Saturday, February 09, 2008

Tahun Baru (lagi)

Semalam saya menghadiri sebuah perayaan tahun yang baru atas undangan Singapore society di Birmingham. Acara berlangsung di China town, di sebuah restoran China yang katanya sih salah satu yang terbaik di UK. Tahun baru Cina, ini tahun baru ketiga dalam dua bulan tahun terakhir.

The year of rat, tahun tikus yang penuh keberuntungan, begitu kata tuan rumah. Perjamuan luar biasa, dengan sepuluh macam hidangan. Tak semua tentu yang bisa saya santap, sekedar salmon, udang goreng dan oseng sayur. Selebihnya, meski menggoda selera, tetap tak bisa.
Setiap sajian punya makna tersendiri. Ikan misalnya, menggambarkan kebersamaan dan rezeki yang berlimpah-limpah. Yang lain? Maaf, tak semua berhasil masuk memori saya. Yang pasti, semua menuju satu muara, keberlimpahan rezeki dan kemakmuran. Apa ini yang kemudian membuat Cina, menjadi sebuah negara yang luar biasa saat ini?

Kalau ada yang kurang dari acara semalam, hanyalah iringan musik yang menyertai perjamuan. Menjadi aneh rasanya bertahun baru Cina dengan iringan Rihanna dengan Umbrellanya dan juga Take That. Atau ini yang namanya globalisasi?

Monday, January 21, 2008

Penonton Setia

Kaget juga saya ketika cek di BBC 3 hari ini ada highlight piala Afrika 2008. Luar biasa betul piala Afrika yang dilaksanakan di Ghana ini, rupanya. Belum lama rasanya piala Asia berlangsung, tapi berita tentang hajatan besar bangsa Asia ini tak semeriah warna-warni piala Afrika. Yang teringat jelas terliput oleh media Inggris saat itu hanya Irak yang berhasil keluar sebagai juara di tengah morat-marit kehidupan bangsanya. Selebihnya, tak ada yang luar biasa dalam hal liputan dan pewartaan.

Piala Afrika memang berbeda. Selain karena banyak pemain dari benua ini yang merumput di Inggris, kualitas mereka pun tak setara dengan benua coklat, Asia, yang masih dianggap dunia ketiga dalam sepakbola. Meski ini terus diperdebatkan dan coba digugat, termasuk dengan menyentuh lapisan ideologis dari perspektif globalisasi, tetap saja, kita harus akui ketimpangan kelas ini. Akhirnya, tak hanya highlight, siaran langsung hampir seluruh pertandingan piala asia pun disaksikan gratis di Inggris.

Memang ada banyak muka Asia di English Premier League (EPL), dan mereka tak hanya di klub-klub gurem lagi kecil. Tapi kelas mereka hanya kelas pelengkap, kalau tak ingin menyebutnya sebagai pemain cadangan sepanjang musim. Kalau toh ada yang muncul di permukaan, jumlah mereka tak perlu memakai kalkulator untuk menghitungnya. Beda jauh dengan pemain Afrika, yang hampir menjadi pemain kunci dan sangat berpengaruh di klub mereka masing-masing. Drogba, Yakubu, dan beberapa pemain Arsenal meninggalkan sedih bagi manajer mereka. Saking stressnya, banyak manajer klub Inggris yang meminta piala Afrika dipindahkan pelaksanaannya saat summer, saat dimana klub-klub Inggris libur kompetisi.

Tak perlu paham teori konspirasi, kita tentu bisa lihat betapa curangnya juga klub-klub Inggris ini memperlakukan bangsa Asia. Pemain-pemain itu hanya dikontrak untuk meningkatkan pangsa pasar klub Inggris di kawasan dengan pertumbuhan ekonomi paling mencengangkan di dunia ini. Nakata, pemain Jepang yang berpindah dari satu klub Italia ke klub lainnya itu adalah fenomena pertama dan terus jadi bahan perbincangan. Ini kemudian diikuti dengan pemain-pemain lain, yang kaos replikanya diharapkan menutupi bahkan melebihi biaya kontrak, dan kalau bisa membuka pasar bagi cenderamata klub lainnya di negara asalnya.

Ini pula yang kemudian meningkatkan jumlah suporter ”fanatik” dari klub. Suporter fanatik MU contohnya yang kebanyakan berada di Asia, dengan tingkat pembelian cinderamata yang paling tinggi. Mereka betul-betul fanatik, hingga misalnya memborong seluruh aksesoris berbau MU. Orang Asia yang berada di Inggris pun tak lepas dari ’serangan’ klub-klub sepakbola, hingga kemudian banyak iklan berbahasa Cina yang menjajakan paket tour menonton langsung ke stadium yang umumnya ditujukan bagi mahasiswa Cina di Inggris. Tak jarang mereka juga ikut pertandingan klub favoritnya, dimana pun mereka bertanding. Seperti orang Manchester saja mereka kelihatannya, meski minus teriakan dan nyanyian sepanjang pertandingan.

Kefanatikan mereka sebenarnya telah diprotes oleh seporter lokal, yang merasa makin terpinggirkan. Sir Alex ferguson boleh protes bahwa stadion sekarang telah kehilangan roh oleh diamnya suporter dan minimnya teror mental terhadap pemain lawan. Namun ia mungkin lupa, bahwa suporter sepakabola Inggris terbentuk dari kelas pekerja yang setia terhadap permainan menawan dan penuh kerja keras. Tempat mereka, yang biasanya berada di bagian atas stadium, telah tersisih tak saja dengan invasi penonton musiman seperti saya, tapi juga dengan harga tiket yang makin mencederai akal sehat.

Tetangga saya, seorang suporter fanatik Arsenal bahkan telah menganggap gila orang-orang yang membayar tiket seharga 35 – 40 pound untuk sebuah pertandingan klub papan atas EPL. Harga itu bisa melambung lebih tinggi jika klasifikasinya sudah masuk liga champion dan uefa. Ia pun kemudian lebih memilih ke pub, menonton bareng suporter lain dengan harga yang lebih manusiawi, cukup dengan membeli beberapa gelas bir.

EPL, laga paling populer sejagat ini memang tak tertandingi oleh piala Afrika, meski banyak bintang dan bakat disana. Tapi mereka, paling tidak telah berhasil mencuri perhatian. Asia, masih harus sabar untuk menjadi penonton. Atau kelas kita memang cuma segitu?

Saturday, January 12, 2008

Tahun Baru

Selamat Tahun baru Hijriyah, 1429 H.
Semoga kita bisa berhijrah ke arah yang lebih baik, dan juga lebih peduli.

Personal New year resolution?
Wah, banyak hal yang harus diperbaiki dalam hal kehidupan beragama ini.
Semoga terus dikuatkan dan dimudahkan. Tapi mau lebih baik kok pengennya mudah aja yah?

Tuesday, January 01, 2008

2008

New year, new you..
No, thanks..

Tuesday, December 25, 2007

Ini soal Ide, Bung

Hari ini ada berita menarik dari koran kampus. Seorang mahasiswi tertangkap mata berbohong saat mengatakan dirinya sakit dan tidak bisa masuk kelas. Sang dosen, entah karena penasaran atau karena facebook maniak, mendapatkan foto sang mahasiswa sedang asyik berpesta pada hari saat dia harusnya memaparkan tugas presentasinya di depan kelas. Facebook pun telah terbukti ampuh untuk menjadi alat deteksi kebohongan, rupanya. Kepopulerannya pun terihat jelas saat berada di computer cluster, di main library. Tak ada PC yang aktif tanpa ada tab yang membuka facebook di monitornya.

Ini hanya sebuah contoh tentang bagaimana facebook, telah menjadikan 2007 sebagai tahunnya. Tak hanya sekedar social network belaka, tapi facebook telah menjadi sebuah instrumen monumental tentang kekuatan ide dan kesanggupannya memberi materi yang luar biasa banyaknya. Tak percaya? Tanyalah Mark Zuckerberg, CEO Facebook, yang kemudian menjadi CEO termuda dengan kapitalisasi lebih dari milyaran US dollar. Ditaksir Yahoo, Google dan Viacom, tak membuatnya goyah. Facebook kemudian menjadi saingan tersendiri bagi Google, di jagat maya dan jagat modal.

Lalu apa kaitan ini semua? Ide, teknologi, dan kerja keras, tentunya, telah membuat beberapa orang (tentu tak banyak) menjadi luar biasa ketimbang yang lain. Dalam jagat bisnis, kemampuan seperti ini yang kemudian dikatakan lebih berharga ketimbang pabrik berhektar-hektar dan mesin bergulung-gulung. Orang-orang dengan talent dan skill yang luar biasa pun kemudian diperebutkan. Talent Management, meski bukan sesuatu yang baru, terus dikampanyekan dan dipraktikkan oleh perusahaan-perusahaan besar. Tujuannya tak lain untuk meningkatkan value dari perusahaan. Dalam laporan keuangan persuhaan, mereka termasuk dalam kelompok intagible assets. Maka tak heran, perusahaan-perusahaan farmasi sekarang ini lebih banyak memiliki asset yang ber'hantu' ketimbang pabrik. Mereka lebih memilih meng-outsource kan bagian produksi dan menjual licence kepada perusahaan lain.

Soal talent management sendiri, ide ini sebenarnya telah lama dikenal dalam dunia olahraga modern. Contoh sederhananya adalah LA Galaxy, klub sepakbola dengan prestasi biasa, tak dikenal di luar Amerika, menjadi luar biasa terkenal dan dikenal dengan masuknya Beckham. Jangan tanya soal penjualan merchandise, dan tiket pertandingan. Semuanya menunjukkan grafik yang meningkat. Membayar gaji miliaran rupiah per minggu buat bintang-bintang itu tetap saja tak berarti jika membandingkannya dengan apa yang klub dapatkan.

Kembali ke soal ide tadi, tahun depan pun kemudian diramalkan penuh dengan ide dan kreasi yang baru, dan Facebook pun kemudian menjadi sebuah pengalaman "tahun lalu". Website dengan beragam fitur dan penawaran pun kemudian ramai menjajakan diri, berharap keberuntungan serupa Ebay, Amazon, Facebook, Bizrate, dan lain-lain. Maka hadirlah etsy (www.etsy.com) yang meminjam konsep Amazon.com untuk barang kerajinan tangan, twitter yang seperti PDA yang punya kemampuan mem-push pesan, dan moshimonsters.com, facebook versi anak-anak dengan beragam game dan program edukasi.

Sekali lagi, kuncinya adalah ide dan kreasi yang biasa tapi terkemas luar biasa, begitu selalu yang didengungkan. Itu pula yang akan kita dapat saat membali-balik halaman autobiografi dari person-person ini. Persoalannya, mengapa yang namanya kreatif, menarik, selalu ditentukan dari sono? Oh yah, saya lupa. "Kreatif" ini juga kan bukan sesuatu yang gratis?

Thursday, November 22, 2007

Breaking News

Malam ini Inggris belajar sepakbola dari Kroasia. Sumbangan mereka dalam menemukan olahraga ini tak menjamin tempat khusus di piala eropa 2008. Bintang besar terbukti hanya besar dalam gaji dan fasilitas.

Menyaksikan kesebelasan ini bertanding, yang menarik bagi saya malah komentar dari komentator dan running text di tipi tentang furstasi pendukung Inggris. "No passion, no soul, no determination", kata Alan Shearer sang komentator. "Devastating", kata Ian Wright, rekan tukang koment lainnya. Gary Lineker, berkelakar bahwa summer depan ia bisa berlibur dengan tenang sebab tak ada tim Inggris di piala eropa.

Kekalahan ini menjadi sebuah "Breaking News" yang mencuri perhatian pemirsa dari fokus kehilangan data di salah satu kementrian pemerintah Inggris. Tak terbayang bagaimana koran-koran Inggris esok hari mencaci pelatih dan pemain mereka. Apalagi pers Inggris terkenal dengan kritiknya yang tajam, dan panjang, membuat orang yang membacanya pun tertular amarah saja rasanya. Setidaknya mereka (harus) belajar. Bintang besar dan kompetisi yang luar biasa, tak memberi garansi bagi tempat terhormat di daratan eropa.

Bagaimana dengan PSSI? Ah, bukankah yang satu ini memang tak punya niat untuk belajar? Sudah gitu, keras kepala pula. Apa kata dunia???

Thursday, November 15, 2007

Geography

Ternyata, saya tak sendirian 'buruk' dalam geography. Menurut survey yg ada di Guardian, anak-anak Inggris sangat buruk untuk ilmu bumi ini. Tak sampai setengah dari responden yang disurvey menjawab benar ketika ditanya dimana letak gunung tertinggi di dunia. Kebanyakan mereka menganggap Everest berada di tanah Eropa. Sungai Amazon masih dianggap sebagai sungai terpanjang di dunia, meski jawab yg benar (setelah cek di national geography) adalah sungai Nil.

Analisis dari riset ini kemudian menyebutkan bahwa salah satu alasan mengapa mereka buruk dalam ber-geography adalah tingginya tingkat kunjungan anak-anak ke pusat pertokoan dan game centre. Dua tempat ini adalah tempat favorit mereka. Museum dan public library berada di deretan bawah. Meski masuk dua tempat itu gratis, survey ini menemukan bahwa keduanya tak semenarik mall dan game centre, tempat mereka berbuai mimpi.

Saya lalu membayangkan Makassar, dan Indonesia pada umumnya tempat dimana mall bisa hadir sesuka hati. Ia hadir di dekat kampus, sekolah atau bisa tepat di dekat pasar tradisional. Tak peduli pasar tradisional itu kemudian mati tak terurus, kemacetan lalu lintas dan sakit sosial yang ditimbulkannya. Saya tak anti mall. Sungguh, saya juga menyukainya. Menyukai etalasenya yang tak henti menjajakan mimpi. Baiklah, saya juga sering ngopi dan beli buku disana. Tapi tak jadi aktifitas rutin, sesekedarnya saja.

Ponakan saya yang masih sekolah menengah sudah tak terpisahkan dengan mall. Janjian ama teman di mall. Beli baju tak mau lagi kalo bukan di mall. Jangan tanya soal makan, segala franchise dan warung yang ada semua sudah dicoba. Tak ada lagi tempat untuk sekedar berniat ke pasar batangase--di dekat rumah--yang becek itu. Meski beberapa kali saya katakan padanya, pasar itu adalah surga makanan enak. Semuanya serba segar dan mengenyahkan. Soal hygiene atau tidak, toh terbukti saya hingga kini baik-baik saja. Apa jawabnya? Gaul dikit dong, paman..

Saya belum sempat konfirmasi kemampuan geographynya. Satu sisi saya juga mengerti gejolak muda dan segala tetek bengeknya. Mengekang itu tak meluruskan, malah bisa jadi makin membuatnya bengkok tak berbentuk. Tapi tetap saja ada rasa khawatir (ini khas orang lebih tua yang sok tahu). Semoga saja berbanding lurus dengan kegenitannya ber-gaul ria. Atau jangan-jangan dia malah lebih tahu bahwa air terjun tertinggi itu ada di Venezuela?

Ah, makin sok tahu saja saya rasanya..

Friday, October 12, 2007

Eid Mubarak

Ada yang Lebaran hari ini. Tak sedikit juga yang memilih berhari raya besok.
Nantilah, setelah lebaran usai kita berkumpul agar esok mungkin bisa kita cari waktu sembahyang yang sama dan tak membingungkan.

Selamat Idul Fitri 1428 H.
Maaf lahir bathin dan segala apa yang tidak menyenangkan.

Thursday, October 11, 2007

Kita berteman

“Bloody Facebook wastes my time”, begitu tulis seorang kawan di profile facebooknya. Saat bertemu di kelas pagi tadi, saya lalu menyapanya dan bertanya apa kabar dengan facebooknya? Ia cuma nyengir.

Entah karena kuliah business ethics yang tidak menarik baginya atau sang dosen yang memberi presentasi seadanya, ia pun asyik membuka-buka halaman account facebook melalui handphonenya. Kawan ini duduk tepat di sebelah saya. Setengah berbisik, kukakatakan padanya untuk tidak menghabiskan waktu dengan facebook. Lagi, ia kembali nyengir. Facebook, benci tapi rindu.

Begitulah, social network seperti facebook, friendster yang spesialis benua asia, myspace, tagged, hi5, to name a few, telah menjelma menjadi penanda sebuah generasi. Seperti MTV dengan beragam mode dan musiknya yang sering menjadi acuan banyak anak muda. Entah MTV kini masih menjadi trendsetter, tapi social network kini telah memiliki tempat tersendiri di hati banyak orang. Tak hanya monopoli anak muda saja sebenarnya. Yang berumur dan masuk kategori lansia pun tak sedikit yang punya halaman di banyak social network. Banyak? Yah, tak sah rasanya jika cuma bergabung di satu network belaka.

Dengan network-network ini, saya bisa memiliki teman yang banyak. Teman yang bisa lebih saya kenali ketimbang teman beneran yang bersama kami banyak menghabiskan waktu. Ada yang request jadi teman hanya karena saya membeli bukunya di Amazon. Siapa dia? Tak sekalipun saya pernah ketemu dan bahkan namanya pun tak kuingat dengan baik.

Friendship? Wah, paradigma berteman dan berkawan kini sudah berubah, sobat. Teman dalam kenangan dan kenyataan kini beradu dalam ruang maya yang makin tak terbatas. Tapi apakah ini kemudian bebas dari kritik? Di koran Financial Times edisi weekend kemarin dalam rubrik konsultasi bisnis ada seorang karyawan yang ‘curhat’ soal dilemma yang dihadapinya. Bos di kantornya mengirimkan ‘aplikasi’ permohonan untuk menjadi kawan di facebooknya. Ia ragu luar biasa untuk mengklik ‘confirm’ sebagaimana presedur standard berteman ala facebook. Kebayang jika sang bos ternyata tahu ia suka keluar malam menikmati pengalaman dari satu pub ke pub yang lain. Tak tahan juga ia jika sang bos melihat foto usilnya ‘mengerjai’ inventaris kantor. Dalam rubrik ini meminta saran, apakah ia menerima atau menolak permintaan ‘berteman’ dari sang bos. Bagaimana pula dengan konsekuensi jika ia kemudian memilih untuk menolak?

Seorang lainnya menulis betapa facebook telah melampaui apa yang ia harapkan. Tak habis pikir ia harus merespon tawaran poke, tattoo, dan bermacam aplikasi dari facebook yang dikirimkan ‘teman-teman’ mayanya. Ia mengeluh betapa over aggressive nya proses berteman di social network. Saya juga sebenarnya mengalami hal yang sama. Poke, tattoo, aquarium, dan aplikasi-aplikasi lainnya dari facebook, membuat saya jadi tak mengerti tentang facebook. Dasar gaptek dan tidak punya banyak waktu mengamati dan mendalami, request-request itu menumpuk tanpa pernah saya jamah. Selain tak mengerti, sekali lagi, niat saya emang cuma menambah account di social network yang lagi trend. Soal teman baru yang sedikit beda dengan account lain, itu bonus. Popularitas saya sebagai orang yang kenal dan dikenal banyak orang pasti akan terdongkrak. Oh yah, popularitas, itu mantranya.

Tengok betapa kandidat calon presiden di Amerika sana tak melewatkan sedikitpun peluang ini. Hillary Clinton, Obama, dan juga yang lain, pasti memiliki account di facebook, myspace, yang muaranya tentu untuk mendongkrak popularitas. Nama mereka juga tercatat sebagai pemilik account di youtube. Tapi apakah selalu jelek ketika berbicara popularitas?

Saya percaya bahwa social network ini punya nilai positif juga. Saya akhirnya bisa bertemu (paling tidak di dunia maya) dengan seorang kawan lama yang kini ada di Jakarta. Sejak berpisah beberapa tahun yang lalu, praktis tak kontak-kontak dengannya. Tak ada kabar berita serta surat kangen sebagai seorang kawan. Tak itu saja, ia bisa pula dipakai untuk bertukar informasi, jika perlu berdagang. Seorang kawan melelang barang-barang yang dimilikinya melalui friendster dan facebook.

Desakan untuk junta militer di Burma juga kencang disuarakan di banyak social network. Juga kepedulian terhadap bencana di Afrika dan kepedulian terhadap sesama melalui jejaring komunikasi. Jadi, tak hanya sekedar berbagi pesan dan foto. Tak juga melulu sekedar berbagi komen. Namun tetap saja, fungsi utamanya sebagai penghubung bagi teman lama dan mencari teman baru.

Maukah Anda jadi teman saya?

Saturday, September 29, 2007

Tak sekedar Lapar

Ramadhan sudah setengah jalan. Sudah seberapa penuh kantong amal dan ibadah kita terisi?

Di time edisi online ada link menarik. Photos of the week, berisi foto-foto tentang ramdhan. Ada satu foto dari Indonesia. di situ digambarkan beberapa lelaki sedang berbaring di masjid. Mungkin mereka lelah dan lapar, hingga perlu sedikit istrirahat. Pemandangan seperti ini memang biasa saat ramadhan. Mesjid dan surau terisi, meski tak penuh, saat shalat jamaah dilakukan. Setelah itu, dengan berjamaah pun kita pulas.

Menahan lapar dan haus serta tidak berhubungan dengan pasangan, begitu yang biasa kita memaknai puasa. Sesederhana itukah?

Kata seorang imam, ketiga aktifitas halal yang ditahan itu hanyalah katalisator dalam jejak langkah kita mengisi ramadhan. Ada yang jauh lebih esensial dari sekadar menahan kebutuhan purba kita itu. Kesalihan social, kepedulian terhadap sesama dan harapan untuk terus melepas diri dari nafsu duniawi menjadi ujian sesungguhnya.

Soal korupsi misalnya. Data tranparansi internasional menyebutkan bahwa deretan pertama negara-negara terkorup di dunia justru adalah negara dengan tingkat religiusitas yang tinggi. Indonesia sebagai contoh, adalah negara muslim terbesar di dunia. Tapi tingkat korupsinya jauh diatas negara-negara yang tak memutar sinetron religi di stasiun televisi mereka. Di lain pihak, Jepang, sebuah negara dengan mayoritas rakyatnya bisa dikatakan tak beragama, selalu menjadi contoh bagi pelaksanaan rasa malu dan kejujuran.

Salahkah agama? Tentu tak elok jika agama kemudian menjadi sasaran tembak dari semua ini. Yang keliru mungkin adalah konsep keberagamaan dan bagaimana agama dilihat dalam perspektif kekinian. Dalam beberapa hal, ada tentu bagian yang tidak bisa digugat dan sebab itulah keimanan berarti percaya. Namun tak berarti tak ada ruang untuk, katakanlah ‘meninjau kembali’ konsep beragama.

