Thursday, September 15, 2011

Catatan Perjalanan—Tual dan Aru






Masih, catatan-catatan lama yang belum dibagi.

Day 1
Perjalanan saya rasanya penuh dengan delay. Jadwal feri yang akan mengantar kami ke pulau Aru mundur sejam dari jadwal seharusnya. Padahal kami sudah berada di pelabuhan sejak jam 1 siang. Terbayang betapa lama dan membosankannya penantian feri ini.
Karena lapar, saya kemudian memutuskan mencari makan. Untuk urusan ini, sulitnya minta ampun. Tak banyak warung di sekitar pelabuhan. Belum lagi peringatan kawan yang mengatakan bahwa tak boleh sembarang makan. Sebab tak semua bisa dinikmati begitu saja, perlu jeli dan hati-hati. Setelah berjalan lebih dari 15 menit, saya menemukan warung jawa yang menjual sate dan sop ayam.
Setelah makan, saya kembali ke feri. Anak-anak kecil yang berenang di sekitar kapal. Jago juga mereka, sebab kedalaman laut di dermaga ini sekitar 5-7 meter. Bakat alami yang sungguh luar biasa. Mereka asyik berenang tanpa peduli sampah di sekitar mereka. Meski sudah ada pengumuman larangan membuang sampah di laut, tetap saja para penumpang dengan cuek membuang sampah mereka. Mulai dari puntung rokok, bungkus mi gelas, hingga sampah rumah tangga.
Waktu berangkat akhirnya tiba juga. Kapal penuh dengan penumpang. Banyak diantaranya membawa anak kecil. Remaja dan anak muda juga banyak. Melihat mereka, saya teringat Glen Fredly. Penyanyi asli Ambon yang berpenampilan menarik. Nah, begitulah anak-anak muda ini, kayaknya masih kisaran SMP dan SMA, berpenampilan. Tindik di kedua telinga, rambut dikuncir atau yang mirip cristiano ronaldo. Sandal mereka kebanyakan merek Oakley. Kagum juga saya dibuatnya. Tak cukup disitu, hape dengan merek beraneka ragam, lengkap dengan lagu-lagu hasil unduhan yang ngetrend saat ini. Kaca mata hitam dan kalung juga aksesoris yang wajib bagi mereka.
Teknologi memang dengan cepat mampu membawa mereka pada trend yang berlaku saat ini. Meski tinggal di pulau, yang dipeta kelihatan begitu jauh, tapi jangan ragu soal yang satu ini. Ada parabola, jaringan gsm yang sudah lumayan dan tentu saja turis yang keluar masuk pulau. Pokoknya, mereka tak pernah kehabisan sumber untuk urusan gaya.
Ini mungkin yang disebut oleh Thomas L Friedman sebagai democratization of information. Anak-anak muda itu boleh tinggal di pulau Aru yang jauh dari Jakarta dan Singapura. Tapi demokratisasi informasi, membuat mereka tahu Vj Daniel atau Cinta Laura memakai apa serta trend terbaru dari dunia fashion.
Oh iya, saya lupa. Nama kapal feri yang kami tumpangi adalah KMP Lobster. Entah apa maksudnya, yang jelas ini mengingatkan saya akan niat besar untuk menyantap Lobster. Kata teman, di Aru adalah surga untuk menyantap lobster. Ehm, yammmii..
Akhirnya kami meninggalkan pulau Tual. Perjalanan 12 jam menanti. Semoga saja ombak tidak besar kali ini. Lagu-lagu ambon yang khas sudah terdengar dari kantin kapal. Sepertinya, bakal menyenangkan perjalananku kali ini, meski dengan beberapa delay…
Day 2
Seharusnya, hari ini kami berangkat ke pulau Kola. Tapi karena cuaca kurang bersahabat dan juga karena perahu tidak ada, maka kami tunda sampai esok hari. Sekali lagi, perjalananku kali ini penuh dengan delay.
Saya berjalan-jalan keluar penginapan. Tepat di depan penginapan ada lapangan sepakbola. Terlihat ramai dan banyak kendaraan disana. Saya mencoba mencari tahu, sekalian mencari udara segar ketimbang tinggal di kamar penginapan. Rupanya ada deklarasi pencalonan bupati dan wakil bupati kepulauan Aru.
Yang deklarasi merupakan incumbent. Tak heran banyak mobil berplat merah disana. Partai yang mendukung pun luar biasa. Ini terlihat dari bendera beragam partai. Sebut semua partai besar, ada disana. Partai gurem pun tak ketinggalan. Yang pasti, jatah untuk tiap partai pasti berbeda. Bukan rahasia lagi jika satu calon ingin meminjam jasa ‘ojek’ partai maka ada ongkosnya.
Ini terbukti saat saya mencari makan malam. Warung tempat saya makan berdampingan dengan kantor salah satu partai kecil yang mendukung pendeklarasian calon incumbent tadi. Ramai betul disana. Saya tanya kepada pemilik warung, ternyata ada pembagian ‘uang lelah’ setelah mengikuti deklarasi tadi. Uang lelah ini dibagikan kepada simpatisan. Mulai dari tukang ojek, ibu rumah tangga hingga kuli-kuli pelabuhan. Asal nama mereka tercatat, dan koordinator melihat mereka di lapangan, sejumlah duit siap dikantungi. Atribut kaos dan partai jangan lupa. Itu seperti kartu control untuk mendapatkan beberapa lembar rupiah.
Banyak janji yang diucapkan dalam deklarasi yang meriah itu. Tak sedikit puja-puji yang juga terlontar. Salah satu yang saya dengar adalah keberhasilan calon bupati ini membuka hubungan dengan dunia luar melalui transportasi udara. Ya, sejak minggu lalu bandara Aru telah resmi beroperasi. Itu pun baru Trigana yang beroperasi. Akibatnya, harga tiket pesawat untuk sekali jalan tiga kali lipat dari harga tiket Ambon-Makassar!
Tapi apa iya ini merupakan keberhasilan bupati? Bandara baru itu dikerjakan dengan dana APBN. Trigana masuk juga karena murni urusan bisnis. Itu pun dengan perhitungan untung-rugi. Jamak diketahui pejabat-pejabat di Maluku serta anggota Dewan memiliki jatah tiket. Ini saya ketahui dari staf Oxfam yang pernah menyelidiki ini.
Yang mengherankan, APBD untuk kabupaten ini lebih dari 500 milyar. Jumlah yang cukup besar untuk sebuah kabupaten hasil pemekaran. Yang membuat tinggi memang karena jarak satu pulau dengan yang lainnya teramat jauh. Sayangnya, dana yang besar ini belum dimanfaatkan untuk masyarakat secara lebih besar lagi.
Dari cerita-cerita yang saya dengar saat berbagi cerita dengan tamu penginapan, dana APBD ini kebanyakan untuk kepentingan para pejabat dan orang-orang dekatnya. Proyek hanya berputar dalam lingkaran yang orangnya itu-itu saja. Belum lagi pengadaan kendaraan dinas. Makanya saya sempat heran ada mobil dinas berjenis Honda CRV dan Hilux di sini.
Dana yang besar itu juga belum dipakai untuk menyiapkan perahu perintis yang menghubungkan banyak daerah yang terdiri dari pulau-pulau ini. Jika ada, saya tak perlu menunggu lama menanti perahu nelayan yang akan mengantarkan kami esok. Saat di Ambon, saya juga ketemu seorang pejabat daerah dari pulau ini. Luar biasa parlente untuk ukuran daerah yang kondisinya masih memprihatinkan.
Tapi kondisi ini bukan monopoli daerah ini. Tempat saya berasal pun setali tiga uang. Bisa dikata, hampir seluruh daerah menghadapi kendala yang sama. Kepentingan pejabat memang masih diatas kepentingan masyarakat banyak. Meski saya yakin dan percaya, saat deklarasi dan kampanye, mereka selalu mengklaim akan memperhatikan masyarakatnya. Percayakah Anda? Saya tidak!

Day 3
Perjalanan kami batal lagi. Hujan deras dan ombak yang besar menjadi penghalang. Ingin jalan-jalan lagi, rasanya semua sudut sudah saya lihat. Lagi pula, hujan deras membuat gerak terbatas. Jadilah saya tinggal di kamar, membaca habis jurnal Prisma yang saya beli saat di Jakarta dan menonton film-film yang ada di hardisk. Dari awal saya memang sadar, tak banyak pilihan membunuh waktu di daerah yang saya tuju. Makanya bacaan dan tontonan menjadi bekal wajib.
Semoga esok cuaca bersahabat. Jika tidak, bakal betul apa yang dikatakan nona pemilik penginapan ini. “Mas, di Aru itu masuknya mudah, keluarnya yang sulit”, begitu katanya kepadaku.

Day 4 (20 Apryl 2010)
Jam 6.30 pagi saya menerima sms. “Hari ini kita berangkat, jam 08.30 kita ditunggu perahu di pantai timur”. Alhamdulillah, setelah menanti 2 hari di Aru (padahal awalnya cuma diagendakan setengah hari), akhirnya jadi juga kami menuju pulau Kola. Pulau ini terdiri dari beberapa pulau kecil. Yang kami tuju adalah desa Marilese. Kata teman dari Oxfam, jarak tempuhnya sekitar 7-8 jam. Sebuah perjalanan panjang, perjalanan terpanjang dengan perahu kecil yang pernah saya jalani.
Perahu sudah lama menanti. Perahu kami ini milik perahu nelayan yang disewa. Sebab tidak ada transportasi rutin dan permanen yang menghubungkan setiap pulau. Seperti yang saya sudah tulis sebelumnya, jika saja pemerintah daerah betul-betul memanfaatkan dana yang ada, atau paling tidak 70% saja, maka seharusnya sudah ada kapal perintis atau feri lah yang menghubungkan pulau-pulau ini. Tak perlu lagi menyewa perahu nelayan seperti yang kami lakukan.
Selain saya dan kawan dari Oxfam, ada juga seorang pendeta yang kami panggil Bapa Mon, ibu Neti pemandu, dan tiga orang masyarakat local yang ikut bersama kami.
Perjalanan kami awalnya mulus-mulus saja. Langit cerah dan kami meramalkan bahwa perjalanan akan mulus-mulus saja. Baru sejam kami berperahu, mendung sudah terlihat. Kecemasan sudah ada dipikiran. Saya melihat penumpang lain, tenang-tenang saja. Dan betul, tak lama kemudian hujan turun. Kami yang sedari tadi berada di luar, langsung masuk ke dalam. Untungnya, kapal ini beratap, jadi saat hujan tak ada masalah. Yang jadi masalah cuma karena penumpang yang banyak. Selain saya dan Wahyu dari Oxfam, penumpang lainnya berasal dari kampung lain yang juga ikut pelatihan koperasi. Semua mereka tergabung dalam koperasi yang juga jadi binaan Oxfam.
Hujan cukup lama mengguyur, membuat kami berdesak-desakan di dalam perahu. Udara dingin tak mampu membuat kami nyaman. Apalagi hujan teramat deras, membuat air hujan masuk melalui sela-sela kapal. Ombak pun jadi sangat terasa, sebab diluar angin berhembus kencang.
Yang lebih parah, mesin kapal kami mati, entah karena apa. Jadilah kami terombang-ambing di tengah laut. Saya sudah berpikir macam-macam. Semua pikiran serba ‘jangan-jangan’. Hampir setengah jam lamanya kami terombang-ambing. Tak ada daratan yang terlihat. Dalam hati saya merasa ngeri juga dengan kondisi ini. Apalagi, penumpang lain yang saya anggap sudah biasa, juga terlihat cemas. Belum lagi tak ada satu pun pelampung yang tersedia di kapal.
Setelah berusaha sekian lama, dan semua penumpang mulai cemas, Sang kapten kapal akhirnya bisa menyalakan kembali mesin kapal. Alhamdulillah.. saya yang sedari tadi sudah merasakan mual tak terkira, merasa sedikit nyaman. Bayangkan berada di tengah laut dengan ombak tinggi dan angin kencang dengan perahu yang mesinnya mati.
Hujan belum juga reda, sang kapten memutuskan untuk mencari pulau terdekat karena jarak pandang yang sudah tidak optimal dan tidak aman untuk pelayaran. Kami akhirnya mampir di pulau yang tak berpenghuni. Tidak tepat betul bahwa pulau itu tidak berpenghuni sebenarnya. Ada beberapa orang yang mendiami pulau itu. Mereka adalah karyawan dari ‘bos Cina’, begitu orang-orang Aru menyebutnya. Bos Cina ini adalah pemilik perusahaan budidaya mutiara. Kabarnya, Megawati pernah mampir ke pulau ini. Entah dalam urusan apa. Yang pasti, di pulau inilah tempat bos Cina itu memelihara mutiaranya.
Sejam lebih kami menanti hujan reda. Tapi tak ada tanda-tanda hujan bakal berhenti total. Sang kapten memutuskan, tepatnya didesak, untuk melanjutkan perjalanan. “Kitorang pelan-pelan saja le”, ujar ibu Neti. Jadilah kami berangkat, meski hujan masih juga belum reda. Ombak makin tidak bersahabat saja rupanya. Yang bikin tidak nyaman lagi, bapa Mon, pendeta dan aktifis LSM di Aru yang juga rekan kerja Oxfam bercerita tentang kapal yang tenggelam belum lama ini di sekitar pulau itu. Kapal yang berisi 30-an lebih orang asing itu tenggelam tersapu ombak dan semuanya ditemukan tak bernyawa. Sempurnalah ketakutan saya.
Saya makin percaya dengan pameo orang bahwa mereka yang dalam perjalanan, apalagi perjalanan yang berbahaya makin dekat dengan tuhan. Meski tidak terus-menerus, tapi saya berdoa semoga perjalanan kami ini dilindungi. Apalagi air hujan sudah membasahi lantai-lantai kapal tempat kami duduk. Air sudah mulai menggenangi buritan kapal.
Setelah dua jam, hujan akhirnya reda. Saya melihat jam tangan saya dan berpikir bahwa perjalanan kami belum sampai setengahnya. Tak terhitung sudah berapa permen tamarin yang saya makan. Gengsi juga rasanya jika harus muntah.
Karena sudah reda, beberapa dari kami akhirnya keluar kapal. Duduk di atas atap yang sedari tadi melindungi kami dari hujan. Saya juga keluar, sudah tak nyaman dua jam lebih duduk dekat mesin kapal dan mencium aroma solar yang memabukkan itu. Tak menyesal, sebab pemandangan diluar sungguh indah. Kami melewati teluk dan jejeran pulau-pulau kecil dengan pohon bakau yang lebat di sekelilingnya. Luar biasa indahnya. Tapi dalam hati saya juga berfikir, berat memang pembangunan di daerah ini. Pemerintah pusat masih menempatkan pulau-pulau ini dan penduduknya sebagai daerah tertinggal. Saya tak yakin, pejabat-pejabat dipusat dan daerah mau mengunjungi mereka yang dipulau-pulau. Dengan kondisi seperti ini, tentu lebih mengasyikkan berada di kantor yang berpendingin ruangan atau berjalan-jalan dengan biaya Negara ke pulau jawa.
Tak sedikit cerita yang saya dapat tentang perilaku pejabat dan anggota dewan daerah ini. Mereka yang dulunya hidup dikampung, tiba-tiba kaget dengan duit yang banyak serta beragam fasilitas. Akibatnya, tak sedikit dari mereka yang terjerembab dan lupa daratan. Bahkan ada satu cerita yang menggelikan sekaligus memiriskan hati. Konon—karena cerita ini tidak bisa dipertanggungjawabkan—ada seorang kepala dinas. Dulunya dia orang biasa saja. Sejak jadi kepala dinas, dia kemudian rajin ‘main perempuan’. Karena sudah ketagihan, dia sering main perempuan dan ngutang. Akibatnya, bendahara kantor yang datang bayar keliling pub setiap awal bulan. Saya tak tahu apa yang tertulis dan nota dinas untuk jadi pertanggung jawaban bendahara. Mungkin biaya entertain, barangkali.
Bapa Mon sang pendeta seperti memahami saya yang begitu menikmati pemandangan indah ini. Setelah berjam-jam mabuk dan pucat saya kemudian disuguhi dengan pemandangan laut yang sungguh indah. Tak pernah saya lihat yang seperti ini sebelumnya. Dia kemudian meminta juru mudi untuk melambatkan kapalnya. Sambil member contoh, dia memperlihatkan kepada saya bagaimana menikmati pemandangan bawah laut. Saya diminta tengkurap dilantai kapal di bagian buritan. Kemudian menundukkan kepala hingga menyentuh permukaan laut. Dari situ, saya kemudian melihat pemandangan bawah laut yang rupawan. Indah tak terkira. Ikan beraneka jenis dan warna, karang, semuanya terlihat jelas. Indonesia sungguh Indah, kawan…
Setelah lama di laut, akhirnya ada kabar gembira. Sejam lagi kami sampai, begitu kata bapa Mon. laut pun sudah tenang kembali. Dari jauh saya sudah bisa lihat menara gereja. Kata bapa Mon, tempat itulah yang akan kami tuju.

