Showing posts with label Berbagi. Show all posts
Showing posts with label Berbagi. Show all posts

Monday, August 26, 2013

Belum Saatnya

Saya masih memendam keinginan bahwa suatu saat saya akan ke Amerika. Sebenarnya saat mengambil program master di tahun 2005, saya ada kesempatan untuk kesana. Beasiswa yang saya dapat saat itu, Ford Foundation, memungkinkan saya untuk ke Amerika. Apalagi, lembaga pemberi beasiswanya juga berasal dari amerika.

Namun saat itu saya memutuskan untuk ke Inggris, apalagi UK memang tujuan belajar saya sejak lama. Masih teringat soal harapan melihat gedung-gedung tua dan juga melihat sisa kejayaan negeri penjajah ini. Selain itu, pilihan ke UK juga karena pilihan pragmatis. Apalagi sejak beberapa cerita dari angkatan sebelumnya dan juga berita di Koran yang menyatakan bahwa (saat itu) bepergian ke amerika makin dipersulit. Isu terorisme dan keamanan nasional menjadi dasar dari pelaksanaan kebijakan ini.

Masih saya ingat, seorang kawan yang harus memasukkan aplikasi visa sampai dua kali. Saat itu, kami berkesimpulan bahwa pilihan ke amerika bukanlah pilihan yang baik, apalagi jika nama da nasal kita makin merujuk pada kedekatan dengan tokoh teroris.

Nah, kejadian ini terulang kembali. Ceritanya begini.

Sejak awal tahun, saya sudah mempersiapkan paper untuk conference di Amerika. Informasi mengenai conference ini sudah lama saya ketahui dari pembimbing, dan dia juga yang meminta saya memasukkan paper ke konferensi ini. Konfrensi ini diadakan di Atlanta, pada akhir Agustus. Sejak awal tahun paper sudah saya siapkan, dan kemudian dikirim ke panitia konferensi. Sekitar awal April, saya mendapat konfirmasi bahwa paper saya diterima dan bisa dipresentasikan pada konferensi kali ini.

Senang tentu saja. Apalagi, konferensi ini sangat penting mengingat topik bahasan tesis saya banyak yang berhubungan dengan tema besar konferensi kali ini. Dalam daftar pembicara dan juga training pre-konfrensi (yang dikhususkan untuk mahasiswa PhD), saya menemukan beberapa nama yang selama ini artikelnya saya kutip dan saya baca. Intinya, konferensi kali ini adalah kesempatan yang sangat baik bagi saya. Alasan kedua, tentu saja karena konferensi ini diadakan di Amerika, maka ini kesempatan berharga memenuhi salah satu keinginan dalam bucket list saya.

Maka saya pun mempersiapkan diri mengurus visa dan segala urusan adminstrasi. Saya pun kemudian mengunduh, mempelajari dan mengisi form untuk aplikasi visa. Di saat yang sama, saya juga mempersiapkan urusan administrasi di kampus. Saya memang mengajukan aplikasi conference grant dari kampus, sebab untuk membiayai sendiri perjalanan ke sana, rasanya mustahil. Urusan adminsitrasi ini juga berkaitan dengan supporting documents dari kampus untuk pengurusan visa. Tak ketinggalam saya pun mengajukan surat permohonan bantuan biaya kepada organisasi mahasiswa pascasarjana yang ada di kampus. Alhamdulillah, aplikasi saya diterima dan bantuan sebesar $700 pun telah ditransfer ke rekening saya.

Setelah form saya submit via system visa konsulat amerika, saya pun mendapatkan jadwal wawancara visa, yaitu 22 April 2013. Hari itu saya kemudian diwawancara. Tak lama sebenarnya, dan Cuma beberapa hal yang ditanyakan saat itu. Soal tujuan, apa yang akan saya lakukan dan mengapa saya menggunakan paspor dinas (biru) dan bukannya paspor regular (hijau). Semua pertanyaan saya jawab, dan semua dokumen pendukung yang diminta juga sudah saya lampirkan dalam aplikasi. Intinya, saya sangat yakin tidak ada masalah berarti dalam pengurusan visa ini. Apalagi, (ini asumsi saya) aplikasi visa saya ajukan dari Australia.

Ternyata, petugas di sana memberikan form biru, dan menjelaskan bahawa aplikasi saya sudah lengkap, tak dibutuhkan lagi dokumen tambahan, namun masih diperlukan tambahan proses administrasi dan screening.

Sejak wawancara itu, hamper setiap hari saya cek aplikasi saya melalui system check online. Saya pun membaca informasi bahwa kondisi seperti ini memang bisa terjadi. Menurut website resmi kedutaan Amerika di Canberra, proses administrasi (administrative processing) ini bisa sampai 60 hari. Beberapa hari yang lalu saya cek, tenggat waktu diperpanjang lagi hingga 90 hari. Namun saya masih tetap yakin saja. Apalagi, saya juga mengajukan aplikasi, paling tidak, jauh hari dari hari keberangkatan yang saya rencanakan.

Ringkas cerita, hingga H-10, informasi mengenai aplikasi visa saya masih tetap sama sejak hari pertama saya mengajukan aplikasi. Masih administrative processing. Tak hanya 60 hari, tapi telah lebih 90 hari terlewati sejak saya wawancara. Jika mengacu pada informasi resmi yang ada, maka seharusnya keputusan soal visa saya ini sudah keluar sejak lama. Apalagi, saya harus mengurus tiket pesawat dan akomodasi, yang tentu saja selain harga yang sudah tidak sama, juga makin sulit didapatkan.
Upaya untuk mengetahui kondisi aplikasi visa saya telah saya lakuka, baik itu telpon langsung ke kantor konsuler atau via email. Jawaban mereka tetap sama, aplikasi saya masih di proses dan saya diminta bersabar.

Nah, H-1, aplikasi visa saya masih tetap sama, masih dalam proses administrasi. Saat itulah saya meyakinkan diri bahwa tidak mungkin lagi saya ke amerika untuk menghadiri konferensi ini. Satu keinginan batal lagi terwujud. Padahal masalah finansial sudah teratasi, apalagi ada bonus grant juga dari organisasi mahasiswa.
Bersama kawan, saya kemudian menganalisis mengapa hal ini bisa terjadi. Dan akhirnya, kami tiba pada beberapa hal yang tentu saja sangat tidak mungkin untuk diklarifikasi kebenarannya. Tapi namanya juga analisis tidak mendalam..

Pertama, nama saya Abdullah, yang tentu saja masih menyisakan pertanyaan besar bagi Amerika. Kata bapak kos saya, seharusnya waktu aplikasi visa saya ganti nama. Ia tentu bercanda, tapi bahkan ia pun sadar dan percaya, bahwa nama menjadi factor penting yang menjadi perhatian dalam aplikasi visa. Tentu, ini berbeda tiap orang, karena ada orang yang namanya mungkin lebih teroris (maaf, mengukurnya saya juga bingung) tapi tetap dapat visa juga.

Kedua, teman saya melihat saya sering membaca berita seputar kebocoran informasi NSA oleh Edward Snowden. Ditambah lagi, saya mem-follow Glenn Greenwald, wartawan Guardian, yang juga merupakan orang pertama yang mengabarkan soal Snowden dan mewawancarainya di Hongkong. Nah, kawan ini menganalisis bahwa pilihan berita yang saya baca membuat America jadi curiga. Saya ketawa saja dengar analisisnya. Tapi mungkin maksudnya menghibur.

Yah, begitulah. Satu keinginan tahun ini tertunda. Semoga masih ada kesempatan di tahun depan, mungkin dengan konferensi dan Negara yang berbeda. Semoga..

Saturday, October 20, 2012

64 Tahun FE Unhas, Berhentilah Merasa Tua

Setiap bulan Oktober adalah bulan istimewa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unhas (FEB-Unhas). 8 Oktober 1948, Fakultas ini dibentuk sebagai bagian dari upaya desentralisasi pendidikan tinggi saat itu. Niat awalnya untuk memenuhi kebutuhan guru-guru ilmu ekonomi dan pemegang buku di sekolah-sekolah menengah di Indonesia.

Tahun ini, tepat 64 tahun FEB-Unhas. Sebuah usia yang tak bisa dikatakan muda lagi. Namun sayangnya, dalam setiap tahun acara peringatan Dies Natalis ini, praktis tidak banyak perubahan berarti. Usia yang tak muda lagi rupanya berimplikasi pada kinerja kelembagaan yang tak juga beranjak meninggi. Ini tak menafikan beberapa perubahan yang ada. Namun demikian, perubahan itu seharusnya sudah terjadi beberapa tahun lalu.

Perubahan paling sederhana (dan mungkin malah yang paling tinggi tingkat pencapaiannya) adalah perubahan nama dari Fakultas Ekonomi (FE) menjadi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB). Perubahan ini sayangnya tidak diikuti dengan perubahan paradigma yang berarti. Sederhananya, perubahan ini sekedar mengikuti trend perubahan nama di beberapa perguruan tinggi lain. Perubahan lain yang juga mencolok adalah pembangunan fisik dan kampus yang sedikit tertata. Namun sekali lagi, tak perlu visi dan usaha luar biasa besar untuk perubahan 'kecil' seperti ini.

Mengelola FEB-Unhas memang bukan pekerjaan mudah. Apalagi, sebagai bagian integral dari Unhas dan kementrian pendidikan dan kebudayaan, tentu ada mekanisme dan tata-aturan yang harus diikuti. Pemahaman prosedural memang menjadi penting ketika ingin melihat institusi ini secara utuh.

Meski begitu, hal ini tak bisa menjadi alasan pembenar dari 'lambat-gerak' FEB-Unhas menghadapi masa depan. Apalagi disadari, tantangan pendidikan tinggi ke depan semakin besar. Tantangan yang besar ini dibarengi pula dengan tuntutan yang tinggi akan kontribusi institusi pendidikan tinggi, yang bagi beberapa kalangan dirasa belum berarti (untuk tidak mengatakannya tidak ada sama sekali).

FEB-Unhas sebagaimana Fakultas Ekonomi yang lain sebenarnya berdiri di persimpangan jalan. Berbicara ekonomi dan bisnis maka kita tentu tak bisa melepaskan diri dari persinggungannya dengan sosial, politik dan budaya. Ini pula yang melatari banyak kritik terhadap pendidikan ekonomi di perguruan tinggi. Kita mungkin bisa belajar dari perjalanan panjang sekolah-sekolah bisnis di Amerika dan Eropa. Di era pasca perang dunia II, di Amerika khususnya, sekolah-sekolah bisnis (business schools) dikritik tak ubahnya sebagai 'trade schools'. Hal ini dilatari dari minimnya kontribusi pengetahuan, yang diakibatkan oleh lemahnya riset-riset dari perguruan tinggi tersebut. Kesenjangan ini ditambah lagi dengan kurang aplikatifnya riset-riset yang telah dilakukan sebelumnya.

Beberapa sekolah-sekolah bisnis top kemudian memperkenalkan model pengajaran berbasis kasus (case study) sebagai upaya untuk menutup celah 'ketidak-sesuaian' antara teori dan praktek ini. Kelas-kelas yang bersifat aplikatif seperti program MBA dan kelas eksekutif pun diperkenalkan. Dengan harapan, ini bisa menjadi jembatan antara kebutuhan bisnis dan tuntutan riset yang harus dilakoni oleh civitas akademika.

Sampai di sini kritik bukannya tidak ada. Beberapa kalangan kemudian menilai bahwa sekolah-sekolah bisnis telah berubah menjadi sebuah industri tersendiri, yang melihat mahasiswa tak ubahnya sebagai konsumen semata. Kritik lain menyebutkan bahwa sekolah-sekolah bisnis itu sudah tak berideologi mulia lagi, dimana keuntungan finansial menjadi tujuan utama layaknya sebuah korporasi dan mempertaruhkan integritas akademiknya.

Tak berhenti di situ, kondisi ekonomi global yang tidak menggembirakan juga ditengarai sebagai akibat dari sistem pendidikan ekonomi dan bisnis yang sangat kaku dan tidak bermoral. Diawali dari runtuhnya Enron dan diikuti dengan beberapa korporasi besar lainnya. Semuanya bermuara pada pengajaran ekonomi dan bisnis yang dianggap menjadikan orang menjadi rakus dan amoral. Keuntungan finansial menjadi segalanya tanpa perlu merisaukan urusan lain.

Yang paling anyar kritik (tepatnya refleksi) disampaikan oleh Professor Howard Davies yang mengambil kisah dari ketidak-puasan Jean-Claude Trichet, mantan gubernur bank sentral Eropa, terhadap terbatasnya kemampuan 'ilmu ekonomi' untuk mengatasi masalah-masalah ekonomi yang mendera banyak negara kini. Menurutnya, model-model konvensional yang ditawarkan ilmu ekonomi tak lagi cukup dan mumpuni untuk digunakan sebagai landasan untuk mengambil keputusan. Akhirnya, gubernur bank sentral Eropa ini meminta bantuan kepada ahli dari bidang lain seperti ahli fisika, biologi, hingga ahli psikologi untuk menjelaskan apa sebenarnya yang terjadi dengan ekonomi global.

to be continued


Wednesday, November 05, 2008

Miskin

Membicarakan kemiskinan memang selalu lebih menarik jika dilakukan di ruangan yang berpendingin. Apalagi ditemani soft drink dengan merek global, yang nilai asetnya masih jauh berlipat-lipat ketimbang beberapa negara digabung sekalipun.

Wakil dari perusahaan-perusahaan hadir disini untuk berbagi kisah tentang betapa dermawannya mereka. Ada perusahaan kertas yang dengan bangga mengklaim diri sebagai perusahaan peduli lingkungan. Di lain kesempatan, ada pula perusahaan rokok yang menjadi kampiun dalam kompetisi perusahaan yang paling bertanggung jawab terhadap masyarakat.

Berjam-jam duduk di ruangan dingin ini membuatku jadi bertanya, apa betul orang-orang miskin itu tahu bahwa mereka sekarang jadi pusat perhatian? Atau mereka hanya dijadikan obyek, either dari pemerintah atau pengusaha yang serakah.

Di Bangkok, saya pura-pura menjadi orang yang tak miskin, seperti yang lain.

Wednesday, October 15, 2008

Serial Pamitan

Tinggal berbilang hari kami akan meninggalkan kota ini. Tak ingin ada yang terlupa, pamitan kepada tetangga kami cicil setiap hari di pekan terakhir ini. Semalam saya ke tempat Martin, orang yang selalu namanya ada dalam tulisan di blog ini. Tetangga ini salah seorang yang terdekat dengan kami. Meski ia selalu mengaku kesulitan untuk melafalkan nama kami dalam sentuhan yang lebih "Indonesia".

Martin pula salah seorang yang terunik yang kutemui selama lebih dua tahun di sini.

Ia sampai harus "cuti" sore ini dari kerja rutinnya. Sebagai loper koran gratis, ia memiliki jadwal tetap pagi dan sore untuk mengedarkan koran city council dan koran iklan ke rumah-rumah di sekitar wilayah Roman Way.

Sore itu ia kemudian (kembali) bercerita tentang pengalaman hidupnya. Dirampok saat mencari kerja di Jerman, merasakan panas yang sangat saat di Amerika, dan juga menerima tindakan rasis saat berada di kampung halaman, Irlandia. Ujungnya, ia menjadi loper koran di Birmingham.

Kelar topik soal pengalaman "jadul" pribadi, topik beranjak pada masalah aktual, krisis keuangan global. Ia tak habis pikir, si Gordon Brown memutuskan untuk mem-bail out bank-bank besar yang ada di Inggris. Tentu, dengan duit pemerintah yang berasal dari duit pajak dan juga utang luar negeri. Sebagai pembayar pajak, meski ia akui pajak yang dibayarnya tak ada apa-apanya dibanding Beckham atau Sir Alan Sugar, tapi tetap saja ia tak rela duitnya dihamburkan untuk sesuatu yang dalam istilahnya ia sebut sebagai "membiakkan kapitalisme".

"Tapi itukan pilihan terburuk dari yang ada. Kalau tidak, bisa kolaps sistem keuangan di negaramu ini", begitu kataku. Dengan sigap iya menjawab. Iya, tapi tetap saja tak bisa diterima. Kalau perusahaan rugi, itu resiko bisnis. Kalo harga saham mereka anjlok, masak saya yang harus nanggung semua? Salah mereka sendiri, mau terlibat dalam 'dunia spekulasi' yang kejam namun tak mau jadi korban.

Seperti ingin mengganti topik lain, ia kemudian berujar, "It doesnt really matter anyway, I dont have any bank account". Case closed kalau begitu.

Pembicaraan kemudian berputar di soal kenangan, dan harapan. Sedih rasanya akan meninggalkan Martin, dan orang-orang baik yang selama ini bersama kami. Tapi begitulah, tahapan hidup ini harus berpindah ke episode baru. Semoga kawan-kawan baik ini selalu terkenang dan mengenang kami.

Sebelum berpisah, ia sempat berharap doa. "Doel, doakan semoga saya menang lotere. Kalau saya menang, akan saya jenguk Rafi di Indonesia". Saya tak tahu harus bilang amin atau tidak.

Thursday, October 09, 2008

Duka

Kemarin, saya terima pesan singkat dari seorang kawan. Isinya pendek, mengabarkan berita duka. Pak Wempi, begitu ia sering disapa telah berpulang ke hadirat penciptanya.

Sedih saya membacanya. Ia adalah kolega, guru, dan juga kawan yang baik, teramat baik, bahkan. Darinya saya banyak belajar. Tak hanya soal ekonomi, tapi juga soal hidup dan beragam pilihannya, termasuk dengan bagaimana menikmatinya.

Dalam aras akademik, dia juga menjadi pioneer, paling tidak begitu anggapan saya. Ia bagi saya adalah orang pertama yang membuat suasana jurusan lebih dinamis dan juga lebih up to date. Ketika dosen-dosen lain masih berkutat dan berbangga dengan beragam buku "tua", ia yang dengan diam berbagi artikel terbaru dan juga buku baru dengan mahasiswanya.

Banyak waktu yang saya habiskan bersama beliau, meski tak seluruhnya sepadu padan. Kadang ada juga perbedaan dan debat panjang, tapi begitulah, semuanya berjalan baik-baik saja.

Selamat jalan untuk pak Wempi. Sedih tak bisa hadir di rumah duka, yang juga tak jarang menjadi rumah suka bagi saya dan kawan-kawan.

Sunday, August 31, 2008

Selamat yang tak jelas

Saya tak tahu, masihkah ada gunanya menulis ucapan selamat puasa. Tak jelas betul ditujukan buat siapa. Saya sekali lagi tak tahu, masihkah ada gunanya menulis ucapan selamat. Inbox penuh dengan kutipan kata-kata mutiara dan religius, yang takutnya malah kehilangan arti...

Yang jelas cuma satu, yang empunya blog ini seklipun tak pernah kembali mengisi jatah halaman gratis dari blogger. Tapi mungkin ada saja yang dengan sadar atau celaka membaca halaman ini, maka untuk mereka ucapan selamat puasa tentu tak mengapa. Kalau tak puasa? Tak apa, tetap kita butuh puasa. Puasa dari segala yang tak baik.

Selamat puasa, semoga kita tak sekadar 'mendadak religius' di Ramadhan kali ini.

Friday, October 12, 2007

Eid Mubarak

Ada yang Lebaran hari ini. Tak sedikit juga yang memilih berhari raya besok.
Nantilah, setelah lebaran usai kita berkumpul agar esok mungkin bisa kita cari waktu sembahyang yang sama dan tak membingungkan.

Selamat Idul Fitri 1428 H.
Maaf lahir bathin dan segala apa yang tidak menyenangkan.

Saturday, September 29, 2007

Tak sekedar Lapar

Ramadhan sudah setengah jalan. Sudah seberapa penuh kantong amal dan ibadah kita terisi?

Di time edisi online ada link menarik. Photos of the week, berisi foto-foto tentang ramdhan. Ada satu foto dari Indonesia. di situ digambarkan beberapa lelaki sedang berbaring di masjid. Mungkin mereka lelah dan lapar, hingga perlu sedikit istrirahat. Pemandangan seperti ini memang biasa saat ramadhan. Mesjid dan surau terisi, meski tak penuh, saat shalat jamaah dilakukan. Setelah itu, dengan berjamaah pun kita pulas.

Menahan lapar dan haus serta tidak berhubungan dengan pasangan, begitu yang biasa kita memaknai puasa. Sesederhana itukah?

Kata seorang imam, ketiga aktifitas halal yang ditahan itu hanyalah katalisator dalam jejak langkah kita mengisi ramadhan. Ada yang jauh lebih esensial dari sekadar menahan kebutuhan purba kita itu. Kesalihan social, kepedulian terhadap sesama dan harapan untuk terus melepas diri dari nafsu duniawi menjadi ujian sesungguhnya.

Soal korupsi misalnya. Data tranparansi internasional menyebutkan bahwa deretan pertama negara-negara terkorup di dunia justru adalah negara dengan tingkat religiusitas yang tinggi. Indonesia sebagai contoh, adalah negara muslim terbesar di dunia. Tapi tingkat korupsinya jauh diatas negara-negara yang tak memutar sinetron religi di stasiun televisi mereka. Di lain pihak, Jepang, sebuah negara dengan mayoritas rakyatnya bisa dikatakan tak beragama, selalu menjadi contoh bagi pelaksanaan rasa malu dan kejujuran.

Salahkah agama? Tentu tak elok jika agama kemudian menjadi sasaran tembak dari semua ini. Yang keliru mungkin adalah konsep keberagamaan dan bagaimana agama dilihat dalam perspektif kekinian. Dalam beberapa hal, ada tentu bagian yang tidak bisa digugat dan sebab itulah keimanan berarti percaya. Namun tak berarti tak ada ruang untuk, katakanlah ‘meninjau kembali’ konsep beragama.

Dalam kitab suci, tak sedikit ayat yang mengingatkan untuk berbuat adil, peduli terhadap sesama, dan bersikap jujur. Yang jadi soal, adalah peletakan kesalihan dalam konteks ritual dan dalam tampilan yang cenderung jauh dari esensi ibadah dan saleh itu sendiri. Tak heran jika kemudian terjadi reduksi besar-besaran akan ibadah. Kesalihan kemudian menjadi domain individu dan tidak pernah ditekankan untuk muncul dan berkembangnya kesalihan social. Lebih utama rasanya memperbincangkan pahala dan timpalan api neraka ketimbang berkutat dengan korupsi biaya KTP dan sogok-menyogok polisi dan masyarakat saat terkena tilang. Tak pernah pula kita dengar tokoh agama bereaksi terhadap penggusuran, ketimpangan social atau korupsi dalam masyarakat.

Kemegahan juga kian mewarnai kehidupan beragama. Tak habis pikir rasanya sebuah kabupaten seperti Maros, tempat saya menghabiskan banyak umur saya, lebih membangun sebuah mesjid megah berbilang milyar namun masyarakatnya masih banyak yang kesulitan makan. Di Kalimantan timur malah kabarnya mesjid dibangun dengan biaya yang bisa dipakai untuk membuat banyak sekolah dan madrasah. Ini mungkin wujud kecintaan terhadap agama. Tapi segitu parah dan kelirukah cinta itu dijewantahkan?

Menjelang ramadhan, fokus utama justru pada penutupan tempat-tempat hiburan. Rasionalisasinya adalah keinginan untuk menghormati ramadhan. Tak jarang penutupan paksa bahkan penghancuran satu tempat menjadi aksi reaksioner terhadap ajakan dialog yang sebenarnya bisa lebih dikedepankan.

Lalu, akankah individu yang salih mendapatkan berkah ramadhan? Bagi saya, kesalihan dan keimanan haruslah termanifestasi dalam ruang kehidupan yang lebih nyata. Ibadah, kesalihan, haruslah disertai pengorbanan. Jika tidak, yang lahir hanyalah hamba salih yang egois. Pengorbanan untuk sesama, itu yang masih langka. Saya pun rasanya masih demikian. Celakalah saya…

Saturday, September 01, 2007

Mobil sport

Saya memang bukan pembelanja yang baik, paling tidak itu kata istri saya. Setiap habis ‘tugas’ belanja, saya selalu lupa berapa harga barang yang sudah saya beli. Jika sebelum belanja saya selalu bersiap dengan daftar belanja, itu memang nilai tambah. Tapi kelar belanja yang jadi masalah. Pertanyaan istri saya semisal, “tadi beli bawang merah ini berapa, daging sapi ini beli 1 pound, ya?” Atau “kenapa beli susu yang mahal?”

Jawaban saya untuk semua pertanyaan itu bisa ditebak, “tidak tahu”. Atas nama variasi saya sih sering ganti dengan “lupa” atau “tadi struk belanjanya jatuh”. Saya memang bukan pembelanja yang baik. Jarang sekali saya bisa menghapal—baik di dalam maupun di luar kepala—soal harga barang yang sudah (dan akan) dibeli. Ia memang sangat detail untuk urusan satu ini. selain mencatat setiap pengeluaran, ia pun membuat daftar prioritas belanja. Satu sisi ini tentu tak sejalan dengan jiwa merdeka saya yang sejak lama tak terkekang. Namun sisi lainnya kok berkilah bahwa tak ada yang terkekang. Justru saya yang boros ini jadi terbantu untuk lebih well planned. “Biar nanti bisa beli mobil sport”, hiburnya.

Mobil sport? Ha…ha…ha... Menabung seabad pun rasanya tak kesampaian. Ini memang lelucon khas dengan banyak kawan saat mengajukan beberapa lamaran kerja setelah kuliah dulu. Carilah kerja yang gajinya bisa buat beli mobil sport, begitu motto hidup pencari kerja yang tak tahu diri. Kalo PNS, mau nabung berapa keturunan? (tak ada opsi untuk korupsi, ya..).

Bukan mobil sport itu benar yang membuat saya jadi ingin hapal dan ingat harga barang-barang belanjaan saya. Cuma penasaran aja, bawang merah tadi belinya berapa ya, kok bisa lupa.

Friday, August 24, 2007

Buku Untuk Semua

Saat jeda di library siang tadi, saya melintasi rak buku yang berlabel “free book”. Heran juga, kok ada buku gratis hari gini? Tertarik, saya pun mencoba mengambil satu buku. Setelah membaca brosur dan keterangan di sampul buku, ternyata buku-buku yang ada di rak itu memang gratis.

Dari om Wiki saya kemudian jadi tahu bahwa program free book ini diluncurkan oleh kelompok bookcrossing sejak tahun 2001 yang anggotanya disebut bookcrossers. Niatnya untuk “membebas”kan buku dan menjadikan kegiatan membaca menjadi sebuah kegiatan yang menyenangkan. Modelnya sederhana. Tinggalkan buku-buku anda di ruang publik dan biarkan orang kemudian mengambilnya dan membacanya. Pembaca kemudian bisa menyerahkan lagi buku itu di collect point atau sekedar menaruhnya di kafe, toko, atau public space lainnya dan nanti akan diambil dan dibaca lagi oleh orang lain. Ini seperti slogan “3R” mereka, Read a good book, Register to bookcrossing, and just Release it into the wild so others can read it.

Tak ada aturan rumit. Siapa saja bisa mengambil buku yang tersedia. Namun untuk mewakafkan buku, kita perlu register ke situsnya dan kemudian menuliskan kode yang disediakan. Biar menarik, kode di setiap buku yang bisa dicatatkan di situs bookcrossing itu kemudian dimasukkan lagi oleh pembaca untuk kemudian kita semua bisa tahu jejak rekam perjalanan buku dan pembacanya.

Buku yang saya ambil contohnya. Ternyata telah dibaca oleh banyak orang. Komentar dan rating akan buku ini juga ada. Termasuk data dimana mereka mengambilnya dan kapan.
Tentu saja, program ini tidak lepas dari kritik. Penerbit, pengarang dan juga jaringan distribusi buku akan teriak keras bahwa kegiatan ini akan menurunkan nilai buku. Tak akan ramai lagi toko buku, serta amazon si raja buku itu akan tersedot keuntungannya. Lalu, bukankah kritikus-kritikus ini harus berkaca pada industri musik? Meski gencar melawan pembajakan, tak sulit amat untuk mendapatkan album terbaru dari top ten chart atau lagu terbaru Letto atau Tukul Arwana. Social network ala Multiply memungkinkan kita mendapatkan semua itu. Tinggal buka account, dan Anda bisa mengunduh lagu dan video sepuasnya. Toh artis musik tetap saja bisa beli land cruiser atau berjejal di butik-butik mewah. Ini tentu tidak kemudian menjadi alasan pembenar bahwa pembajakan dan perampasan hak cipta benar adanya. Tapi apa salahnya berbagi buku. Bukankah ilmu yang tidak bermanfaat adalah ilmu yang tidak dibagi?

Saya lalu ingat pengalaman saat kuliah dulu. Beberapa kawan dan saya sendiri tentunya, pernah bertanding soal siapa yang memiliki buku paling banyak. Soal lain itu urusan baca atau tidak. Kesan banyak buku banyak ilmu, dan pintar, adalah tema seksi bagi mahasiswa baru dan adik-adik junior. Ada juga dosen yang dengan bangga memajang deretan buku di ruang tamu mereka, seperti mengabarkan pada setiap yang datang, ”Hey, saya punya buku yang banyak, lho”. Lalu kalau banyak kenapa? Wong mau pinjam beberapa buku saja ceritanya jadi panjang. Yang penting adalah bagaimana buku itu tidak saja bermanfaat bagi diri tapi juga bisa dibagi dengan yang lain.

Menjadi soal memang jika watak peminjam ”yang baik”—meminjam buku adalah hak, mengembalikannya bukanlah kewajiban—masih tertanam kuat di dalam kepala. Ini juga memang penyakit. Apalagi memang harga buku yang kelewat mahal di Indonesia. Saatnya pemerintah meninjau kembali pajak-pajak yang menghambat tumbuh dan berkembangnya industri buku.

Kembali ke bookcrossing ini. Singapura ternyata telah ”meratifikasi” ide ini dengan menjadi negara resmi pertama yang menjadikannya sebagai semacam 'program nasional'. Tak terbilang manfaat bagi rakyat Singapura. Padahal mereka juga sudah terkenal dengan budaya dan fasilitas baca yang lengkap. Belum lagi infrastruktur dan teknologi mereka yang mendukung. Sungguh, kampanye membaca tak lagi sekedar slogan dengan gerakan seperti ini.

Bagaimana kemudian ini bisa diaplikasikan di Indonesia? Tak perlulah sampai sedrastis Singapura atau sesuai konvensi bookcrossing, saya kira. Cukup dengan memperbanyak perpustakaan-perpustakaan gratis bagi masyarakat. Mereka yang punya buku-buku banyak di rak-rak juga bisa membagi akses bagi yang lain, ketimbang buku-buku itu tersimpan rapi tak terbaca dan bisa jadi tak terawat.

Tahun lalu, kakak saya yang guru SMA meminta ijin agar buku-buku saya yang menumpuk di kamar bisa dia bawa ke perpustakaan sekolahnya. Menurutnya, lebih banyak buku saya ketimbang buku yang ada di perpustakaan sekolahnya. Seperti kebanyakan sekolah negeri, fasilitas minim dan perpustakaan sepi adalah gambaran umum. Belum lagi letak sekolahnya yang memang jauh dan tak masuk dalam radius keramaian. Dengan begitu, ia berharap bahwa ada bahan bacaan alternatif bagi murid-muridnya. Meski kebanyakan buku-buku saya itu hanyalah novel, biografi, buku sejarah dan kumpulan tulisan dari beberapa penulis.

Awalnya saya khawatir, takut buku-buku itu rusak dan yang paling ekstrim, hilang. Tapi ketimbang menumpuk di rumah dan membuat ibu saya repot merawat dan membersihkannya, kuizinkan saja. Sekarang baru sadar, bisa jadi buku-buku saya itu telah berpindah tangan ke beberapa murid, dan siapa tahu ada saja yang mendapat manfaat dari membacanya.

Nah, saatnya membebaskan buku dengan berbagi kepada yang lain. Masuk akal, kan?