Saturday, February 09, 2008
Tahun Baru (lagi)
The year of rat, tahun tikus yang penuh keberuntungan, begitu kata tuan rumah. Perjamuan luar biasa, dengan sepuluh macam hidangan. Tak semua tentu yang bisa saya santap, sekedar salmon, udang goreng dan oseng sayur. Selebihnya, meski menggoda selera, tetap tak bisa.
Setiap sajian punya makna tersendiri. Ikan misalnya, menggambarkan kebersamaan dan rezeki yang berlimpah-limpah. Yang lain? Maaf, tak semua berhasil masuk memori saya. Yang pasti, semua menuju satu muara, keberlimpahan rezeki dan kemakmuran. Apa ini yang kemudian membuat Cina, menjadi sebuah negara yang luar biasa saat ini?
Kalau ada yang kurang dari acara semalam, hanyalah iringan musik yang menyertai perjamuan. Menjadi aneh rasanya bertahun baru Cina dengan iringan Rihanna dengan Umbrellanya dan juga Take That. Atau ini yang namanya globalisasi?
Monday, January 21, 2008
Penonton Setia
Kaget juga saya ketika cek di BBC 3 hari ini ada highlight piala Afrika 2008. Luar biasa betul piala Afrika yang dilaksanakan di Ghana ini, rupanya. Belum lama rasanya piala Asia berlangsung, tapi berita tentang hajatan besar bangsa Asia ini tak semeriah warna-warni piala Afrika. Yang teringat jelas terliput oleh media Inggris saat itu hanya Irak yang berhasil keluar sebagai juara di tengah morat-marit kehidupan bangsanya. Selebihnya, tak ada yang luar biasa dalam hal liputan dan pewartaan.
Piala Afrika memang berbeda. Selain karena banyak pemain dari benua ini yang merumput di Inggris, kualitas mereka pun tak setara dengan benua coklat, Asia, yang masih dianggap dunia ketiga dalam sepakbola. Meski ini terus diperdebatkan dan coba digugat, termasuk dengan menyentuh lapisan ideologis dari perspektif globalisasi, tetap saja, kita harus akui ketimpangan kelas ini. Akhirnya, tak hanya highlight, siaran langsung hampir seluruh pertandingan piala asia pun disaksikan gratis di Inggris.
Memang ada banyak muka Asia di English Premier League (EPL), dan mereka tak hanya di klub-klub gurem lagi kecil. Tapi kelas mereka hanya kelas pelengkap, kalau tak ingin menyebutnya sebagai pemain cadangan sepanjang musim. Kalau toh ada yang muncul di permukaan, jumlah mereka tak perlu memakai kalkulator untuk menghitungnya. Beda jauh dengan pemain Afrika, yang hampir menjadi pemain kunci dan sangat berpengaruh di klub mereka masing-masing. Drogba, Yakubu, dan beberapa pemain Arsenal meninggalkan sedih bagi manajer mereka. Saking stressnya, banyak manajer klub Inggris yang meminta piala Afrika dipindahkan pelaksanaannya saat summer, saat dimana klub-klub Inggris libur kompetisi.
Tak perlu paham teori konspirasi, kita tentu bisa lihat betapa curangnya juga klub-klub Inggris ini memperlakukan bangsa Asia. Pemain-pemain itu hanya dikontrak untuk meningkatkan pangsa pasar klub Inggris di kawasan dengan pertumbuhan ekonomi paling mencengangkan di dunia ini. Nakata, pemain Jepang yang berpindah dari satu klub Italia ke klub lainnya itu adalah fenomena pertama dan terus jadi bahan perbincangan. Ini kemudian diikuti dengan pemain-pemain lain, yang kaos replikanya diharapkan menutupi bahkan melebihi biaya kontrak, dan kalau bisa membuka pasar bagi cenderamata klub lainnya di negara asalnya.
Ini pula yang kemudian meningkatkan jumlah suporter ”fanatik” dari klub. Suporter fanatik MU contohnya yang kebanyakan berada di Asia, dengan tingkat pembelian cinderamata yang paling tinggi. Mereka betul-betul fanatik, hingga misalnya memborong seluruh aksesoris berbau MU. Orang Asia yang berada di Inggris pun tak lepas dari ’serangan’ klub-klub sepakbola, hingga kemudian banyak iklan berbahasa Cina yang menjajakan paket tour menonton langsung ke stadium yang umumnya ditujukan bagi mahasiswa Cina di Inggris. Tak jarang mereka juga ikut pertandingan klub favoritnya, dimana pun mereka bertanding. Seperti orang Manchester saja mereka kelihatannya, meski minus teriakan dan nyanyian sepanjang pertandingan.
Kefanatikan mereka sebenarnya telah diprotes oleh seporter lokal, yang merasa makin terpinggirkan. Sir Alex ferguson boleh protes bahwa stadion sekarang telah kehilangan roh oleh diamnya suporter dan minimnya teror mental terhadap pemain lawan. Namun ia mungkin lupa, bahwa suporter sepakabola Inggris terbentuk dari kelas pekerja yang setia terhadap permainan menawan dan penuh kerja keras. Tempat mereka, yang biasanya berada di bagian atas stadium, telah tersisih tak saja dengan invasi penonton musiman seperti saya, tapi juga dengan harga tiket yang makin mencederai akal sehat.