Pulau Kola—Part 1
Akhirnya kami sampai juga. Tepat jam 6 sore. Artinya, kami telah menempuh perjalanan selama hampir Sembilan hingga sepuluh jam. Sebuah perjalanan yang panjang dan melelahkan.
Rombongan kami akhirnya membagi diri. Saya dan Wahyu kebagian tinggal di rumah bapak Oli. Bapak ini pernah tinggal di Makassar cukup lama. Disana dia bekerja pada nelayan-nelayan bugis-makassar. Dia bercerita bahwa hampir semua pulau-pulau di sulsel sudah dia datangi. Dia belajar banyak dari nelayan-nelayan besar itu. Bahkan menurutnya, ia sudah dianggap keluarga. Tinggal dan hidup disana.
Setelah cukup menimba ilmu, dia pun kembali ke kampung halaman. Membudidayakan rumput laut dan menjadi nelayan.
Tak lama kami bercerita. Sepertinya ia mengerti, kami sudah cukup lelah dan yang kami butuhkan hanyalah air untuk mandi dan kasur untuk merebahkan badan.
Tak tega juga rasanya mandi ‘sesuai standar’ dan kebiasaan. Air tawar di sini sulitnya minta ampun. Kami cukup beruntung, tadi hujan deras dan lama. Akhirnya ada cukup air untuk kami mandi. Ya, hujan yang tadi mengguyur kami ternyata membawa berkah. Sebab jika tidak hujan, maka kami harus jalan sejam lebih untuk sampai ke sumber air tawar. Itu pun jika beruntung airnya masih ada.
Pulau Kola—Part 2 (21 April 2010)
Pelatihan dimulai pagi hari. Seperti di pelatihan sebelumnya, materi yang saya bawakan serupa. Tak jauh dari bagaimana memotivasi mereka untuk mau berkoperasi dan soal pembukuan sederhana. Materi terpaksa kami padatkan sebab jadwal pulang sudah diatur dan tiket tak dapat dibatalkan. Apalagi keberangkatan kami ke sini sudah tertunda beberapa hari dari jadwal seharusnya.
Pelatihan berjalan lancar dan menyenangkan. Mereka semua, meski sudah berumur tetap bersemangat dan rajin bertanya. Pokoknya, lelah kemarin terbayar tuntas.
Apalagi, setelah pelatihan, saya diajak bapak Mojil untuk ke keramba di tengah laut. Sejak pagi saya bercerita tentang betapa inginnya saya makan Lobster. Mungkin karena kasihan saat mendengar saya tak pernah mencicipi Lobster, dia tergerak hati membawa saya ke keramba.
Saya bertanya mengapa ke keramba. Bukankah lobster ditangkap di karang? Saya kemudian tahu, bahwa keranba yang kemarin banyak kami lewati itulah tempat para nelayan menjual lobster mereka. Meski dapat menikmatinya sehari-hari, para nelayan lebih memilih menjualnya. Bayangkan, harga sekilonya bisa mencapai 300 ribu rupiah. Ada dua jenis Lobster. Yang pertama yang hijau, mereka menyebutnya lobster bamboo. Yang kedua agak merah, mereka sebut dengan lobster mutiara. Yang terakhir ini yang harganya Rp 300 ribu/kilo. Yang jenis bamboo “hanya” laku 150 ribu per kilo.
Nah, di keramba ini pengusaha-pengusaha yang umumnya Cina dan berasal dari Bali serta Surabaya, menempatkan orang-orang mereka. Lobster yang mereka terima hanya yang besar, minimal sekilo per ekornya. Mereka pun hanya membeli lobster yang hidup. Lobster ini kemudian dikumpul di keramba dan setiap bulan akan ada kapal besar yang menjemputnya untuk kemudian dibawa ke Bali. Setelah itu mereka tak tahu, apakah lobster yang mereka dapat itu dimakan di Bali atau dikirim entah kemana.
Saya juga kemudian tahu bahwa untuk mendapatkan lobster mereka mesti bertaruh nyawa. Mereka harus menyelam sedalam minimal 6 meter. Untuk jenis mutiara bisa lebih dalam lagi untuk mendapatkannya. Dan yang berat, mereka mesti menjaga lobster itu tetap hidup agar laku. Sebab jika mati, tak ada yang bakal membelinya. Bayangkan, harga sekilonya, tentu lebih berharga beli supermi dan kopi ketimbang lobster itu.
Dengan menumpang katinting yang entah milik siapa, dan setelah 15 menit yang menegangkan, saya dan Wahyu ditemani bapak Mojal sampai juga ke keramba. Menegangkan karena bapak Mojal membawa perahu itu seperti ojek negbut. Padahal ombak lumayan besar, sementara perahunya sangatlah kecil. Hanya muat untuk tiga orang. Di keramba, ada tiga orang penjaga, yang juga sebagai pembeli lobster dari nelayan. Takjub saya. Lobster raksasa juga ada disana. Seekornya bisa sampai 4 kilo. Tak hanya lobster, ada juga kerapu dan ikan sunu. Semuanya dengan ukuran jumbo.
Dari bapa Mojal juga saya tahu. Salah satu penjaganya berasal dari Makassar. Saya pun berkenalan. Namanya Rudi. Dia sih bukan asli Makassar, tapi lama tinggal di kisaran Paotere. Saya pun diperkenalkan bapa Mojal sebagai aktifis LSM yang membantu masyarakat di Pulau Kola. Saya sebenarnya mau mengoreksi, tapi tak ada guna. Masih menurut bapak Mojal, kami ini belum pernah liat dan makan lobster.
Entah karena kasihan, atau karena kami ini aktifis LSM, Rudi kemudian menawarkan lobster kepada kami gratis. “pilih saja yang mana”, begitu katanya. Karena ini gratis, saya pun memilih lobster jenis bamboo. Tak enak juga meminta yang lobster mutiara. Masak sudah gratis minta lebih lagi. Yang penting kan saya bisa mencicipi lobster, itu intinya.

Dengan sigap dia menyelam. Hampir setengah menit dia di bawah air kemudian dia naik. “Kalo besar begini cukup”? tanyanya. Tanpa pikir panjang saya iyakan saja. Dia turun lagi dan kembali dengan dua lobster di tangannya. “Kalau tiga sudah cukup?” saya kembali mengiyakan. Karena gratis, saya tak enak hati minta lebih. Lagi pula, saya tak bawa cukup uang. Kalo untuk dibeli, saya Cuma siap untuk beli satu, itu pun yang jenisnya bamboo, bukan yang mutiara.
Setelah berbasa-basi dan mengabadikan diri dengan lobster, saya pun pamit. Terima kasih berkali-kali saya ucapkan. Rezeki luar biasa dari tuhan. Makan lobster, besar, dan gratis pula.
Di rumah saya tak menyangka bahwa lobster kami itu belum cukup besar bagi bapak Mojal. Dia berujar bahwa pekan lalu dia mendapat lobster mutiara 8 ekor dan semuanya besar, berat rata-rata 3 kilogram. Tapi tak mengapa, yang penting lobster. Mau beratnya Cuma berapa ons pun tetap lobster.
“Ibu kos” pun dengan memasak lobster kami itu. Sungguh diberkati, pelatihan lancar dan makan malam dengan lobster. Sungguh nikmat tak terkira. Ternyata, ini yang dimakan orang-orang kota di restoran mewah itu. Saat makan, bapak Mojal kemudian menjanjikan bahwa besok kami akan berburu kepiting bakau. Jenis ini adalah kepiting kualitas terbaik, dan menurutnya sangat lezat dan ukuran jumbo.
Ehm, perjalanan yang melelahkan ke pulau ini rasanya tak rugi. Semoga besok pelatihan berjalan lancar lagi dan sorenya kami bisa berburu kepiting. Sungguh sebuah pengalaman yang berharga…

Pulau Kola—Part 3 (22 April 2010)
Pelatihan pagi ini telat kami mulai. Masalahnya sederhana, saya mendapatkan masalah perut. Setelah tiga hari menahan untuk tidak buang air, akhirnya hari ini tak tahan juga. Apalagi menahan lebih lama bakal menjadi masalah.
Repotnya, masyarakat di pulau ini tak memiliki kebiasaan buang air di wc. Mereka rutin buang air pada malam hari, dan dilakukan di wc terpanjang di dunia. Sebutan ini bukan dari saya, tapi dari bapak Chris yang pagi itu menawarkan diri mengantar saya ke sana.
Dengan halus saya menolak. Bukan karena tidak mau, tapi masih mencoba jika ada alternatif lain. Dan bingo, menurutnya ada satu rumah yang memiliki wc. Rumah itu milik seorang Cina yang asal Surabaya yang telah lama menetap di pulau Kola. Seperti orang Cina lain yang ada di Aru, keluarga ini menjadi tulang punggung pulau. Dia lah yang menyediakan segala jenis kebutuhan sehari-hari masyarakat. Mulai dari wafer coklat hingga bensin dan solar.
Awalnya saya ragu, takut tidak bisa. Tapi bapa Chris meyakinkan bahwa ‘Si Bos’, begitu orang pulau biasa memanggilnya, sangat baik dan pasti tidak masalah baginya meminjamkan kamar private ini. Dan ternyata betul. Sambil tertawa, ia segera mempersilahkan saya ke belakang. Dan jadilah saya membuang hajat dalam ruang wc terapung. Selebihnya, tak perlu saya ceritakan disini. Pokoknya, serba darurat juga jadinya..
Pelatihan akhirnya kami lanjutkan kembali. Dan Alhamdulillah semuanya berjalan lancar, dan semua peserta tetap bersemangat.
Sore hari, saat pelatihan selesai, saya dan Wahyu ditemani beberapa orang pulau menuju dermaga. Disana kami lihat beberapa anak muda-mudi bersantai. Di pulau, tentu tempat hiburan dan pilihan untuk refreshing sangatlah terbatas. Berdiri di dermaga menjadi salah satunya. Melihat kapal barang yang lalu lalang serta sun set yang begitu indah dan khas. Ya, bagi saya sunset petang itu adalh sunset paling indah yang saya pernah lihat. Sungguh indah dan penuh warna. Apalagi, laut lepas terpampang di depan mata. Menurut cerita bapa Alexander, dari tempat inilah dulu tentara-tentara Indonesia dan relawan menuju Papua saat dilakukan operasi pembebasan Irian Barat. Yos Sudarso pun gugur dalam operasi ini.
Masih cerita soal perang Aru ini, bapa Alexander mengaku menjadi saksi hidup peristiwa ini. Saat itu ia yang membawa kapal kecil yang mengangkut relawan. Relawan-relawan ini merupakan masyarakat pulau yang direkrut oleh ABRI. Pihak tentara mungkin tahu, di tengah kepulauan dan laut yang sulit, hanya masyarakat sekitar yang paling tahu. Bapa Alexander saat itu bolak-balik mengangkut relawan. Dengan perahu mesin yang saat ini banyak dipakai nelayan, dibutuhkan waktu kurang lebih 12 jam untuk sampai ke tanah Papua. Bisa dibayangkan berapa waktu yang dibutuhkan bapa Alexander bersama para relawan saat itu untuk sampai ke Papua. Apalagi perahu motor belum ada saat itu.
Setelah berbagi cerita dan menikmati sun set yang luar biasanya indahnya di dermaga, kami kembali ke rumah. Tak diduga, ternyata bapa pendeta bersama peserta yang lainnya telah menyiapkan sebuah kejutan. Di rumah telah tersedia kepiting, yang sungguh, besarnya minta ampun. Besarnya kepiting ini untuk pertama kalinya bagi saya. Beratnya lebih dari tiga kilogram. Saya dan Wahyu girang tak terkira.
Kejutan ini mereka siapkan sebagai tanda terima kasih kepada kami. Bapa pendeta menyampaikan itu sesaat sebelum makan malam dimulai. Luar biasa. Sebuah penghargaan tulus dari mereka. Dan yang utamanya, niatan saya untuk menikmati kepiting selain makan lobster, juga tercapai.
Perjalanan ke pulau Kola ini memang melelahkan dan sungguh berat. Tapi capai dan lelah yang kami rasakan saat datang, kali ini sudah terbayar tuntas. Terima kasih, bapa-bapa sekalian. Besok pagi kami akan kembali ke Pulau Aru untuk kemudian ke Tual dan ke Ambon dan terbang lagi ke Makassar. Perjalanan besok semoga akan lancar dan tak perlu pakai mogok segala di tengah laut. Tapi sebelum jauh ke esok hari, saatnya menikmati kepiting raksasa ini. Meminjam ungkapan khas Farah Quinn, ehm.. yummii…

2 comments:

hendragunawan said...

perjalanan yg cukup menegangkan! salam senior blogger...wah idup lagi batangase ini...

Denok Tjahyono said...

Terima kasih telah mempublikasikan tulisan pengalaman ini, tidak banyak tulisan tentang Kepulauan Aru, meskipun tempatnya indah.