Thursday, June 14, 2007

Tentang Hujan

Kembali saya berhadapan dengan perbandingan. Membandingkan Indonesia dengan negara maju seperti Inggris ini. Ceritanya begini. Saat ada festifal Indonesia di Nothingham kemarin, saya bertemu dengan beberapa mahasiswa Indonesia lainnya. Di sela perbincangan mengenai desertasi yang menanti, muncul topik “pulang kampung” dengan resiko ketidakpastian dan ancaman tak termanusiawikan atau tinggal dengan fasilitas yang nyaman, kota yang ramah dan manusiawi di negeri ini.

Beberapa mahasiswa yang tampangnya mirip bintang sinetron mengatakan bahwa nasionalisme sekarang tak harus mengikuti model Hatta dan Sjahrir saat mereka dengan gagah berani meninggalkan Belanda dan memilih pulang kampung untuk membangun Indonesia. Nasionalisme toh tak sesempit itu. Kontribusi terhadap negara kan tidak harus dengan berdiam (apalagi dengan segala carut-marutnya) di Indonesia. Mereka pun mebandingkan kehidupan yang dijalin saat ini dengan kehidupan yang teah dijalninya saat di Indonesia. Namun pihak berseberangan menganggap “pulang kampung” bukanlah pilihan jelek. Hujan uang di negeri orang tetaplah kalah meski hujan batu di negeri sendiri.

Oh yah, soal beberapa yang mirip bintang sinetron, kabar yang saya dengar malah memang ada yang bintang sinetron beneran. Saya tak tahu, sebab saya bukan pencinta sinetron. Kalau toh dia bintang sinetron, ‘so what?’. Asal dia bukan bintang sinetron rohani yang pura-pura jadi ustad dengan lafalan alquran keliru saja.

Saya memilih mendengar saja saat itu. Selain selama ini memang sudah akrab dengan hujan batu, saya juga tak pandai diri bersiap dengan hujan uang. Entah hujan seperti itu memang ada atau tidak.

Kembali ke perbincangan nasionalisme tadi, tidak ada kesimpulan memadai dari dua pendapat yang berbeda. Perbincangan ini pun memang tak diniatkan untuk mencapai mufakat, toh soal keyakinan dan nilai, siapa yang bisa pengaruhi siapa, kan? Lagi pula, tema seperti ini memang lebih enak dibahas, tapi tak enak untuk dipraktekkan. Kenikmatan itu selalu membuai, begitu kata mutiaranya.

Saya lalu teringat saat di kedutaan beberapa waktu lalu, saya bertemu beberapa TKI yang sedang mengurus berkas keimigrasian. Kami lalu berbagi cerita, termasuk bagaimana mereka memendam rindu yang mendalam akan kampung halaman. Menikmati hujan air di teras rumah, dengan secangkir teh dan sepiring pisang goreng. Alangkah nikmatnya..

Ramalan cuaca menyebutkan besok akan hujan..

1 comment:

rime said...

di sana bisa dapet pisang ambon ga?

kalo bisa, asik dong bisa bikin pisang goreng sendiri... xD