberikan bantuan sosial, dan hingga menjadi politisi. Dalam bentuk ekstrim, penyuapan juga menjadi pilihan. Strategi-strategi ini dilaksanakan sebagai upaya untuk mempercepat urusan dan menghindarkan dari kondisi ketidakpastian.
Dalam literatur strategi politik perusahaan, ada dua hal utama yang menyebabkan mengapa pengusaha memilih strategi non-pasar ini. Pertama, tingginya tingkat ketidakpastian kebijakan yang berkaitan dengan dunia usaha. Dalam kondisi ini, pengusaha praktis tidak memiliki informasi yang baku dan kemudian bisa dipakai dalam menentukan strategi jangka panjang.
Meski pemerintah (pusat dan daerah) selalu mengklaim perbaikan iklim usaha, termasuk dengan pembentukan pelayanan satu atap, namun realitanya membuktikan hal yang berbalik. Kutipan tidak resmi masih menghantui kalangan pengusaha.
Kedua, lemahnya penegakan hukum. Kondisi ini bukan baru terjadi belakangan ini, namun sayangnya, belum banyak perubahan berarti yang bisa kita lihat. Kepolisian, sebagai salah satu institusi yang bertanggung jawab untuk hal ini, belum mampu menunjukkan perubahan berarti. Maka, dalam konteks ini kita bisa pahami mengapa penolakan beberapa kalangan terhadap sumbangan yang diberikan pengusaha muncul.
Dalam menghadapi dua kondisi di atas, pengusaha dituntut untuk cerdas. Maka strategi non-pasar ini menjadi penting. Strategi ini sebenarnya tak lebih dari membangun hubungan baik dengan penentu kebijakan. Harapannya adalah, agar perusahaan mendapatkan ‘keunggulan kompetitif’ dibanding perusahaan yang lain.
Tanpa memperbaiki lingkungan bisnis yang ada, maka ‘hubungan gelap’ pengusaha dan penguasa akan terus berkembang. Bahkan bisa jadi, meski aturan makin banyak dan berlipat, tapi hubungan gelap ini akan mewujud dalam bentuk yang lebih canggih. Konflik kepentingan sebagaimana kekhawatiran banyak kalangan, akan terus tumbuh.
Ke depan, untuk meminimalisir konflik kepentingan yang mungkin timbul, perlu dibuat aturan yang jelas dan detail. Aturan ini tentu saja harus diikuti dengan penegakan hukum yang serius. Hal lain yang perlu dilakukan adalah membangun koalisi strategis antara pemerintah, swasta, dan masyarakat. Ketiganya harus berhubungan dalam koridor yang harmonis, sehat, transparan, dan akuntabel. Intinya, prinsip keadilan untuk semua. Dalam hal ini penikmat dari semua kebijakan bukan hanya pengusaha, tetapi juga seluruh komponen bangsa.
Menuntut kontribusi perusahaan dalam pembangunan memang wajar di tengah minimnya anggaran Negara. Namun itu tidak berarti membenarkan segala macam cara. Sekali lagi, bantuan beberapa pengusaha kepada Polda beberapa waktu itu lalu tentu saja menyisakan cerita tentang konflik kepentingan yang bakal timbul di masa mendatang.
Para pengusaha tidak berarti mengabaikan pentingnya strategi non-pasar ini. Namun penelitian menunjukkan bahwa perusahaan yang bergantung dengan strategi seperti ini, tidak akan bertahan lama. Energi pun akan habis untuk urusan yang tidak produktif. Perusahaan menjadi tidak berkembang dan akan berputar dalam isu-isu yang tidak ada kaitannya dengan kemajuan perusahaan. Keunggulan kompetitif yang didapat pun akan dengan mudah hilang seiring pergantian kekuasaan dan politik.
Kombinasi penguasa dan pengusaha bisa menjadi kekuatan yang luar biasa untuk pengembangan bangsa ini. Namun jika ini tidak diawasi, maka keputusan politik dan bisnis bisa terkonsentrasi pada beberapa kelompok kecil semata, yang tentu saja berdampak negatif bagi kemajuan bangsa.
Kita butuh polisi yang tangguh, dan pengusaha yang tidak manja. Sebuah harapan berat, namun bukan berarti tidak bisa.

Tuesday, June 26, 2012

Sekolah Kehidupan

Namanya Juan, asli Chile. Usianya sudah 66 tahun. Bersama seorang teman dari Makassar, kami sering mempelesetkan namanya dengan 'Iwang'. Ya, dengan huruf 'g' di belakang, khas makassar. Tepat setahun ia pensiun dari kerjaannya sebagai supervisor di pabrik bata merah. Kami bertemu beberapa kali. Sebelumnya kami haya duduk menanti bis yang datang. Tapi kali ini kami berbagi kisah. Tepatnya, ia membagi kisahnya. Porsi saya, 30 % mendengarkan. Mirip dengan penguasaan bola tim Inggris saat melawan Italia lah di piala Eropa kali ini.

Awalnya ia bercerita soal buah Nenas dan Nangka yang ia kenal dari Indonesia. Sejurus kemudian ia berbagi tentang kekamampuannya bercakap lima bahasa. Chile (tentu saja), English (ini juga tentu saja--ia PR disini dan telah hidup 45 tahun di Perth), Portugis, Spanyol, dan Italia. Wah, kagum juga gumam saya. Namun seperti mengerti gumaman saya, ia pun berujar, "tak perlu kagum anak muda, semua bahasa itu, kecuali English, adalah bahasa serumpun. Kamu relatif bisa memahaminya karena bahasa itu mirip-mirip adanya, meski banyak juga kata yang berbeda makna".

Lepas soal bahasa, ia bertanya soal kehidupan saya. Tak banyak yang bisa saya bagi, dan memang niat saya ingin mendengar saja. Sejak pagi saya sudah bicara dalam diskusi dengan pembimbing saya. Kali ini, ijinkan saya hanya mendengar.

"Anak muda, sekolahmu memang tinggi. Tapi tahukah kamu, sekolah yang tertinggi itu adalah kehidupan. Saya memang hanya tamat sekolah kejuruan di Chile sebelum saya menjadi imigran dan sampai disini. Tapi saya belajar banyak dalam rentang waktu itu."

Ia lalu bercerita bagaiman usia mudanya diisi dengan pesta. Rokok, bir dan wanita. Tapi ia kemudian berkata, "semuanya itu menjadi pelajaran bagi saya. kamu boleh salah, tapi jangan sampai mengulang kesalahanmu. Hidup ini juga singkat, maka jangan habiskan hidupmu dengan mengurusi urusan orang lain. Berbicaralah seperlunya. Tapi jika itu menyangkut hakmu, maka kamu harus berani berteriak".

Saya lalu bertanya, pertanyaan retorik sebenarnya. "Mengapa di usia 66 taun, kamu masih terlihat muda?". sambil tertawa dia berujar, " Kuncinya, nikmati hdiupnmu. Kamu hanya bisa menikmatinya hanya jika kamu tenang, maka tenangkan dirimu dengan mengecilkan porsi mengurusi urusan orang lain. Sayangin keluargamu, dan bermainlah sebagai manusia".

Bis yang dia nanti telah tiba. percakapan kami belum tuntas. Dia beranjak dan saya tetap saja di tempat. Saya pikir-pikir, pesannya tidak ada yang baru. Sejak kecil dan di sekolah, kami semua rasanya diajar seperti itu. Tapi mengapa ketika yang menyampaikannya itu Juan aka Iwang, rasanya menjadi lebih dalam. Betul, kehidupan ini adalah sekolah. Dan hari ini, gurunya Juan.

Kembali (Lagi)

Entah sudah berapa kali, isi postingan serupa ini saya posting. Niatnya sederhana, bahwa blog yang semata wayang ini akan kembali diaktifkan. Rupa-rupa alasan selalu mengemuka. Maka, kini tak ada lagi alasan. Semoga bisa istiqamah.. Menulis, memang sebuah upaya mengekalkan kenangan juga.

Beberapa komen yang masuk di beberapa postingan, soal pulau Tunda dan artikel 'serius' soal penguasa - pengusaha. Menyesal sangat diri ini tak sempat membalas. Memoderasi komentar yang masuk, dan ternyata tak pernah mengecek dashboard, maka komen lama itu pun tak pernah dijawab. Bagi mereka, maafkanlah diriku, dan saya berkenan berkirim email dan informasi. Mari, seilahkan datang.

Tuesday, December 20, 2011

Raja Punya Taman



Weekend kemarin mendapat tugas menemani beberap tamu dari Makassar. Bukan tamu sesungguhnya, tepatnya kawan. Ya, saat diperantauan, maka setiap orang yang datang dari kampung selalu dianggap kawan bahkan keluarga.

Nah, mereka, tiga orang dosen dari Politani yang ke Perth untuk tujuan short course. Urusan pelatihan tentu ditangani oleh universitas, namun urusan jalan-jalan, maka kami semua di sini berbagi peran. Nah, weekend kemarin giliran saya dan pak Ferdy. Kami berdua mengantar ke pusat perbelanjaan di business district di pusat kota.

Untuk klarifikasi, saya tidak berposisi mengantar, tapi menemani pak Ferdy yang mengantar. Ini karena saya pun orang baru di sini, jadi tidak cukup keberanian untuk menjadi guide.

Yang pertama dan utama, tentu saja belanja. Hampir 5 jam kami menunggu mereka menjajal satu per satu toko yang ada. Lumayan membosankan menunggu itu, tapi karena tugas mulia untuk kawan, maka kami coba menikmatinya. Habis dua cup kopi dan seporsi kebab Turki.

Lepas urusan belanja, kami pun menuju King's Park yang terletak di barat laut Perth. Taman ini berada di atas bukit. Saya pun baru pertama kalinya ke sini. Jadi selain menemani, juga memang beruntung bisa ikut jalan-jalan. Taman ini terdiri dari padang rumput yang luas, kebun, taman makam pahlawan sisa perang dunia dan juga arena publik yang betul-betul dijaga dan bisa dinikmati oleh semua.

Selalu iri melihat fasiltas publik yang betul-betul milik publik. Taman dijaga dengan dana dari pajak yang dibayarkan masyarakat. Makanya, masyarakat menjaga dan berhak untuk menikmatinya. Rasanya, tak perlu menjadi negara maju untuk bisa seperti ini. Untuk kasus Indonesia, perlu banyak yang diperbaiki agar kita pun bisa memiliki fasilitas serupa ini.

Dari atas bukit, kita bisa menyaksikan landmark kota Perth yang terdiri dari gedung-gedung pencakar langit. Kita pun bisa menyaksikan teluk dan perahu layar yang hilir mudik. Sibuk tak hanya di darat, tapi juga di perairan. Mengenai pemandangan itu satu hal, tapi yang membuat saya banyak berfikir adalah bagaimana kondisi ini bisa tercipta. Kesadaran akan sejarah bersanding dengan baik dengan pemanfaatan sumber daya untuk kepentingan bersama. Banyak keluarga yang datang piknik disini. Mereka bermain cricket, sekedar bercanda sampai bbq. Semuanya menikmati dan menjadi alternatif hiburan menarik saat weekend.

Saya kemudian teringat bagaimana Makassar yang mengklaim diri sebagai menjadi kota dunia yang minim fasilitas untuk publik. Ruang publik kemudian hanya diterjemahkan menjadi mall dan pusat perbelanjaan. Tak ada alternatif bagi masyarakat. Mau kemana coba? Musium, taman, tidak pernah mendapat perhatian serius dari pemerintah. Akhirnya pilihan keluarga Indonesia praktis hanya ke mall.

Rasanya, keprihatinan seperti ini masih harus disimpan untuk sekian lama. Melihat prioritas yang ada tidak pernah memasukkan fasilitas publik di urutan pertama. Kasihan..

Sunday, December 04, 2011

Mengais Rezeki Dari "Sampah"


Saatnya saya bercerta tentang teman-teman serumah. Bukan soal baik dan buruknya kali ini, sebab itu tentu tak elok. lagi pula, di sini kami sama-sama berjuang, maka tak ada ceritanya saling mencibir. Bukannya tak ada riak, tapi itu cukup disimpan sebagai bagian dari dinamika perjalanan bermanusia.

satu hal yang menarik dari teman-teman ini, semua mereka tersandera dengan nasib beasiswa yang hanya meng-cover tiga tahun pendidikan. sementara normalnya PhD adalah empat tahun. paling hebatlah itu 3,5 tahun.

Nah, mengahadapi kondisi ini, beberapa kawan, bahkan mayoritas mahasiswa asal Indonesia memilih bekerja part time di sela-sela waktu kuliah. kebanyakan dari mereka memilih pekerjaan 'sederhana'. sederhana disini maksdunya karena tidak melibatkan pikiran dan intelektualitas. pekerjaan sederhana yang paling banyak dilakukan adalah menjadi cleaner. ya, tukang bersih-bersih. ada yang membersihkan di kampus, juga ada yang di hotel, kampus dan juga sekolah.

Selain cleaner, kerja sederhana lain adalah pengantar katalog. di sini disebut junk mail. Banyak retailer dan toko-toko membuat katalog dan bahan promosi lainnya. nah, tuga kawan-kawan ini adalah mengantarkan katalog-katalog ini dari rumah ke rumah. jumlahnya bisa ratusan katalog. belum lagi banyak rumah yang sengaja memasang stiker 'no junk mail' di setiap kotak suratnya. medan yang mereka lalui juga berat. meski pedestrian disini sangat bagus, tapi jarak dan teriknya matahari membuat lelah dan kadang dehidrasi.

Begitulah, demi dollar dan untuk ketahanan finansial saat studi, kerjaan sederhana bisa menjadi sedikit penolong.

Wednesday, November 30, 2011

Tepat Seminggu

Iya, tepat seminggu sudah saya di Perth, dan sampai hari saya terus bersyukur karena selama ini dimudahkan. Pertama, saya dijemput di bandara jadi tak perlu naik taksi dan repot mencari tempat tujuan. Kedua, karena saya dapat tumpangan, meski tidak gratis. Sejak hari pertama hingga kini, saya masih numpang di rumah kawan-kawan yang menyewa satu rumah. Ada empat kamar, dan setiap kamar diisi dua orang. Kebanyakan dari makassar, jadi feels like home. Teman-teman ini sangat membantu. Mulai dari urusan administrasi di kampus hingga urusan sepele lainnya, seperti mencari alat makan, selimut untuk tidur dan mencari kartu telepon untuk berkomunikasi dengan keluarga di Indonesia.
Saat ini sudah musim panas di Australia. Tapi tetap saja dingin bagi saya. Matahari memang terik, suhu kadang bisa sampai 35 derajat. Tapi karena panasnya tak seperti di Indonesia, ditambah angin yang berhembus kencang, dingin tetap saja terasa. Apalagi pas subuh hingga pagi, dinginnya terasa sangat. Teringat lagi saat di Inggris dulu.
Seminggu ini saya betul-betul hanya berusaha settle dulu dengan kondisi yang baru. Keliling kampus melihat dan mengingat rute, menuntaskan urusan administrasi, ke pasar, ke supermarket dan lain-lain. Tapi hari ini, semuanya sudah lebih baik rasanya. Kartu mahasiswa sudah di tangan, bank account sudah ada, dan police clearence juga sudah diurus. Hal lain yang belum tuntas adalah soal akomodasi. Karena disini agak lama, maka butuh kamar yang lebih nyaman. Saya sebenarnya tak keberatan share sekamar dengan dua orang. Tapi karena kamarnya kecil hingga kami berdua jadi terbatas ruang geraknya.
Pagi tadi sudah menemui pemilik rumah yang letaknya tak jauh dari rumah sementara saya saat ini. Sayangnya, kamar yang hanya tersedia awal january. Beberapa alternatif sebenarnya sudah pernah disambangi. Tapi karena memilih ruamah yang dekat dengan kampus, maka pengorbanan untuk bertahan sebulan lagi rasanya tak apa.
Semoga semua dimudahkan ke depannya.

Sunday, November 27, 2011

The Journey Begin


Akhirnya saya menginjakkan kaki di sini, kota Perth. Kota ini sebenarnya tak jauh dari Indonesia, Cuma 3,5 jam penerbangan dari Denpasar. Jika dihitung-hitung, rasanya tak beda jika ke Jayapura dari Makassar atau dari Denpasar.

Tapi bukan jarak itu yang betul-betul menjadi perhatian. Tapi lebih bahwa inilah jejak pertama untuk memulai babak baru dalam catatan ‘belajar’ saya. Ya, selama kurang lebih tiga tahun ke depan, hidup saya bakal lebih banyak tercurah disini.

Untungnya, sebelum berangkat telah membuat kontak dengan beberapa ‘pendahulu’ yang telah ada di Perth, jadinya saya tak perlu menambah list ‘yang harus dikhawatirkan’.

Impresi pertama saat keluar dari bandara, saya merasa ‘de ja vu’. Pengalaman tiga tahun lalu di Inggris rasanya terulang disini. Tak heran karena memang sebagai salah satu negara commonwealth, Australia selalu melihat Inggris sebagai ‘kakak tertua’ dan mendekatkan banyak hal dengannya. Aroma negara berpedikat ‘maju’ mendapatkan pembenaran saat melihat alu lintas dan merasakan atmosfernya di sekitar kota.

Semoga ini menjadi bagian menyenangkan yang tak terpisahkan dalam periode belajar saya kali ini. Semoga tuhan melapangkan dan tak ada kendala yang berarti. Di sini, di Perth, salah satu babak dalam perjalanan saya baru saja dimulai.


foto: livingin-australia.com

Tuesday, October 25, 2011

Penguasa Pengusaha

Saat peluncuran majalan Fortune edisi Indonesia, Wapres Boediono kembali mengangkat isu etika bisnis, khususnya mengenai pengusaha yang merangkap sebagai penguasa, (KOMPAS, 28/07). Isu ini diangkat untuk menguatkan pentingnya etika bisnis. Belum lagi saat ini makin banyak pengusaha yang menjadi sorotan karena memanfaatkan kekuasaan yang dimilikinya untuk kepentingan bisnis mereka.
Isu yang sama sebenarnya telah pula dimunculkan saat mantan menteri keuangan Sri Mulyani menyampaikan beberapa pendapatnya. Pendapat ini disampaikannya dalam beberapa acara perpisahan sebelum ia pindah ke Amerika menyangkut pengalamannya saat menjadi menteri keuangan. Ia kemudian menyindir bahwa kepentingan bisnis beberapa kelompok begitu mempengaruhi keputusan politik yang ada di negeri ini.
Sri Mulyani menyebutnya sebagai ‘perkawinan’ kepentingan ketimbang melihatnya sebagai politik kartel sebagaimana banyak disebutkan oleh pengamat. Meskipun kita tahu, keduanya menyiratkan makna yang serupa.
Kita kembali teringat dengan penggunaan kata ‘saudagar’ oleh Akbar Tandjung pada tahun 2008. Saat itu, marak terjadi pengusaha yang turun gelanggang politik untuk menjadi kepala daerah atau anggota dewan. Banyak yang menyebut bahwa gejala ini sebagai akibat perubahan landscape politik Indonesia. Saat rezim Soeharto, praktis hanya satu sumber yang harus didekati. Namun ketika reformasi bergulir, kepentingan bisnis menjadi kian bergantung kepada banyak politisi.
Secara natural, sebuah perusahaan baik itu multinasional maupun perusahaan lokal, pastilah memiliki apa yang disebut non-market strategy (NMS). NMS ini merupakan strategi di luar strategi pasar. Strategi pasar itu sendiri secara sederhana bisa diartikan sebagai strategi perusahaan yang berkaitan dengan harga, kualitas produk/jasa dan hal-hal teknis-pasar lainnya.
Sedangkan NMS lebih menyentuh aspek non-teknis. Dalam konteks global, NMS bisa dilihat dari dua pendekatan. Pertama, adalah strategy politik korporasi (corporate political strategy), dimana perusahaan berusaha ‘terlibat’ dalam setiap proses politik yang berkaitan dengan kepentingannya. Kedua, adalah strategi social perusahaan (corporate social strategy), dimana perusahan melakukan strategi berderma.
Keterlibatan pengusaha dalam politik melalui NMS seperti membetulkan ungkapan khas politisi di Washington. “In politics, if you are not at the table, you are on the menu!” begitu ungkapan yang khas itu.
Mungkin inilah salah satu alasan keterlibatan pengusaha dalam politik. Ketimbang menjadi menu, mereka memilih menjadi penikmat sajian. Para pengusaha, yang secara de facto memiliki kekuasaan dalam kehidupan sosial, berusaha untuk mendapatkan insentif ekonomi dengan memiliki kekuatan politik secara de jure.
Studi Bunkanwanicha dan Wiwattanakantang (2008) di Thailand juga menunjukkan bahwa nilai ekonomis perusahaan (market valuation) yang dimiliki oleh pengusaha yang juga penguasa menjadi meningkat secara signifikan. Studi ini juga menemukan bahwa keterlibatan pengusaha dalam politik membuat perusahaan mereka memiliki kekuatan lebih untuk mendominasi.
Kondisi seperti ini bukanlah sesuatu yang baru. Di Negara-negara lain, kita dapat menemukan pemilik bisnis yang terjun dalam dunia politik. Tung Chee Hwa di Hong Kong, Thaksin Shinawatra di Thailand, Ferenc Gyurcsany di Hungary, Silvio Berlusconi di Italy, dan Paul Martin di Canada.
Namun, sejarah juga mencatat bahwa keterlibatan para pengusaha dalam politik tidaklah steril dari masalah. Thaksin menghadapi kenyataan pahit menjadi pesakitan di negerinya sendiri, dan Berlusconi terus digoyang dengan skandal pajak dan monopoli.
Mengangkat kembali isu ini kemudian menjadi relevan jika kita melihat penanganan kasus Lumpur Lapindo yang sampai hari ini belum juga tuntas. Kasus laporan keuangan enam perusahaan Grup Bakrie yang baru-baru ini muncul juga menjadi penanda pentingnya penegakan etika bisnis.
Ke depan, untuk meminimalisir konflik kepentingan yang mungkin timbul, perlu dibuat aturan yang jelas dan detail. Aturan ini tentu saja harus diikuti dengan penegakan hukum yang serius. Hal lain yang perlu dilakukan adalah membangun koalisi strategis antara pemerintah, swasta, dan masyarakat. Ketiganya harus berhubungan dalam koridor yang harmonis, sehat, transparan, dan akuntabel. Intinya, prinsip keadilan untuk semua. Dalam hal ini penikmat dari semua kebijakan bukan hanya pengusaha, tetapi juga seluruh komponen bangsa.
Ketiga, kalangan pengusaha (swasta) perlu dilihat secara proporsional. Pendekatan yang tepat akan menjadikan swasta menjadi satu moda pertumbuhan yang sehat dan memiliki daya tahan dan fleksibilitas sistem yang tinggi. Keuntungan lainnya, kondisi harmonis dan pengusaha yang kuat akan melahirkan pasar yang sehat. Pasar yang sehat penting untuk membuka peluang bagi munculnya pelaku usaha baru, dan juga memelihara pelaku-pelaku lama menjadi pelaku-pelaku kemajuan.
Masyarakat pun diminta untuk terus mengkritisi kebijakan yang lahir demi kepentingan golongan tertentu. Kebijakan untuk memberi fasilitas dan kemudahan kepada kelompok tertentu telah terbukti membuat bangsa ini makin jauh dari kemajuan. Dan yang terpenting, kebijakan seperti ini tentulah sangat mengusik rasa keadilan.
Hal ini tidak berarti kemudian kita menaruh curiga berlebihan pada mereka yang pengusaha dan penguasa sekaligus. Apalagi disadari memang bahwa kehadiran pengusaha dalam politik diharapkan mampu membawa efisiensi ekonomis, sebuah kemampuan yang pasti diterapkan dalam menjalankan usahanya. Semangat kewirausahaan pun dapat ditularkan dari mereka. Semangat ini penting di tengah kaku dan tidak kreatifnya para birokrat yang kita miliki saat ini.
Namun demikian, kita pun dibuat belajar dari pengalaman bahwa kekuatan yang sangat terkonsentrasi bisa lahir dari perpaduan pengusaha dan penguasa sekaligus. Keputusan politik dan bisnis terkonsentrasi pada beberapa kelompok kecil, yang tentu saja berdampak negatif bagi kemajuan bangsa.
Kita butuh pengusaha yang tidak manja dan hanya bergantung pada fasilitas-fasilitas pemerintah. Demikian pula, kita butuh penguasa yang bekerja untuk semua, bukan hanya untuk kepentingan golongan, apalagi untuk kepentingan bisnisnya semata.

Thursday, September 15, 2011

Catatan Perjalanan—Tual dan Aru






Masih, catatan-catatan lama yang belum dibagi.

