Friday, February 18, 2005

aku punya doa

kemarin mampir ke tempat kolega yang baru datang dari haji. sebagaimana jamaaah lainnya, cerita yang keluar tentu saja kekaguman dan takjub luar biasa dia terhadap mekkah, dalam konteks spiritual tentunya. bukan mekkah sebagai kota itu betul yang membuatnya takjub. bukan pula kemegahan karikatural masjidil haram yang menjadikan kagumnya membuncah. tapi pengalaman spiritualnya yang membuat ia seperti tak mau berhenti bercerita.

di mesjidil haram, tempat dimana segala tingkah dan laku kita (bahkan katanya niat pun) akan terbalaskan saat itu juga. ada seorang kawannya yang diajak ke mesjid untuk shalat namun berpura-pura sakit agar ia bisa istirahat di kamar. ketika mereka balik dari mesjid, kawan itu mereka dapati dalam keadaan sakit betulan. ada pula cerita tentang seorang istri yang mencela suaminya sendiri karena kelambanannya saat berjalan. tanpa disadari, giliran sang istri yang tak bisa berjalan. aneh juga...

lalu, di koran kita baca bahwa sebagian besar jamaah asal Indonesia kehilangan telpon genggam mereka saat berada di masjid haram. kenapa tuhan tidak langsung memotong tangan pencuri itu, ya.. tanyaku kepadanya. ia sebenarnya tak punya pembenaran secara rasio untuk menjawab, tapi karena masih terbawa dengan semangat spiritual sehabis menjalankan ibadah haji (mungkin), jawaban yang keluar dari mulutnya menunjukkan kekuasaan tuhan, begitu bahasa yang digunakannya. "Pasti ada juga balasannya, tapi konteks balasan tidak melulu harus dengan konteks kita setelah dipukul kemudian balas memukul."

pelajaran penting yang menurutnya banyak terulang dalam setiap hari ia di masjid itu adalah kesadaran untuk lebih berserah diri kepada tuhan dan tidak berkoalisi dengan nafsu duniawi semata. masih segar dalam ingatannya bagaimana ia harus kehilangan benda-benda bawaannya (meski dari nilai ekonomis mungkin tak seberapa). tapi dari kehilangan itu ia merasa bahwa tidak ada yang menjadi miliknya secara hakiki.
***
kawan, aku punya doa. semoga kita diberikan kekuatan untuk padu dalam kata dan laku.

No comments: