Sunday, August 20, 2006

Belum Merdeka

61 tahun bangsa Indonesia merdeka. Tapi banyak hal yang perlu menjadi catatan, salah satunya soal citra aman.

Bagaimana kita melihat citra ini? Saya lebih suka yang sederhana aja, soal ketatnya pemerikasaan ketika memasuki gedung-gedung besar, mal, atau hotel di Indonesia. Di Jakarta, meski tidak sulit, memasuki areal gedung atau mal, adalah pekerjaan yang membosankan. Pemeriksaan yang berlapis (mulai dari kendaraan, pintu masuk, juga hilir mudiknya petugas berseragam), tampang petugas yang lebih sering tidak bersahabat dan juga penuh curiga.

Pernah suatu ketika, saya harus mengambil titipan seorang kawan di lantai 28 sebuah gedung di Jakarta. Saat masuk pemeriksaan memang standar aja. Tapi saat mau keluar, ketika saya membawa titipan tersebut, saya harus melewati pemerikasaan berlapis tiga. Pertama petugas di lantai tempat saya mengambil titipan, kedua saat di pintu keluar lift, dan ketiga petugas pengawas gedung. Uh, sungguh melelahkan meski saya sudah membawa surat barang keluar dan meski sebenarnya saya sudah sering masuk ke gedung itu.

Hal berbeda yang saya rasa di UK. Pemeriksaan standar tentu saja ada, tapi khusus di tempat-tempat dengan tingkat keamanan tinggi, seperti bandara. Selainnya ya biasa-biasa aja, tidak ada pemerikasaan, bahkan tempat penitipan barang pun tidak ada. Padahal jika dipikir, negeri ini menjadi target teroris. Apalagi, saat saya tiba, Inggris diguncang isu pengeboman, makanya banyak jadwal penerbangan dari dan ke Inggris ditunda bahkan dibatalkan.

Di luar bandara, yah kehidupan berjalan seperti biasa. Mungkin kita bisa berdalih bahwa itu karena kita juga pernah diguncang bom hebat, yang tidak datang cuma sekali. Belum lagi isu terorisme dan jihad yang tidak juga dilihat utuh.

Tapi tetap aja, ada citra yang dipertaruhkan disitu. Bagaimana kita bisa terus mengklaim bahwa Indonesia kini aman dan tempat yang pas untuk investasi jika dimana-mana justru ketidakamanan yang disebar dan ditonjolkan.

Tapi kok kayak tidak patriotis bicara soal ini di hari kemerdekaan?

Thursday, August 17, 2006

Merdeka

Selamat berhari Merdeka, Indonesia

Sunday, August 13, 2006

Nasib Pejuang Devisa

Saat transit di bandara Dubai International, sekelompok perempuan berwajah melayu menghampiri saya. Jumlah mereka sekitar 7 orang, semuanya berpenampilan biasa. Umur mereka kutaksir sekitar 35 ' 40 an. Mereka sepertinya bingung dan cemas. Tak salah, ternyata mereka tak tahu harus menuju terminal kemana. Bandara ini emang besar, teramat besar dan modern malah. Kami awalnya satu pesawat sejak dari Jakarta, namun di Dubai, mereka harus melanjutkan perjalanan dengan pesawat berbeda dan teminal serta pintu yang berbeda.

Setelah melihat boarding pas dan tiket mereka, saya kemudian menanyakan kepada bagian informasi, yang untungnya agak kooperatif. Sangat beda dengan petugas imigrasi yang memeriksa kami sebelumnya. Tak satupun luput dari incarannya, termasuk bagian dalam sekalipun.

Kembali ke kelompok perempuan tadi, ternyata pesawat mereka baru berangkat jam 5 sore sedangkan saat ini masih jam 06.00 waktu Dubai. Petugas informasi kemudian menunjukkan kepada mereka terminal dan pintu yang harus mereka lewati saat check in nanti.

Kami pun berbagi cerita, mereka menanyakan kemana tujuan saza dan apa yang akan saya lakukan disana. setelah menjawab, saya ganti bertanya kepada mereka, dan mereka menjawab akan ke Arab Saudi, dengan tujuan menjadi pembantu rumah tangga. Mereka sebenarnya telah ke arab saudi sebelumnya, namun rute yang mereka lalui berbeda dengan saat ini.

Banyak cerita yang mereka bagi, termasuk siasat untuk menghindari terminal 3 di bandara Soekarno Hatta, yang menurut mereka tak ubahya dengan kuburan bagi para TKI. Calo, petugas resmi, seolah berlomba mengambil jatah dari hasil keringat TKI. Jangankan yang tidak remsi, tarif resmi pun sering dimainkan oleh petugas. Belum lagi preman2 yang katanya diberi ruang bebas oleh petugas untuk memalaki mereka.

Tak ingin ambil resiko, mereka pun terbang ke Arab Saudi dengan menyembunyikan status TKI mereka dengan memakai penerbangan lain, beda dengan yang selama ini dipakai TKI pada umumnya. Tentu saja dengan resiko, bahwa biaza tiket menjadi lebih mahal karena harus mengambil rute yang agak jauh dan tidak langsung ke arab saudi.

Saya kemudian teringat sambutan presiden beberapa waktu lalu yang meminta negara untuk menghargai jasa TKI yang dianggap sebagai penghasil devisa terbesar. Gagah betul sebutan untuk mereka, Pahlawan Devisa.

Mereka harus menunggu hingga jam sore, itu berarti mereka akan membutuhkan bekal. Tapi, tak satupun dari mereka zang punza bekal cukup, bahkan air minum sekalipun. Untunglah bandara ini menyediakan air mimum gratis yang kemudian saya tunjukan kepada mereka kerannya.

Panggilan untuk chek in akhirnya membuat saya harus berpamitan dengan mereka. Sambil tersenyum kuberpesan kepada mereka untuk membungkus semua makanan yang diberikan di pesawat agar setibanya di tujuan tak harus bingung karena tak ada bekal.

Ooh Pahlawan, malang benar nasibmu.

Tuesday, August 08, 2006

Bergegas

Malam kemarin serasa menjadi malam yang paling pendek. Entah karena sindrom akan pergi atau sebab lain, tapi begitulah yang terasa. Banyak doa dan pesan yang tersampaikan, kadang membosankan karena berulang. Kali lain tak pas karena diluar konteks. Meski begitu, jiwa seperti terisi amunisi dan sirene tanda konvoi akan dimulai siap dinyalakan.

Pagi-pagi buta, bergegas, untuk sebuah harapan.

Tuesday, July 25, 2006

Udah Gede, huh..

Setelah santap siang yang cepat (maklum, namanya juga fast food) saya lalu bergegas ke westafel untuk bersihkan tangan dan segera berlalu untuk urusan administrasi yang membosankan.

Ada dua westafel. Satu untuk orang dewasa, karena agak tinggi dan satunya lagi untuk anak-anak, karena letaknya yang lebih rendah. Karena merasa kosong dan tidak ada yang ngantri, maka santai aja kemudian kupilih memakai westafel untuk anak-anak. Tiba-tiba di belakang ada yang nepuk pundak, sambil berkata, " Kamu kan udah gede, pakenya yang di sebelah dong.." . Setelah itu, ia langsung saja berlalu. Dengan santainya...

Umurnya kutaksir tak lebih dari 6 tahun. Gadis kecil dengan rambut dikepang dua. Di tangannya, es krim melelh dan sedikit menodai bajunya..

Ah, terima kasih adik kecil, kau telah memberi sedikit pelajaran penting.. Udah gede, huh?

Tuesday, July 11, 2006

Banyak Terima Kasih

Dear Doel,

Cukup klise jika aku mengatakan ~SELAMAT MENEMPUH
HIDUP BARU SEMOGA MENJADI KELUARGA YANG SAKINAH~ dan
sebagainya dan sebagainya ....
Namun, itu adalah kata kata yang tepat untuk
melukiskan betapa kami juga merasakan kebahagianmu.

Ingat khan ...
Semua yang ada di COHORT ini adalah saudara. Jadi kita
sangat senang bila saudara kita mendapat kebahagiaan.



Satu dari sekian banyak pesan yang masuk dalam inbox-ku. Tak banyak yang bisa saya katakan selain terima kasih, telah memberi support yang luar biasa. Saya selalu menyebutnya sebagai sebuah pemaknaan terhadap persahabatan. Belum lagi dari mereka yang hadir dan memberikan doa, juga terima kasih kepada mereka.

Friday, June 09, 2006

Mari Berpesta


Menjelang dimulainya Piala Dunia, media massa kemudian membuat banyak ulasan yang intinya menaruh harapan besar terhadap acara ini sebagai pelipur dari rangkaian bencana dan kesusahan yang kita hadapi. Meski bencana belum juga pamit dari bumi Indonesia, kita semua diajak untuk menjadikan pesta sejagat ini sebagai rehat untuk melupakan derita yang ada.

Mungkinkah? Entahlah, yang jelas demamnya memang telah masuk hingga ke sum-sum. Rehat yang dimaksud tentu saja untuk mengambil jarak. Pengambilan jarak tentu saja perlu untuk membuat kita bisa berenung, berefleksi dan merilekskan diri. Asal tidak membuatnya lebih runyam dengan bertaruh...cukup mengadu ramalan dengan kawan, di warkop atau juga di milis.

Meski tidak ada penelitian ilmiah yang menyebutkan piala dunia mampu mengubah keadaan menjadi lebih baik dari kondisi sebelumnya. Laporan yang ada malah menyebutkan bahwa piala dunia membuat kinerja menurun dan pertumbuhan ekonomi menjadi sedikit mandek karena para pekerja dan pelaku usaha keletihan setelah begadang untuk menyaksikan pertandingan. Entahlah..

Yang jelas, pesta ini semacam jeda, setidaknya waktunya tertunda, dari pertengkaran-pertengkaran politik (Amien Rais pun sampai harus menunda berkomentar sampai piala dunia usai), korupsi bantuan bencana, dan demonstrasi yang tidak juga mendapat simpati.
Meski, kita juga harus sadar bahwa perut lapar tidak dapat tertutupi dengan tarian samba atau umpan maut yang menyilang. Kesulitan-kesulitan ekonomi di masyarakat tetap saja tidak tertutupi oleh kamuflase kehebatan pemain sepakbola. Mari berpesta.

Saturday, May 27, 2006

Wisata Demo

Unik juga tulisan yang kubaca di koran kemarin. Seorang penulis kolom di koran itu memiliki ide untuk menciptakan wisata demonstrasi, menyikapi tingginya intensitas demonstrasi di kota ini. Setuju...

Jika kita cermati kondisi Makassar kekinian, memang intensitas demonstrasi hampir menyamai intensitas demonstrasi secara nasional. Soal tema dan isu yang diusung beragam, namun satu yang sama adalah cara dan sikap mereka dalam berdemonstrasi. Tak ada demonstrasi yang tidak membakar ban di jalan, tak ada pula yang berfikir demonstrasi tanpa harus menutup jalan dan membuat kemacetan.

Kondisi inilah yang kemudian menjadi ilham untuk menciptakan demonstrasi sebagai salah satu objek wisata andalan di Makassar. Dampak ekonomisnya tentu saja akan memberikan pemasukan luar biasa bagi pemerintah kota. Soal sumber daya, jangan khawatir, datang saja ke kampus-kampus atau warkop-warkop yang bejibun di penjuru kota. Di tempat itu, isu dan tema berseliweran dan selalu saja banyak yang dapat bersikap.

Lalu apa yang menarik dari itu semua? Banyak. Mungkin cuma disinilah orang berdemonstrasi atas nama rakyat banyak namun menyandera mobil tangki minyak tanah yang jelas-jelas dibutuhkan orang banyak. Trend ini kemudian diikuti banyak pihak, termasuk di seberang pulau. Di sini pulalah demonstrasi mahasiswa yang kemudian berbuntut bentrokan dengan sopir angkot, yang jelas-jelas menjadikan jalan raya sebagai ladang berburu rezeki.

Fakta di atas lebih dari cukup untuk menjadi obyek menarik yang mampu menambah devisa pemerintah kota yang hobi membuat gerakan dan lebih fokus untuk mengumbar mimpi-mimpi ketimbang bekerja keras dan memberikan pelayanan publik yang baik.

Wednesday, May 17, 2006

Civil Liberties

Beberapa hari lalu, di kota ini sejarah kelam hampir saja terulang. Pangkalnya lagi-lagi soal SARA, yang rasa-rasanya perlu untuk ditelaah lebih jauh. Banyak yang kemudian terlibat dan coba untuk mengambil peran, meski terakhir kita lihat aksi itu tak lebih dari upaya untuk mencari bargaining. Tak terkecuali mahasiswa, dengan kemanusiaan dan demokrasi menjadi pegangan.

Dari yang saya baca, ide tentang "rasialisasi" atau "formasi ras" meliputi argumen bahwa ras adalah sebuah konstruksi sosial dan kategori biologi atau kultural yang universal dan esensial. Stuart Hall (1997) berargumen bahwa ras selalu terbentuk dalam proses sosial dan pertarungan kekuatan politik. Dengan demikian, kondisi yang belakangan juga mencekam kota ini tak lepas dari perburuan kepentingan. Terlalu spekulatif memang, tapi begitulah keadaannya.

Di Indonesia, historically, ras adalah pentas kekuasaan dan subordinasi. Dalam hubungannya dengan kesempatan hidup, orang-orang Papua misalnya, secara struktural posisinya lebih sering disubordinasikan. Orang-orang Papua diposisikan dalam pekerjaan-pekerjaan dengan konotasi bergaji rendah, tidak membutuhkan keterampilan, modal otot doang, bla..bla.. Tengoklah di toko-toko bahan bangunan dan pasar-paar tradisional.

Contoh lain, karena keberhasilan ekonominya, keturunan Cina secara historis dijadikan subjek kecemburuan sosial dan distereotipkan dengan berbagai kelicikan. Cina Peranakan di Indonesia dijadikan warga negara kelas dua. Di kota ini sendiri, gesekan akibat persepsi ini masih saja ada. Ini tidak kemudian menafikan bagaimana mereka yang "menyimpang" dan tidak berusaha "membumi" memang ada. Namun bukankah pribumi sekalipun terjebak—untuk tidak mengatakan menikmati—kondisi ini?

Sampai hari ini, streotip bahwa Cina pembohong dan suka memanfaatkan orang masih terus ada, bahkan seorang kawan yang tulen bugis dan pribumi-nya, dikatakan Cina karena hobinya yang jahil dan suka memanfaatkan.

Kecekaman kemarin, mungkin inilah yang terpikir sebagai interpretasi dari civil liberties, kebebasan sipil. Ini kemudian yang membuncah sejak reformasi dulu setelah beberapa puluh tahun tersendat dan menjadi barang mahal bagi masyarakat. Atau, bisa jadi ini sebagai bukti bahwa kran itu masih tersendat dan belum mengalir dengan alir yang jelas dan terkontrol. Entahlah, semoga saya salah.

Tuesday, May 02, 2006

So This Is Life Huh

Setelah menuntaskan tugas-tugas yang terbengkalai, saya lalu ingat bhawa sore ini saya punya janji. Ya, saya memang telah menyanggupi ajakan seorang kawan untuk memberinya kesempatan mentraktir saya. Sebagai kawan yang baik, maka kuarahkan tujuan ketempat ia bekerja, sebab begitulah ia meminta.

Ia bekerja pada sebuah NGO internasional. Setelah beberapa kali ke tempat kerjanya, dan mendengar berapa ia dibayar untuk pekerjaan yang tidak ringan meski juga tak seberat pekerja harian, rasanya saya tak percaya ia bekerja di NGO. Biar mudah, kuberi sedikit perbandingan. Gaji yang diterimanya 10 kali lebih besar dibanding gaji yang diterima PNS golongan II. Fasilitas di tempat ia bekerja jangan ditanya, internet 24 jam setengah, dan office boy yang siap menyajikan panganan beraneka rupa.

So, jangan salah sangka saat kukatakan bahwa aku memberinya kesempatan untuk mentraktirku. Tidak salah dan sudah pada tempatnya. Saya lalu menawarkan Lae-lae sebagai alternatif, sebab rindu diri untuk menikmati baronang bakar segar dan cobe-cobe nyaman. Tapi karena ia tak punya waktu sebab setelah menuntaskan janji ddenganku, ia masih punya janji yang lain, maka ia pun meminta untuk menikmati pizza saja. "Cukup mengenyangkan dan tak terlalu mahal", begitu argumentasinya.

Karena tak ingin mengecewakan, maka pilihan untuk menjadi bagian dari entitas global dengan ber-pizza kuiyakan. Meski kutahu pizza ala francise ini tidak seperti pizza aslinya karena terlalu banyak modifikasi. Pizza yang mirip-mirip pizza asli sih yang kutahu (katanya) cuma di izzi, namun sayangnya tak satupun gerai izzi hadir di kota ini. Kini Pizza Hut menjadi salah satu restoran terbesar dan terkenal di dunia. Di AS sendiri Pizza Hut tersebar merata di 7.200 lebih unit. Dan di 90 negara ada sebanyak 12 ribu gerai Pizza Hut dengan jumlah karyawan sebanyak 300 ribu orang.Dalam setahun ada sekitar 4,2 miliar pembelian pizza. Dalam hitungan minggu, ada sebanyak 11,5 juta pembelian pizza dengan puncak pembelian jatuh pada hari-hari Jumat dan Sabtu.

Setelah memesan menu (Cheese Lover's pizza), mata pun kuarahkan ke penjuru ruangan mengamati pengunjung satu-satu. Di depan bangku kami, sepasang kekasih sedang asyik memotret diri mereka dengan kamera ponsel. Sang cowok berperawakan tentara, mungkin kesimpulan yang salah karena indikator yang kugunakan sekedar potongan rambut. Yang cewek agak langsing, berpakaian ketat, kutaksir umurnya tak lebih dari anak SMU kelas 3. Sang cowok pasrah saja ketika sang gadis merangkulnya dan memaksanya tersenyum sambil mengarahkan pandangan ke arah lensa kamera yang bermegapiksel tak lebih dari 1.0 itu. Upaya menarik untuk mengekalkan kenangan.

Di pojok ruangan, arah jam 1 dari tempatku duduk, sekelompok anak SMU sedang asyik bercengkrama. Kutahu dari rok dan celana abu-abu yang mereka kenakan, meski atasannya telah bersalin rupa dengan kaos ketat dan khas distro menggantikan kemeja putih berlambang OSIS di kantong kiri. 3 perempuan dan 2 lelaki. Semua mereka sedang asyik berbagi ceria dengan masing sebatang rokok mengepul di jari-jari mereka. Merokok mungkin membantu mereka keluar dari himpitan rutin yang menakutkan bernama sekolah. Entahlah, tapi merokok tetap merugikan kesehatan, menyebakan kanker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan dan janin...

Di meja belakang kami tiga orang karyawan bank saling berbagi keluh. Kutahu saat melihat mereka yang lebih dulu datang dan seragam mereka yang menandakan itu. Soal isi cerita mereka, kutahu dengan curi-curi dengar. Selain karena suara mereka yang agak keras, juga karena saya tidak serius dalam menaggapi cerita teman semeja yang mengisahkan lamaran pacarnya yang di Amerika dan mengajaknya menikah di sana. Para karyawan bank ini mungkin berkeluh karena Bank Indonesia mensyaratkan tingkat NPL harus turun sebelum akhir tahun 2006. Terlalu serius, dan tidak baik memang menguping pembicaraan orang.

Pesanan datang dan saatnya melewatkan hidup hari ini dengan pizza. Seperti pizza, hidup memang bercampur-campur. Ada jamur, daging pipih, keju. Seperti hari ini, dimana pagi sampai siang saya mengurus kredit di bank (dan belum tentu disetujui) selanjutnya sore hari menikmati pizza seolah menebusnya semudah membeli sebungkus permen.

Wednesday, April 19, 2006

Gelisah

Bicara soal gelisah, kemarin saat reuni "dadakan" dengan teman-teman SMA, banyak kegelisahan yang kudengar. Seorang kawan yang sudah menempati posisi sales manager pada sebuah perusahaan distributor mobil di Makassar menceritakan kegelisahannya. Prestasi yang ia miliki sebenarnya luar biasa dalam urusan jual-menjual mobil. Dalam setahun, ia telah berhasil menjual lebih dari 100 unit, dan atas prestasinya itu ia dipromosikan sebagai kepala cabang bulan depan. Dengan latar seperti ini, rasanya ia menjadi “tidak wajar” untuk gelisah.

Namun prestasi dan keberhasilannya itu tetap saja tidak dapat membuatnya nyaman. Ia menceritakan bagaimana ia harus berbohong dan membantu orang lain untuk melakukan korupsi. Saat itu ia mendapatkan order dari salah satu pemerintah kota di daerah ini. Order yang lumayan besar, 10 unit. Bukannya girang ia malah bimbang, sebab pejabat yang mengurus order tersebut memintanya untuk memark-up nilai penjualan sampai 30% lebih. Belum puas dengan penggelembungan, sang pejabat juga meminta diskon yang sebenarnya bisa menjadi fee-nya, tentu saja secara legal dan lazim aja dalam dunia bisnis.

Ia sadar betul bahwa uang yang dipakai untuk membeli mobil dinas tersebut berasal dari uang rakyat, dan mungkin juga uang darinya sebagai pembayar pajak. Makin merasa bersalah ia ketika mengetahui bahwa hampir tiap tahun pemerintah kota mengeluarkan anggaran yang tidak sedikit untuk membeli mobil-mobil dinas. Mobil dinas yang lama pun kemudian menjadi milik pribadi pejabat melalui mekanisme dome, dimana mereka membeli mobil yang sebenarnya masih bagus dan sangat layak untuk dihargai dengan nilai tinggi, tapi kemudian dihargai dengan harga yang di luar akal sehat.

Masih ingat kisah pajero yang hanya dihargai tak lebih dari 5 juta rupiah? Begitulah nasib mobil-mobil dinas yang dianggap harus segera diganti dengan mobil keluaran terbaru. Alasannya pun kadang menggelikan. Teringat bagaimana salah seorang bupati pernah beralasan membeli mobil Nissan Terrano yang berharga ratusan juta rupiah dengan mengatakan bahwa kendaraan itu untuk membantu kelancaran tugas-tugasnya dan membuatnya mudah untuk menjenguk warganya.

Seorang kawan yang lain juga memiliki kegelisahan. Ia seorang karyawan bank plat merah terbesar di Indonesia. Posisinya di bagian controlling (sebenarnya ada nama bekennya tapi lupa) yang tugasnya mengawasi kinerja dari kantor wilayah. Ia juga dipromosikan di posisi ini setelah beberapa tahun sebagai staf di kantor pusat di Jakarta. Posisi bagus ini tak sebagus suasana yang ia rasakan. Bagaimana ia harus membiarkan kejahatan perbankan berlangsung di depan matanya. Meski kejahatan itu tak sebanding dengan BLBI yang menghisap trilyunan rupiah uang rakyat, tapi tetap saja ia merasa bersalah. Bukannya tidak ada usaha untuk menghentikan, sebab ia tahu prosedur standar dalam pemberian kredit, misalnya. Tapi tetap saja ia selalu mendapatkan argumen bahwa aturan itu dibuat untuk dilanggar. Belum lagi katebelce-katebelece yang sering ia terima dari pejabat-pejabat untuk kepentingan beberapa orang.

Mendengar kisah-kisah mereka, saya merasa bersyukur untuk kondisi saya sekarang ini. Meski menjadi abdi negara yang relatif “kering” duit adalah anugerah, tapi tetap saja potensi menyimpang terhampar luas di depan.

Ini juga yang sering membuat gelisah, sebab soal kesempatan saja yang belum aku miliki yang membuat kondisi sekarang jadi aman-aman saja. Tapi entah beberapa tahun ke depan, ketika kesempatan itu ada dan menyapa. Meski demikian, selalu ada jalan ketika kita konsisten dengan apa yang diyakini. Memang contoh buruk dan tidak patut selalu ada, namun bukan berarti tidak ada juga contoh baik dan laik jadi inspirasi. Masalahnya, terinspirasikah saya? Ah, gelisah juga jadinya...

Sunday, March 19, 2006

penyokong kapitalis

himpitan hidup selalu membuat pilihan menjadi terbatas. dan pilihan yang terbatas itu sayangnya tidak melulu menyenangkan.

di sekitar kos telah banyak warung-warung makan, baik yang permanen ataupun yang instan dan ala kadarnya. namun pertumbuhan warung-warung seperti ini makin tinggi saja rupanya. terbukti sejak beberapa bulan ini warung jajanan terus saja muncul dan kadang tak peduli jika harus dibantaran kanal sekalipun. pokoknya, jangan bicara teori pemasaran klasik disini, dijamin ga nyambung..

dua hari lalu, rasa penasaran membuat saya ingin mencoba makan sore (makan siang yang tertunda) di warung yang baru buka beberapa hari lalu. warung ini hanya salah satu dari sekian banyak warung yang menjamur di sekitar salemba. bahkan yang bukan warung pun jumlah bejibun. yang bukan warung maksudnya ya tidak ada tempat namun penjualnya yang berkeliling. di depan TK dekat kos saya misalnya, setiap pagi berjejer ibu-ibu dengan meja kecil dan jajanannya yang sekedar permen atau snack kecil. omzetnya kira-kira tak lebih dari dua puluh ribu rupiah. bangsa ini memang aneh, meski ribuan orang terancam kelaparan dan kehilangan pekerjaan, yang diributkan malah soal udel dan goyangan inul. maunya bicara moral tapi malah kebablasan..

kembali ke warung tadi, tempatnya semi permanen dan bersih. mungkin karena masih baru. menunya juga sederhana meski tidak ala kada harganya. tapi yang pasti, ia lumayan menjadi alternatif dari nasi uduk, nasi goreng, mie bakso, mie ayam, siomay atau pecel lele yang rutin bergiliran mengisi perutku kala malam. alternatif karena ia menyediakan menu rumahan, dimana ikan dan sayurnya lumayan berselera. belum lagi cobek-cobek mentahnya, sangat terasa terasinya...

nah, siang tadi karena ingin menikmati menu lain dan berharap cobek-cobeknya masih ada, saya pun kembali ke warung itu. tapi kaget juga melihat tulisan di pagarnya, "Dasar Kapitalisme Lokal Dadakan...", begitu bunyi tulisan itu. lucu juga, mungkin maksudnya kapitalis bukan kapitalisme.. serius sedikit, memang warung itu berubah menjadi magnet baru, dimana banyak orang tak sekedar menjadikannya alternatif. mungkin karena makanannya yang pas di lidah orang bukan betawi atau juga karena gadis-gadis yang kos di lantai dua, tepat di atas warung itu. entahlah..

kuyakin tulisan itu baru dibuat semalam, atau tengah malam. karena semalam saat pulang ke kos tulisan itu belum ada. bisa jadi ini ulah anak muda revolusioner yang seolah ingin berikrar, revolusi tidak berhenti, meski ia masih harus belajar banyak tentang apa yang ditulisnya.. saya juga tidak mau berspekulasi bahwa ini bagian dari persaingan usaha sesama warung, sebab rasanya terlalu naif menjual cap kapitalis untuk ukuran yang tidak jelas. tak ada pula reaksi dari pemilik warung, mungkin karena ia tak paham atau bagaimana, entahlah.

yang jelas, kami , para pembeli di warung itu secara tidak langsung dicap sebagai pendukung kapitalis (kapitalisme?). untuk cobek-cobek yang enak, tak apalah...

Tuesday, March 07, 2006

Membangun dengan CSR

Protes terhadap PT Freeport yang berujung pada penggugatan terhadap keberadaan perusahaan tambang tersebut membuat sebagian pihak berargumen bahwa ini akan menjadi “bad precedent” terhadap dunia investasi di Indonesia. Tapi seberapa pentingkah precedent bagi perusahaan yang memang tidak pernah lepas dari kontroversi ini?

Terlepas dari konteks dan muatannya, ia memberi sebuah pesan kepada perusahaan untuk lebih memperhatikan tanggung jawab sosial (corporate social responsibility/CSR) mereka. Konsep CSR secara geneologis masih terbilang baru khususnya di Indonesia. Meski demikian, adaptasi dan pelaksanaannya telah menjadi “trend” bagi perusahaan. Maka berlomba-lombalah perusahaan mengklaim diri sebagai perusahaan yang bertanggung jawab dan peduli terhadap pembangunan masyarakat, meski tolak ukurnya sekedar program dan divisi community development/CD yang dimiliki.

Namun kasus Freeport (meski bukan pertama dan satu-satunya) kemudian menjadi puncak gunung es, yang membuat kita bertanya-tanya, sejauh mana perusahaan mengintegrasikan konsep ini ke dalam strategi dan budaya perusahaan. Lebih jauh, kita diperhadapkan pada keseriusan dan kesinambungan dari penjabaran konsep itu sendiri.

Tengoklah komentar dari masyarakat yang menuntut penghentian kontrak karya perusahaan tambang itu. Menurut mereka, setelah lebih dari 35 tahun mengeruk keuntungan yang luar biasa, PT Freeport belum berkontribusi maksimal untuk membantu pengentasan kemiskinan dan ketertinggalam masyarakat Papua sebagai pemegang hak ulayat (Kompas,28/02).

Meninggalkan Pendekatan Lama
Harapan terbesar masyarakat pada dasarnya adalah bahwa keuntungan finansial perusahaan harus berimbang dengan sejauhmana “perbuatan baik”nya. Hal ini muncul karena keterbukaan yang tidak dapat dinafikan sebagai bagian dari proses perwujudan good governance yang makin mengglobal.

Dalam kasus Freeport, kita dihadapkan pada kenyataan bahwa perusahaan belum menunjukkan perbuatan baiknya, paling begitu dalam pikiran masyarakat papua, meski keuntungan finansial yang diraih sangatlah besar. Dalam isu pelestarian lingkungan misalnya, PT Freeport (dan perusahaan tambang lainnya) menghadapi environmental scepticism yang menganggap perusahaan tambang lebih banyak menimbulkan kerusakan daripada manfaat.

Pada tahun 2004, kontribusi pajak dan non-pajak dari perusahaan tambang terhadap pendapatan negara tidak lebih dari Rp. 7,8 triliun. Jaringan Advokasi Tambang juga mencatat bahwa lebih dari 100 kasus muncul setiap tahunnya antara perusahaan tambang dan masyarakat sekitar atau otoritas lingkungan yang juga diakibatkan dari pengabaian pihak perusahaan terhadap kondisi masyarakat sekitar (The Jakarta Post,27/02).

Untuk mengatasinya, peran pemerintah pun makin diharapkan untuk tidak lagi sekedar penagih tanggung jawab normatif semisal royalti dan peningkatan pendapatan. Peran pemerintah sangat menentukan dalam membangun usaha yang kondusif dan tidak manipulatif.

Harus diakui bahwa peran pemerintah masih belum maksimal. Ini terlihat dari belum terciptanya iklim yang kondusif bagi perusahaan untuk meningkatkan program CSR-nya. Selain itu, pemerintah juga belum menyediakan regulasi yang menjamin lintas sektor dan dunia usaha agar mampu menyelenggarakan pembangunan kesejahteraan sosial secara berkelanjutan dan melembaga.

Sampai disini kita kemudian disadarkan akan arti penting CSR bagi perusahaan dan pembangunan masyarakat.

Tapi pertanyaannya kemudian, bagaimana agar CSR tidak menjadi paradigma pinggiran (peripheral paradigm), baik itu bagi masyarakat, pemerintah dan kalangan dunia usaha sendiri? Apalagi dalam dunia usaha sendiri, masih terjadi perdebatan mengenai penting tidaknya CSR bagi perusahaan. Terlepas dari itu, ada sejumlah kondisi yang harus dipenuhi agar CSR menjadi paradigma arus utama (mainstream paradigm). Pertama, perdebatan akademis atau politik mengenai sistem pengetahuan tersebut di arena publik. Di sini, partisipasi masyarakat adalah prasyarat mutlak.

Kedua, perdebatan tersebut kemudian ditopang oleh jaringan kekuasaan (legislatif-eksekutif, perguruan tinggi, media, dan LSM). Selanjutnya, akan tercipta kondisi ketiga, dimana sistem ini memiliki ‘teknologi sosial’ yang secara akademis dapat dipertanggungjawabkan (Rochman Achwan, 2006).

Di atas semua itu, CSR juga mensyaratkan agar dunia usaha mengubah pola tanggung jawab mereka yang cenderung elitis, dimana pelibatan masyarakat cukup melalui pejabat atau tokoh-tokoh semata. Kasus Freeport sekali lagi memberi pembenaran atas ini, dimana menurut klaim perusahaan dalam laporannya, mereka telah melakukan banyak hal untuk masyarakat. Namun karena sifat dan desainnya yang tidak melibatkan public sebagai objek, maka yang terjadi kemudian adalah disharmonisasi antara apa yang dilakukan perusahaan dengan kebutuhan masyarakat.

Ke depan, program community development, sebagai salah satu pengejawantahan CSR yang dilaksanakan oleh perusahaan harus dapat menciptakan hubungan sinergi antar pelaku pembangunan. Kekuasaan harus pula dikelola secara seimbang dan tidak manipulatif sebagaimana yang terjadi selama ini, dalam bentuk pola hubungan sosial antara pemerintah, perusahaan, dan masyarakat dengan peran masing-masing dalam menciptakan civil society dan good governance.

Bagi dunia usaha saat ini, tuntutan akan implementasi CSR tidak hanya bersifat eksternal (tekanan dari masyrakat global), tetapi juga haruslah bersifat internal, dimana karyawan juga menyadari dan memberi tekanan kepada perusahaan untuk mengiplementasikan CSR ini dengan sungguh-sungguh sebagai bagian dari entitas bangsa.

Setelah itu, barulah kemudian esensi dari CSR yang bertujuan sebagai perwujudan reorientasi dalam manajemen pembangunan dari state-centered ke multi-centered, dimana keterlibatan dunia usaha tak lagi dapat ditawar, dapat terwujud. Kita pun akhirnya dapat melihat prakarsa perusahaan sebagai bagian dari potensi bangsa yang mendayagunakan diri secara efektif bagi sebesar-besarnya kemakmuran dan kesejahteraan rakyat.

Saturday, February 18, 2006

Ketika Miskin Menjadi Hip

Namanya Tuginem, umurnya 70 tahun. Dengan berjalan kaki tiga kilometer lebih, ia bergegas menuju sebuah kantor pos di Jogjakarta. Tujuannya satu, mendapatkan haknya sebagai orang miskin di negeri ini, uang 300 ribu rupiah. Apa lacur, haknya itu tak dapat diperolehnya hanya karena ia tidak membawa kartu sebagai tanda bahwa ia memang orang yang berhak. Beruntunglah kemudian orang-orang yang juga bernasib sama dengannya bersedia mendermakan sebagian uang yang mereka peroleh.

Kisah di atas kubaca di harian The Jakarta Post (16/02). Sungguh, negeri ini memang menyediakan banyak ironi. Apa yang dihadapi Tuginem, hanya satu contoh kecil tentang ironi yang terlanggengkan. Ya, ia menjadi ironi jika melihat bagaimana negeri ini memberi kemudahan dan fasilitas yang melimpah kepada mereka yang pernah merampok dan menjarah uang rakyat. Hebatnya lagi, mereka kemudian bisa masuk istana dengan bebas, laiknya seorang pahlawan. Tak terbayang bagaimana Tuginem dan rakyat kecil lainnya harus berurusan dengan Paspanpres jika ingin sekedar bertemu dengan presiden

Mungkin pemimpin-pemimpin negeri ini kagum dan kemudian ingin meniru uncle Ronald Reagen, yang saat memimpin Amerika menjalankan program reagenomics. Reagen meyakini bahwa jika orang-orang kaya diberi kesempatan untuk mengelola negeri, maka kemakmuran bukanlah hal yang mustahil. Dengan kata lain, orang kaya harus diberi kesempatan untuk menambah kekayaan mereka agar si miskin seperti Tuginem tak perlu lagi antri berjam-jam hanya untuk mendapatkan Rp. 300 ribu.

Baiklah, kita prihatin dengan nasib Tuginem. Menghayati nasib orang lain, itu bahasa lainnya, tetapi kekalkah ia? Compassion, perasaan ikut menghayati pedihnya nasib orang lain, bisa hanya sekedar hip. Sesuatu yang sejenak, begitu sejurus kemudian. Apalagi ketika ia hanya menjadi komoditas. Keibaan itu kemudian menjadi tak awet.

Tapi tak sedikit tentu yang tak sudi menjadi berita, mereka bekerja dalam diam dan miskin publikasi, seperti pohon yang tumbuh diam-diam tanpa pernah disadari ia sudah memberi buah yang ranum. Teringat akan Bob Geldof yang berucap, “it should be a shooting star—brilliant and beautiful for a second—and then live forever in your memory.”

Wednesday, February 15, 2006

No Idea

stuck...

Belakangan ini rasanya kejenuhan membuncah. Rutinitas yang tak juga menurun intensitasnya, kawan yang makin kelihatan membosankan. Kondisi ini membuatku rindu untuk tidak melakukan apa-apa. Ya, sejak beberapa bulan lalu jadwal tidurku memang agak terganggu. Belum lagi kebiasaan minum kopi yang makin menggila.

Mungkin memang harus ada jeda dari rutinitas yang mulai tidak bersahabat ini..

Thursday, January 26, 2006

pahlawan

sore belum juga utuh, segerombolan anak-anak SMP saling mengejar dan melempar. mereka masih lengkap dengan pakaian seragam dan juga perlengkapan sekolah lainnya.

saat pulang ke kos, kulihat kelompok berseragam putih-putih (kuyakin mereka dari sekolah islam) dan kelompok yang berpakaian putih biru sudah saling berhadapan dan menghujat. jumlah mereka tidak banyak, bahkan sebenarnya kurang pas juga disebut tawuran kelompok. tapi paling tidak, mereka telah berhasil membuat macet jalan di kisaran salemba tengah. entah siapa yang memulai, tiba-tiba dua kelompok yang awalnya saling bertahan, sontak berhamburan. batu, teriakan, dan penonton yang bersorak.

aku coba tidak terusik, meski tetap berhati-hati. siapa tahu ada batu yang nyasar atau malah diciduk aparat. saat dekat kos, di ujung gang tampak seorang anak dari salah satu kelompok itu sedang terbaring lemah, bahkan kupikir ia pingsan. bajunya praktis kotor dan di sekitar badannya ada luka memar. mungkin ia telah menjadi korban lawannya, dan juga karena tidak sanggup akhirnya lebih memilih ngacir untuk menyelamatkan diri. ia lebih memilih untuk lari kedalam gang dan bersembunyi dekat rumah penduduk.

reaksi masyarakat sekitar tak terduga juga buat saya. memang ia akhirnya tertolong, tapi awalnya ia menjadi sasaran telunjuk, seolah ia menjadi biang semua ini. bahkan sepertinya, beban hidup masyarakt jakarta pun dihempaskan ke pundaknya.

setelah mendapatkan ceramah dan wejangan, seorang ibu memberinya makan dann minum. ia yang dari tadi menjadi pusat perhatian, masih juga kelihatan cemas, meski sang ibu coba menghiburnya untuk tenang dan jangan banyak goyang. dalam pikirannya ia tentu tak berharap diri dalam situasi seperti ini. pusat perhatian untuk saat dan kondisi seperti ini, adalah tentu bukan alternatif baginya.

di tengah kondisi harga beras yang tinggi, listrik yang akan naik lagi, banjir dan angin kenjang yang luar biasa, anak itu menjadi penghibur sejenak. mungkin masyarakat butuh tempat untuk menumpahkan kesalahan dan luka, apalagi jika pemerintahnya tuli dan buta. jadi anak itu, tak patutlah bersedih, ia adalah pahlawan.

Tuesday, January 03, 2006

Menata Ulang Harapan

Image hosted by Photobucket.com

Layaknya tradisi, setiap tarikh dipenggal dengan tahun. Mungkin sekedar jeda dari optimisme yang tinggi, atau juga menjadi pertanda bahwa kita kalah, dan perjuangan harus berhenti dulu. Seakan-akan peristiwa dapat dipotong-potong. Maka tengoklah kemudian setiap media mengajak kita untuk mengingat apa yang menjadi optimisme dan dimana kita harus berpesimis-ria.

Ya, saatnya tiba untuk “catatan akhir tahun”, kaladeoskop, year review, hingga gosip pun direkonstruksi ulang. Tengoklah bagaimana infotainment mencoba menyegarkan ingatan kita tentang gosip-gosip yang pernah menjadi sekedar bumbu pembicaraan hingga yang betul-betul kita ikuti dengan sangat detail. Perceraian si Anu, ultah si Dia, sampai makanan favorit keluarga sang Itu. Lalu bagaimana kita menyebut 2005?
* * *
Dr. Morrie Schawrtz, sosiolog di Harvard University ketika menjelang ajalnya berujar, “Aku mulai menikmati ketergantunganku”, katanya. “Seperti kembali menjadi anak-anak...Kita semua tahu bagaimana menjadi seorang anak. Ada dalam diri kita itu. Bagi saya, ini soal mengingat dan menikmatinya”. Ada prihatin dalam tuturnya..

Ia seperti menyadarkan kita bahwa makin dewasa sebenarnya kita makin kanak-kanak saja jadinya. Tergantung kepada ini dan itu. Bangsa ini pun rasanya tidak jauh dari hal yang sama. Makin jauh rentang kita dengan saat merdeka, makin rumit pula hidup menjadi. Utang yang menumpuk di beberapa negara besar, harga BBM yang sangat bergantung kepada harga minyak dunia, korupsi yang sangat bergantung kepada siapa yang punya kekuasaan, hingga media yang sangat bergantung kepada pemasang iklan. Meski tidak sepenuhnya bulat, tapi itulah gambaran wajah bangsa ini. Adakah harapan di sini?

Dari Morrie Schawrtz kita juga harusnya belajar, bahwa perlawanan terakhir bukanlah perlawanan terhadap sesuatu yang lebih kuat dan pasti menang—yang akhirnya berwujud maut. Perlawanan terakhir adalah perlawanan terhadap kepedihan merasa kalah. Kita perlu menang atas godaan untuk menganggap kemenangan itu satu hal yang penting...

Yang paling penting sebenarnya adalah bagaimana menjadikan diri kita tak terlalu pusing dengan dalih. “Hidup memang tidak adil”, atau yang lebih brutal, “karena hidup tidak pernah adil untuk kita, maka pengertian keadilan adalah satu hal yang omong kosong,”. Demikianlah, kita pun berargumen bahwa persoalannya adalah terletak pada pilihan.

Bukankah banyak yang jadi korban tanpa pernah tahu alasannya? Ya, dan yang menarik adalah bahwa banyak juga yang tak memilih amarah dan membuat orang lain menjadi korban. Inilah yang harus menjadi semangat hidup. Semangat yang melihat harapan ketika memberi. Mungkin dengan sedih dan penuh kegetiran. Tapi akhirnya Morrie Schawrtz memberi tahu kita bahwa tetap saja ada orang yang berbuat baik, juga dalam kekalahannya. Bukankah itu juga harapan, kawan?

Bagaimana harapan di tahun mendatang? Tak ada yang pasti. Sama dengan tidak pastinya memperkirakan rupiah akan menguat terhadap dollar, atau membayangkan akan harga BBM yang terus turun. Namun seperti kata Bernstein, “Ketidakpastian membuat kita merdeka”. Sebab andai pun semua berjalan laik hukum probabilitas, kita rasanya tak beda dengan manusia primitif, tak punya alternatif lain selain berdoa dan melafalkan mantra, semoga hidup menjadi lebih baik. Tak lebih.

Di atas semua, rasanya perlu dipikirkan untuk menata ulang harapan. Jangan ngotot, kawan. Di sisi ini rasanya kata-kata Keynes perlu didengar, “In the long run we are all dead.” Kelak, akhirnya kita semua akan mati—-sebuah pesan tentang kehidupan dan harapan yang sesungguhnya..

Tuesday, December 20, 2005

CSR(?)

Like the church and communism in other times, the corporation is today’s dominant institution…

Semua bermula setelah 1880-khususnya setelah “revolusi industri” di barat sana. Teknologi diperbarui, dan mesin-mesin yang dulu tak terbayangkan tumbuh subur tercipta. Pada akhirnya, mesin-mesin itu tak sekedar menjadi pembangkit Eropa, yang dimulai Inggris, tapi juga menjadi penghancur dan penghisap.

Tak butuh waktu lama untuk kemudian membuat dunia ini menjadi terbagi milik siapa dan atau oleh siapa. Mesin dan pabrik, menjadi kegandrungan baru, yang tak hanya menjadi privasi dan previlise bagi seseorang, tapi juga menjadi senjata bagi sebuah negara mencamplok negara lain, tanpa tentara dan amarah.

Film dokumenter “The Corporation” menyajikan dengan vivid fakta ini. Film ini berusaha menggambarkan kedahsyatan cengkraman “makhluk” bernama perusahaan, yang bahkan telah masuk pada sendi-sendi kehidupan manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Tak pelak, lewat film ini, makhluk itu ditelanjangi sebagai mesin kapitalis yang rakus dan semata-mata demi keuntungan. Yes, it’s all about the money.

Image hosted by Photobucket.com Tak masalah jika keuntungan itu lahir dari penindasan yang dibungkus oleh etos dan profesionalisme. Bagaimana kemudian kita tahu bahwa Nike mempekerjakan pekerja dibawah usia 13 tahun. Ironisnya, barang yang mereka hasilkan dihargai mahal sementara upah yang mereka terima tak lebih dari seperduapuluh harga produk itu. Sebuah bentuk imprealisme dan perselingkuhan antara modal dan kekuasaan, yang dilembagakan oleh segudang regulasi atas nama investasi dan pembangunan.

Ada yang menarik ketika Michael Moore—yang menjadi narasumber dalam film ini dan terkenal dengan film 911-nya—meminta President Direktur Nike Corporation untuk terbang ke Indonesia. Ajakan ini ia ajukan dengan membeli dua tiket kelas bisnis. Jawaban yang ia terima tentu saja penolakan. Lebih mengagetkan lagi bahwa sang Presdir belum pernah ke Indonesia. Dengan masih berekspresi kaget Moore kemudian membalasnya dengan kalimat yang menohok, “Bagaimana mungkin seorang pemimpin perusahaan belum mendatangi negara tempat pabriknya beroperasi?”

Pada saat itu memang salah satu pusat produksi Nike adalah Indonesia. Namun sejak beberapa tahun lalu, mereka telah memindahkan pabriknya ke negara lain, salah satu sebabnya karena di sana upah buruh masih sangat murah. Dan tak seperti Indonesia, di sana kepentingan perusahaan sangat terjaga, tak juga oleh demonstrasi pekerja yang tentu saja tak disukai oleh pengusaha.

Film ini disutradarai oleh Mark Achbar, yang hadir pula saat pemutaran film. Dalam sambutannya, ia sempat menceritakan tekanan yang ia terima setelah menyelesaikan filmnya. Bagaimana pula ia harus mengahabiskan enam tahun—tiga tahun untuk mengumpulkan dana dan riset serta tiga tahun lainnya untuk proses produksi—yang “keras” untuk sebuah film yang tentu saja tak masuk kategori box office dan mendatangkan jutaan dollar. Bukannya untung, film yang menghabiskan banyak duit ini menurut pembuatnya bahkan belum kembali modal.

Tapi ia kemudian menimpalinya dengan mengatakan bahwa film ini adalah sebuah upaya untuk memberikan definisi lain tentang kemakmuran dan kesejahteraan. Tak melulu harus dengan membohongi dan menggadaikan kemanusiaan. Film ini juga merupakan ajakan untuk kita berinspirasi. Lalu, kata dia, “Bangkit dari sofa Anda dan lakukan sesuatu untuk memperbaiki hal ini. Apa pun bentuknya..”

Achbar mewawancarai berbagai narasumber, dari Noam Chomsky, perain nobel ekonomi--Milton Friedman, dan Jane Akre serta Steve Wilson, dua wartawan FOX News yang dipecat karena memberitakan perusahaan Monsanto yang menggunakan bahan kimia berbahaya yang disuntikkan ke sapi untuk meningkatkan hasil susu. Terakhir diketahui Monsanto membayar jutaan dollar untuk iklan yang disiarkan di jaringan FOX News.

Menonton film ini seperti mengajak kita untuk melihat “dunia lain” dari perusahaan dan proses penguasaan modal terhadap segala sendi kehidupan manusia. Ya, apa yang tidak dikuasai saat ini? Ketika rumah ibadah telah menjelma laksana WalMart, berita tak lagi sekedar informasi, sekolah tak lebih dari jejeran billboard dan saat pagi tak lagi menjadi pertanda mula hari, kemanakah kita harus bersembunyi?

Monday, December 12, 2005

Sejam Bersama Soekarno

Image hosted by Photobucket.com

Demam selama lebih dua minggu membuatku khawatir. Namun setelah memeriksakan diri, termasuk cek darah, kekhawatiran terkena demam berdarah—yang lagi “booming” di Jakarta—akhirnya tidak terbukti. Tapi dokter tetap mensyaratkan untuk beristirahat total.

Berdiam diri di kamar adalah pekerjaan yang tidak begitu menyenangkan, apalagi hari ini Jiffest memasuki hari kedua. Setelah kemarin terlewat saat pembukaan, maka hari ini kuputuskan untuk pergi. Meski sebelum berangkat aku mewanti diri untuk menonton hanya satu film, setelah itu harus pulang dan melanjutkan istirahat yang tersela.

Sampai di TIM, pilihan film menjadi masalah selanjutnya. Begitu banyak film dan tentu saja semuanya menarik. Setelah membolak-balik buku petunjuk jiffest yang berisi paparan singkat dari masing-masing film maka kuputuskan untuk menonotn film dokumenter saja. Apalagi jenis film ini gratis untuk ditonton. Bukan gratis itu sebenarnya yang menjadi alasan utama, tapi melihat antrian panjang calon penonton di graha bakti budaya yang ingin menyaksikan film “bagus” dan tidak gratis membuatku berfikir ulang. Takut tidak kuat, apalagi di teater kecil tempat pemutaran film dokumenter tidak terlihat antrian yang luar biasa. Judul filmnya, “From the Cabinet of Des Alwi”. Film ini
Ini tentu sangat menarik. Ya, jika selama ini aku hanya kenal sejarah bangsa ini lewat pelajaran PSPB dan buku-buku sejarah, maka hari ini ada kesempatan menarik melihat visualisasinya.

Ruangan teater tidak penuh dengan penonton, mungkin film dokumenter tidak begitu menarik bagi mereka yang berselera hollywood. Atau bisa jadi karena filmnya yang tidak menarik, entahlah..Dan satu lagi, sekitar 70% penonton adalah orang asing. Dari beberapa pembicaraan panitia, kudengar mereka ini adalah mahasiswa dari australia dan inggris yang sengaja datang untuk jiffest yang ketujuh kalinya dilaksanakan ini. Sejenak kupikir, mereka mungkin ingin membuktikan apakah leluhur mereka benar imprealis atau malah hero bagi bangsa Indonesia. Yang spesial, Des Alwi sang pembuat dokumenter hadir untuk memberikan narasi bagi film yang memang lebih banyak sekedar visual namun tetap berbobot.

Sosok Des Alwi sendiri menurutku adalah festival tersendiri. Bagaimana ia dengan sangat detail masih mengingat gambar itu diambil tanggal dan bulan berapa. Termasuk bagaimana ia mendeskripsikan roman muka dari objek yang diliputnya. Kalau toh ada yang luput, seorang asisten yang duduk disampingnya siap membetulkan. Tapi sepanjang pemutaran, fungsi sang asisten tak lebih dari teman duduk manis dan lebih banyak menikmati sendiri tontonan.

Kembali ke film, ia menggambarkan kondisi bangsa ini sejak berusaha untuk merdeka hingga masa-masa sulit dalam mengisi kemerdekaan yang telah diraih. Yang lebih membuat menarik, film ini juga menggambarkan Soekarno apa adanya. Ya, inilah film dokumenter tentang presiden pertama republik ini. Meski dari judul ia berusaha mencitrakan gambaran tentang tokoh-tokoh bangsa yang lain—dan memang ada sosok Syahrir, Bung Hatta, Ahmad Yani, Oemar Dani, Nasution dll, tapi tetap saja itu dalam bingkai interaksi mereka dengan Soekarno. Ini dimungkinkan karena, salah satunya adalah bahwa Des Alwi, selain jadi wartawan dan diplomat, ia juga memiliki kedekatan dengan tokoh-tokh tersebut.

Menurutku, ada beberapa adegan yang cukup menggambarkan Soekarno “apa adanya”. Pertama ketika ia menandatangani perjanjian jual beli senjata dengan Cina. Saat itu memang dengan panji nasakom, Soekarno mencoba membangun aliansi dengan negara-negara penganut paham ini, salah satunya dengan Cina. Karena Indonesia dianggap sebagai negara yang sangat strategis, maka Cina kemudian memberikan bantuan senjata. Nah, film itu memberikan proses penandatanganan yang sangat Soekarno. Ketika ia telah selesai menandatangani berkas, Soekarno kemudian berpaling ke arah diplomat Cina yang menandatangani dokumen yang sama untuk bertukar. Tapi sebelum itu ia masih sempat ngupil dan tanpa membersihkan tangan atau menyembunyikan aktivitasnya itu, ia langsung saja berjabat tangan. Dari bangku belakang kudengar beberapa penonton asing ngakak sengakak-ngakaknya…entah apa yang mereka pikirkan.

Ada juga bung Karno dalam ekspresi kesedihan yang mendalam, ketika dengan paksa ia diperintahkan keluar dari istana. Bagaimana ia mengepak sendiri barang-barangnya, pun ketika ia membagi-bagikan dasi koleksinya kepada wartawan..tampak jelas ketegaran dan kebesarannya, meski dalam sejarah ia diceritakan pecundang. Ia pun dengan tetap mengumbra senyum memasuki istana bogor, tempat kemudian ia menjalani nasib sebagai tahanan rumah.

Bagi wartawan, Soekarno adalah sosok yang sangat dekat. Ia bahkan terkenal sering bercanda dengan mereka. Termasuk ketika diwawancarai oleh seorang wartawan, ia kemudian melihat ada sebungkus rokok dikantong baju sang wartawan. Tanpa sungkan dan seolah akrab, ia langsung saja mengambil rokok itu dan membakarnya. “enak juga rokok kamu”, hanya itu yang dikatakannya. Kecakapannya berbahasa inggris, belanda dan jerman, juga menjadi kekaguman tersendiri, paling tidak begitu kata Des Alwi mengutip komentar rekan-rekan wartawan yang bersamanya meliput kegiatan presiden.

Adegan yang lain menggambarkan sosok Bung Hatta yang sangat pemalu dan dengan sifatnya itu ia sering menjadi gugup. Ceritanya saat ia menghadiri pertemuan di Belanda, saat ratu akan menyerahkan kedaulatan Indonesia. Setelah menyampaikan pidatonya yang bagus, ia lupa untuk menjabat tangan sanga ratu yang sudah menyodorkan tangan. Des Alwi mengatakan bahwa saat itu bung Hatta gugup sekali sampai lupa menjabat tangan. Ia tahu karena bung Hatta sendiri yang cerita.

Lebih dari itu semua, film ini seperti menggambarkan sosok Des Alwi yang telaten dan sangat menghargai dokumentasi. Dalam pikiran beliau, mungkin terbersit bahwa sejarah, betatapapun kelamnya, ia harus dikekalkan. Bukan untuk dimaknai sempit dan menjadi primbon, tapi tempat dan ruang untuk belajar. Film ini—yang menampilkan Soekarno sebagai bintang—seperti menitip pesan tentang kekuasaan dan batas manusia. Dan Soekarno, hanyalah satu dari sekian pertanda.

Tuesday, December 06, 2005

Weathering

#1
Seorang anak, kutaksir umurnya tak lebih dari 10 tahun, sedang asyik membaca buku. “The Onion Nausem, American’s Finest News Source-Complete News Archieves Vol.15”, begitu judul buku yang ia baca. Aku tahu judul buku itu setelah ‘bersabar’ menanti ia membolak-balik lembar demi lembar buku itu. Setelah ia berpaling karena panggilan ibunya—mungkin harus segera creambath atau mencari prada edisi teranyar, kuambil buku yang dibacanya tadi. Penasaran aja rasanya, anak sekecil itu sudah membaca (kalau toh tidak membaca, menaruh perhatian terhadap sesuatu yang tidak lazim bagi anak-anak) buku yang aku sendiri belum tentu mengerti apa isinya.

Ternyata buku itu berisi kumpulan berita yang pernah dimuat salah satu majalah di Amerika. Semacam bundel, yang diterbitkan dalam beberapa volume. Dari halaman yang kuingat, berita yang lama dipelototi anak itu berjudul “The King of Pop Speaks”. Wah, aku jadi ingat bacaan-bacaanku ketika seumuran anak kecil itu.

#2
Keluar dari plaza, hujan deras mengguyur kota. Di luar tampak beberapa anak “dalam pengawasan ketat” orang tua mencoba mencicipi guyuran hujan. Dengan menjulurkan tangan keluar dari beton yang menutupi sebagian lobi plaza. Atau sekedar berteriak girang seolah hujan, paling tidak bermain-main dengan hujan, adalah barang langka untuk mereka.

Di seberang jalan seorang anak dengan kuyup menawarkan payung untuk mereka yang bergegas. Kuhampiri dia, dengan berlari tentunya, untuk mengantarku ke halte bus. Sambil menikmati perjalanan beberapa ratus meter menuju halte, kubertanya kepadanya, sekedar mencoba memecah kesunyian seolah kami adalah sepasang kekasih yang sedang bertengkar.

Namanya Andi, kelas 5 SD. Mengojek payung adalah pilihan paling baik untuk membantu ibunya menghidupi ia dan tiga orang adiknya. Dari mengojek payung ia biasa membawa pulang Rp 15 ribu. Lumayanlah, sebab tak sedikit pengguna jasanya memberi tip tambahan. Mungkin iba, mungkin juga malas menunggu kembalian atau memang ingin bersedekah.

#3
Desember menjelang akhir hari ketiga, sebuah pesan pendek masuk ke handphoneku. “Alhamdulillah Hasni telah melahirkan bayi laki-laki pada pukul 22.56 WITA tadi. Panjang 52 cm, berat 3,60 kg.” Seorang ponakanku lahir lagi, berarti tanda bahwa kehidupan harus terus dilestarikan. Atau mungkin seperti kata Tagore, setiap anak tiba dengan pesan bahwa Tuhan belum jera dengan manusia.

Selamat datang, nak.