Tetangga saya, seorang suporter fanatik Arsenal bahkan telah menganggap gila orang-orang yang membayar tiket seharga 35 – 40 pound untuk sebuah pertandingan klub papan atas EPL. Harga itu bisa melambung lebih tinggi jika klasifikasinya sudah masuk liga champion dan uefa. Ia pun kemudian lebih memilih ke pub, menonton bareng suporter lain dengan harga yang lebih manusiawi, cukup dengan membeli beberapa gelas bir.
EPL, laga paling populer sejagat ini memang tak tertandingi oleh piala Afrika, meski banyak bintang dan bakat disana. Tapi mereka, paling tidak telah berhasil mencuri perhatian. Asia, masih harus sabar untuk menjadi penonton. Atau kelas kita memang cuma segitu?
Saturday, January 12, 2008
Tahun Baru
Semoga kita bisa berhijrah ke arah yang lebih baik, dan juga lebih peduli.
Personal New year resolution?
Wah, banyak hal yang harus diperbaiki dalam hal kehidupan beragama ini.
Semoga terus dikuatkan dan dimudahkan. Tapi mau lebih baik kok pengennya mudah aja yah?
Tuesday, January 01, 2008
Tuesday, December 25, 2007
Ini soal Ide, Bung
Ini hanya sebuah contoh tentang bagaimana facebook, telah menjadikan 2007 sebagai tahunnya. Tak hanya sekedar social network belaka, tapi facebook telah menjadi sebuah instrumen monumental tentang kekuatan ide dan kesanggupannya memberi materi yang luar biasa banyaknya. Tak percaya? Tanyalah Mark Zuckerberg, CEO Facebook, yang kemudian menjadi CEO termuda dengan kapitalisasi lebih dari milyaran US dollar. Ditaksir Yahoo, Google dan Viacom, tak membuatnya goyah. Facebook kemudian menjadi saingan tersendiri bagi Google, di jagat maya dan jagat modal.
Lalu apa kaitan ini semua? Ide, teknologi, dan kerja keras, tentunya, telah membuat beberapa orang (tentu tak banyak) menjadi luar biasa ketimbang yang lain. Dalam jagat bisnis, kemampuan seperti ini yang kemudian dikatakan lebih berharga ketimbang pabrik berhektar-hektar dan mesin bergulung-gulung. Orang-orang dengan talent dan skill yang luar biasa pun kemudian diperebutkan. Talent Management, meski bukan sesuatu yang baru, terus dikampanyekan dan dipraktikkan oleh perusahaan-perusahaan besar. Tujuannya tak lain untuk meningkatkan value dari perusahaan. Dalam laporan keuangan persuhaan, mereka termasuk dalam kelompok intagible assets. Maka tak heran, perusahaan-perusahaan farmasi sekarang ini lebih banyak memiliki asset yang ber'hantu' ketimbang pabrik. Mereka lebih memilih meng-outsource kan bagian produksi dan menjual licence kepada perusahaan lain.
Soal talent management sendiri, ide ini sebenarnya telah lama dikenal dalam dunia olahraga modern. Contoh sederhananya adalah LA Galaxy, klub sepakbola dengan prestasi biasa, tak dikenal di luar Amerika, menjadi luar biasa terkenal dan dikenal dengan masuknya Beckham. Jangan tanya soal penjualan merchandise, dan tiket pertandingan. Semuanya menunjukkan grafik yang meningkat. Membayar gaji miliaran rupiah per minggu buat bintang-bintang itu tetap saja tak berarti jika membandingkannya dengan apa yang klub dapatkan.
Kembali ke soal ide tadi, tahun depan pun kemudian diramalkan penuh dengan ide dan kreasi yang baru, dan Facebook pun kemudian menjadi sebuah pengalaman "tahun lalu". Website dengan beragam fitur dan penawaran pun kemudian ramai menjajakan diri, berharap keberuntungan serupa Ebay, Amazon, Facebook, Bizrate, dan lain-lain. Maka hadirlah etsy (www.etsy.com) yang meminjam konsep Amazon.com untuk barang kerajinan tangan, twitter yang seperti PDA yang punya kemampuan mem-push pesan, dan moshimonsters.com, facebook versi anak-anak dengan beragam game dan program edukasi.
Sekali lagi, kuncinya adalah ide dan kreasi yang biasa tapi terkemas luar biasa, begitu selalu yang didengungkan. Itu pula yang akan kita dapat saat membali-balik halaman autobiografi dari person-person ini. Persoalannya, mengapa yang namanya kreatif, menarik, selalu ditentukan dari sono? Oh yah, saya lupa. "Kreatif" ini juga kan bukan sesuatu yang gratis?
Thursday, November 22, 2007
Breaking News
Menyaksikan kesebelasan ini bertanding, yang menarik bagi saya malah komentar dari komentator dan running text di tipi tentang furstasi pendukung Inggris. "No passion, no soul, no determination", kata Alan Shearer sang komentator. "Devastating", kata Ian Wright, rekan tukang koment lainnya. Gary Lineker, berkelakar bahwa summer depan ia bisa berlibur dengan tenang sebab tak ada tim Inggris di piala eropa.
Kekalahan ini menjadi sebuah "Breaking News" yang mencuri perhatian pemirsa dari fokus kehilangan data di salah satu kementrian pemerintah Inggris. Tak terbayang bagaimana koran-koran Inggris esok hari mencaci pelatih dan pemain mereka. Apalagi pers Inggris terkenal dengan kritiknya yang tajam, dan panjang, membuat orang yang membacanya pun tertular amarah saja rasanya. Setidaknya mereka (harus) belajar. Bintang besar dan kompetisi yang luar biasa, tak memberi garansi bagi tempat terhormat di daratan eropa.
Bagaimana dengan PSSI? Ah, bukankah yang satu ini memang tak punya niat untuk belajar? Sudah gitu, keras kepala pula. Apa kata dunia???
Thursday, November 15, 2007
Geography
Analisis dari riset ini kemudian menyebutkan bahwa salah satu alasan mengapa mereka buruk dalam ber-geography adalah tingginya tingkat kunjungan anak-anak ke pusat pertokoan dan game centre. Dua tempat ini adalah tempat favorit mereka. Museum dan public library berada di deretan bawah. Meski masuk dua tempat itu gratis, survey ini menemukan bahwa keduanya tak semenarik mall dan game centre, tempat mereka berbuai mimpi.
Saya lalu membayangkan Makassar, dan Indonesia pada umumnya tempat dimana mall bisa hadir sesuka hati. Ia hadir di dekat kampus, sekolah atau bisa tepat di dekat pasar tradisional. Tak peduli pasar tradisional itu kemudian mati tak terurus, kemacetan lalu lintas dan sakit sosial yang ditimbulkannya. Saya tak anti mall. Sungguh, saya juga menyukainya. Menyukai etalasenya yang tak henti menjajakan mimpi. Baiklah, saya juga sering ngopi dan beli buku disana. Tapi tak jadi aktifitas rutin, sesekedarnya saja.
Ponakan saya yang masih sekolah menengah sudah tak terpisahkan dengan mall. Janjian ama teman di mall. Beli baju tak mau lagi kalo bukan di mall. Jangan tanya soal makan, segala franchise dan warung yang ada semua sudah dicoba. Tak ada lagi tempat untuk sekedar berniat ke pasar batangase--di dekat rumah--yang becek itu. Meski beberapa kali saya katakan padanya, pasar itu adalah surga makanan enak. Semuanya serba segar dan mengenyahkan. Soal hygiene atau tidak, toh terbukti saya hingga kini baik-baik saja. Apa jawabnya? Gaul dikit dong, paman..
Saya belum sempat konfirmasi kemampuan geographynya. Satu sisi saya juga mengerti gejolak muda dan segala tetek bengeknya. Mengekang itu tak meluruskan, malah bisa jadi makin membuatnya bengkok tak berbentuk. Tapi tetap saja ada rasa khawatir (ini khas orang lebih tua yang sok tahu). Semoga saja berbanding lurus dengan kegenitannya ber-gaul ria. Atau jangan-jangan dia malah lebih tahu bahwa air terjun tertinggi itu ada di Venezuela?
Ah, makin sok tahu saja saya rasanya..
Friday, October 12, 2007
Eid Mubarak
Nantilah, setelah lebaran usai kita berkumpul agar esok mungkin bisa kita cari waktu sembahyang yang sama dan tak membingungkan.
Selamat Idul Fitri 1428 H.
Maaf lahir bathin dan segala apa yang tidak menyenangkan.
Thursday, October 11, 2007
Kita berteman
Entah karena kuliah business ethics yang tidak menarik baginya atau sang dosen yang memberi presentasi seadanya, ia pun asyik membuka-buka halaman account facebook melalui handphonenya. Kawan ini duduk tepat di sebelah saya. Setengah berbisik, kukakatakan padanya untuk tidak menghabiskan waktu dengan facebook. Lagi, ia kembali nyengir. Facebook, benci tapi rindu.
Begitulah, social network seperti facebook, friendster yang spesialis benua
Dengan network-network ini, saya bisa memiliki teman yang banyak. Teman yang bisa lebih saya kenali ketimbang teman beneran yang bersama kami banyak menghabiskan waktu.
Friendship? Wah, paradigma berteman dan berkawan kini sudah berubah, sobat. Teman dalam kenangan dan kenyataan kini beradu dalam ruang maya yang makin tak terbatas. Tapi apakah ini kemudian bebas dari kritik? Di koran Financial Times edisi weekend kemarin dalam rubrik konsultasi bisnis ada seorang karyawan yang ‘curhat’ soal dilemma yang dihadapinya. Bos di kantornya mengirimkan ‘aplikasi’ permohonan untuk menjadi kawan di facebooknya. Ia ragu luar biasa untuk mengklik ‘confirm’ sebagaimana presedur standard berteman ala facebook. Kebayang jika sang bos ternyata tahu ia suka keluar malam menikmati pengalaman dari satu pub ke pub yang lain. Tak tahan juga ia jika sang bos melihat foto usilnya ‘mengerjai’ inventaris kantor. Dalam rubrik ini meminta saran, apakah ia menerima atau menolak permintaan ‘berteman’ dari sang bos. Bagaimana pula dengan konsekuensi jika ia kemudian memilih untuk menolak?
Seorang lainnya menulis betapa facebook telah melampaui apa yang ia harapkan. Tak habis pikir ia harus merespon tawaran poke, tattoo, dan bermacam aplikasi dari facebook yang dikirimkan ‘teman-teman’ mayanya. Ia mengeluh betapa over aggressive nya proses berteman di social network. Saya juga sebenarnya mengalami hal yang sama. Poke, tattoo, aquarium, dan aplikasi-aplikasi lainnya dari facebook, membuat saya jadi tak mengerti tentang facebook. Dasar gaptek dan tidak punya banyak waktu mengamati dan mendalami, request-request itu menumpuk tanpa pernah saya jamah. Selain tak mengerti, sekali lagi, niat saya emang cuma menambah account di social network yang lagi trend. Soal teman baru yang sedikit beda dengan account lain, itu bonus. Popularitas saya sebagai orang yang kenal dan dikenal banyak orang pasti akan terdongkrak. Oh yah, popularitas, itu mantranya.
Tengok betapa kandidat calon presiden di Amerika
Saya percaya bahwa social network ini punya nilai positif juga. Saya akhirnya bisa bertemu (paling tidak di dunia maya) dengan seorang kawan lama yang kini ada di
Desakan untuk junta militer di
Maukah Anda jadi teman saya?
Saturday, September 29, 2007
Tak sekedar Lapar
Di time edisi online ada link menarik. Photos of the week, berisi foto-foto tentang ramdhan.
Menahan lapar dan haus serta tidak berhubungan dengan pasangan, begitu yang biasa kita memaknai puasa. Sesederhana itukah?
Kata seorang imam, ketiga aktifitas halal yang ditahan itu hanyalah katalisator dalam jejak langkah kita mengisi ramadhan.
Soal korupsi misalnya. Data tranparansi internasional menyebutkan bahwa deretan pertama negara-negara terkorup di dunia justru adalah negara dengan tingkat religiusitas yang tinggi.
Salahkah agama? Tentu tak elok jika agama kemudian menjadi sasaran tembak dari semua ini. Yang keliru mungkin adalah konsep keberagamaan dan bagaimana agama dilihat dalam perspektif kekinian. Dalam beberapa hal, ada tentu bagian yang tidak bisa digugat dan sebab itulah keimanan berarti percaya. Namun tak berarti tak ada ruang untuk, katakanlah ‘meninjau kembali’ konsep beragama.
Dalam kitab suci, tak sedikit ayat yang mengingatkan untuk berbuat adil, peduli terhadap sesama, dan bersikap jujur. Yang jadi soal, adalah peletakan kesalihan dalam konteks ritual dan dalam tampilan yang cenderung jauh dari esensi ibadah dan saleh itu sendiri. Tak heran jika kemudian terjadi reduksi besar-besaran akan ibadah. Kesalihan kemudian menjadi domain individu dan tidak pernah ditekankan untuk muncul dan berkembangnya kesalihan social. Lebih utama rasanya memperbincangkan pahala dan timpalan api neraka ketimbang berkutat dengan korupsi biaya KTP dan sogok-menyogok polisi dan masyarakat saat terkena tilang. Tak pernah pula kita dengar tokoh agama bereaksi terhadap penggusuran, ketimpangan social atau korupsi dalam masyarakat.
Kemegahan juga kian mewarnai kehidupan beragama. Tak habis pikir rasanya sebuah kabupaten seperti Maros, tempat saya menghabiskan banyak umur saya, lebih membangun sebuah mesjid megah berbilang milyar namun masyarakatnya masih banyak yang kesulitan makan. Di Kalimantan timur malah kabarnya mesjid dibangun dengan biaya yang bisa dipakai untuk membuat banyak sekolah dan madrasah. Ini mungkin wujud kecintaan terhadap agama. Tapi segitu parah dan kelirukah cinta itu dijewantahkan?
Menjelang ramadhan, fokus utama justru pada penutupan tempat-tempat hiburan. Rasionalisasinya adalah keinginan untuk menghormati ramadhan. Tak jarang penutupan paksa bahkan penghancuran satu tempat menjadi aksi reaksioner terhadap ajakan dialog yang sebenarnya bisa lebih dikedepankan.
Lalu, akankah individu yang salih mendapatkan berkah ramadhan? Bagi saya, kesalihan dan keimanan haruslah termanifestasi dalam ruang kehidupan yang lebih nyata. Ibadah, kesalihan, haruslah disertai pengorbanan. Jika tidak, yang lahir hanyalah hamba salih yang egois. Pengorbanan untuk sesama, itu yang masih langka. Saya pun rasanya masih demikian. Celakalah saya…
Monday, September 17, 2007
Berdamai dengan Interupsi
Apa arti angka ini? Taruh kata kita kerja 8 jam sehari, sebagaimana dicatat dalam kontrak kerja, maka hasil riset Nielsen itu menyebutkan bahwa lebih dari 4 hari dalam seminggu waktu kita habis untuk nonton tipi, dgn asumsi tdk mengerjakan pekerjaan lainnya. Like must always be compared with like, tapi ini sekedar analogy sederhana betapa banyaknya waktu yang diminta oleh kotak ajaib itu. Angka ini tentu menghkawatirkan sebagian kalangan. Mulai dari orang tua, pengamat dan praktisi pendidikan, ahli jiwa, sampai pada aktivis lingkungan.
Namun yang bahagia tentu tak sedikit jumlahnya. Pengiklan salah satunya. Tak ada hari tanpa kreasi mereka untuk sekedar mencuri perhatian dalam keseharian kita. Entah itu di kereta, billboard di jalan, bioskop, mall, hingga rumah ibadah. Praktis tidak ada tempat yang sunyi dari iklan atau upaya-upaya sejenisnya.
Beruntung saya bisa menikmati siaran BBC. Mengapa? Tak ada iklan sebagai jeda dalam setiap programnya. Siaran langsung sepakbola tim Inggris pun bisa ternikmati dengan nyaman., sebagai contohnya. Atau menikmati serial Heroes yang tak diinterupsi oleh iklan parfum Armani terbaru atau Volvo SUV keren, yang tentu saja tak cuocok buat kantong saya. Lalu, Darimana mereka dapat dana untuk segala operasionalnya? Mirip TVRI jaman dulu, selain dapat suntikan pemerintah, mereka juga narik dana dari masyarakat melalui TV licence, semacam iuran/pajak televisi.
Tapi bisakah kita lari dari pelbagai interupsi ini? Maaf, tak ada ruang yang zero interruption. Friedman menyebutnya sebagai the age of interruption, zaman gila yang penuh dengan beragam interupsi. Praktis tak ada hari tanpa email spam bagi pengguna email gratisan dari yahoo atau gmail. Menyebutkan Anda pemenang lotre berhadiah jutaan pound, meski tak sekali pun memeasang taruhan. atau email palsu yang meminta pembaca untuk berbaik hati meminjamkan rekening bagi harta rampasan perang dengan jumlah jutaan dollar dengan nama pangeran dari negara antah beranta sebagai pengirim.
Jangan pula berharap lepas dari sms iklan atau telepon berdering menawarkan ragam produk dan segala bujuk rayunya. Di depan flat saya, meski telah terpasang pengumuman bahwa pedagang keliling dilarang masuk, tetap saja ada yang berhasil curi-curi perhatian untuk sekedar menunjukkan brosur mereka. Atau dengan modus yang lebih elegan, menitipkan brosur kepada loper atau pak pos. Jadilah bank statement yang saya terima setiap bulannya selalu disertai dengan brosur pakaian renang atau tujuan wisata baru dengan tarif miring.
Sebenarnya begitulah mekanisme yang ada. Tak perlu rumit memahami teori pemasaran dan perilaku konsumen untuk tahu bahwa iklan dan segala macam interupsi itu juga memberi andil bagi kita, para konsumen. Dengan interupsi-interupsi itulah kita bisa mengenal produk dan apa saja yang bisa memuaskan hasrat dan kebutuhan kita. Hasrat dan kebutuhan? Ya, tak usah malu untuk menyadari bahwa kebanyakan belanja kita lebih untuk memuaskan hasrat ketimbang kebutuhan. Tak heran jika saya sering membeli barang yang tak jelas benar manfaatnya buat saya, toh tetap juga terbeli karena hasrat yang menggunung. Sementara kebutuhan utama sering terpinggirkan dengan beragam dalih. Sebuah interupsi yang menyenangkan, begitu kilah yang jadi umum.
Sekali lagi, berharap tak ada interupsi?
Saturday, September 15, 2007
Selamat Puasa
Semoga puasa hari ini memberi banyak berkah untuk kita semua dan tentu, makin meningkatkan kesalehan sosial kita.
Selamat berpuasa.
Saturday, September 01, 2007
Mobil sport
Jawaban saya untuk semua pertanyaan itu bisa ditebak, “tidak tahu”. Atas nama variasi saya sih sering ganti dengan “lupa” atau “tadi struk belanjanya jatuh”. Saya memang bukan pembelanja yang baik. Jarang sekali saya bisa menghapal—baik di dalam maupun di luar kepala—soal harga barang yang sudah (dan akan) dibeli. Ia memang sangat detail untuk urusan satu ini. selain mencatat setiap pengeluaran, ia pun membuat daftar prioritas belanja. Satu sisi ini tentu tak sejalan dengan jiwa merdeka saya yang sejak lama tak terkekang. Namun sisi lainnya kok berkilah bahwa tak ada yang terkekang. Justru saya yang boros ini jadi terbantu untuk lebih well planned. “Biar nanti bisa beli mobil sport”, hiburnya.
Mobil sport? Ha…ha…ha... Menabung seabad pun rasanya tak kesampaian. Ini memang lelucon khas dengan banyak kawan saat mengajukan beberapa lamaran kerja setelah kuliah dulu. Carilah kerja yang gajinya bisa buat beli mobil sport, begitu motto hidup pencari kerja yang tak tahu diri. Kalo PNS, mau nabung berapa keturunan? (tak ada opsi untuk korupsi, ya..).
Bukan mobil sport itu benar yang membuat saya jadi ingin hapal dan ingat harga barang-barang belanjaan saya. Cuma penasaran aja, bawang merah tadi belinya berapa ya, kok bisa lupa.
Friday, August 24, 2007
Buku Untuk Semua
Saat jeda di library siang tadi, saya melintasi rak buku yang berlabel “free book”. Heran juga, kok ada buku gratis hari gini? Tertarik, saya pun mencoba mengambil satu buku. Setelah membaca brosur dan keterangan di sampul buku, ternyata buku-buku yang ada di rak itu memang gratis.Dari om Wiki saya kemudian jadi tahu bahwa program free book ini diluncurkan oleh kelompok bookcrossing sejak tahun 2001 yang anggotanya disebut bookcrossers. Niatnya untuk “membebas”kan buku dan menjadikan kegiatan membaca menjadi sebuah kegiatan yang menyenangkan. Modelnya sederhana. Tinggalkan buku-buku anda di ruang publik dan biarkan orang kemudian mengambilnya dan membacanya. Pembaca kemudian bisa menyerahkan lagi buku itu di collect point atau sekedar menaruhnya di kafe, toko, atau public space lainnya dan nanti akan diambil dan dibaca lagi oleh orang lain. Ini seperti slogan “3R” mereka, Read a good book, Register to bookcrossing, and just Release it into the wild so others can read it.
Buku yang saya ambil contohnya. Ternyata telah dibaca oleh banyak orang. Komentar dan rating akan buku ini juga ada. Termasuk data dimana mereka mengambilnya dan kapan.
Friday, August 17, 2007
Merdeka, Bung
“Kita belum merdeka, bung”, begitu kata teman saya via emailnya. Panjang ia bercerita tentang kondisi buruh yang selama ini dibelanya. Menurutnya, tak ada kata merdeka dalam kosa kata mereka. Gaji yang dipotong seperti tak ada henti, lembur yang tak terukur, harga minyak tanah yang tak terjamah, semuanya membuat mereka merasa tak merdeka.
Bukan tak ada saya pikir, cuma belum merdeka aja kali. Tapi apa artilah perdebatan semantik ini, toh pada kenyataannya masih banyak nasib buruh, dan bukan hanya buruh, yang belum merdeka dari kebutuhan dasar kemanusiaan seperti makan dan tempat tinggal. Amrtya Sen, peraih hadiah nobel ekonomi mengemukakan bahwa masalah kemiskinan bukanlah terletak pada tidak adanya yg akan dimakan, juga bukan masalah pendanaan atau pengadaan makanan. Namun lebih banyak karena masalah distribusi atau tidak adanya pemerataan.
Merdeka dari ketakutan, itu juga yang masih menjadi barang mahal bagi bangsa
Kemarin presiden sudah baca pidato kenegaraan di DPR, termasuk rencana-rencana pemerintah setahun ke depan. Terdengar banyak duit yang dibicarakan. Belum lagi highlight dari pidatonya yang ber-trend naik. Anggaran pendidikan naik, anggaran kesehatan naik, gaji PNS dan TNI naik, anggaran ini-itu naik. Melelahkan juga baca pidato yang panjang itu. Tapi intinya semua naik, bagus bukan? Tapi waspadalah, orang statistik punya anekdot sendiri akan ilmu mereka.
Merdeka, Bung!!
Monday, August 13, 2007
Pasar Halal
Tiba-tiba hampir seluruh restoran dan warung makan yang ada di sepanjang Segmen yang paling menarik dan menjadi perhatian kaum muslim kebanyakan adalah sector makanan, keuangan dan pasar konsumen yang memang banyak bersinggungan hokum-hukum syariat. Laporan economist menyebutkan bahwa pasar produk halal tumbuh 16% per tahun atau sekitar $580 milyar setiap tahunnya. Jumlah yang menggiurkan, bukan?
Namun apakah persepsi soal halal ini kemudian sudah selesai? Ternyata tidak. Beberapa penjual daging dan orang Inggris kebanyakan cuma tahu bahwa halal itu berarti daging selain daging babi. Maka daging sapi atau domba meski tidak disembelih dengan proses halal akan menjadi halal dengan asumsi seperti ini.
Bahkan awal-awal kedatangan saya banyak diisi dengan berbagi cerita soal halal dan tidak suatu makanan. Saya sering ditanya macam-macam, mulai dari ikan yang halal dan tidak halal, atau adakah babi halal (halal pork) dalam Islam? Meski secara pribadi saya tak suka bicara soal halal-haram ini sebab banyak dai dan ustad yang akhirnya lebih sibuk dan siap ribut soal ini ketimbang mengingatkan masyarakat bahwa menyogok polisi atau menaikkan harga barang secara tak wajar adalah dosa juga adanya. Untungnya saya bukan dai terlebih ustad. Tapi yah namanya beda budaya dan kebiasaan, proses cerita ini menjadi unik dan enak saja jalannya.
Kembali ke bisnis produk halal, Mc Donald di London juga telah melakukan uji coba penjualan makanan halal. Di Southall, bagian utara
t ini ternyata tinggi. Terbukti, waktu itu paket ini sampai membuat antrian panjang dari pengunjung.
Produk lainnya tidak kalah. Ada Barbie versi islami, yang disini namanya diganti Fulla. Tak seperti Barbie yang blonde, berbusung dada, serta gonta-ganti pacar, si Fulla adalah tokoh idola banyak calon mertua. Rajin belajar, membaca, shalat dan masak. Sempurna, bukan? Produk keuangan jangan ditanya. Mulai dari HSBC hingga Barclays sudah punya divisi syariah dimana target buruan mereka adalah raja-raja minyak timur tengah dengan jumlah uang yang melimpah. Tentu saja pasar besar lainnya adalah kaum muslim (kebanyakan imigran) yang ada di Inggris.
Namun apakah ini yang kemudian menjadi titik awal kebangkitan Islam? Banyak pihak yang menilai demikian. Namun bagi saya, bisnis tetaplah bisnis, tak perlu menjadi Adam Smith untuk tahu soal ini. Soal kemudian ada berkah dan manfaatnya, anggaplah itu sebagai bonus.
Tuesday, August 07, 2007
Tepuk Tangan Sepakbola
Mengumpan tepat sasaran, habis nendang mengarah ke gawang—meski tak masuk hingga atraksi individual menawan, semua mendapat tepuk sorak yang membahana. Namun itu hanya berlaku sebagian besar untuk pemain tuan rumah. Lawan, tetap saja memperoleh terror yang pantas. Ibrahimovic, striker Inter yang saat itu tak tampil optimal harus rela di “booo” hampir separuh pertandingan. Aksinya yang sering jatuh tanpa sebab, membuat penonton tuan rumah menjadi gregetan—untuk tidak menyebutnya marah. Luis Figo juga bernasib serupa, akibat tindakannya mengusik keputusan wasit.
Tapi semuanya tetap dalam bingkai hiburan. Saya malah curiga pertandingan disini pakai scenario segala. Tak ada lemparan botol bekas, atau penonton yang lari mengeroyok pemain. Ini yang kemudian menjadi catatan penting dari keberhasilan industri bernama premier league yang konon merupakan liga terkaya dan berpenghasilan paling tinggi sejagat ini.
Sebagai industri, liga ini digerakkan oleh kreatifitas, termasuk dalam menjaring penonton. Karena tingkat mahasiswa internasional yang datang ke Inggris setiap tahun menunjukkan trend meningkat, maka strategi pasar klub-klub pun kini masuk kampus. Aston Villa, yang di liga termasuk klub menengah hampir selalu membuka stand penjualan tiket sebelum pertandingan regular dimulai.
Belum lagi program-program seperti stadium tours, valentine day at
Kembali ke teman saya itu, ia pun mengungkapkan sulit rasanya sepakbola
Jika ungkapan Pele yang pernah berkata bahwa “pada sepak bola, Anda bisa melihat kehidupan di dalamnya” bisa dipakai, sepakbola
Wednesday, July 18, 2007
You shop we drop

Economic of scale, begitu mantranya. Makin banyak barang yang diproduksi, maka makin bisa pula harga ditekan. Ini ditambah pula dengan proses otomatisasi yang meminggirkan peran manusia sebagai faktor produksi, yang upahnya tentu menjadi variable dalam penentuan harga. Kalau toh tetap memakai tenaga manusia, maka buruh murah menjadi pilihan wajib para pengusaha.
Cina kemudian menjadi sebuah rumah bagi segala yang murah, the home of cheap. Hampir tidak ada produk yang berhubungan dengan ‘hajat hidup orang banyak’ yang tidak diproduksi di cina. Mulai dari mainan, garmen, elektronik, hingga otomotif. Cina tak lagi dikenal hanya dari kaos dalam, peniti, silet serta perkakas ‘imut’ lainnya.
Murah selalu berpadanan dengan belanja. Di negara-negara maju, taraf belanja masyarakatnya memang sudah mencapai taraf kecanduan. Consumer democracy, ‘the age of cheap’, begitu kata David Booshart. Menurutnya, makin beragamnya pilihan terhadap produk membuat konsumen menjadi bebas dan merdeka untuk menentukan pilihan. Ini pun kemudian diramalkan menjadi sebab dari bergesernya kekuatan image. Dalam hal fashion misalnya, yang kini tak lagi menjadi monopoli desainer kecuali untuk kalangan artis dan jet set yang memang tak bisa hidup tanpa merek. Sampai ada ada anekdot bagi kalangan sophalic, style desainer tapi harga high street. Muncul pula kemudian istilah Fast fashion, desain baru hari ini akan Anda jumpai esok di toko-toko pinggir jalan.
Dalam sebuah program dokumenter di BBC, digambarkan betapa kebiasaan belanja masyarakat Inggris yang sudah ‘mencederai’ akal sehat. Belanja menjadi kegiatan harian serupa lunch dan meeting di kantor. Jadilah mereka belanja tanpa pernah berpikir bahwa barang yang mereka beli itu betul-betul dibutuhkan atau tidak. Rayuan ‘buy one get one free’ juga menjadi sihir bagi konsumen. Banyak teori pemasaran kemudian lahir dan menggantikan model pemasaran yang ‘jadul’. Tentu saja muaranya agar semua orang shop till drop.
Lalu, benarkah barang yang murah selalu memberi keuntungan bagi konsumen? Terlepas dari kualitas barang, rasanya kita perlu waspada dengan apa yang diperingatkan Booshart, although manufactured goods have been getting cheaper, with that trend, comes cheap morals and cheap ethics. Sisi gelapnya adalah budaya throwaway, dimana barang-barang yang tidak dipakai (meski masih berfungsi dengan baik) langsung masuk ke tong sampah.
Charity shop yang sangat bergantung dari derma orang-orang akan barang bekas namun layak pakai pun kehilangan banyak pemasukan. Tak banyak lagi yang memilih mendermakan barang-barang itu. Pikir mereka, toh barang ini saya beli dengan sangat murahnya. Jika harus di charity shop-kan lagi, jadi berapa harganya? Budaya throwaway ini juga menjadi ancaman bagi masa depan yang lebih cerah. Turunanannya tentu soal lingkungan dan kesinambungan kehidupan.
Hal lain, konsumen tidak pernah mau berpikir bahwa barang murah yang dibelinya tak begitu saja ada. Ia lahir dari pengorbanan buruh-buruh yang diupah murah, dengan kondisi kerja yang kadang mengenaskan. Kurang udara, sumpek, tekanan kerja yang tinggi, minim asuransi, serta sederet isu social lainnya yang tak ada dalam label barang. Paling yang muncul di label hanyalah “Made in
Saatnya berhenti belanja? Ah, iklan obral produk-produk Nike di JJB Clearance membuatku berhenti menulis.
foto: pushindaisies
Monday, July 09, 2007
Warming Up
“Global Warming”, istilah itu begitu popular belakangan ini. Banyak gerakan yang kemudian mencoba ‘memasarkan’ kecemasan terhadap perubahan iklim bumi yang sepertinya jauh melebihi ekspektasi umat manusia di muka bumi ini. Banjir yang menimpa sebagian wilayah Inggris turut 'melambungkan' nama global warming. Tetangga saya weekend kemarin punya cara unik mengisi liburan. Mereka berencana mengunjungi tempat banjir di selatan
Tetangga saya itu mungkin merasa wilayah banjir itu sesuatu yang unik. Untuk sebuah negara dengan sistem drainase yang baik seperti Inggris, banjir tentu menjadi sebuah kejadian ‘unik’. Apalagi wilayah banjir itu tak dikenal memiliki sejarah kebanjiran yang parah. Ia pun bercerita tentang global warming yang menjadikan cuaca tak menentu dan imbasnya banjir datang meski tak diundang.
Beberapa hari lalu, Al Gore, mantan calon presiden Amerika (yang pongah itu) juga mencoba menjadi pionir dari gerakan global ini. Konser di delapan negara pun dilaksanakannya. Tujuannya sederhana, “biar orang tahu global warming itu betul-betul ada dan mereka jadi aware akannya”, begitu komentarnya.
Lucu juga, global warming yang salah satunya disebabkan oeh konsumsi energi yang berebihan, harus dikampanyekan dengan serupa konser, yang tentu saja juga menghabiskan tak sedikit energi. Madonna, yang mengisi konser ddi
Hypocrite? Ah, tak mengapa. Toh panitianya juga telah menjamin dengan iklan ciamik bahwa mereka menggunakan energi yang ramah lingkungan dan menggunakan bahan-bahan yang recyclable. Perdebatan ini juga mirip dengan kondisi
Jauh lebih penting memang kecemasan ini diwabahkan. Asal negara-negara besar dan maju tidak saja menyalahkan negara-negara miskin seperti
Global warming=banjir dan cuaca yang tak menentu, begitu definisi tetangga saya.
Tuesday, June 26, 2007
An Apology

Cara unik mereka seperti yang hari ini saya terima melalui
Bunyi
Dear friend,
First of all: an apology.
I know you didn’t ask me to write to you. Yet, here I am—writing to you anyway—expecting you to give up a few moments of your time. You’re probably just thinking, “oh dear, not another charity asking me for money…”
Setelah itu kemudian paparan data serta penjelasan singkat mengenai sejauh mana pencapaian program dan kampanye mereka. Termasuk sebuah formulir kesediaan untuk secara rutin menyisihkan 2 pound per bulan sebagai bagian dari kegiatan donasi. Awalnya saya pikir ini serupa spam letter aja, yang agak meragukan. Setelah mengcek situs mereka, ternyata benar adanya. Mereka pun terdaftar di pemerintah. Satu lagi, patron (pelindung) lembaga ini; Her Majesty The Queen. Tentu lembaga gadungan tak seenak itu memasang nama ratu.
Tidak juga unik sebenarnya. Mungkin kreatif aja. Unik memang sering dipadankan dengan kreatif, meski dalam beberapa konteks unik menjadi lebih dekat dengan aneh. Terlepas dari perbedaan terminologii itu, satu hal yang menjadi perhatian saya adalah upaya mereka menggalang dana tanpa menimbulkan kesan memaksa dan membuat penderma pun merasa terpanggil untuk terlibat, meski dalam tingkat yang berbeda.
Cara unik/kreatif ini sering pula dilakukan oleh lembaga-lembaga derma lainnya di Inggris. Salah satu yang palingn kreatif adalah Oxfam. Selain dengan charity shopnya, lembaga ini juga kerap menawarkan program derma sesuai dengan minat dan keinginan kita melalui Oxfam Unwrapped. Pernah membayangkan membeli toilet? Melalui program ini, Oxfam misalnya menawarkan kepada masyarakat membeli toilet seharga 30 pound. Dana yang terkumpul kemudian dipakai untuk membuat toilet di negara-negara tempat Oxfam bekerja. Menurut kawan yang pernah terlibat di Oxfam, program ini pernah dilakukan untuk membangun puluhan toilet di Aceh setelah daerah itu terkena tsunami. Ada pula penawaran voucher gift, yang menerima hadiah itu berarti telah menyumbang atau berderma sejumlah uang yang kemudian diwujudkan dengan penanaman pohon, penyedian fasilitas air bersih kepada masyarakat miskin di Afrika.
Ide kreatif, akuntabilitas, dan bertanggung jawab tentu menjadikan mereka tak terlalu sulit untuk menjalankan banyak program. Sama tak sulitnya bagi mereka untuk membagi-bagikan dana kepada lembaga sosial dan LSM di Indonesia, yang orang-orangnya masih kebanyakan bertindak sebagai pencari kerja ketimbang membantu masyarakat. Saya tak alergi terhadap LSM dan lembaga sosial. Banyak—banyak sekali bahkan—dari mereka yang tulus dan sangat pantas diberikan apresiasi positif terhadap langkah dan tindak mereka. Namun niat dan rencana baik saja tidak cukup. Tak perlu tunggu menjadi negara maju dan kaya untuk berwujud seperti itu. Perlu ide kreatif , program jelas dan tak muluk-muluk, serta tentu saja bertanggung jawab agar rencana tersebut terealiasasi. Masyarakat yang ingin berderma tentu saja tak sedikit jumlahnya. Masalahnya, jumlah yang banyak ini lebih sering jadi peluang bisnis pribadi daripada bisnis lembaga untuk masyarakat yang manfaatnya untuk masyarakat.