Thursday, September 17, 2009
Permen Sebagai Alat Bayar
Nah, ketika di kasir saya sebenarnya sudah punya prasangka buruk. Plastik besar pembungkus permen terebar di lantai dekat meja kasir. Ini pertanda bakal ada 'diskusi panjang' lagi..
Ketika tiba giliran saya membayar, saya kemudian menyerahkan sejumlah uang. Di layar monitor tertera sejumlah nilai yang menjadi kembalian saya. Ada nominal kecil sejumlah 300an rupiah. Sang kasir kemudian mengembalikan duit saya, plus dua biji permen. Saya tanya, "kok permen, mbak". Sang mbak cuma menjawab bahwa ia tidak punya duit kecil.
Berkeliling sejenak, istri saya menemukan barang yang ia cari dan pas dengan kantong. Saya dimintanya untuk antri di kasir dan membayar. Kejadian yang sama berulang. Pengembalian duit saya masih dibarengi dengan permen. Saya kemudian bertanya, bisakah saya membayar dengan permen? Sang mbak kasir diam seribu bahasa. "Kalau tidak bisa membayar dengan permen, jangan mengembalikan dengan permen".
Satu orang dengan nominal 200-300 rupiah memang tak seberapa. Tapi coba bayangkan jika semua orang yang berbelanja di ramayana diperlakukan hal yang sama. Taruhlah ada 3000 orang yang berbelanja, dan setengah dari jumlah itu mendapatkan kembalian permen. Berapa banyak yang bisa didapatkan Ramayana dari unwanted transaction ini? Unwanted (Tidak diinginkan) karena pembeli tetap mendapatkan permen sebagai ganti duit receh yang tak dimiliki oleh Ramayana.
Moral ceritanya, jika ingin berbelanja di Ramayana, maka siapkan permen sebanyak-banyaknya. Kali aja di sana permen sudah jadi alat transaksi resmi.
Thursday, May 10, 2007
Dibuang sayang…

Yah, inilah pasar yang memuaskan hasrat mereka yang berburu barang bekas. Untungnya lagi, ini juga menjadi wadah bagi mereka yang ingin menjual barang-barang, yang tentu saja sayang untuk dibuang begitu saja. Tak ada batasan dalam hal barang yang diperdagangkan. Mulai dari mainan anak-anak, keramik hingga lemari pakaian. Namun periksa sebelum membeli menjadi pedoman utama, sebab tidak ada garansi, apalagi minta uang kembali.
Jika beruntung, Anda bisa mendapatkan barang-barang langka dari sang pemilik yang merasa sudah tidak punya ruang untuk memarkir barang itu. Seperti sempat tertangkap mata ini, ada satu set alat makan yang terbuat dari perunggu. Barangnya udah tua, ini terlihat dari tahun pembuatan yang tertera di dalam kotaknya.
Selain barang-barang bekas, juga terdapat barang-barang baru, yang kebanyakan merupakan barang impor dari Cina dan
Sejam berkeliling, tak ada yang berhasil saya beli. Namanya kunjungan pertama, mungkin butuh kunjungan kedua, ketiga dan berikutnya untuk berkeputusan. Tak apa, kali lain mungkin ada yang melego keramik Cina dari dinasti Ming, atau barang langka lain dan saya beruntung mendapatkannya. Urusan ruang pasti bisa disiasati.
Foto: Wikipedia