Day 1
Perjalanan saya rasanya penuh dengan delay. Jadwal feri yang akan mengantar kami ke pulau Aru mundur sejam dari jadwal seharusnya. Padahal kami sudah berada di pelabuhan sejak jam 1 siang. Terbayang betapa lama dan membosankannya penantian feri ini.
Karena lapar, saya kemudian memutuskan mencari makan. Untuk urusan ini, sulitnya minta ampun. Tak banyak warung di sekitar pelabuhan. Belum lagi peringatan kawan yang mengatakan bahwa tak boleh sembarang makan. Sebab tak semua bisa dinikmati begitu saja, perlu jeli dan hati-hati. Setelah berjalan lebih dari 15 menit, saya menemukan warung jawa yang menjual sate dan sop ayam.
Setelah makan, saya kembali ke feri. Anak-anak kecil yang berenang di sekitar kapal. Jago juga mereka, sebab kedalaman laut di dermaga ini sekitar 5-7 meter. Bakat alami yang sungguh luar biasa. Mereka asyik berenang tanpa peduli sampah di sekitar mereka. Meski sudah ada pengumuman larangan membuang sampah di laut, tetap saja para penumpang dengan cuek membuang sampah mereka. Mulai dari puntung rokok, bungkus mi gelas, hingga sampah rumah tangga.
Waktu berangkat akhirnya tiba juga. Kapal penuh dengan penumpang. Banyak diantaranya membawa anak kecil. Remaja dan anak muda juga banyak. Melihat mereka, saya teringat Glen Fredly. Penyanyi asli Ambon yang berpenampilan menarik. Nah, begitulah anak-anak muda ini, kayaknya masih kisaran SMP dan SMA, berpenampilan. Tindik di kedua telinga, rambut dikuncir atau yang mirip cristiano ronaldo. Sandal mereka kebanyakan merek Oakley. Kagum juga saya dibuatnya. Tak cukup disitu, hape dengan merek beraneka ragam, lengkap dengan lagu-lagu hasil unduhan yang ngetrend saat ini. Kaca mata hitam dan kalung juga aksesoris yang wajib bagi mereka.
Teknologi memang dengan cepat mampu membawa mereka pada trend yang berlaku saat ini. Meski tinggal di pulau, yang dipeta kelihatan begitu jauh, tapi jangan ragu soal yang satu ini. Ada parabola, jaringan gsm yang sudah lumayan dan tentu saja turis yang keluar masuk pulau. Pokoknya, mereka tak pernah kehabisan sumber untuk urusan gaya.
Ini mungkin yang disebut oleh Thomas L Friedman sebagai democratization of information. Anak-anak muda itu boleh tinggal di pulau Aru yang jauh dari Jakarta dan Singapura. Tapi demokratisasi informasi, membuat mereka tahu Vj Daniel atau Cinta Laura memakai apa serta trend terbaru dari dunia fashion.
Oh iya, saya lupa. Nama kapal feri yang kami tumpangi adalah KMP Lobster. Entah apa maksudnya, yang jelas ini mengingatkan saya akan niat besar untuk menyantap Lobster. Kata teman, di Aru adalah surga untuk menyantap lobster. Ehm, yammmii..
Akhirnya kami meninggalkan pulau Tual. Perjalanan 12 jam menanti. Semoga saja ombak tidak besar kali ini. Lagu-lagu ambon yang khas sudah terdengar dari kantin kapal. Sepertinya, bakal menyenangkan perjalananku kali ini, meski dengan beberapa delay…
Day 2
Seharusnya, hari ini kami berangkat ke pulau Kola. Tapi karena cuaca kurang bersahabat dan juga karena perahu tidak ada, maka kami tunda sampai esok hari. Sekali lagi, perjalananku kali ini penuh dengan delay.
Saya berjalan-jalan keluar penginapan. Tepat di depan penginapan ada lapangan sepakbola. Terlihat ramai dan banyak kendaraan disana. Saya mencoba mencari tahu, sekalian mencari udara segar ketimbang tinggal di kamar penginapan. Rupanya ada deklarasi pencalonan bupati dan wakil bupati kepulauan Aru.
Yang deklarasi merupakan incumbent. Tak heran banyak mobil berplat merah disana. Partai yang mendukung pun luar biasa. Ini terlihat dari bendera beragam partai. Sebut semua partai besar, ada disana. Partai gurem pun tak ketinggalan. Yang pasti, jatah untuk tiap partai pasti berbeda. Bukan rahasia lagi jika satu calon ingin meminjam jasa ‘ojek’ partai maka ada ongkosnya.
Ini terbukti saat saya mencari makan malam. Warung tempat saya makan berdampingan dengan kantor salah satu partai kecil yang mendukung pendeklarasian calon incumbent tadi. Ramai betul disana. Saya tanya kepada pemilik warung, ternyata ada pembagian ‘uang lelah’ setelah mengikuti deklarasi tadi. Uang lelah ini dibagikan kepada simpatisan. Mulai dari tukang ojek, ibu rumah tangga hingga kuli-kuli pelabuhan. Asal nama mereka tercatat, dan koordinator melihat mereka di lapangan, sejumlah duit siap dikantungi. Atribut kaos dan partai jangan lupa. Itu seperti kartu control untuk mendapatkan beberapa lembar rupiah.
Banyak janji yang diucapkan dalam deklarasi yang meriah itu. Tak sedikit puja-puji yang juga terlontar. Salah satu yang saya dengar adalah keberhasilan calon bupati ini membuka hubungan dengan dunia luar melalui transportasi udara. Ya, sejak minggu lalu bandara Aru telah resmi beroperasi. Itu pun baru Trigana yang beroperasi. Akibatnya, harga tiket pesawat untuk sekali jalan tiga kali lipat dari harga tiket Ambon-Makassar!
Tapi apa iya ini merupakan keberhasilan bupati? Bandara baru itu dikerjakan dengan dana APBN. Trigana masuk juga karena murni urusan bisnis. Itu pun dengan perhitungan untung-rugi. Jamak diketahui pejabat-pejabat di Maluku serta anggota Dewan memiliki jatah tiket. Ini saya ketahui dari staf Oxfam yang pernah menyelidiki ini.
Yang mengherankan, APBD untuk kabupaten ini lebih dari 500 milyar. Jumlah yang cukup besar untuk sebuah kabupaten hasil pemekaran. Yang membuat tinggi memang karena jarak satu pulau dengan yang lainnya teramat jauh. Sayangnya, dana yang besar ini belum dimanfaatkan untuk masyarakat secara lebih besar lagi.
Dari cerita-cerita yang saya dengar saat berbagi cerita dengan tamu penginapan, dana APBD ini kebanyakan untuk kepentingan para pejabat dan orang-orang dekatnya. Proyek hanya berputar dalam lingkaran yang orangnya itu-itu saja. Belum lagi pengadaan kendaraan dinas. Makanya saya sempat heran ada mobil dinas berjenis Honda CRV dan Hilux di sini.
Dana yang besar itu juga belum dipakai untuk menyiapkan perahu perintis yang menghubungkan banyak daerah yang terdiri dari pulau-pulau ini. Jika ada, saya tak perlu menunggu lama menanti perahu nelayan yang akan mengantarkan kami esok. Saat di Ambon, saya juga ketemu seorang pejabat daerah dari pulau ini. Luar biasa parlente untuk ukuran daerah yang kondisinya masih memprihatinkan.
Tapi kondisi ini bukan monopoli daerah ini. Tempat saya berasal pun setali tiga uang. Bisa dikata, hampir seluruh daerah menghadapi kendala yang sama. Kepentingan pejabat memang masih diatas kepentingan masyarakat banyak. Meski saya yakin dan percaya, saat deklarasi dan kampanye, mereka selalu mengklaim akan memperhatikan masyarakatnya. Percayakah Anda? Saya tidak!

Day 3
Perjalanan kami batal lagi. Hujan deras dan ombak yang besar menjadi penghalang. Ingin jalan-jalan lagi, rasanya semua sudut sudah saya lihat. Lagi pula, hujan deras membuat gerak terbatas. Jadilah saya tinggal di kamar, membaca habis jurnal Prisma yang saya beli saat di Jakarta dan menonton film-film yang ada di hardisk. Dari awal saya memang sadar, tak banyak pilihan membunuh waktu di daerah yang saya tuju. Makanya bacaan dan tontonan menjadi bekal wajib.
Semoga esok cuaca bersahabat. Jika tidak, bakal betul apa yang dikatakan nona pemilik penginapan ini. “Mas, di Aru itu masuknya mudah, keluarnya yang sulit”, begitu katanya kepadaku.

Day 4 (20 Apryl 2010)
Jam 6.30 pagi saya menerima sms. “Hari ini kita berangkat, jam 08.30 kita ditunggu perahu di pantai timur”. Alhamdulillah, setelah menanti 2 hari di Aru (padahal awalnya cuma diagendakan setengah hari), akhirnya jadi juga kami menuju pulau Kola. Pulau ini terdiri dari beberapa pulau kecil. Yang kami tuju adalah desa Marilese. Kata teman dari Oxfam, jarak tempuhnya sekitar 7-8 jam. Sebuah perjalanan panjang, perjalanan terpanjang dengan perahu kecil yang pernah saya jalani.
Perahu sudah lama menanti. Perahu kami ini milik perahu nelayan yang disewa. Sebab tidak ada transportasi rutin dan permanen yang menghubungkan setiap pulau. Seperti yang saya sudah tulis sebelumnya, jika saja pemerintah daerah betul-betul memanfaatkan dana yang ada, atau paling tidak 70% saja, maka seharusnya sudah ada kapal perintis atau feri lah yang menghubungkan pulau-pulau ini. Tak perlu lagi menyewa perahu nelayan seperti yang kami lakukan.
Selain saya dan kawan dari Oxfam, ada juga seorang pendeta yang kami panggil Bapa Mon, ibu Neti pemandu, dan tiga orang masyarakat local yang ikut bersama kami.
Perjalanan kami awalnya mulus-mulus saja. Langit cerah dan kami meramalkan bahwa perjalanan akan mulus-mulus saja. Baru sejam kami berperahu, mendung sudah terlihat. Kecemasan sudah ada dipikiran. Saya melihat penumpang lain, tenang-tenang saja. Dan betul, tak lama kemudian hujan turun. Kami yang sedari tadi berada di luar, langsung masuk ke dalam. Untungnya, kapal ini beratap, jadi saat hujan tak ada masalah. Yang jadi masalah cuma karena penumpang yang banyak. Selain saya dan Wahyu dari Oxfam, penumpang lainnya berasal dari kampung lain yang juga ikut pelatihan koperasi. Semua mereka tergabung dalam koperasi yang juga jadi binaan Oxfam.
Hujan cukup lama mengguyur, membuat kami berdesak-desakan di dalam perahu. Udara dingin tak mampu membuat kami nyaman. Apalagi hujan teramat deras, membuat air hujan masuk melalui sela-sela kapal. Ombak pun jadi sangat terasa, sebab diluar angin berhembus kencang.
Yang lebih parah, mesin kapal kami mati, entah karena apa. Jadilah kami terombang-ambing di tengah laut. Saya sudah berpikir macam-macam. Semua pikiran serba ‘jangan-jangan’. Hampir setengah jam lamanya kami terombang-ambing. Tak ada daratan yang terlihat. Dalam hati saya merasa ngeri juga dengan kondisi ini. Apalagi, penumpang lain yang saya anggap sudah biasa, juga terlihat cemas. Belum lagi tak ada satu pun pelampung yang tersedia di kapal.
Setelah berusaha sekian lama, dan semua penumpang mulai cemas, Sang kapten kapal akhirnya bisa menyalakan kembali mesin kapal. Alhamdulillah.. saya yang sedari tadi sudah merasakan mual tak terkira, merasa sedikit nyaman. Bayangkan berada di tengah laut dengan ombak tinggi dan angin kencang dengan perahu yang mesinnya mati.
Hujan belum juga reda, sang kapten memutuskan untuk mencari pulau terdekat karena jarak pandang yang sudah tidak optimal dan tidak aman untuk pelayaran. Kami akhirnya mampir di pulau yang tak berpenghuni. Tidak tepat betul bahwa pulau itu tidak berpenghuni sebenarnya. Ada beberapa orang yang mendiami pulau itu. Mereka adalah karyawan dari ‘bos Cina’, begitu orang-orang Aru menyebutnya. Bos Cina ini adalah pemilik perusahaan budidaya mutiara. Kabarnya, Megawati pernah mampir ke pulau ini. Entah dalam urusan apa. Yang pasti, di pulau inilah tempat bos Cina itu memelihara mutiaranya.
Sejam lebih kami menanti hujan reda. Tapi tak ada tanda-tanda hujan bakal berhenti total. Sang kapten memutuskan, tepatnya didesak, untuk melanjutkan perjalanan. “Kitorang pelan-pelan saja le”, ujar ibu Neti. Jadilah kami berangkat, meski hujan masih juga belum reda. Ombak makin tidak bersahabat saja rupanya. Yang bikin tidak nyaman lagi, bapa Mon, pendeta dan aktifis LSM di Aru yang juga rekan kerja Oxfam bercerita tentang kapal yang tenggelam belum lama ini di sekitar pulau itu. Kapal yang berisi 30-an lebih orang asing itu tenggelam tersapu ombak dan semuanya ditemukan tak bernyawa. Sempurnalah ketakutan saya.
Saya makin percaya dengan pameo orang bahwa mereka yang dalam perjalanan, apalagi perjalanan yang berbahaya makin dekat dengan tuhan. Meski tidak terus-menerus, tapi saya berdoa semoga perjalanan kami ini dilindungi. Apalagi air hujan sudah membasahi lantai-lantai kapal tempat kami duduk. Air sudah mulai menggenangi buritan kapal.
Setelah dua jam, hujan akhirnya reda. Saya melihat jam tangan saya dan berpikir bahwa perjalanan kami belum sampai setengahnya. Tak terhitung sudah berapa permen tamarin yang saya makan. Gengsi juga rasanya jika harus muntah.
Karena sudah reda, beberapa dari kami akhirnya keluar kapal. Duduk di atas atap yang sedari tadi melindungi kami dari hujan. Saya juga keluar, sudah tak nyaman dua jam lebih duduk dekat mesin kapal dan mencium aroma solar yang memabukkan itu. Tak menyesal, sebab pemandangan diluar sungguh indah. Kami melewati teluk dan jejeran pulau-pulau kecil dengan pohon bakau yang lebat di sekelilingnya. Luar biasa indahnya. Tapi dalam hati saya juga berfikir, berat memang pembangunan di daerah ini. Pemerintah pusat masih menempatkan pulau-pulau ini dan penduduknya sebagai daerah tertinggal. Saya tak yakin, pejabat-pejabat dipusat dan daerah mau mengunjungi mereka yang dipulau-pulau. Dengan kondisi seperti ini, tentu lebih mengasyikkan berada di kantor yang berpendingin ruangan atau berjalan-jalan dengan biaya Negara ke pulau jawa.
Tak sedikit cerita yang saya dapat tentang perilaku pejabat dan anggota dewan daerah ini. Mereka yang dulunya hidup dikampung, tiba-tiba kaget dengan duit yang banyak serta beragam fasilitas. Akibatnya, tak sedikit dari mereka yang terjerembab dan lupa daratan. Bahkan ada satu cerita yang menggelikan sekaligus memiriskan hati. Konon—karena cerita ini tidak bisa dipertanggungjawabkan—ada seorang kepala dinas. Dulunya dia orang biasa saja. Sejak jadi kepala dinas, dia kemudian rajin ‘main perempuan’. Karena sudah ketagihan, dia sering main perempuan dan ngutang. Akibatnya, bendahara kantor yang datang bayar keliling pub setiap awal bulan. Saya tak tahu apa yang tertulis dan nota dinas untuk jadi pertanggung jawaban bendahara. Mungkin biaya entertain, barangkali.
Bapa Mon sang pendeta seperti memahami saya yang begitu menikmati pemandangan indah ini. Setelah berjam-jam mabuk dan pucat saya kemudian disuguhi dengan pemandangan laut yang sungguh indah. Tak pernah saya lihat yang seperti ini sebelumnya. Dia kemudian meminta juru mudi untuk melambatkan kapalnya. Sambil member contoh, dia memperlihatkan kepada saya bagaimana menikmati pemandangan bawah laut. Saya diminta tengkurap dilantai kapal di bagian buritan. Kemudian menundukkan kepala hingga menyentuh permukaan laut. Dari situ, saya kemudian melihat pemandangan bawah laut yang rupawan. Indah tak terkira. Ikan beraneka jenis dan warna, karang, semuanya terlihat jelas. Indonesia sungguh Indah, kawan…
Setelah lama di laut, akhirnya ada kabar gembira. Sejam lagi kami sampai, begitu kata bapa Mon. laut pun sudah tenang kembali. Dari jauh saya sudah bisa lihat menara gereja. Kata bapa Mon, tempat itulah yang akan kami tuju.

Pulau Kola—Part 1
Akhirnya kami sampai juga. Tepat jam 6 sore. Artinya, kami telah menempuh perjalanan selama hampir Sembilan hingga sepuluh jam. Sebuah perjalanan yang panjang dan melelahkan.
Rombongan kami akhirnya membagi diri. Saya dan Wahyu kebagian tinggal di rumah bapak Oli. Bapak ini pernah tinggal di Makassar cukup lama. Disana dia bekerja pada nelayan-nelayan bugis-makassar. Dia bercerita bahwa hampir semua pulau-pulau di sulsel sudah dia datangi. Dia belajar banyak dari nelayan-nelayan besar itu. Bahkan menurutnya, ia sudah dianggap keluarga. Tinggal dan hidup disana.
Setelah cukup menimba ilmu, dia pun kembali ke kampung halaman. Membudidayakan rumput laut dan menjadi nelayan.
Tak lama kami bercerita. Sepertinya ia mengerti, kami sudah cukup lelah dan yang kami butuhkan hanyalah air untuk mandi dan kasur untuk merebahkan badan.
Tak tega juga rasanya mandi ‘sesuai standar’ dan kebiasaan. Air tawar di sini sulitnya minta ampun. Kami cukup beruntung, tadi hujan deras dan lama. Akhirnya ada cukup air untuk kami mandi. Ya, hujan yang tadi mengguyur kami ternyata membawa berkah. Sebab jika tidak hujan, maka kami harus jalan sejam lebih untuk sampai ke sumber air tawar. Itu pun jika beruntung airnya masih ada.
Pulau Kola—Part 2 (21 April 2010)
Pelatihan dimulai pagi hari. Seperti di pelatihan sebelumnya, materi yang saya bawakan serupa. Tak jauh dari bagaimana memotivasi mereka untuk mau berkoperasi dan soal pembukuan sederhana. Materi terpaksa kami padatkan sebab jadwal pulang sudah diatur dan tiket tak dapat dibatalkan. Apalagi keberangkatan kami ke sini sudah tertunda beberapa hari dari jadwal seharusnya.
Pelatihan berjalan lancar dan menyenangkan. Mereka semua, meski sudah berumur tetap bersemangat dan rajin bertanya. Pokoknya, lelah kemarin terbayar tuntas.
Apalagi, setelah pelatihan, saya diajak bapak Mojil untuk ke keramba di tengah laut. Sejak pagi saya bercerita tentang betapa inginnya saya makan Lobster. Mungkin karena kasihan saat mendengar saya tak pernah mencicipi Lobster, dia tergerak hati membawa saya ke keramba.
Saya bertanya mengapa ke keramba. Bukankah lobster ditangkap di karang? Saya kemudian tahu, bahwa keranba yang kemarin banyak kami lewati itulah tempat para nelayan menjual lobster mereka. Meski dapat menikmatinya sehari-hari, para nelayan lebih memilih menjualnya. Bayangkan, harga sekilonya bisa mencapai 300 ribu rupiah. Ada dua jenis Lobster. Yang pertama yang hijau, mereka menyebutnya lobster bamboo. Yang kedua agak merah, mereka sebut dengan lobster mutiara. Yang terakhir ini yang harganya Rp 300 ribu/kilo. Yang jenis bamboo “hanya” laku 150 ribu per kilo.
Nah, di keramba ini pengusaha-pengusaha yang umumnya Cina dan berasal dari Bali serta Surabaya, menempatkan orang-orang mereka. Lobster yang mereka terima hanya yang besar, minimal sekilo per ekornya. Mereka pun hanya membeli lobster yang hidup. Lobster ini kemudian dikumpul di keramba dan setiap bulan akan ada kapal besar yang menjemputnya untuk kemudian dibawa ke Bali. Setelah itu mereka tak tahu, apakah lobster yang mereka dapat itu dimakan di Bali atau dikirim entah kemana.
Saya juga kemudian tahu bahwa untuk mendapatkan lobster mereka mesti bertaruh nyawa. Mereka harus menyelam sedalam minimal 6 meter. Untuk jenis mutiara bisa lebih dalam lagi untuk mendapatkannya. Dan yang berat, mereka mesti menjaga lobster itu tetap hidup agar laku. Sebab jika mati, tak ada yang bakal membelinya. Bayangkan, harga sekilonya, tentu lebih berharga beli supermi dan kopi ketimbang lobster itu.
Dengan menumpang katinting yang entah milik siapa, dan setelah 15 menit yang menegangkan, saya dan Wahyu ditemani bapak Mojal sampai juga ke keramba. Menegangkan karena bapak Mojal membawa perahu itu seperti ojek negbut. Padahal ombak lumayan besar, sementara perahunya sangatlah kecil. Hanya muat untuk tiga orang. Di keramba, ada tiga orang penjaga, yang juga sebagai pembeli lobster dari nelayan. Takjub saya. Lobster raksasa juga ada disana. Seekornya bisa sampai 4 kilo. Tak hanya lobster, ada juga kerapu dan ikan sunu. Semuanya dengan ukuran jumbo.
Dari bapa Mojal juga saya tahu. Salah satu penjaganya berasal dari Makassar. Saya pun berkenalan. Namanya Rudi. Dia sih bukan asli Makassar, tapi lama tinggal di kisaran Paotere. Saya pun diperkenalkan bapa Mojal sebagai aktifis LSM yang membantu masyarakat di Pulau Kola. Saya sebenarnya mau mengoreksi, tapi tak ada guna. Masih menurut bapak Mojal, kami ini belum pernah liat dan makan lobster.
Entah karena kasihan, atau karena kami ini aktifis LSM, Rudi kemudian menawarkan lobster kepada kami gratis. “pilih saja yang mana”, begitu katanya. Karena ini gratis, saya pun memilih lobster jenis bamboo. Tak enak juga meminta yang lobster mutiara. Masak sudah gratis minta lebih lagi. Yang penting kan saya bisa mencicipi lobster, itu intinya.

Dengan sigap dia menyelam. Hampir setengah menit dia di bawah air kemudian dia naik. “Kalo besar begini cukup”? tanyanya. Tanpa pikir panjang saya iyakan saja. Dia turun lagi dan kembali dengan dua lobster di tangannya. “Kalau tiga sudah cukup?” saya kembali mengiyakan. Karena gratis, saya tak enak hati minta lebih. Lagi pula, saya tak bawa cukup uang. Kalo untuk dibeli, saya Cuma siap untuk beli satu, itu pun yang jenisnya bamboo, bukan yang mutiara.
Setelah berbasa-basi dan mengabadikan diri dengan lobster, saya pun pamit. Terima kasih berkali-kali saya ucapkan. Rezeki luar biasa dari tuhan. Makan lobster, besar, dan gratis pula.
Di rumah saya tak menyangka bahwa lobster kami itu belum cukup besar bagi bapak Mojal. Dia berujar bahwa pekan lalu dia mendapat lobster mutiara 8 ekor dan semuanya besar, berat rata-rata 3 kilogram. Tapi tak mengapa, yang penting lobster. Mau beratnya Cuma berapa ons pun tetap lobster.
“Ibu kos” pun dengan memasak lobster kami itu. Sungguh diberkati, pelatihan lancar dan makan malam dengan lobster. Sungguh nikmat tak terkira. Ternyata, ini yang dimakan orang-orang kota di restoran mewah itu. Saat makan, bapak Mojal kemudian menjanjikan bahwa besok kami akan berburu kepiting bakau. Jenis ini adalah kepiting kualitas terbaik, dan menurutnya sangat lezat dan ukuran jumbo.
Ehm, perjalanan yang melelahkan ke pulau ini rasanya tak rugi. Semoga besok pelatihan berjalan lancar lagi dan sorenya kami bisa berburu kepiting. Sungguh sebuah pengalaman yang berharga…

Pulau Kola—Part 3 (22 April 2010)
Pelatihan pagi ini telat kami mulai. Masalahnya sederhana, saya mendapatkan masalah perut. Setelah tiga hari menahan untuk tidak buang air, akhirnya hari ini tak tahan juga. Apalagi menahan lebih lama bakal menjadi masalah.
Repotnya, masyarakat di pulau ini tak memiliki kebiasaan buang air di wc. Mereka rutin buang air pada malam hari, dan dilakukan di wc terpanjang di dunia. Sebutan ini bukan dari saya, tapi dari bapak Chris yang pagi itu menawarkan diri mengantar saya ke sana.
Dengan halus saya menolak. Bukan karena tidak mau, tapi masih mencoba jika ada alternatif lain. Dan bingo, menurutnya ada satu rumah yang memiliki wc. Rumah itu milik seorang Cina yang asal Surabaya yang telah lama menetap di pulau Kola. Seperti orang Cina lain yang ada di Aru, keluarga ini menjadi tulang punggung pulau. Dia lah yang menyediakan segala jenis kebutuhan sehari-hari masyarakat. Mulai dari wafer coklat hingga bensin dan solar.
Awalnya saya ragu, takut tidak bisa. Tapi bapa Chris meyakinkan bahwa ‘Si Bos’, begitu orang pulau biasa memanggilnya, sangat baik dan pasti tidak masalah baginya meminjamkan kamar private ini. Dan ternyata betul. Sambil tertawa, ia segera mempersilahkan saya ke belakang. Dan jadilah saya membuang hajat dalam ruang wc terapung. Selebihnya, tak perlu saya ceritakan disini. Pokoknya, serba darurat juga jadinya..
Pelatihan akhirnya kami lanjutkan kembali. Dan Alhamdulillah semuanya berjalan lancar, dan semua peserta tetap bersemangat.
Sore hari, saat pelatihan selesai, saya dan Wahyu ditemani beberapa orang pulau menuju dermaga. Disana kami lihat beberapa anak muda-mudi bersantai. Di pulau, tentu tempat hiburan dan pilihan untuk refreshing sangatlah terbatas. Berdiri di dermaga menjadi salah satunya. Melihat kapal barang yang lalu lalang serta sun set yang begitu indah dan khas. Ya, bagi saya sunset petang itu adalh sunset paling indah yang saya pernah lihat. Sungguh indah dan penuh warna. Apalagi, laut lepas terpampang di depan mata. Menurut cerita bapa Alexander, dari tempat inilah dulu tentara-tentara Indonesia dan relawan menuju Papua saat dilakukan operasi pembebasan Irian Barat. Yos Sudarso pun gugur dalam operasi ini.
Masih cerita soal perang Aru ini, bapa Alexander mengaku menjadi saksi hidup peristiwa ini. Saat itu ia yang membawa kapal kecil yang mengangkut relawan. Relawan-relawan ini merupakan masyarakat pulau yang direkrut oleh ABRI. Pihak tentara mungkin tahu, di tengah kepulauan dan laut yang sulit, hanya masyarakat sekitar yang paling tahu. Bapa Alexander saat itu bolak-balik mengangkut relawan. Dengan perahu mesin yang saat ini banyak dipakai nelayan, dibutuhkan waktu kurang lebih 12 jam untuk sampai ke tanah Papua. Bisa dibayangkan berapa waktu yang dibutuhkan bapa Alexander bersama para relawan saat itu untuk sampai ke Papua. Apalagi perahu motor belum ada saat itu.
Setelah berbagi cerita dan menikmati sun set yang luar biasanya indahnya di dermaga, kami kembali ke rumah. Tak diduga, ternyata bapa pendeta bersama peserta yang lainnya telah menyiapkan sebuah kejutan. Di rumah telah tersedia kepiting, yang sungguh, besarnya minta ampun. Besarnya kepiting ini untuk pertama kalinya bagi saya. Beratnya lebih dari tiga kilogram. Saya dan Wahyu girang tak terkira.
Kejutan ini mereka siapkan sebagai tanda terima kasih kepada kami. Bapa pendeta menyampaikan itu sesaat sebelum makan malam dimulai. Luar biasa. Sebuah penghargaan tulus dari mereka. Dan yang utamanya, niatan saya untuk menikmati kepiting selain makan lobster, juga tercapai.
Perjalanan ke pulau Kola ini memang melelahkan dan sungguh berat. Tapi capai dan lelah yang kami rasakan saat datang, kali ini sudah terbayar tuntas. Terima kasih, bapa-bapa sekalian. Besok pagi kami akan kembali ke Pulau Aru untuk kemudian ke Tual dan ke Ambon dan terbang lagi ke Makassar. Perjalanan besok semoga akan lancar dan tak perlu pakai mogok segala di tengah laut. Tapi sebelum jauh ke esok hari, saatnya menikmati kepiting raksasa ini. Meminjam ungkapan khas Farah Quinn, ehm.. yummii…

Catatan Perjalanan Part 2—Pulau Tanimbar





Ini adalah catatan-catatan lama yang berhasil saya dapat setelah membongkar arsip. Sayang saja jika tidak dipublish.


Day 1:
Dari Serang, saya langsung menuju Jakarta. Agenda berikutnya terbang ke Ambon. Jadwal pesawat yang rasanya tak masuk akal harus saya terima. Pesawat ke Ambon baru berangkat pukul 01.30 malam. Saya hanya bisa ‘membunuh waktu’ dengan segelas kopi hitam dan sebungkus sari roti keju.
Penerbangan yang ditunggu tiba juga waktunya. Pesawat berangkat. Saya tak ingat lagi apa, yang ada hanya tidur, membalas dendam dari letihnya membunuh waktu.
Tiba di Ambon jam 7 pagi. Luar biasa juga rasanya, melewati tiga zona waktu yang berbeda. Terasa betul lelahnya, meski tertidur, tetap saja tak nyaman. Saya tak pernah merasa nyaman tidur di kendaraan. Tapi begitulah, namanya juga kerja.
Sekarang saatnya menanti penerbangan berikut yang akan mengantarkan saya ke pulau Tanimbar. Ini pengalaman pertama terbang dengan pesawat kecil. Bayangan akan goncangan sudah hilir mudik dalam pikiran. Tapi karena pengalaman yang menjanjikan, maka khawatir itu coba ditepis.
Sayang, saya harus menunggu lebih lama untuk penerbangan ini. Jadwal yang seharusnya jam 9 diundur hingga jam 10. Lewat jam 10, pengumuman baru muncul, diundur hingga pukul 12 siang. Yang hebatnya, hanya permintaan maaf yang kami terima. Para penumpang tak punya banyak pilihan. Jika tak berkenan, silahkan terbang sendiri, itu dengan catatan Anda adalah Gatotkaca.
Jam 12 lewat, artinya telat lagi dari jadwal telat sebelumnya, pesawat Trigana Air yang akan membawa kami ke Tanimbar mendarat juga. Tak sampai setengah jam bongkar muat, kami kemudian dipersilahkan naik. Pesawat ini seperti angkot saja rasanya. Tak ada nomor kursi penumpang. Siapa cepat dia bisa duduk sesuai pilihan. Kata pilot, kami akan terbang dengan ketinggian 15000 kaki di atas permukaan laut. Saya tak berani bertanya apakah tepat ukuran yang dia pakai. Jangan-jangan dia minta saya mengukur sendiri.
Bayangan akan penerbangan yang menegangkan sirna saat kami lepas landas. Memang suara mesin begitu keras dan terasa. Tapi tetap saja lebih baik daripada angkot ngebut. Awalnya ingin mengambil gambar dari udara. Sebuah pemandangan yang menarik pasti. Tapi karena duduk saya tepat dekat jendela, dan panas matahari yang terik bakal membuat gambar jadi percuma. Saya tak tahu banyak tentang teknik pengambilan gambar, tapi saya kok tetap membatin bahwa tidur masih jauh lebih baik. Akhirnya tidur pun jadi pilihan bijak untuk saat ini. Apalagi letih yang dari tadi ada belum juga hilang.
Pengumuman dari kru pesawat membangunkan saya. Sebentar lagi kami tiba di pulau Tanimbar. Dari udara, pulau ini begitu hijau kelihatan, meski di tengah-tengahnya ada celah. Mungkin bekas penebangan liar. Di tengah ketatnya industry perkayuan, selalu saja ada orang yang berani mengambil resiko, termasuk dengan mengorbankan kepentingan generasi mendatang.
Kami mendarat dengan ‘tidak terlalu’ mulus di bandara Saumlaki. Saumlaki merupakan nama ibukota Tanimbar, propinsi Maluku Tenggara Barat. Panjang landasan yang tidak memadai, membuat pilot harus mengerem dengan segera. Diantara semua penumpang, rasanya cuma saya yang gugup. Penumpang lain mungkin sudah terbiasa.
Dengan ojek saya menuju hotel. Mereka menyebutnya HI, hotel Harapan Indah. Mirip-mirip hotel Indonesia saja dengarnya. Dari luar hotel ini seperti ruko, dan sangat tak menarik. Tapi saya sangat kaget ketika masuk ke dalam. Kamar-kamarnya seperti cottage yang ada di hotel pantai gapura, Makassar. Hebatnya lagi, kamar saya tepat di atas laut. Semilir ombak jelas terdengar dari kamar. Lebih dari lumayan untuk pulau yang jaraknya jauh dari pusat propinsi.
Setelah beristirahat sejenak, saya kemudian berkesempatan keluar melihat-lihat sekitar hotel. Ada waktu sejam sebelum acara dimulai. Ketimpangan ekonomi jelas terlihat di sekitar hotel. Ada rumah besar dengan ford ranger dan Mitsubishi strada terparkir di garasi. Tapi tepat di belakangnya ada gubuk reot dengan beberapa anak kecil bermain tanah di depannya. Ekonomi pun berpusat hanya di beberapa golongan saja. Kontraktor dan industry menengah lainnya rata-rata dikuasai orang Cina dan pendatang. Penduduk asli kebagian jadi buruh dan staf saja. Sebagian yang lain jadi nelayan dan petani. Orang bugis menguasai pasar dan perdagangan. Meski, saat ini, menurut Mikail sang tukang ojek yang mengantar saya, sudah banyak orang asli yang turut menikmati kue pembangunan.
Orang-orang Cina dan pendatang, punya strategi khusus melanggengkan usaha mereka. Dalam ilmu bisnis, strategi ini disebut non-market strategy. Salah satunya dengan menjalin hubungan baik dengan pejabat. Seorang kawan yang menemani saya di Bandara Ambon pagi tadi bercerita bagaimana para pejabat itu sering leluasa bepergian, meski dengan harga tiket pesawat yang jauh lebih mahal daripada harga tiket Makassar-Jakarta. Belum lagi fasilitas mobil dan yang lainnya, jangan ditanya.
Kedatangan saya kesini untuk memfasilitasi koperasi dan lembaga ekonomi desa untuk meningkatkan kapasitas mereka. Seharusnya, hal ini dilakukan oleh dinas terkait. Namun jawaban dari salah seorang peserta membuat saya tercengang. Saat diminta untuk memberikan pelatihan mengenai koperasi dan pembukuan sederhana, pihak dinas terkait malah meminta bayaran.

Day 2
Pagi belum juga sempurna. Saya berjalan-jalan keluar hotel. Betapa kagetnya saya melihat seorang lelaki tua duduk santai di depan rumah. Ia sedang menanti jualannya, bensin dalam kemasan botol air mineral. Yang bikin kaget karena disampingnya ada sebotol bir yang isinya tinggal setengah. Pagi-pagi begini minum bir, alamak.. Jadi ingat pengalaman saat di Inggris dulu.
Receptionist hotel mengatakan bahwa minum bir pagi hari sudah biasa bagi masyarakat disini. Bahkan bir sudah dianggap sebagai air putih. Tak ada pesta juga tanpa bir. Makanya saya akhirnya paham mengapa di kulkas besar milik hotel penuh dengan bir beraneka merek.
Di hotel tempat saya menginap, sering polisi dan pejabat-pejabat daerah berkumpul. Entah apa yang mereka bicarakan. Tapi yang saya tahu, seorang petinggi polisi disana punya kamar khusus. Entah karena dia tak punya rumah dinas dikota ini hingga harus menyewa hotel ataukah memang ia lebih suka dihotel atau dirumah. Saya tidak tahu. Ajudannya sering hilir mudik, mengantarkan barang atau sekedar melapor.
Awal menerima pekerjaan ini, saya membayangkan akan mendatangi pulau-pulau kecil yang minim fasilitas dan terbelakang. Rupanya anggapan saya salah. Kota ini tak tertingal begitu jauh. Ada rumah bilyar disamping hotel tempat saya menginap. Rumah karaoke juga ada. Yang minim barangkali cuma pilihan makanan. Meski banyak nelayan disini, tak ada tempat yang bisa menyediakan ikan bakar dan hasil laut, kecuali di hotel. Itu pun harganya luar biasa mahal.
Pelatihan berjalan baik. Tak sedikit dari mereka sudah memiliki pengalaman berkoperasi. Meski demikian, kendala yang mereka hadapi relative sama. Modal minim, skill dari pengurus yang tak meningkat serta jaring tengkulak yang makin mengikat. Belum lagi banyak salah kelola yang dilakukan oknum pengurus. Bantuan yang diterima, ditilep juga sama pejabat. Begitulah, ini seperti kondisi jamak koperasi dan lembaga ekonomi rakyat.
Sampai malam kami berlatih bersama. Saat rehat malam, sekitar jam 9 malam, saya keluar hotel. Di bagian belakang ada sekeluarga yang tidur tepat dibelakang hotel. Tanpa atap. Ya, sekeluarga. Ada bapak, ibu dan tiga anaknya. Saya tanya petugas hotel, katanya mereka tinggal di samping hotel. Mereka lebih memilih tinggal di belakang hotel, karena rumah mereka kecil dan panas. Tak kebayang rasanya tidur dengan angin pantai yang begitu menusuk tulang. Yang lebih hebat lagi, sang bapak tidur dengan bertelanjang dada. Wuih, saya kena sedikit angin saja langsung masuk angin.

Day 3
Pagi-pagi kami sudah keluar hotel. Pertemuan kali ini dipercepat karena jadwal pesawat saya lebih cepat dari jadwal seharusnya. Itu pun masih tentative, kata seorang kawan, pasti bakal delay. Tapi ketimbang terlambat, lebih baik saya menunggu. Tak seperti bandara kebanyakan, disini, cukup menelpon seorang petugas di bandara, kita sudah waktu kapan kita harus bergegas kesana.
Setelah latihan praktik pembukuan, dan presentasi rencana bisnis dari masing-masing kelompok, tepat jam 11 saya ke bandara. Tukang ojek yang mengantar saya seperti mengerti saya buru-buru. Ia mengeber motornya dengan kencang. Dengan jalan yang belum mulus betul, ngebut artinya tidak nyaman. Tak apa, yang penting cepat sampai di tujuan.
Sampai di bandara, petugas memberi tahu bahwa pesawat delay satu jam dari jadwal semula. Masalah cuaca atau teknis, tak ada penjelasan memadai. Intinya, sabar aja mas..
Masih ada waktu sejam, saya memutuskan untuk keluar bandara. Dengan ojek, saya minta diajak keliling pulau. Sayang saja rasanya sudah kesini tapi hanya lihat sekitar hotel dan tempat pelatihan. Mikel, nama tukang ojek itu membawaku menuju pusat kota. Geliat kota jelas terlihat. Jalan-jalan baru, gedung kantor baru dan pemukiman baru. Pasar dan terminal juga baru. Lokasinya tak jauh dari pantai. Arsitekturnya juga modern, jauh lebih bagus dari pasar Terong atau pasar Senen sekalipun. Kawasan ini juga mengikuti trend minimalis yang lagi ramai di kota-kota. Tadi sempat saya lihat juga gereja dengan desain minimalis, sangat menarik. Namun kebayang juga berapa banyak biaya untuk membangun semua itu. Perhatian sepertinya masih terpusat pada pengembangan infrastruktur.
Tapi, seperti di kota besar lainnya, geliat pembangunan tak selamanya merata. Masih banyak rumah, tepatnya gubuk, yang berjejer di pinggir jalan. Jangankan listrik, layak huni gubuk itu pun masih tanda tanya besar. Kata Mikel, masih banyak keluarga yang sering menghadapi masalah gizi buruk di sini. Kantor bupati yang megah dan luar biasa besar itu sungguh seperti ironi bagi masyarakat kecil. Belum lagi kendaraan-kendaraan dinas para pejabat disini yang luar biasa menurut ukuran saya. Segala jenis mobil keluaran terbaru, ada disini. Beberapa mobil SUV dengan cc yang besar juga terparkir rapi di depan rumah jabatan bupati saat kami melintas tadi.
Tak terasa sudah jam 12, saya harus segera ke bandara. Setelah pamitan dengan Mikel, saya menuju ruang tunggu. Bandara kecil dan sederhana ini menjadi tempat terakhir di Saumlaki. Sebentar lagi saya harus terbang menuju pulau yang lain, pulau Tual. Dari sana saya akan menumpangi feri ke pulau yang lain lagi, pulau Aru.