Saturday, July 03, 2004

Siapa Kawan, Siapa Lawan

Siapa Kawan, Siapa Lawan


Saat rapat penentuan matakuliah kemarin, terasa betul aroma persaingan tidak sehat. Hal ini memang telah aku dengar sebelumnya, namun kmearin sepertinya menjadi hari pembuktian. Ada dari beberapa dosen yang hanya minta satu matakuliah. Kali lain bahkan ada yang tidak dapat satupun matakuliah.

Belakangan kutahu, mereka yang hanya minta satu matakuliah (dengan beragam alasan tentunya) adalah mereka yang memiliki proyek "sampingan" di luar. Ada juga mereka yang beralasan sedang menjalani program doktoralnya, sehingga "takut" terhalangi. Sedang mereka yang tidak mendapatkan jatah, kutahu mereka adalah "musuh" bersama dari beberapa dosen. Musuh disini entah apa maksudnya.

Bicara soal musuh (lawan), setelah mendengar pengumuman bahwa aku lulus menjadi dosen, beberapa "orang dekat" memberiku semacam arahan. Arahan ini seputar peta geopolitik dalam lingkup fakultas dan jurusan. Dengan maksud untuk menhargai niat baik mereka, aku coba mendengar dengan baik, seolah-olah aku begitu menyimak.

Kini kusadar, setelah masuk dalam "dunia lain" itu, saya (sekali lagi) mendapatkan pembenarannya. Salah satunya, fakta soal rapat di atas. Fakta lainnya, beberapa dosen dan staf yang awalnya coba kujadikan teman seiring, teman berbagi, dan seorang yang dapat kupercaya, ternyata juga turut andil dengan menjadi aktor dalam hal "kubu-kubu"an. Parahnya lagi, mereka sering "menikam"ku dari belakang. Ringkasnya, kini tak jelas lagi siapa kawan dan siapa lawan.

Aku teringat dengan salah satu adegan dalam film CON AIR, yang salah satu bintangnya adalah Nicholas Cage. Adegan ketika Nicolas (aku lupa ia berperan sebagai siapa-yang jelas ia menjadi narapidana yang menanti sebenatar lagi akan bebas dan ditempatkan satu pesawat dengan narapidana kelas kakap) bertemu dengan polisi yang coba menyelamatkannya (lagi ingatanku buruk, aku lupa siapa nama peran dan nama asli dari polisi ini). Sang Polisi bertutur bahwa ia telah bertemu istrinya dan menitip pesan dari istrinya.

Karena pengalaman pahit selama menjadi narapidana dan perjalanan penuh gejolak dalam pesawat yang dibajak para narapidana, ia tidak begitu saja percaya. Dengan gagah ia berkata, "Hanya ada dua lelaki yang aku percaya di muka bumi ini. Satu ayahku, dan kedua bukan kau". Sempurna, dan begitulah aku sekarang ini.