Dalam kitab suci, tak sedikit ayat yang mengingatkan untuk berbuat adil, peduli terhadap sesama, dan bersikap jujur. Yang jadi soal, adalah peletakan kesalihan dalam konteks ritual dan dalam tampilan yang cenderung jauh dari esensi ibadah dan saleh itu sendiri. Tak heran jika kemudian terjadi reduksi besar-besaran akan ibadah. Kesalihan kemudian menjadi domain individu dan tidak pernah ditekankan untuk muncul dan berkembangnya kesalihan social. Lebih utama rasanya memperbincangkan pahala dan timpalan api neraka ketimbang berkutat dengan korupsi biaya KTP dan sogok-menyogok polisi dan masyarakat saat terkena tilang. Tak pernah pula kita dengar tokoh agama bereaksi terhadap penggusuran, ketimpangan social atau korupsi dalam masyarakat.

Kemegahan juga kian mewarnai kehidupan beragama. Tak habis pikir rasanya sebuah kabupaten seperti Maros, tempat saya menghabiskan banyak umur saya, lebih membangun sebuah mesjid megah berbilang milyar namun masyarakatnya masih banyak yang kesulitan makan. Di Kalimantan timur malah kabarnya mesjid dibangun dengan biaya yang bisa dipakai untuk membuat banyak sekolah dan madrasah. Ini mungkin wujud kecintaan terhadap agama. Tapi segitu parah dan kelirukah cinta itu dijewantahkan?

Menjelang ramadhan, fokus utama justru pada penutupan tempat-tempat hiburan. Rasionalisasinya adalah keinginan untuk menghormati ramadhan. Tak jarang penutupan paksa bahkan penghancuran satu tempat menjadi aksi reaksioner terhadap ajakan dialog yang sebenarnya bisa lebih dikedepankan.

Lalu, akankah individu yang salih mendapatkan berkah ramadhan? Bagi saya, kesalihan dan keimanan haruslah termanifestasi dalam ruang kehidupan yang lebih nyata. Ibadah, kesalihan, haruslah disertai pengorbanan. Jika tidak, yang lahir hanyalah hamba salih yang egois. Pengorbanan untuk sesama, itu yang masih langka. Saya pun rasanya masih demikian. Celakalah saya…

Monday, September 17, 2007

Berdamai dengan Interupsi

33 jam seminggu, begitu hasil riset Ac Nielsen soal berapa waktu yang kita habiskan menonton tipi. Kita? Kalau toh bukan saya, Anda, berarti ada orang lain yang punya 33 jam waktu untuk menonton. Bahkan ada yang menghabiskan waktu lebih lama menonton tipi ketimbang bekerja. Bisa jadi, orang itu menonton sambil bekerja, atau ia merupakan pegawai tim pengawas siaran tipi. entahlah, pokoknya kotak ajaib itu telah mempengaruhi hajat hidup orang banyak.

Apa arti angka ini? Taruh kata kita kerja 8 jam sehari, sebagaimana dicatat dalam kontrak kerja, maka hasil riset Nielsen itu menyebutkan bahwa lebih dari 4 hari dalam seminggu waktu kita habis untuk nonton tipi, dgn asumsi tdk mengerjakan pekerjaan lainnya. Like must always be compared with like, tapi ini sekedar analogy sederhana betapa banyaknya waktu yang diminta oleh kotak ajaib itu. Angka ini tentu menghkawatirkan sebagian kalangan. Mulai dari orang tua, pengamat dan praktisi pendidikan, ahli jiwa, sampai pada aktivis lingkungan.

Namun yang bahagia tentu tak sedikit jumlahnya. Pengiklan salah satunya. Tak ada hari tanpa kreasi mereka untuk sekedar mencuri perhatian dalam keseharian kita. Entah itu di kereta, billboard di jalan, bioskop, mall, hingga rumah ibadah. Praktis tidak ada tempat yang sunyi dari iklan atau upaya-upaya sejenisnya.

Beruntung saya bisa menikmati siaran BBC. Mengapa? Tak ada iklan sebagai jeda dalam setiap programnya. Siaran langsung sepakbola tim Inggris pun bisa ternikmati dengan nyaman., sebagai contohnya. Atau menikmati serial Heroes yang tak diinterupsi oleh iklan parfum Armani terbaru atau Volvo SUV keren, yang tentu saja tak cuocok buat kantong saya. Lalu, Darimana mereka dapat dana untuk segala operasionalnya? Mirip TVRI jaman dulu, selain dapat suntikan pemerintah, mereka juga narik dana dari masyarakat melalui TV licence, semacam iuran/pajak televisi.

Tapi bisakah kita lari dari pelbagai interupsi ini? Maaf, tak ada ruang yang zero interruption. Friedman menyebutnya sebagai the age of interruption, zaman gila yang penuh dengan beragam interupsi. Praktis tak ada hari tanpa email spam bagi pengguna email gratisan dari yahoo atau gmail. Menyebutkan Anda pemenang lotre berhadiah jutaan pound, meski tak sekali pun memeasang taruhan. atau email palsu yang meminta pembaca untuk berbaik hati meminjamkan rekening bagi harta rampasan perang dengan jumlah jutaan dollar dengan nama pangeran dari negara antah beranta sebagai pengirim.

Jangan pula berharap lepas dari sms iklan atau telepon berdering menawarkan ragam produk dan segala bujuk rayunya. Di depan flat saya, meski telah terpasang pengumuman bahwa pedagang keliling dilarang masuk, tetap saja ada yang berhasil curi-curi perhatian untuk sekedar menunjukkan brosur mereka. Atau dengan modus yang lebih elegan, menitipkan brosur kepada loper atau pak pos. Jadilah bank statement yang saya terima setiap bulannya selalu disertai dengan brosur pakaian renang atau tujuan wisata baru dengan tarif miring.

Sebenarnya begitulah mekanisme yang ada. Tak perlu rumit memahami teori pemasaran dan perilaku konsumen untuk tahu bahwa iklan dan segala macam interupsi itu juga memberi andil bagi kita, para konsumen. Dengan interupsi-interupsi itulah kita bisa mengenal produk dan apa saja yang bisa memuaskan hasrat dan kebutuhan kita. Hasrat dan kebutuhan? Ya, tak usah malu untuk menyadari bahwa kebanyakan belanja kita lebih untuk memuaskan hasrat ketimbang kebutuhan. Tak heran jika saya sering membeli barang yang tak jelas benar manfaatnya buat saya, toh tetap juga terbeli karena hasrat yang menggunung. Sementara kebutuhan utama sering terpinggirkan dengan beragam dalih. Sebuah interupsi yang menyenangkan, begitu kilah yang jadi umum.

Sekali lagi, berharap tak ada interupsi?

Saturday, September 15, 2007

Selamat Puasa



Semoga puasa hari ini memberi banyak berkah untuk kita semua dan tentu, makin meningkatkan kesalehan sosial kita.

Selamat berpuasa.

Saturday, September 01, 2007

Mobil sport

Saya memang bukan pembelanja yang baik, paling tidak itu kata istri saya. Setiap habis ‘tugas’ belanja, saya selalu lupa berapa harga barang yang sudah saya beli. Jika sebelum belanja saya selalu bersiap dengan daftar belanja, itu memang nilai tambah. Tapi kelar belanja yang jadi masalah. Pertanyaan istri saya semisal, “tadi beli bawang merah ini berapa, daging sapi ini beli 1 pound, ya?” Atau “kenapa beli susu yang mahal?”

Jawaban saya untuk semua pertanyaan itu bisa ditebak, “tidak tahu”. Atas nama variasi saya sih sering ganti dengan “lupa” atau “tadi struk belanjanya jatuh”. Saya memang bukan pembelanja yang baik. Jarang sekali saya bisa menghapal—baik di dalam maupun di luar kepala—soal harga barang yang sudah (dan akan) dibeli. Ia memang sangat detail untuk urusan satu ini. selain mencatat setiap pengeluaran, ia pun membuat daftar prioritas belanja. Satu sisi ini tentu tak sejalan dengan jiwa merdeka saya yang sejak lama tak terkekang. Namun sisi lainnya kok berkilah bahwa tak ada yang terkekang. Justru saya yang boros ini jadi terbantu untuk lebih well planned. “Biar nanti bisa beli mobil sport”, hiburnya.

Mobil sport? Ha…ha…ha... Menabung seabad pun rasanya tak kesampaian. Ini memang lelucon khas dengan banyak kawan saat mengajukan beberapa lamaran kerja setelah kuliah dulu. Carilah kerja yang gajinya bisa buat beli mobil sport, begitu motto hidup pencari kerja yang tak tahu diri. Kalo PNS, mau nabung berapa keturunan? (tak ada opsi untuk korupsi, ya..).

Bukan mobil sport itu benar yang membuat saya jadi ingin hapal dan ingat harga barang-barang belanjaan saya. Cuma penasaran aja, bawang merah tadi belinya berapa ya, kok bisa lupa.

Friday, August 24, 2007

Buku Untuk Semua

Saat jeda di library siang tadi, saya melintasi rak buku yang berlabel “free book”. Heran juga, kok ada buku gratis hari gini? Tertarik, saya pun mencoba mengambil satu buku. Setelah membaca brosur dan keterangan di sampul buku, ternyata buku-buku yang ada di rak itu memang gratis.

Dari om Wiki saya kemudian jadi tahu bahwa program free book ini diluncurkan oleh kelompok bookcrossing sejak tahun 2001 yang anggotanya disebut bookcrossers. Niatnya untuk “membebas”kan buku dan menjadikan kegiatan membaca menjadi sebuah kegiatan yang menyenangkan. Modelnya sederhana. Tinggalkan buku-buku anda di ruang publik dan biarkan orang kemudian mengambilnya dan membacanya. Pembaca kemudian bisa menyerahkan lagi buku itu di collect point atau sekedar menaruhnya di kafe, toko, atau public space lainnya dan nanti akan diambil dan dibaca lagi oleh orang lain. Ini seperti slogan “3R” mereka, Read a good book, Register to bookcrossing, and just Release it into the wild so others can read it.

Tak ada aturan rumit. Siapa saja bisa mengambil buku yang tersedia. Namun untuk mewakafkan buku, kita perlu register ke situsnya dan kemudian menuliskan kode yang disediakan. Biar menarik, kode di setiap buku yang bisa dicatatkan di situs bookcrossing itu kemudian dimasukkan lagi oleh pembaca untuk kemudian kita semua bisa tahu jejak rekam perjalanan buku dan pembacanya.

Buku yang saya ambil contohnya. Ternyata telah dibaca oleh banyak orang. Komentar dan rating akan buku ini juga ada. Termasuk data dimana mereka mengambilnya dan kapan.
Tentu saja, program ini tidak lepas dari kritik. Penerbit, pengarang dan juga jaringan distribusi buku akan teriak keras bahwa kegiatan ini akan menurunkan nilai buku. Tak akan ramai lagi toko buku, serta amazon si raja buku itu akan tersedot keuntungannya. Lalu, bukankah kritikus-kritikus ini harus berkaca pada industri musik? Meski gencar melawan pembajakan, tak sulit amat untuk mendapatkan album terbaru dari top ten chart atau lagu terbaru Letto atau Tukul Arwana. Social network ala Multiply memungkinkan kita mendapatkan semua itu. Tinggal buka account, dan Anda bisa mengunduh lagu dan video sepuasnya. Toh artis musik tetap saja bisa beli land cruiser atau berjejal di butik-butik mewah. Ini tentu tidak kemudian menjadi alasan pembenar bahwa pembajakan dan perampasan hak cipta benar adanya. Tapi apa salahnya berbagi buku. Bukankah ilmu yang tidak bermanfaat adalah ilmu yang tidak dibagi?

Saya lalu ingat pengalaman saat kuliah dulu. Beberapa kawan dan saya sendiri tentunya, pernah bertanding soal siapa yang memiliki buku paling banyak. Soal lain itu urusan baca atau tidak. Kesan banyak buku banyak ilmu, dan pintar, adalah tema seksi bagi mahasiswa baru dan adik-adik junior. Ada juga dosen yang dengan bangga memajang deretan buku di ruang tamu mereka, seperti mengabarkan pada setiap yang datang, ”Hey, saya punya buku yang banyak, lho”. Lalu kalau banyak kenapa? Wong mau pinjam beberapa buku saja ceritanya jadi panjang. Yang penting adalah bagaimana buku itu tidak saja bermanfaat bagi diri tapi juga bisa dibagi dengan yang lain.

Menjadi soal memang jika watak peminjam ”yang baik”—meminjam buku adalah hak, mengembalikannya bukanlah kewajiban—masih tertanam kuat di dalam kepala. Ini juga memang penyakit. Apalagi memang harga buku yang kelewat mahal di Indonesia. Saatnya pemerintah meninjau kembali pajak-pajak yang menghambat tumbuh dan berkembangnya industri buku.

Kembali ke bookcrossing ini. Singapura ternyata telah ”meratifikasi” ide ini dengan menjadi negara resmi pertama yang menjadikannya sebagai semacam 'program nasional'. Tak terbilang manfaat bagi rakyat Singapura. Padahal mereka juga sudah terkenal dengan budaya dan fasilitas baca yang lengkap. Belum lagi infrastruktur dan teknologi mereka yang mendukung. Sungguh, kampanye membaca tak lagi sekedar slogan dengan gerakan seperti ini.

Bagaimana kemudian ini bisa diaplikasikan di Indonesia? Tak perlulah sampai sedrastis Singapura atau sesuai konvensi bookcrossing, saya kira. Cukup dengan memperbanyak perpustakaan-perpustakaan gratis bagi masyarakat. Mereka yang punya buku-buku banyak di rak-rak juga bisa membagi akses bagi yang lain, ketimbang buku-buku itu tersimpan rapi tak terbaca dan bisa jadi tak terawat.

Tahun lalu, kakak saya yang guru SMA meminta ijin agar buku-buku saya yang menumpuk di kamar bisa dia bawa ke perpustakaan sekolahnya. Menurutnya, lebih banyak buku saya ketimbang buku yang ada di perpustakaan sekolahnya. Seperti kebanyakan sekolah negeri, fasilitas minim dan perpustakaan sepi adalah gambaran umum. Belum lagi letak sekolahnya yang memang jauh dan tak masuk dalam radius keramaian. Dengan begitu, ia berharap bahwa ada bahan bacaan alternatif bagi murid-muridnya. Meski kebanyakan buku-buku saya itu hanyalah novel, biografi, buku sejarah dan kumpulan tulisan dari beberapa penulis.

Awalnya saya khawatir, takut buku-buku itu rusak dan yang paling ekstrim, hilang. Tapi ketimbang menumpuk di rumah dan membuat ibu saya repot merawat dan membersihkannya, kuizinkan saja. Sekarang baru sadar, bisa jadi buku-buku saya itu telah berpindah tangan ke beberapa murid, dan siapa tahu ada saja yang mendapat manfaat dari membacanya.

Nah, saatnya membebaskan buku dengan berbagi kepada yang lain. Masuk akal, kan?

Friday, August 17, 2007

Merdeka, Bung

“Kita belum merdeka, bung”, begitu kata teman saya via emailnya. Panjang ia bercerita tentang kondisi buruh yang selama ini dibelanya. Menurutnya, tak ada kata merdeka dalam kosa kata mereka. Gaji yang dipotong seperti tak ada henti, lembur yang tak terukur, harga minyak tanah yang tak terjamah, semuanya membuat mereka merasa tak merdeka.

Bukan tak ada saya pikir, cuma belum merdeka aja kali. Tapi apa artilah perdebatan semantik ini, toh pada kenyataannya masih banyak nasib buruh, dan bukan hanya buruh, yang belum merdeka dari kebutuhan dasar kemanusiaan seperti makan dan tempat tinggal. Amrtya Sen, peraih hadiah nobel ekonomi mengemukakan bahwa masalah kemiskinan bukanlah terletak pada tidak adanya yg akan dimakan, juga bukan masalah pendanaan atau pengadaan makanan. Namun lebih banyak karena masalah distribusi atau tidak adanya pemerataan.

Merdeka dari ketakutan, itu juga yang masih menjadi barang mahal bagi bangsa Indonesia. Ya, rakyatnya tentu saja. Toh para penguasa itu memiliki pengawal yang setiap saat bisa menjaganya, so mereka tak masuk bagian orang takut ini.

Kemarin presiden sudah baca pidato kenegaraan di DPR, termasuk rencana-rencana pemerintah setahun ke depan. Terdengar banyak duit yang dibicarakan. Belum lagi highlight dari pidatonya yang ber-trend naik. Anggaran pendidikan naik, anggaran kesehatan naik, gaji PNS dan TNI naik, anggaran ini-itu naik. Melelahkan juga baca pidato yang panjang itu. Tapi intinya semua naik, bagus bukan? Tapi waspadalah, orang statistik punya anekdot sendiri akan ilmu mereka. Ada tiga model kebohongan, bohong, luar biasa bohong, dan statistik itu sendiri. Tapi namanya harapan harus terus disemai, sebab itulah yang membuat hidup lebih berarti.

Merdeka, Bung!!

Monday, August 13, 2007

Pasar Halal

Tiba-tiba hampir seluruh restoran dan warung makan yang ada di sepanjang Bristol road dekat kampus itu memajang tanda Halal di depan pintu mereka. Seingat saya, tahun lalu masih terhitung dengan sebelah tangan restoran dan tempat jual makanan halal di sepanjang jalan ini. Salah satunya warung burger yang sering jadi andalan kalau sudah malas balik ke rumah untuk memasak. Pemiliknya orang Turki dan memang muslim. Burgernya lebih maha dari harga burger pada umumnya. Tapi mau giman alag, tdk ada pilihan lain. Namun kini jumlah warung halal itu telah berlipat. Mulai dari restoran besar sampai warung tradisional semacam fish and chips. Soal apakah sign halal yang mereka pajang itu telah melalui proses sertifikasi panjang dari Halal Food Authority atau tidak, itu urusan lain.Makanan halal, atau produk muslim secara umum memang menjadi salah satu bisnis paling menarik saat ini. Di Amerika sendiri, sebagai pusat kapitalisasi dunia telah menunjukkan trend ini sejak lama. Penelitian yang dilansir majalah the economist menyebutkan bahwa lebih dari 6 juta masyarakat muslim disana berpenghasilan diatas rata-rata atau sekitar $50,000 - $100,000. Sementara penghasilan rata-rata kebanyakan hanyalah kisaran $40,000. Mereka juga berpendidikan lebih tinggi ketimbang masyarakat lainnya, dimana dua per tiga dari jumlah itu memiliki satu atau lebih gelar kesarjanaan. Satu lagi yang membuat kaum muslim menjadi target pasar yang menggiurkan, mereka punya kecendrungan untuk memiliki anak lebih dari dua. Nah, komplit kan pasar ini?

Segmen yang paling menarik dan menjadi perhatian kaum muslim kebanyakan adalah sector makanan, keuangan dan pasar konsumen yang memang banyak bersinggungan hokum-hukum syariat. Laporan economist menyebutkan bahwa pasar produk halal tumbuh 16% per tahun atau sekitar $580 milyar setiap tahunnya. Jumlah yang menggiurkan, bukan?

Namun apakah persepsi soal halal ini kemudian sudah selesai? Ternyata tidak. Beberapa penjual daging dan orang Inggris kebanyakan cuma tahu bahwa halal itu berarti daging selain daging babi. Maka daging sapi atau domba meski tidak disembelih dengan proses halal akan menjadi halal dengan asumsi seperti ini.

Bahkan awal-awal kedatangan saya banyak diisi dengan berbagi cerita soal halal dan tidak suatu makanan. Saya sering ditanya macam-macam, mulai dari ikan yang halal dan tidak halal, atau adakah babi halal (halal pork) dalam Islam? Meski secara pribadi saya tak suka bicara soal halal-haram ini sebab banyak dai dan ustad yang akhirnya lebih sibuk dan siap ribut soal ini ketimbang mengingatkan masyarakat bahwa menyogok polisi atau menaikkan harga barang secara tak wajar adalah dosa juga adanya. Untungnya saya bukan dai terlebih ustad. Tapi yah namanya beda budaya dan kebiasaan, proses cerita ini menjadi unik dan enak saja jalannya.

Kembali ke bisnis produk halal, Mc Donald di London juga telah melakukan uji coba penjualan makanan halal. Di Southall, bagian utara kota London, salah satu restoran cepat saji itu menyediakan paket halal. Meski tak memasang info dan sign di depan toko mereka, namun permintaan paket ini ternyata tinggi. Terbukti, waktu itu paket ini sampai membuat antrian panjang dari pengunjung.

Produk lainnya tidak kalah. Ada Barbie versi islami, yang disini namanya diganti Fulla. Tak seperti Barbie yang blonde, berbusung dada, serta gonta-ganti pacar, si Fulla adalah tokoh idola banyak calon mertua. Rajin belajar, membaca, shalat dan masak. Sempurna, bukan? Produk keuangan jangan ditanya. Mulai dari HSBC hingga Barclays sudah punya divisi syariah dimana target buruan mereka adalah raja-raja minyak timur tengah dengan jumlah uang yang melimpah. Tentu saja pasar besar lainnya adalah kaum muslim (kebanyakan imigran) yang ada di Inggris.

Namun apakah ini yang kemudian menjadi titik awal kebangkitan Islam? Banyak pihak yang menilai demikian. Namun bagi saya, bisnis tetaplah bisnis, tak perlu menjadi Adam Smith untuk tahu soal ini. Soal kemudian ada berkah dan manfaatnya, anggaplah itu sebagai bonus.

Tuesday, August 07, 2007

Tepuk Tangan Sepakbola

“Cuma mengumpan kok ditepu’i kayak gitu”, teman saya berkomnetar saat bersama kami menyaksikan pre season friendly Aston Villa Vs Inter Milan di Villa Park beberapa hari yang lalu. Begitulah memang, apresiasi penonton dalam menyaksikan pertandingan sungguh luar biasa. Sepanjang pertandingan gemuruh tepuk tangan dan sorak-sorai terus saja menjadi atraksi menarik tersendiri selain pertandingan itu tentunya.

Mengumpan tepat sasaran, habis nendang mengarah ke gawang—meski tak masuk hingga atraksi individual menawan, semua mendapat tepuk sorak yang membahana. Namun itu hanya berlaku sebagian besar untuk pemain tuan rumah. Lawan, tetap saja memperoleh terror yang pantas. Ibrahimovic, striker Inter yang saat itu tak tampil optimal harus rela di “booo” hampir separuh pertandingan. Aksinya yang sering jatuh tanpa sebab, membuat penonton tuan rumah menjadi gregetan—untuk tidak menyebutnya marah. Luis Figo juga bernasib serupa, akibat tindakannya mengusik keputusan wasit.

Tapi semuanya tetap dalam bingkai hiburan. Saya malah curiga pertandingan disini pakai scenario segala. Tak ada lemparan botol bekas, atau penonton yang lari mengeroyok pemain. Ini yang kemudian menjadi catatan penting dari keberhasilan industri bernama premier league yang konon merupakan liga terkaya dan berpenghasilan paling tinggi sejagat ini.

Sebagai industri, liga ini digerakkan oleh kreatifitas, termasuk dalam menjaring penonton. Karena tingkat mahasiswa internasional yang datang ke Inggris setiap tahun menunjukkan trend meningkat, maka strategi pasar klub-klub pun kini masuk kampus. Aston Villa, yang di liga termasuk klub menengah hampir selalu membuka stand penjualan tiket sebelum pertandingan regular dimulai.

Belum lagi program-program seperti stadium tours, valentine day at Villa Park, penjualan merchandise sampai kasino. Tak terbilang rupiah pemasukan klub dari kreasi-kreasi seperti ini. Itu baru klub-klub gurem atau menengah. Tentu ceritanya akan lain jika klub itu bernama Manchester United, Arsenal, Liverpool atau Chelsea.

Ada seorang mahasiswa asal Indonesia yang merupakan fans berat MU. Hampir setahun ia disini tiket yang dikoleksinya saat menonton pertandingan MU di Old Trafford sudah lebih dari 20 lembar. Ini termasuk liga regular, champion dan friendly match MU. Jika harga satu tiket pertandingan itu £35, maka duit yang dihabiskannya itu setara dengan sewa rumah 3 kamar tidur, termasuk biaya listrik, air, dan gas selama sebulan. Bonus? Ya, termasuk biaya makan selama sebulan di Inggris. Nah, jumlah orang seperti ini tentu tak sedikit. Mahasiswa asal Cina punya kegilaan luar biasa terhadap klub-klub Inggris. Mungkin liga utama Inggris ini salah satu alasan mereka memilih kuliah di sini.

Kembali ke teman saya itu, ia pun mengungkapkan sulit rasanya sepakbola Indonesia akan maju seperti yang ia rasa dan tonton kali ini. Saya menyanggahnya. Tak selalu fair membandingkan langit dan empang. Meski tak simpatik dengan PSSI yang dikelola tak ubahnya partai politik, tapi sepakbola Indonesia tuh punya bukti (sedikit dan sejenak) untuk bisa berkontribusi.

Jika ungkapan Pele yang pernah berkata bahwa “pada sepak bola, Anda bisa melihat kehidupan di dalamnya” bisa dipakai, sepakbola Indonesia rasanya memang menggambarkan kehidupan masyarakatnya. Tapi bukankah dalam kehidupan ada juga peluang untuk maju? Perhelatan piala Asia kemarin semoga menjadi anak tangga pertama. Meski banyak syarat yang harus dipenuhi sebelum kemudian berjejak ke anak tangga berikutnya. Tidak lagi pakai dana APBD salah satunya.

Wednesday, July 18, 2007

You shop we drop

Jika coba menghitung mundur 10-20 tahun ke belakang, harga-harga barang hari ini tentu sudah di luar akal sehat. DVD player, komputer, serta alat elektronik lainnya menjadi murah tak terkira, tentu saja dengan asumsi ada uang untuk membelinya. Sejak tahun 1996, menurut index harga konsumen, tingkat penurunan untuk barang-barang elektronik sebesar 56%. Ini berarti, harga televisi beberapa tahun lalu kini kurang dari setengahnya. Tanpa mengecilkan kondisi negara-negara berkembang, harga murah menjadi sebuah keniscayaan di negara-negara maju.

Economic of scale, begitu mantranya. Makin banyak barang yang diproduksi, maka makin bisa pula harga ditekan. Ini ditambah pula dengan proses otomatisasi yang meminggirkan peran manusia sebagai faktor produksi, yang upahnya tentu menjadi variable dalam penentuan harga. Kalau toh tetap memakai tenaga manusia, maka buruh murah menjadi pilihan wajib para pengusaha.

Cina kemudian menjadi sebuah rumah bagi segala yang murah, the home of cheap. Hampir tidak ada produk yang berhubungan dengan ‘hajat hidup orang banyak’ yang tidak diproduksi di cina. Mulai dari mainan, garmen, elektronik, hingga otomotif. Cina tak lagi dikenal hanya dari kaos dalam, peniti, silet serta perkakas ‘imut’ lainnya.

Murah selalu berpadanan dengan belanja. Di negara-negara maju, taraf belanja masyarakatnya memang sudah mencapai taraf kecanduan. Consumer democracy, ‘the age of cheap’, begitu kata David Booshart. Menurutnya, makin beragamnya pilihan terhadap produk membuat konsumen menjadi bebas dan merdeka untuk menentukan pilihan. Ini pun kemudian diramalkan menjadi sebab dari bergesernya kekuatan image. Dalam hal fashion misalnya, yang kini tak lagi menjadi monopoli desainer kecuali untuk kalangan artis dan jet set yang memang tak bisa hidup tanpa merek. Sampai ada ada anekdot bagi kalangan sophalic, style desainer tapi harga high street. Muncul pula kemudian istilah Fast fashion, desain baru hari ini akan Anda jumpai esok di toko-toko pinggir jalan.

Dalam sebuah program dokumenter di BBC, digambarkan betapa kebiasaan belanja masyarakat Inggris yang sudah ‘mencederai’ akal sehat. Belanja menjadi kegiatan harian serupa lunch dan meeting di kantor. Jadilah mereka belanja tanpa pernah berpikir bahwa barang yang mereka beli itu betul-betul dibutuhkan atau tidak. Rayuan ‘buy one get one free’ juga menjadi sihir bagi konsumen. Banyak teori pemasaran kemudian lahir dan menggantikan model pemasaran yang ‘jadul’. Tentu saja muaranya agar semua orang shop till drop.

Lalu, benarkah barang yang murah selalu memberi keuntungan bagi konsumen? Terlepas dari kualitas barang, rasanya kita perlu waspada dengan apa yang diperingatkan Booshart, although manufactured goods have been getting cheaper, with that trend, comes cheap morals and cheap ethics. Sisi gelapnya adalah budaya throwaway, dimana barang-barang yang tidak dipakai (meski masih berfungsi dengan baik) langsung masuk ke tong sampah.

Charity shop yang sangat bergantung dari derma orang-orang akan barang bekas namun layak pakai pun kehilangan banyak pemasukan. Tak banyak lagi yang memilih mendermakan barang-barang itu. Pikir mereka, toh barang ini saya beli dengan sangat murahnya. Jika harus di charity shop-kan lagi, jadi berapa harganya? Budaya throwaway ini juga menjadi ancaman bagi masa depan yang lebih cerah. Turunanannya tentu soal lingkungan dan kesinambungan kehidupan.

Hal lain, konsumen tidak pernah mau berpikir bahwa barang murah yang dibelinya tak begitu saja ada. Ia lahir dari pengorbanan buruh-buruh yang diupah murah, dengan kondisi kerja yang kadang mengenaskan. Kurang udara, sumpek, tekanan kerja yang tinggi, minim asuransi, serta sederet isu social lainnya yang tak ada dalam label barang. Paling yang muncul di label hanyalah “Made in China”, “Made in Indonesia”, dan negara-negara berkembang lainnya (... you name it). Buruh NIKE Indonesia mau di-PHK, it’s not my problem.

Saatnya berhenti belanja? Ah, iklan obral produk-produk Nike di JJB Clearance membuatku berhenti menulis.



foto: pushindaisies

Monday, July 09, 2007

Warming Up

“Global Warming”, istilah itu begitu popular belakangan ini. Banyak gerakan yang kemudian mencoba ‘memasarkan’ kecemasan terhadap perubahan iklim bumi yang sepertinya jauh melebihi ekspektasi umat manusia di muka bumi ini.

Banjir yang menimpa sebagian wilayah Inggris turut 'melambungkan' nama global warming. Tetangga saya weekend kemarin punya cara unik mengisi liburan. Mereka berencana mengunjungi tempat banjir di selatan kota. Wilayah itu memang ‘kena getah’ yang lumayan parah. Tinggi genangan air tak lagi sebatas mata kaki, bahkan koran lokal menyebutkan tinggi air sudah mencapai mata beneran.

Tetangga saya itu mungkin merasa wilayah banjir itu sesuatu yang unik. Untuk sebuah negara dengan sistem drainase yang baik seperti Inggris, banjir tentu menjadi sebuah kejadian ‘unik’. Apalagi wilayah banjir itu tak dikenal memiliki sejarah kebanjiran yang parah. Ia pun bercerita tentang global warming yang menjadikan cuaca tak menentu dan imbasnya banjir datang meski tak diundang.

Beberapa hari lalu, Al Gore, mantan calon presiden Amerika (yang pongah itu) juga mencoba menjadi pionir dari gerakan global ini. Konser di delapan negara pun dilaksanakannya. Tujuannya sederhana, “biar orang tahu global warming itu betul-betul ada dan mereka jadi aware akannya”, begitu komentarnya.

Lucu juga, global warming yang salah satunya disebabkan oeh konsumsi energi yang berebihan, harus dikampanyekan dengan serupa konser, yang tentu saja juga menghabiskan tak sedikit energi. Madonna, yang mengisi konser ddi London, tentu saja tak ingin berjubel di antrian pesawat komersial bersama penumpang lain. Jet pribadi dan helicopter tentu disiapkan untuk mengangkut Madonna dan segala timnya. Belum lagi tata cahaya yang digunakan saat konser di stadion Wembley (yang megah itu). Lampu-lampu yang digunakan tentu bukan seukuran lampu di kamar saya yang cuma 60 watt.

Hypocrite? Ah, tak mengapa. Toh panitianya juga telah menjamin dengan iklan ciamik bahwa mereka menggunakan energi yang ramah lingkungan dan menggunakan bahan-bahan yang recyclable. Perdebatan ini juga mirip dengan kondisi Indonesia yang event-event olahraganya disponsori perusahaan rokok.

Jauh lebih penting memang kecemasan ini diwabahkan. Asal negara-negara besar dan maju tidak saja menyalahkan negara-negara miskin seperti Indonesia. Toh mereka tak terbayang energi yang telah mereka habiskan, yang tentu saja telah mengotori lapisan bumi kita. Jika dimulai dari zaman revolusi indsutri sekalipun, jumlah ‘sampah’ mereka tentu sudah tak ketulungan.

Global warming=banjir dan cuaca yang tak menentu, begitu definisi tetangga saya.


Link: Cerita lain tentang Global Warming

Foto: www.neatorama.com/2006/05/


Tuesday, June 26, 2007

An Apology

Banyak cara menjaring dana masyarakat. Salah satu yang unik seperti yang dilakukan NSPCC (National Society for the Prevention of Cruelty to Children) ini. Lembaga derma berbasis kemasyarakatan ini aktif menggalang dana untuk pencegahan kejahatan terhadap anak.

Cara unik mereka seperti yang hari ini saya terima melalui surat. “An Apology”, begitu tertulis dengan huruf besar di amplop bagian depannya. Karena tak ada informasi lain, maka penerima pun kemudian tertarik untuk membukanya. Saya sendiri awalnya kaget, siapa pula yang minta maaf dengan cara seperti ini. Rasanya tidak ada juga kesalahan “resmi” yang pernah terjadi kepada saya hingga mengharuskan permohonan maaf yang resmi pula, dengan bersurat maksud saya.

Bunyi surat di dalamnya pun cukup menarik juga.

Dear friend,

First of all: an apology.

I know you didn’t ask me to write to you. Yet, here I am—writing to you anyway—expecting you to give up a few moments of your time. You’re probably just thinking, “oh dear, not another charity asking me for money…”

Setelah itu kemudian paparan data serta penjelasan singkat mengenai sejauh mana pencapaian program dan kampanye mereka. Termasuk sebuah formulir kesediaan untuk secara rutin menyisihkan 2 pound per bulan sebagai bagian dari kegiatan donasi. Awalnya saya pikir ini serupa spam letter aja, yang agak meragukan. Setelah mengcek situs mereka, ternyata benar adanya. Mereka pun terdaftar di pemerintah. Satu lagi, patron (pelindung) lembaga ini; Her Majesty The Queen. Tentu lembaga gadungan tak seenak itu memasang nama ratu.

Tidak juga unik sebenarnya. Mungkin kreatif aja. Unik memang sering dipadankan dengan kreatif, meski dalam beberapa konteks unik menjadi lebih dekat dengan aneh. Terlepas dari perbedaan terminologii itu, satu hal yang menjadi perhatian saya adalah upaya mereka menggalang dana tanpa menimbulkan kesan memaksa dan membuat penderma pun merasa terpanggil untuk terlibat, meski dalam tingkat yang berbeda.

Cara unik/kreatif ini sering pula dilakukan oleh lembaga-lembaga derma lainnya di Inggris. Salah satu yang palingn kreatif adalah Oxfam. Selain dengan charity shopnya, lembaga ini juga kerap menawarkan program derma sesuai dengan minat dan keinginan kita melalui Oxfam Unwrapped. Pernah membayangkan membeli toilet? Melalui program ini, Oxfam misalnya menawarkan kepada masyarakat membeli toilet seharga 30 pound. Dana yang terkumpul kemudian dipakai untuk membuat toilet di negara-negara tempat Oxfam bekerja. Menurut kawan yang pernah terlibat di Oxfam, program ini pernah dilakukan untuk membangun puluhan toilet di Aceh setelah daerah itu terkena tsunami. Ada pula penawaran voucher gift, yang menerima hadiah itu berarti telah menyumbang atau berderma sejumlah uang yang kemudian diwujudkan dengan penanaman pohon, penyedian fasilitas air bersih kepada masyarakat miskin di Afrika.

Ide kreatif, akuntabilitas, dan bertanggung jawab tentu menjadikan mereka tak terlalu sulit untuk menjalankan banyak program. Sama tak sulitnya bagi mereka untuk membagi-bagikan dana kepada lembaga sosial dan LSM di Indonesia, yang orang-orangnya masih kebanyakan bertindak sebagai pencari kerja ketimbang membantu masyarakat. Saya tak alergi terhadap LSM dan lembaga sosial. Banyak—banyak sekali bahkan—dari mereka yang tulus dan sangat pantas diberikan apresiasi positif terhadap langkah dan tindak mereka. Namun niat dan rencana baik saja tidak cukup. Tak perlu tunggu menjadi negara maju dan kaya untuk berwujud seperti itu. Perlu ide kreatif , program jelas dan tak muluk-muluk, serta tentu saja bertanggung jawab agar rencana tersebut terealiasasi. Masyarakat yang ingin berderma tentu saja tak sedikit jumlahnya. Masalahnya, jumlah yang banyak ini lebih sering jadi peluang bisnis pribadi daripada bisnis lembaga untuk masyarakat yang manfaatnya untuk masyarakat.