Saturday, February 18, 2006

Ketika Miskin Menjadi Hip

Namanya Tuginem, umurnya 70 tahun. Dengan berjalan kaki tiga kilometer lebih, ia bergegas menuju sebuah kantor pos di Jogjakarta. Tujuannya satu, mendapatkan haknya sebagai orang miskin di negeri ini, uang 300 ribu rupiah. Apa lacur, haknya itu tak dapat diperolehnya hanya karena ia tidak membawa kartu sebagai tanda bahwa ia memang orang yang berhak. Beruntunglah kemudian orang-orang yang juga bernasib sama dengannya bersedia mendermakan sebagian uang yang mereka peroleh.

Kisah di atas kubaca di harian The Jakarta Post (16/02). Sungguh, negeri ini memang menyediakan banyak ironi. Apa yang dihadapi Tuginem, hanya satu contoh kecil tentang ironi yang terlanggengkan. Ya, ia menjadi ironi jika melihat bagaimana negeri ini memberi kemudahan dan fasilitas yang melimpah kepada mereka yang pernah merampok dan menjarah uang rakyat. Hebatnya lagi, mereka kemudian bisa masuk istana dengan bebas, laiknya seorang pahlawan. Tak terbayang bagaimana Tuginem dan rakyat kecil lainnya harus berurusan dengan Paspanpres jika ingin sekedar bertemu dengan presiden

Mungkin pemimpin-pemimpin negeri ini kagum dan kemudian ingin meniru uncle Ronald Reagen, yang saat memimpin Amerika menjalankan program reagenomics. Reagen meyakini bahwa jika orang-orang kaya diberi kesempatan untuk mengelola negeri, maka kemakmuran bukanlah hal yang mustahil. Dengan kata lain, orang kaya harus diberi kesempatan untuk menambah kekayaan mereka agar si miskin seperti Tuginem tak perlu lagi antri berjam-jam hanya untuk mendapatkan Rp. 300 ribu.

Baiklah, kita prihatin dengan nasib Tuginem. Menghayati nasib orang lain, itu bahasa lainnya, tetapi kekalkah ia? Compassion, perasaan ikut menghayati pedihnya nasib orang lain, bisa hanya sekedar hip. Sesuatu yang sejenak, begitu sejurus kemudian. Apalagi ketika ia hanya menjadi komoditas. Keibaan itu kemudian menjadi tak awet.

Tapi tak sedikit tentu yang tak sudi menjadi berita, mereka bekerja dalam diam dan miskin publikasi, seperti pohon yang tumbuh diam-diam tanpa pernah disadari ia sudah memberi buah yang ranum. Teringat akan Bob Geldof yang berucap, “it should be a shooting star—brilliant and beautiful for a second—and then live forever in your memory.”

No comments: