Thursday, January 26, 2006

pahlawan

sore belum juga utuh, segerombolan anak-anak SMP saling mengejar dan melempar. mereka masih lengkap dengan pakaian seragam dan juga perlengkapan sekolah lainnya.

saat pulang ke kos, kulihat kelompok berseragam putih-putih (kuyakin mereka dari sekolah islam) dan kelompok yang berpakaian putih biru sudah saling berhadapan dan menghujat. jumlah mereka tidak banyak, bahkan sebenarnya kurang pas juga disebut tawuran kelompok. tapi paling tidak, mereka telah berhasil membuat macet jalan di kisaran salemba tengah. entah siapa yang memulai, tiba-tiba dua kelompok yang awalnya saling bertahan, sontak berhamburan. batu, teriakan, dan penonton yang bersorak.

aku coba tidak terusik, meski tetap berhati-hati. siapa tahu ada batu yang nyasar atau malah diciduk aparat. saat dekat kos, di ujung gang tampak seorang anak dari salah satu kelompok itu sedang terbaring lemah, bahkan kupikir ia pingsan. bajunya praktis kotor dan di sekitar badannya ada luka memar. mungkin ia telah menjadi korban lawannya, dan juga karena tidak sanggup akhirnya lebih memilih ngacir untuk menyelamatkan diri. ia lebih memilih untuk lari kedalam gang dan bersembunyi dekat rumah penduduk.

reaksi masyarakat sekitar tak terduga juga buat saya. memang ia akhirnya tertolong, tapi awalnya ia menjadi sasaran telunjuk, seolah ia menjadi biang semua ini. bahkan sepertinya, beban hidup masyarakt jakarta pun dihempaskan ke pundaknya.

setelah mendapatkan ceramah dan wejangan, seorang ibu memberinya makan dann minum. ia yang dari tadi menjadi pusat perhatian, masih juga kelihatan cemas, meski sang ibu coba menghiburnya untuk tenang dan jangan banyak goyang. dalam pikirannya ia tentu tak berharap diri dalam situasi seperti ini. pusat perhatian untuk saat dan kondisi seperti ini, adalah tentu bukan alternatif baginya.

di tengah kondisi harga beras yang tinggi, listrik yang akan naik lagi, banjir dan angin kenjang yang luar biasa, anak itu menjadi penghibur sejenak. mungkin masyarakat butuh tempat untuk menumpahkan kesalahan dan luka, apalagi jika pemerintahnya tuli dan buta. jadi anak itu, tak patutlah bersedih, ia adalah pahlawan.

Tuesday, January 03, 2006

Menata Ulang Harapan

Image hosted by Photobucket.com

Layaknya tradisi, setiap tarikh dipenggal dengan tahun. Mungkin sekedar jeda dari optimisme yang tinggi, atau juga menjadi pertanda bahwa kita kalah, dan perjuangan harus berhenti dulu. Seakan-akan peristiwa dapat dipotong-potong. Maka tengoklah kemudian setiap media mengajak kita untuk mengingat apa yang menjadi optimisme dan dimana kita harus berpesimis-ria.

Ya, saatnya tiba untuk “catatan akhir tahun”, kaladeoskop, year review, hingga gosip pun direkonstruksi ulang. Tengoklah bagaimana infotainment mencoba menyegarkan ingatan kita tentang gosip-gosip yang pernah menjadi sekedar bumbu pembicaraan hingga yang betul-betul kita ikuti dengan sangat detail. Perceraian si Anu, ultah si Dia, sampai makanan favorit keluarga sang Itu. Lalu bagaimana kita menyebut 2005?
* * *
Dr. Morrie Schawrtz, sosiolog di Harvard University ketika menjelang ajalnya berujar, “Aku mulai menikmati ketergantunganku”, katanya. “Seperti kembali menjadi anak-anak...Kita semua tahu bagaimana menjadi seorang anak. Ada dalam diri kita itu. Bagi saya, ini soal mengingat dan menikmatinya”. Ada prihatin dalam tuturnya..

Ia seperti menyadarkan kita bahwa makin dewasa sebenarnya kita makin kanak-kanak saja jadinya. Tergantung kepada ini dan itu. Bangsa ini pun rasanya tidak jauh dari hal yang sama. Makin jauh rentang kita dengan saat merdeka, makin rumit pula hidup menjadi. Utang yang menumpuk di beberapa negara besar, harga BBM yang sangat bergantung kepada harga minyak dunia, korupsi yang sangat bergantung kepada siapa yang punya kekuasaan, hingga media yang sangat bergantung kepada pemasang iklan. Meski tidak sepenuhnya bulat, tapi itulah gambaran wajah bangsa ini. Adakah harapan di sini?

Dari Morrie Schawrtz kita juga harusnya belajar, bahwa perlawanan terakhir bukanlah perlawanan terhadap sesuatu yang lebih kuat dan pasti menang—yang akhirnya berwujud maut. Perlawanan terakhir adalah perlawanan terhadap kepedihan merasa kalah. Kita perlu menang atas godaan untuk menganggap kemenangan itu satu hal yang penting...

Yang paling penting sebenarnya adalah bagaimana menjadikan diri kita tak terlalu pusing dengan dalih. “Hidup memang tidak adil”, atau yang lebih brutal, “karena hidup tidak pernah adil untuk kita, maka pengertian keadilan adalah satu hal yang omong kosong,”. Demikianlah, kita pun berargumen bahwa persoalannya adalah terletak pada pilihan.

Bukankah banyak yang jadi korban tanpa pernah tahu alasannya? Ya, dan yang menarik adalah bahwa banyak juga yang tak memilih amarah dan membuat orang lain menjadi korban. Inilah yang harus menjadi semangat hidup. Semangat yang melihat harapan ketika memberi. Mungkin dengan sedih dan penuh kegetiran. Tapi akhirnya Morrie Schawrtz memberi tahu kita bahwa tetap saja ada orang yang berbuat baik, juga dalam kekalahannya. Bukankah itu juga harapan, kawan?

Bagaimana harapan di tahun mendatang? Tak ada yang pasti. Sama dengan tidak pastinya memperkirakan rupiah akan menguat terhadap dollar, atau membayangkan akan harga BBM yang terus turun. Namun seperti kata Bernstein, “Ketidakpastian membuat kita merdeka”. Sebab andai pun semua berjalan laik hukum probabilitas, kita rasanya tak beda dengan manusia primitif, tak punya alternatif lain selain berdoa dan melafalkan mantra, semoga hidup menjadi lebih baik. Tak lebih.

Di atas semua, rasanya perlu dipikirkan untuk menata ulang harapan. Jangan ngotot, kawan. Di sisi ini rasanya kata-kata Keynes perlu didengar, “In the long run we are all dead.” Kelak, akhirnya kita semua akan mati—-sebuah pesan tentang kehidupan dan harapan yang sesungguhnya..

Tuesday, December 20, 2005

CSR(?)

Like the church and communism in other times, the corporation is today’s dominant institution…

Semua bermula setelah 1880-khususnya setelah “revolusi industri” di barat sana. Teknologi diperbarui, dan mesin-mesin yang dulu tak terbayangkan tumbuh subur tercipta. Pada akhirnya, mesin-mesin itu tak sekedar menjadi pembangkit Eropa, yang dimulai Inggris, tapi juga menjadi penghancur dan penghisap.

Tak butuh waktu lama untuk kemudian membuat dunia ini menjadi terbagi milik siapa dan atau oleh siapa. Mesin dan pabrik, menjadi kegandrungan baru, yang tak hanya menjadi privasi dan previlise bagi seseorang, tapi juga menjadi senjata bagi sebuah negara mencamplok negara lain, tanpa tentara dan amarah.

Film dokumenter “The Corporation” menyajikan dengan vivid fakta ini. Film ini berusaha menggambarkan kedahsyatan cengkraman “makhluk” bernama perusahaan, yang bahkan telah masuk pada sendi-sendi kehidupan manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Tak pelak, lewat film ini, makhluk itu ditelanjangi sebagai mesin kapitalis yang rakus dan semata-mata demi keuntungan. Yes, it’s all about the money.

Image hosted by Photobucket.com Tak masalah jika keuntungan itu lahir dari penindasan yang dibungkus oleh etos dan profesionalisme. Bagaimana kemudian kita tahu bahwa Nike mempekerjakan pekerja dibawah usia 13 tahun. Ironisnya, barang yang mereka hasilkan dihargai mahal sementara upah yang mereka terima tak lebih dari seperduapuluh harga produk itu. Sebuah bentuk imprealisme dan perselingkuhan antara modal dan kekuasaan, yang dilembagakan oleh segudang regulasi atas nama investasi dan pembangunan.

Ada yang menarik ketika Michael Moore—yang menjadi narasumber dalam film ini dan terkenal dengan film 911-nya—meminta President Direktur Nike Corporation untuk terbang ke Indonesia. Ajakan ini ia ajukan dengan membeli dua tiket kelas bisnis. Jawaban yang ia terima tentu saja penolakan. Lebih mengagetkan lagi bahwa sang Presdir belum pernah ke Indonesia. Dengan masih berekspresi kaget Moore kemudian membalasnya dengan kalimat yang menohok, “Bagaimana mungkin seorang pemimpin perusahaan belum mendatangi negara tempat pabriknya beroperasi?”

Pada saat itu memang salah satu pusat produksi Nike adalah Indonesia. Namun sejak beberapa tahun lalu, mereka telah memindahkan pabriknya ke negara lain, salah satu sebabnya karena di sana upah buruh masih sangat murah. Dan tak seperti Indonesia, di sana kepentingan perusahaan sangat terjaga, tak juga oleh demonstrasi pekerja yang tentu saja tak disukai oleh pengusaha.

Film ini disutradarai oleh Mark Achbar, yang hadir pula saat pemutaran film. Dalam sambutannya, ia sempat menceritakan tekanan yang ia terima setelah menyelesaikan filmnya. Bagaimana pula ia harus mengahabiskan enam tahun—tiga tahun untuk mengumpulkan dana dan riset serta tiga tahun lainnya untuk proses produksi—yang “keras” untuk sebuah film yang tentu saja tak masuk kategori box office dan mendatangkan jutaan dollar. Bukannya untung, film yang menghabiskan banyak duit ini menurut pembuatnya bahkan belum kembali modal.

Tapi ia kemudian menimpalinya dengan mengatakan bahwa film ini adalah sebuah upaya untuk memberikan definisi lain tentang kemakmuran dan kesejahteraan. Tak melulu harus dengan membohongi dan menggadaikan kemanusiaan. Film ini juga merupakan ajakan untuk kita berinspirasi. Lalu, kata dia, “Bangkit dari sofa Anda dan lakukan sesuatu untuk memperbaiki hal ini. Apa pun bentuknya..”

Achbar mewawancarai berbagai narasumber, dari Noam Chomsky, perain nobel ekonomi--Milton Friedman, dan Jane Akre serta Steve Wilson, dua wartawan FOX News yang dipecat karena memberitakan perusahaan Monsanto yang menggunakan bahan kimia berbahaya yang disuntikkan ke sapi untuk meningkatkan hasil susu. Terakhir diketahui Monsanto membayar jutaan dollar untuk iklan yang disiarkan di jaringan FOX News.

Menonton film ini seperti mengajak kita untuk melihat “dunia lain” dari perusahaan dan proses penguasaan modal terhadap segala sendi kehidupan manusia. Ya, apa yang tidak dikuasai saat ini? Ketika rumah ibadah telah menjelma laksana WalMart, berita tak lagi sekedar informasi, sekolah tak lebih dari jejeran billboard dan saat pagi tak lagi menjadi pertanda mula hari, kemanakah kita harus bersembunyi?

Monday, December 12, 2005

Sejam Bersama Soekarno

Image hosted by Photobucket.com

Demam selama lebih dua minggu membuatku khawatir. Namun setelah memeriksakan diri, termasuk cek darah, kekhawatiran terkena demam berdarah—yang lagi “booming” di Jakarta—akhirnya tidak terbukti. Tapi dokter tetap mensyaratkan untuk beristirahat total.

Berdiam diri di kamar adalah pekerjaan yang tidak begitu menyenangkan, apalagi hari ini Jiffest memasuki hari kedua. Setelah kemarin terlewat saat pembukaan, maka hari ini kuputuskan untuk pergi. Meski sebelum berangkat aku mewanti diri untuk menonton hanya satu film, setelah itu harus pulang dan melanjutkan istirahat yang tersela.

Sampai di TIM, pilihan film menjadi masalah selanjutnya. Begitu banyak film dan tentu saja semuanya menarik. Setelah membolak-balik buku petunjuk jiffest yang berisi paparan singkat dari masing-masing film maka kuputuskan untuk menonotn film dokumenter saja. Apalagi jenis film ini gratis untuk ditonton. Bukan gratis itu sebenarnya yang menjadi alasan utama, tapi melihat antrian panjang calon penonton di graha bakti budaya yang ingin menyaksikan film “bagus” dan tidak gratis membuatku berfikir ulang. Takut tidak kuat, apalagi di teater kecil tempat pemutaran film dokumenter tidak terlihat antrian yang luar biasa. Judul filmnya, “From the Cabinet of Des Alwi”. Film ini
Ini tentu sangat menarik. Ya, jika selama ini aku hanya kenal sejarah bangsa ini lewat pelajaran PSPB dan buku-buku sejarah, maka hari ini ada kesempatan menarik melihat visualisasinya.

Ruangan teater tidak penuh dengan penonton, mungkin film dokumenter tidak begitu menarik bagi mereka yang berselera hollywood. Atau bisa jadi karena filmnya yang tidak menarik, entahlah..Dan satu lagi, sekitar 70% penonton adalah orang asing. Dari beberapa pembicaraan panitia, kudengar mereka ini adalah mahasiswa dari australia dan inggris yang sengaja datang untuk jiffest yang ketujuh kalinya dilaksanakan ini. Sejenak kupikir, mereka mungkin ingin membuktikan apakah leluhur mereka benar imprealis atau malah hero bagi bangsa Indonesia. Yang spesial, Des Alwi sang pembuat dokumenter hadir untuk memberikan narasi bagi film yang memang lebih banyak sekedar visual namun tetap berbobot.

Sosok Des Alwi sendiri menurutku adalah festival tersendiri. Bagaimana ia dengan sangat detail masih mengingat gambar itu diambil tanggal dan bulan berapa. Termasuk bagaimana ia mendeskripsikan roman muka dari objek yang diliputnya. Kalau toh ada yang luput, seorang asisten yang duduk disampingnya siap membetulkan. Tapi sepanjang pemutaran, fungsi sang asisten tak lebih dari teman duduk manis dan lebih banyak menikmati sendiri tontonan.

Kembali ke film, ia menggambarkan kondisi bangsa ini sejak berusaha untuk merdeka hingga masa-masa sulit dalam mengisi kemerdekaan yang telah diraih. Yang lebih membuat menarik, film ini juga menggambarkan Soekarno apa adanya. Ya, inilah film dokumenter tentang presiden pertama republik ini. Meski dari judul ia berusaha mencitrakan gambaran tentang tokoh-tokoh bangsa yang lain—dan memang ada sosok Syahrir, Bung Hatta, Ahmad Yani, Oemar Dani, Nasution dll, tapi tetap saja itu dalam bingkai interaksi mereka dengan Soekarno. Ini dimungkinkan karena, salah satunya adalah bahwa Des Alwi, selain jadi wartawan dan diplomat, ia juga memiliki kedekatan dengan tokoh-tokh tersebut.

Menurutku, ada beberapa adegan yang cukup menggambarkan Soekarno “apa adanya”. Pertama ketika ia menandatangani perjanjian jual beli senjata dengan Cina. Saat itu memang dengan panji nasakom, Soekarno mencoba membangun aliansi dengan negara-negara penganut paham ini, salah satunya dengan Cina. Karena Indonesia dianggap sebagai negara yang sangat strategis, maka Cina kemudian memberikan bantuan senjata. Nah, film itu memberikan proses penandatanganan yang sangat Soekarno. Ketika ia telah selesai menandatangani berkas, Soekarno kemudian berpaling ke arah diplomat Cina yang menandatangani dokumen yang sama untuk bertukar. Tapi sebelum itu ia masih sempat ngupil dan tanpa membersihkan tangan atau menyembunyikan aktivitasnya itu, ia langsung saja berjabat tangan. Dari bangku belakang kudengar beberapa penonton asing ngakak sengakak-ngakaknya…entah apa yang mereka pikirkan.

Ada juga bung Karno dalam ekspresi kesedihan yang mendalam, ketika dengan paksa ia diperintahkan keluar dari istana. Bagaimana ia mengepak sendiri barang-barangnya, pun ketika ia membagi-bagikan dasi koleksinya kepada wartawan..tampak jelas ketegaran dan kebesarannya, meski dalam sejarah ia diceritakan pecundang. Ia pun dengan tetap mengumbra senyum memasuki istana bogor, tempat kemudian ia menjalani nasib sebagai tahanan rumah.

Bagi wartawan, Soekarno adalah sosok yang sangat dekat. Ia bahkan terkenal sering bercanda dengan mereka. Termasuk ketika diwawancarai oleh seorang wartawan, ia kemudian melihat ada sebungkus rokok dikantong baju sang wartawan. Tanpa sungkan dan seolah akrab, ia langsung saja mengambil rokok itu dan membakarnya. “enak juga rokok kamu”, hanya itu yang dikatakannya. Kecakapannya berbahasa inggris, belanda dan jerman, juga menjadi kekaguman tersendiri, paling tidak begitu kata Des Alwi mengutip komentar rekan-rekan wartawan yang bersamanya meliput kegiatan presiden.

Adegan yang lain menggambarkan sosok Bung Hatta yang sangat pemalu dan dengan sifatnya itu ia sering menjadi gugup. Ceritanya saat ia menghadiri pertemuan di Belanda, saat ratu akan menyerahkan kedaulatan Indonesia. Setelah menyampaikan pidatonya yang bagus, ia lupa untuk menjabat tangan sanga ratu yang sudah menyodorkan tangan. Des Alwi mengatakan bahwa saat itu bung Hatta gugup sekali sampai lupa menjabat tangan. Ia tahu karena bung Hatta sendiri yang cerita.

Lebih dari itu semua, film ini seperti menggambarkan sosok Des Alwi yang telaten dan sangat menghargai dokumentasi. Dalam pikiran beliau, mungkin terbersit bahwa sejarah, betatapapun kelamnya, ia harus dikekalkan. Bukan untuk dimaknai sempit dan menjadi primbon, tapi tempat dan ruang untuk belajar. Film ini—yang menampilkan Soekarno sebagai bintang—seperti menitip pesan tentang kekuasaan dan batas manusia. Dan Soekarno, hanyalah satu dari sekian pertanda.

Tuesday, December 06, 2005

Weathering

#1
Seorang anak, kutaksir umurnya tak lebih dari 10 tahun, sedang asyik membaca buku. “The Onion Nausem, American’s Finest News Source-Complete News Archieves Vol.15”, begitu judul buku yang ia baca. Aku tahu judul buku itu setelah ‘bersabar’ menanti ia membolak-balik lembar demi lembar buku itu. Setelah ia berpaling karena panggilan ibunya—mungkin harus segera creambath atau mencari prada edisi teranyar, kuambil buku yang dibacanya tadi. Penasaran aja rasanya, anak sekecil itu sudah membaca (kalau toh tidak membaca, menaruh perhatian terhadap sesuatu yang tidak lazim bagi anak-anak) buku yang aku sendiri belum tentu mengerti apa isinya.

Ternyata buku itu berisi kumpulan berita yang pernah dimuat salah satu majalah di Amerika. Semacam bundel, yang diterbitkan dalam beberapa volume. Dari halaman yang kuingat, berita yang lama dipelototi anak itu berjudul “The King of Pop Speaks”. Wah, aku jadi ingat bacaan-bacaanku ketika seumuran anak kecil itu.

#2
Keluar dari plaza, hujan deras mengguyur kota. Di luar tampak beberapa anak “dalam pengawasan ketat” orang tua mencoba mencicipi guyuran hujan. Dengan menjulurkan tangan keluar dari beton yang menutupi sebagian lobi plaza. Atau sekedar berteriak girang seolah hujan, paling tidak bermain-main dengan hujan, adalah barang langka untuk mereka.

Di seberang jalan seorang anak dengan kuyup menawarkan payung untuk mereka yang bergegas. Kuhampiri dia, dengan berlari tentunya, untuk mengantarku ke halte bus. Sambil menikmati perjalanan beberapa ratus meter menuju halte, kubertanya kepadanya, sekedar mencoba memecah kesunyian seolah kami adalah sepasang kekasih yang sedang bertengkar.

Namanya Andi, kelas 5 SD. Mengojek payung adalah pilihan paling baik untuk membantu ibunya menghidupi ia dan tiga orang adiknya. Dari mengojek payung ia biasa membawa pulang Rp 15 ribu. Lumayanlah, sebab tak sedikit pengguna jasanya memberi tip tambahan. Mungkin iba, mungkin juga malas menunggu kembalian atau memang ingin bersedekah.

#3
Desember menjelang akhir hari ketiga, sebuah pesan pendek masuk ke handphoneku. “Alhamdulillah Hasni telah melahirkan bayi laki-laki pada pukul 22.56 WITA tadi. Panjang 52 cm, berat 3,60 kg.” Seorang ponakanku lahir lagi, berarti tanda bahwa kehidupan harus terus dilestarikan. Atau mungkin seperti kata Tagore, setiap anak tiba dengan pesan bahwa Tuhan belum jera dengan manusia.

Selamat datang, nak.

Monday, November 21, 2005

humor ala penguasa

Image hosted by Photobucket.com

Harga Pertamax Resmi Diturunkan Senin, 21 Nov 2005 (Tempointeraktif.com)
"...Pertamina resmi menurunkan harga jual Pertamax, Pertamax Plus, dan Pertamina Dex mulai Senin (21/11). Penurunan harga rata-rata sebesar 3 persen, atau sekitar Rp 300-400 per liter.Harga Pertamax turun dari Rp 5.700 per liter menjadi Rp 5.400 per liter, Pertamax Plus dari Rp 5.900 per liter menjadi Rp 5.600 per liter, dan Pertamina Dex dari Rp 6.300 per liter menjadi Rp 5.900 per liter.

Juru bicara Pertamina Mochamad Harun mengatakan penurunan harga itu dilakukan karena harga minyak dunia yang cenderung turun beberapa pekan terakhir. Hal itu diikuti dengan penurunan harga produk bahan bakar minyak di pasar spot Singapura rata-rata 3 persen..."

Adakah ini menggembirakan?

Lelaki Pemberani

Image hosted by Photobucket.com

"Kebahagiaan hanya milik mereka yang berani", entah darimana aku baca kalimat itu. Tapi tiba-tiba teringat ketika seorang kawan mendekati hari-hari bersejarah dalam hidupnya. Ya, bersejarah sebab hari ini ia akan melepas masa lajangnya. Ah, seperti iklan perkawinan di koran aja rasanya. Tapi disitulah sebenarnya yang menarik. Dalam kamus bahasa inggris, kata "lajang" sering diartikan dengan "to spring" yang berarti melakukan lompatan atau bisa juga berarti membuka, melepaskan.

Dengan menikah, ia berarti melakukan sebuah lompatan (entah ada yang menganggapnya besar atau kecil) dalam hidup. Bayangkan bagaimana bangun pagi dan di sisi Anda tergolek sesosok tubuh yang lain. Tentu tak perlu khawatir soal sarapan, kawan. Jika selama ini kita bergantian membuat kopi dan membeli beberapa potong kue dan roti, kali ini saat bangun kau akan menghirup aroma kopi dan teh, hasil olahan isteri tercinta. Sama tak perlu khawatirnya kamu soal cucian lagi. Jika selama ini kami sering ngomel dengan sikapmu yang sering merendam pakaian berhari-hari lamanya, kini kau tinggal "menyetor". Belum lagi jika rezeki kalian ditambah oleh Allah sehingga dapat membeli mesin cuci, betapa necis dan rapi engkau kelak...
Tapi apakah hanya hasrat itu yang terpuaskan dengan menikah? Rasanya engkau tak menempatkannya dalam lembaran pertama alasan-alasanmu. Yang aku tahu, kau memang pemberani dan memang berani mengambil resiko. Watak itu terlihat jelas dengan insting bisnismu yang makin terasah.

Dengan menikah pula, engkau telah membuka dan melepaskan segala egomu. Bayangkan jika selama ini tak ada yang mampu mengaturmu dengan tegas dan mengharapkanmu pulang cepat dan tidak lagi keluyuran. Bayangkan pula hobimu yang sering motret harus bertoleransi dan berdamai dengan kebutuhan akan kasih sayang dan cumbu, atau mungkin juga marah dan kesal isterimu karena menunggu dan mungkin juga karena keinginannya untuk memiliki sesuatu harus tertunda, setoran belum cukup juga...

Engkau memang berani, berani sekali. Tapi berani-beraninya aku mempertanyakan keberanianmu, ya? Ah, hari bersejarah itu tiba, sebagaimana kabar lewat sms yang kau kirimkan dari kota yang jauh dariku disini. Maaf, tak sempat berbagi dengan kebahagiaanmu. Tapi dari sini, aku titip doa dan semangat, bahwa untuk seorang pemberani sepertimu, rasanya kebahagiaan akan berpikir dua kali untuk berpaling. Dewi fortuna, atau apapun orang menyebutnya, mungkin sekarang menyertai hidupmu, tak perlu ganti shift dengan yang lain. Ia sendiri yang akan mengambil peran itu...

Selamat berbahagia, kawan...

Tuesday, October 25, 2005

Kehilangan

"Tak ada yang mencintaimu setulus kematian"

Sebuah pesan singkat terkirim kepadaku, isinya mengabarkan kematian seorang kawan. Meski tidak begitu dekat, tapi aku mengenalnya. Dan aku mengenalnya sebagai pribadi yang baik, tak banyak bicara dan selalu menyiratkan semangat untuk belajar. Ini bukan hanya karena aku diajarkan untuk mengenang seseorang yang telah tiada dengan seluruh kebaikannya belaka, tapi begitulah gambaran ringkasku terhadap almarhum.

Selang sehari sebelumnya, teman sekosku juga mendapat musibah. Ayahnya meninggal karena penyakit akut yang telah lama dideritanya. kesedihan, tentu saja seporos dengan kematian ini..

Kematian memang bisa bicara banyak, tentu saja dengan berbagai isyaratnya. Tapi panggilan tuhan tentu tak bermakna tunggal. Kematian bisa membiaskan sesuatu yang merendah-hinakan manusia, atau mungkin juga sesuatu yang mendegradasikan hidup. Itu bisa kita lihat ketika seseorang menghabisi nyawa orang lain, dengan alasan apapun. Bahkan di negara yang mengaku beragama ini, membunuh dengan nama tuhan menjadi sesuatu yang heroik.

Namun kematian tentu saja dapat juga berbicara tentang sesuatu yang luhur. Kata mereka yang saleh, kematian adalah nasehat yang paling diam. Tentang sesuatu yang menyebabkan kita bergumam kagum dan takluk dengan kebesaran kekuatan yang agung, Tuhan.

Untuk merekalah air mata kita tumpahkan. Perpisahan kemudian menjadi sesuatu yang mempekurkan. Semoga kematian mereka, memberikan pelajaran tentang bagaimana lebih menghargai hidup, sesuatu yang dijalani namun tak pernah bisa dikira likunya. Ya, kematian yang baik, kematian yang memberikan ilham bagi hidup yang lebih baik...

Allahummagfirlahu warhamhu wa'afihi wa'fuanhu..

Wednesday, October 19, 2005

Extraordinary People

There are two kinds of heroes. Heroes who shine in the face of great adversity, who perform an amazing feat in a difficult situation. And heroes who live among us, who do their work unceremoniously, unnoticed by many of us, but who make a difference in the lives of others.(SBY, Time October 2005)

Ketika bertemu dengan seluruh Fellow Ellect Ford Foundation, ada rasa minder dalam diri ini. Luar biasa, begitu paling tidak yang kurasa ketika mendengar dan mengetahui asal dan kerja-kerja mereka. Meski tak sedikit yang "biasa-biasa" saja seperti diriku, namun yang luar biasa bukan berarti tidak ada.

Bayangkan, ada seorang guru SMP yang mengajar di pedalaman kalimantan.Julius, begitu biasa kami memamnggilnya. Untuk mencapai daerah tempatnya mengajar, dibutuhkan waktu sekurang-kurangnya dua hari dua malam, dengan asumsi tidak ada cuaca buruk dan hujan yang membuat deras aliran sungai sehingga tak dapat diairi oleh kapal-kapal penyeberangan. Menyeberang sungai, melalui jalan darat selama hari, kemudian dilanjutkan lagi dengan menyebrang sungan dengan kapal yang lebih kecil. Itu pun masih ditambah dengan perjalanan darat dengan medan yang berat. Muridnya pun tak seberapa, hanya sekitar lima puluh siswa. meski begitu, semangatnya untuk mengabdi tak menyurutkan langkahnya meski godaan untuk pindah ke kota yang lebih besar selalu datang menghantui.

Yang lain, ada seorang aktivis LSM yang bergerak dalam bidang pengembangan orang-orang cacat. Namanya Joni. Sebagai pengurus, kondisinya tak jauh beda dengan yang ia urusi. Ia seorang tunanetra, namun semangatnya untuk belajar dan berbagi membuatnya tak pernah mundur untuk sekedar mengharap iba dan belas kasih. Tak seperti kebanyakan aktivis LSM yang agak "mapan" baik dari segi penampilan maupun gaya bicara, ia mengaku hanya seorang anak muda dari desa yang kebetulan dapat menyelesaikan kuliah, ini yang selalu dikatakannya jika kami bertanya kepadanya. Baginya, buta tak harus menjadi penghalang untuk pintar. Ia pun tak setuju jika kebutaan mereka dijadikan alasan untuk mengasihani dan berbagi iba. Tidak. Baginya, cara yang lebih patutu adalah dengan memberikan jalan dan kesempatan untuk mereka berkembang dan tahu bagaimana berangkat dengan keterbatasan untuk menuju jalan setapak masa depan.

Melihat mereka, aku sepeerti menemukan pahlawan. Ya, pahlawan. Jika aku jadi mereka, mungkin tak ada harapan dengan tantangan yang tidak sedikit, seperti yang mereka hadapi. Mereka adalah pahlawan dalam kesenyapan dan jauh dari gegap gempita layaknya mereka yang berlaku "seolah" pahalawan. Yang kedua ini lebih sering memanfaatkan cara-cara pasar agar mereka lebih marketable dan melunturkan cita rasa kepahlawanan.

So what is a hero? Who is a Hero? Ah, melihat mereka saja, membuatku merasa tak perlu berdefinisi dan bermain dengan jargon-jargon. Tapi ada kesamaan dari orang seperti Julias dan Joni, love. Ya, kecintaan mereka terhadap pendidikan dan kecintaan kepada kemanusiaan membuat Julius rela berjauh-jauh dari istrinya untuk mengajar di pedalaman kalimantan. Itu pulalah yang membuat Joni rela menjadikan kediamannya sebagai tempat belajar kawan-kawan senasib. Tanpa harus berkoar tentang apa yang mereka telah lakukan, semuanya jalan dan tanpa beban. Jangan tanya bagaimana mereka bertahan, sebab funding dan proses penyerahan proposal meminta bantuan, tak pernah terpikirkan.

Yah, mereka adalah orang-orang biasa dengan aksi yang luar biasa..Ordinary people performed extraordinary acts..

Wednesday, October 05, 2005

harapan ramadhan

menjalankan puasa berarti tak makan dan tak minum, mungkin sampai taraf itu aku memaknai ramadhan. praktis belum ada lompatan-lompatan berarti dalam menjalankan ibadah ini. meski dalam beberapa kesempatan kutahu, "Ramadahan adalah bulan di mana orang-orang beriman selalu menantikan kedatangannya. Ibarat seorang kekasih, selalu diharap-harap kehadirannya karena rindu. Rasanya tak ingin berpisah walau sedetik. Begitulah Ramadhan, sebagaimana digambarkan sebuah hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah, Nabi SAW bersabda " Seandainya tiap hamba mengetahui apa yang terkandung dalam Ramadhan, maka ia bakal berharap satu tahun itu ia puasa terus".

how about me? ah, rasanya aku belum sampai pada tahap itu. meski begitu, ramadhan tetaplah punya makna dan arti tersendiri, paling tidak bagi masing-masing kita. meski bukan yang pertama kali, ramadhan di kampung orang tetaplah pengalaman yang tidak begitu mudah.
entah mengapa tiba-tiba aku menjadi melankolis (ini istilah teman sekos yang mengejekku). aku tiba-tiba ingat sosok ayahku, betapa aku sering mengingat dan mengenangnya dengan cara yang tidak pantas. bagaimana aku mengingatnya, namun jarang menyertakan pesan dan amanahnya. ah, terlalu panjang daftar yang bisa dibuat.

tapi yang jelas, semoga ramadhan kali ini memberikan magfirah dan berkahnya menyertai hidup kita. paling tidak, aku bisa mengenangnya dengan cara yang lebih pantas, dengan terus mengingat pesan dan menjalankan amanahnya. amiiin.

Saturday, October 01, 2005

Naik

Tidak tepat pukul 00.00 wib, pemerintah akhirnya mengeluarkan kebijakan untuk menaikkan harga bbm. tak seperti dugaan banyak orang, harga yang dimunculkan kemudian adalah harga yang tidak bisa dipercaya. kenaikan harga yang lebih dari 100%, sebuah kebijakan yang entah berpihak kepada siapa. tapi, who care?

pagi hari, kebetulan libur dan saat yang tepat untuk mencari infromasi di tengah keterbatasan waktu karena kursus dan perjalanan yang sangat menyita waktu. tujuan hari ini, aminef, pusat infomrasi pendidikan amerika serikat. sebelum naik angkot, saya bertanya dalam hati, berapakah kira-kira ongkos yang harus dibayar hari ini? satu yang pasti, jangan harap sama dengan bayaran kemarin.

seorang penumpang turun. dari parasnya ia bertekstur batak dan keras, pasti. ia membayar ongkos seribu rupiah, sama dengan jumlah ongkos untuk hari sebelumnya. sontak sang sopir meminta tambahan ongkos dengan alasan bbm naik. kaget saya mendengar jawaban penumpang itu, "tak ada urusan dengan bbm, pokoknya saya bayar sesuai denga tarif resmi, emang sudah ada tarif resmi?'", tanyanya sambil langsung berpaling dan berjalan seolah tidak ada salah dari ucapannya.

hari memang masih pagi, tapi siapakah gerangan yang bermimpi keluar rumah untuk merugi seperti sopir itu?

Thursday, September 22, 2005

paseban, sebuah permulaan

tiba juga pada akhir pencarian. kamar kos yang menjadi target pertama sudah didapat. sederhana namun penuh cerita, setidaknya itu menurut pandangan pertama. berada dijalan paseban timur, dimana untuk mencapainya, perlu melewati beberapa gang dan bejibun kos-kosan dengan berbagai modelnya dan harganya. makin kepinggir jalan, makin mahal juga biayanya. karena target saya adalah kamar yang murah dan nyaman, makanya resiko masuk keluar gang itu harus dilewati.

dari luar rumah itu tak tampak seperti kos. namun jika masuk lebih kedalam, bayangan itu dengan sendirinya sirna dengan petak dua yang terbagi lagi dalam beberapa kamar. jumlah totalnya 10 kamar. namun yang terisi hanya 7 kamar, termasuk saya penghuni baru. menurut ketuanya sih, mereka selektif dalam menerima penghuni baru. entah benar atau tidak, tapi kelihatannya itu khas gaya penghuni lama ketika kedatangan anggota baru.

unik, begitu gambaran sederhana tentang penghuni kos, sekali lagi, setidaknya menurut pandangan awal. baiklah, kita mulai dari mas Herman. dosen keperawatan yang sedang mengambil master di FK-UI. ia dianggap sebagai kepala kos, mungkin karena ia yang paling tua. mengidolakan aa gym, langganan koran tempo, lebih suka berdiam di kamar.

selanjutnya, Teguh. ia yang kelihatan agak aneh. pergi pagi, pulang malam, praktis tidak ada kesempatan untuk berbincang dengan penghuni lainnya. anak kost menyebutnya homo, tapi saya belum bisa membuktikannya. paling tidak, sampai saat ini saya percaya saja. ia satu-satunya penghuni yang paling dibenci di kos. selain mungkin karena homo, ia juga terkesan sombong dan tidak pernah berpartisipasi dalam acara ngopi bareng di sore hari. aktivitasnya adalah penata rias di sebuah production house. kabarnya sih, ia perias beberapa artis yang "hampir" terkenal.

Ade, seorang calon dokter yang sebentar lagi akan diwisuda. hobi nonton bokep dan punya sekotak besar dvd bokep dari segala aliran. mulai dari asia sampai afrika dan india. kalau amerika dan eropa, jumlahnya lebih banyak lagi. menjelang wisuda, kesibukannya bertambah. ia harus menanti kedatangan keluarganya dari surabaya, dan mempersiapkan akomodasi buat mereka. Imam, teman sekamar Ade, yang tak lain adalah kakanya sendiri. Alumni ITS, pegawai baru di PLN. waktu senggangya habis dipakai untuk melahap komik-komik jepang yang sebenarnya lebih cocok jadi bacaan anaknya. tubuhnya tambun, lebih dari sekedar gemuk. sambil membaca komik, ia hobi juga mengunyah cemilan. Ia tak tahu kalau Ade, adiknya sering nonton bokep.

Mahfud, seorang staf accounting di perusahaan tambang. workoholic, begitu gmabaran ringkas tentangnya. pergi pagi dan kembali saat semua penghuni lagi asik-asiknya istirahat. gajinya besar pasti. sebab hampir semua gadget yang dimilikinya adalah keluaran mutakhir. entah mengapa ia masih tinggal dikos seperti itu, meski ia pasti masih bisa nabung walau negkos di depan gang yang biayanya 1,5jt sebulan.

yang berikutnya, Erwin. ia adalah penghuni dengan suara besar dan memang punya hobi teriak. mungkin ia gambaran ideal dari masyarakat pesisir. hobinya juga nonton bokep. rasanya 7 tahun ia belum kelar kuliah cukup menjelaskan betapa ia sangat mendalami hobinya ini. dikamarnya ada sebuah kotak sepatu berisi cd dan dvd bokep, juga dengan beragam warna dan aliran. kotak itu ditulisinya dengan kotak surga, dengan sangat mencolok. soal kenapa disebut kotak surga, belum sempat kutanyakan. nantilah kapan-kapan...

dua lainnya, belum sempat kukenal. mereka lagi tugas di luar, tepatnya di sampit. tapi akhir bulan ini katanya akan kembali.

yang menarik malah bapak kost, sang pemilik. ia adalah orang cina betawi, yang telah membuka usaha kos sejak tahun 1970-an. ia memiliki beberapa rumah kos, yang semuanya berada dikisaran salemba. Te Awong (aku tak yakin dengan ejaannya), begitu anak-anak sering memanggilnya.meski ia hindu, tapi ia rajin sekali mengumbar kata-kata seperti insyaallah, alhamdulillah, masyaallah. bahkan sering menyapa dengan assalamu alaikum. potret ideal dari jamaah yang dicita-citakan jamaah islam liberal (JIL).

sebagai sebuah permulaan, paseban, disini aku berpijak.

Monday, September 12, 2005

cerita lain dari mahasiswa

Liputan6 SCTV, sejumlah mahasiswa Unhas menyandera dekan mereka. tuntutannya agar dekan membatalkan SK mengenai skorsing terhadap pengurus lembaga kemahasiswaan yang tetap "nekad" melaksanakan prosesi penyambutan mahasiswa baru. Gambar menunjukkan bagaimana mereka dengan semangat sebagai "anak muda" tulen mencoba menyandera dekan.
masih dalam liputan6, berita selanjutnya mengisahkan bagaimana mahasiswa di makassar memiliki "kelebihan" dalam hal tawuran dan tindak kekerasan.

Gambar kemudian menyajikan mahasiswa fpok UNM mengamuk (ini dalam artian sesungguhnya) dan kemudian menghancurkan fasilitas kampus karena tidak setuju dengan kebijakan rektorat yang membatasi mereka untuk melaksanakan pkl. berita ini lebih bersifat analitis, sebab frame kedua menyajikan mahasiswa unhas yang minggu lalu tawuran selama dua hari. tawuran yang melibatkan dua fakultas yang memang memiliki sejarah dalam dunia pertawuran di unhas. apa penyebab tawuran? maaf, pikiran untuk menjadi pahlawan, atau paling tidak menjadi kebanggaan untuk menjadi pioneer dalam mempertahankan "kehormatan" sempit fakultas.

dalam analisisnya, berita itu menyebutkan bahwa entah apa yang terjadi dengan mahasiswa saat ini. kebrutalan dan kebringasan seperti menjadi pilihan dalam menyampaikan argumen. sementara di sisi lain, harapan dan cita-cita untuk mewujudkan masyarakat madani, sejahtera dan damai selalu mereka tuntut dan kumandangkan. paling tidak, begitulah yang terbaca dalam rekomendasi dan butir-butir tuntutan mereka ketika berdemonstrasi.

yang paling menyakitkan sebenarnya adalah berita selanjutnya tentang demonstrasi mahasiswa UI menuntut agar uang pangkal (admission fee) yang dibebankan kepada mahasiswa baru tidak terlalu tinggi dan mengharapkan UI agar tetap memberikan kesempatan yang sama kepada mereka yang memiliki kemampuan finansial yang pas-pasan. gambar yang disajikan kemudian memperlihatkan bagaimana mereka berdemonstrasi dengan tertib dan teratur. lengkap dengan jas almamater mereka yang menggambarkan kebanggaan. tak ada teriakan dan caci maki yang lebih cocok disebut menghujat. tidak ada pula "prosesi" bakar-membakar sebagaimana ritual resmi mahasiswa di makassar.

sebuah kontras yang sangat. memang, disini pasti punya dalih yang tidak sedikit. misalnya kenapa selalu mereka yang jadi pembanding, lagi pula mahasiswa di makassar tak kurang kepeduliannya buat mereka yang tidak berpunya. kurang? kita disini juga kan lain karakter dan permasalahannya, kenapa perbandingan timpang ini harus ada? masih kurang juga? kami tunggu anda di BTN...

lalu, akan halnya dengan kebringasan dan kebrutalan itu, apa sudah mendarah daging? ah, kalau yang ini rasanya berlebihan. masih banyak dari mereka yang imut dan lebih suka piss. atau paling tidak, masih lebih banyak lagi yang tidak bereaksi apa-apa. soal kekerasan dan tawuran, dianggap saja sebagai ritual dan akan lewat begitu saja.

masalahnya kemudian, mengapa harus dengan cara seperti itu? bukankah mahasiswa seharusnya menjadi garda terdepan (istilah apa lagi ini...) untuk menyuburkan kedamaian. soal menentang dan keras, itu memang ciri anak muda. bukan berarti pula ketidakadilan diselesaikan dengan berdiam diri. namun, tawuran demi sebuah harga yang tak jelas, ketidakadilan apa pula yang diperjuangkan?

bukan sok bijak dan tidak mengerti kondisi. tapi jika ini terus berlangsung, bagaimana mahassiswa mampu mengemban harapan dan cita-cita yang dititipkan kepada mereka?
memang, bukan melulu mahasiswa yang salah disini. lingkungan dan kondisi serta entitas yang ada di perguruan tinggi tak bersinergi sehingga menciptakan situasi serba tidak jelas, kalau tidak ingin dikatakan buruk. tapi paling tidak, mencoba untuk berkaca dan kemudian lebih dalam menyelami tanggung jawab adalah upaya paling minimum mewujudkan mimpi-mimpi itu. setelah itu, tersedia banyak alternatif untuk melanjutkannya. senyampang memang sederhana dan tidak rumit, tapi apakah laku akan berkata demikian?

meminjam tag iklan kompas, menjadi bijak, memang tidak perlu menunggu tua...

Wednesday, August 17, 2005

merdeka

Image hosted by Photobucket.com

"Kita harus mengisi kemerdekaan ini dengan...", begitu ceramah dan sambutan yang sering mengiringi setiap upacara kemerdekaan RI. Kemerdekaan seperti kamar kosong yang kita diminta untuk mengisi dan menatanya. pokoknya terserah...

lihatlah kemudian bagaimana dengan seenaknya Indonesia ditata. atas nama pembangunan dan pertumbuhan ekonomi, banyak tanah dan daerah yang disulap menjadi mall dan pertokoan, tanpa pernah memikirkan bagaimana kehidupan mereka selanjutnya setelah tanah dan hak mereka dicabut. tengok pula bagaimana anak-anak jalanan dan kaum miskin harus bersusah
-susah hanya untuks ekedar mendapatkan pendidikan yang layak. jangan tanya bagaimana mereka seharusnya hidup dengan pola dan ajuran dokter, empat sehat lima sempurna. sebab untuk mendapatkan pelayanan minimal di rumah sakit pemerintah, mereka harus menggadaikan gerobak, moda mereka untuk mengais rejeki.

urusan gadai-menggadai sebenarnya bukan monopoli orang-orang miskin saja. orang-orang kaya dan berpendidikan sejak lama telah menempuh pilihan ini. atas nama globalisasi dan peningkatan pendapatan, negara dan isinya ikut-ikutan digadaikan. maka sebagian besar bumn hari ini, tak lagi menjadi milik bangsa ini. mungkin terkesan di dramatisir, tapi citra yang muncul seolah bangsa ini tak mampu mengelola aset yang dimilikinya.

Image hosted by Photobucket.com

lalu apa arti merdeka? rasanya, tak ada sesuatu yang lebih berharga dari merdeka, kita semua tahu itu. tapi kenyataannya, merdeka hanya menjadi lawan kata dari penjajahan dan imperialisme. dua kata ini tentu saja dengan artinya yang harfiah, memanggul senjata dan diserang oleh musuh.

bagaimana hari ini? 60 tahun usia bangsa ini, rasanya kita masih jauh dari merdeka. masih banyak dari anak-anak yang belum merdeka untuk mencapai cita-cita, belum merdeka untuk mendapatkan hak dan fasilitas yang sebenarnya adalah tanggungjawab negara untuk menyiapkannya.

Namun, seperti halnya teori Arnold Toynbee tentang "challenge and response" bahwa sebuah bangsa akan direvitalisasi (invigorated) oleh berbagai tantangan dan kesulitan yang akan membuat bangsa tersebut bangkit dan berjaya, kita perlu optimistis bahwa bangsa kita pun sedang mencari jalan keluar dari berbagai kemelut yang sedang dialami bangsa ini. Toynbee juga mengatakan bahwa di tengah kemelut, akan tumbuh sebuah kekuatan moral yang akan membuat sebuah bangsa dapat bangkit dari keterpurukan.

merdeka, tak sekedar lawan dari penjajahan..

Saturday, July 23, 2005

ospek? siapa yang tidak mendukung ospek?
kemariko cilaka, plaak!
(--anonymous--)
6:50 PM

Baiklah, maaf jika catatan itu sedikit mengusikmu. Tapi izinkan aku melanjutkannya, sebab
kau tahu, itu masih jauh dari cukup.

Sekarang, mari kita lihat bagaimana metode sosialisasi (atau paling tidak dianggap
sosialisasi). Baligo, wuih, hampir semua memakai metode yang satu ini. Pembuatannya pun
seperti kompetisi, meski sebenarnya tak jelas betul apa manfaat yang diperoleh. Asumsi
ketika kita membuat baligo, berarti ada yang ingin disosialisasikan, paling tidak, semisal
pelaksanaan seminar. Manfaatnya tentu agar khalayak mengetahui adanya hajatan itu dan
tertarik untuk mengikutinya.

Lalu bagaimana dengan baligo penyambutan? Disinilah yang tadi kukatakan tidak jelas betul
faedahnya. Mengharapkan agar mahasiswa baru berbondong-bondong mendaftarakan diri? Tunggu dulu, bukankah tanpa itu rasanya senior sudah sangat "berhasil". Ketika pendaftaran ulang dimulai, mereka ramai-ramai mendirikan posko-posko, lengkap dengan berbagai atribut dan ancamannya. "Mahasiswa baru fakultas @#d%@%$ agar melaporkan diri disini, kalau
tidak....@%#$$". Jadi, hampir tak ada implikasi positif dari keberadaan baligo itu dengan
tingkat kehadiran dan keiukutsertaan mahasiswa baru.

Akan halnya dengan estetika, yang membuat mereka seperti berkompetisi membuat baligo yang unik dan lain daripada yang lain? Untuk yang satu ini, perlu kiranya pandangan lain terhadap estetika. Bayangkanlah kerancuan selamat datang dengan tatapan seram dari wajah hitam dan tengkorak serta tulang belulang... rasanya sama dengan menghadiri taksiyah dan melayat kematian dengan senyum sumringah...

Metode lainnya, spanduk. Sama dengan baligo, praktis tidak ada rasionalisasi selain untuk
pengakuan akan terlaksananya hajatan primitif. Spanduk dan baligo juga selalu menciptakan
cerita tersendiri. Mulai dari proses pembuatan sampai dengan proses pemasangannya, yang
lebih sering menyisakan dendam ketimbang keakraban. Sudah tidak aneh jika kita mendengar
adanya keributan dari akibat spanduk dan proses yang mengikutinya.

Saturday, July 16, 2005

marketing

ada yang menarik jika kita perhatikan dengan seksama iklan-iklan penerimaaan mahasiswa baru di beberapa perguruan tinggi swasta di makassar. iklan-iklan ini baik melalui media pamflet, brosur atau baligo (termasuk yang below the line dan above the line) menawarkan sebuah konsep (mesti bukan baru) atau jaminan free ospek atau bebas perpeloncoan.

lalu apanya yang menarik? pertama, bahwa bebas perpeloncoan atau penyambutan mahasiswa baru tanpa perpeloncoan (untuk tidak menyebutnya kekerasan dan pelanggaran HAM) sudah menjadi "idaman" calon mahasiswa dan orang tuanya. paling tidak, bahwa mereka telah meyakini (?) bahwa tidak ada sisi positif yang diperoleh dari pelaksanaan penyambutan mahasiswa baru selama ini. tentu, argumen ini akan menjadi bulan-bulanan mereka yang sangat setia memupuk insting primitif mereka.

kedua, adanya kesadaran (meski masih sumir dan malu-malu) dari penyelenggara perguruan tinggi bahwa kualitas dan pelayanan yang diberikan oleh mereka adalah segalanya. terlepas dari idealisasi pendidikan dan kaitannya dengan proses kapitalisasi yang mengiringinya, kenyataan ini makin menunjukkan kebenarannya. tengoklah jumlah pendaftar di beberapa perguruan tinggi negeri, yang beberapa tahun belakangan ini mengalami penurunan drastis. salah satu penyebabnya adalah bahwa calon mahasiswa tak lagi, meski tidak sepenuhnya, melihat negeri tidaknya sebuah pt. apalagi biaya pendidikan di pt negeri dan swasta relatif tidak jauh mencolok. di makassar, mungkin asumsi ini belum sepenuhnya dapat diterima, apalagi pandangan negeri better than swasta masih saja menjadi variabel dalam proses pengambilan keputusan.

namun yang patut dicermati sebenarnya adalah bahwa "jualan" kursi kuliah dengan iming-iming bebas ospek dan perpeloncoan seperti menohok mereka yang masih sering mengumandangkan romantisme, kekompakan, etc dari penyambutan mahasiswa baru. kemasan dan namanya boleh beda, tapi satu yang pasti, kekerasan tetaps aja mendapatkan tempatnya dengan sangat layak.

Tuesday, July 12, 2005

berhemat (?)

imbauan pemerintah untuk berhemat dalam penggunaan energi rasanya telat datangnya. memang sudah dikuatkan bahwa ajakan ini buta mereka yang merasa di barisan menengah ke atas. tapi tetap saja implikasinya terhadap golongan bawah bukannya tidak ada.

meski positif, tapi kelihatannya jalan ini tak cukup. apalagi untuk menekan konsumsi yang
sudah gila-gilaan di negeri ini. kok bisa? tingkat penjualan kendaraan bermotor, khususnya
mobil makin meningkat. bagaimana dengan motor? kalau yang satu ini telah lama ia menunjukkan grafik yang tersu menanjak. namun peningkatan ini meski berbanding lurus dengan konsumsi bahan bakar, tetap saja lebih kecil dibanding peningkatan pembelian mobil dengan penggunaan bahan bakar.

apalagi, mobil-mobil mewah tak hanya mengisi jalan-jalan jakarta, tapi juga di makassar dan
kota-kota besar lainnya di indonesia. kadang aku berfikir, darimana mereka mendapatkan uang
membeli mobil yang dimajalah otomotif bekas kulihat harganya mendekati sembilan digit itu?
sekarang bukan barang aneh jika di makassar anda berpapasan dengan mobil jaguar, toyota
landcruiser terbaru.

masih segar dalam ingatan ketika beberapa waktu lalu perkumpulan orang-orang berduit lebih
unjuk gigi dengan tongkrongan mereka yang harganya, alamaaak. di sini mereka bereuni seolah
kawan dan karib yang sangat dekat, yang dipersatukan atas kesamaan hobi, untuk tidak
mengatakan kesamaan apa.....gitchu (kok jadi sinis gini...). dentuman suara knalpot motor
mereka memecah jalan, tentu saja dengan kawalan polisi dan sirenenya. dengan tangkringan
seharga puluhan hingga ratusan juta rupiah, rasanya banyak yang bisa dihemat.

sekilas, ini seperti komunis saja. tak ada yang boleh kaya dan berpenampilan lebih. tapi
bukan itu esensinya, kepekaan dan emphaty sepertinya sudah lama berlari jauh. di tengah
antrian masyarakat mendapatkan sejergen bbm, di sudut kota diselenggarakan pameran mobil
dengan harga selangit dan tentu saja boros bahan bakar. belum lagi tingkah para elit yang tak kunjung memberikan kenyamanan, sebab keteladanan rasanya terlalu mengawang..

jadi, tak cukup dengan imbauan. apalagi sekedar tidak memakai jas, dan menyetel pendingin ruangan. berhemat? sudah lama rakyat kecil melakukannya, bahkan lebih dari itu, berkekurangan.

Friday, July 08, 2005

maaf

Pada akhirnya juga adalah maaf, atas keinginan terdalam: memaksamu memahami keresahanku. Maafkan...

Nobody knows the troubles I see,
Nobody knows my sorrow...

Sunday, June 12, 2005

Analisis Seorang Kawan

seorang kawan punya analisis menarik, paling tidak bagi saya pribadi. menurutnya, ada empat golongan yang paling berkuasa di jalan, sekali lagi, di jalan, khususnya di makassar. tentu saja analisis ini merupakan hasil pengamatannya, atau mungkin karena punya tendensi pribadi, misalnya pernah menjadi korban dari mereka. tapi ia mengingatkan bahwa subjektifitas dia menjadi dominan karenanya. untuk itu, jika ada kemiripan nama, cerita,
tempat dan waktu maka percayalah, itu hanya kebetulan saja. atau kalau tidak merasa bertingkah seperti yang dikisahkan teman saya, maka anda tak perlu khawatir. jangan pula membawa massa untuk mencari dan menggebuki teman saya itu. sekali lagi percayalah...

golongan pertama, suporter sepakbola (PSM). kawan itu mengatakan bahwa jika sekelompok seporter dengan baju kebesaran (ini juga bisa berarti harfiah, besar, karena baju ukuran dewasa digunakan oleh anak-anak) maka mereka dapat saja melakukan banyak hal. berkendara dengan seenaknya, knalpot yang sengaja dibocor agar mengeluarkan suara yang besar, tidak memakai helm, dsb. ringkasnya, baju suporter merangkap sim, stnk dan previlise (kawan itu lupa memberikan penjelasan mengenai maksud dari kata ini).

golongan kedua, pengantar jenazah. menurutnya, tata krama dalam mengantar jenazah telah lama tak dipatuhi. pengantar jenazah, khususnya yang berkendara roda dua sering berlaku seenaknya, seperti mengambil badan jalan yang berlebihan. belum lagi tingkah mereka yang bak jagoan dengan mengayun-ayunkan tongkat, helm dan benda-benda keras (dan tentu saja panjang) kepada pengendara lain yang berlawanan arah. kebut-kebutan dan seolah ingin semuanya menjadi komando. tengok pula tindakan mereka yang sering memanfaatkan ruang atas
kendaraan sementara di dalam mobil sendiri masih cukup ruang untuk mereka duduk, tentu saja sambil memikirkan makna kematian tanpa harus sedih berlebihan. tindakan ini tentu saja berbahaya bagi mereka dan pengendara lain.

saya sempat protes dengan analisisnya kepada golongan yang kedua ini. bukankah kita yang hidup harus menghargai dan melapangkan kepergian yang wafat? salah satunya dengan memberikan akses yang memadai bagi perjalanannya dan mereka yang mengantar untuk tiba di pekuburan dengan cepat dan selamat. lagian, mengalah sedikit, napa (baca dengan gaya bajuri)? tetap tidak dibenarkan menurutnya. sebab terkadang jalan yang sudah lapang sekalipun masih tetap mereka (terkesan) arogan. ia menjaawab begitu sambil mengancam tidak akan meneruskan golongan ketiga dan keempat jika aku masih banyak tanya. baiklah, kalau begitu lanjutkan saja, kawan.

sekarang golongan ketiga. mereka adalah mahasiswa. saya sebenarnya mau bertanya lagi, tapi biarlah ia melanjutkan dulu. kawan itu bercerita tentang heroisme mahasiswa yang kadang berlebihan dan tidak dapat dibenarkan dari sisi manapun (terkesan berlebihan dan ekstrim, tapi sekali lagi, kita beri kesempatan ia melanjutkan analisisnya). mahasiswa katanya membawa aspirasi rakyat, tapi kenyataannya malah menyusahkan rakyat. menutup jalan seenaknya, menahan kendaraan untuk mereka tumpangi, melakukan razia hingga tawuran sesama mereka. jika dulu aksi mahasiswa adalah berkah dan harapan bagi kebanyakan rakyat, maka saat ini adalah sebuah kesialan dan ancaman bagi mereka. ia sempat menyinggung pula sikap mahasiswa yang katanya bermuka dua. mereka mengecam pelaku pelanggar ham sementara mereka menginjak-nginjak mahasiswa baru yang tidak bersalah, memeras mereka dan berlaku layaknya diktator. segera kuingatkan agar tidak keluar kontes. bukankah yang kita bahas ini adalah penguasa jalan? oke, penjelasannya tentang tingkah mahasiswa yang sering "memaafkan diri sendiri" untuk melanggar lalu lintas kuakui bagian dari pembahasan mengenai penguasa jalan. tapi tentang mahasiswa baru? sori, waktu tinggal sedikit.

ia pun melanjutkan celotehnya. coba bayangkan katanya, berapa banyak rezeki orang yang raib karena tingkah mahasiswa ini. belum lagi, tidak pernah ada penyesalan dan itikad baik untuk mengubah cara mereka. parahnya, setelah pagi hingga siang hari memacetkan jalan, sore harinya mereka memaksa pengguna jalan untuk membeli stiker mereka yang kualitasnya pas-pasan dengan harga selangit. tidak tahu malu!!! (ia mengucapkan ini sambil berdiri dan dengan suara yang meninggi). kuminta ia duduk dan tenang.

setelah beberapa saat terdiam, ia pun melanjutkan analisisnya. sebenarnya aku tak lagi bersemangat. bukan karena ia dan suara tingginya, tapi perut ini lapar dan pagi tadi tak sepotong makanan pun yang kucerna, selain kopi racikan mace-macce di ujung koridor yang terasa hambar karena kebanyakan air dan gula. saat ini sudah pukul 15.00, dan memperlambat makan saat seperti ini adalah sebuah tindakan yang berbahaya, paling tidak itu yang kupercaya. tadi sempat kubaca rubrik kesehatan di sebuah tabloid tentang bahaya dari seringnya kita menunda makan. tanpa tahu, atau tepatnya pura-pura tidak tahu, ia masih saja melanjutkan analisisnya. mungkin ia merasa tanggung, tinggal satu golongan lagi. baiklah...

yang keempat, (wuih, gayanya makin membuatku lapar) wartawan. ("bicara kotor" apalagi nih yang akan keluar dari mulutnya). sekilas tak ada yang salah dari wartawan. bahkan dunia mengakuinya sebagai pilar keempat dari demokrasi. tapi betulkah? coba perhatikan..berapa banyak wartawan yang punya sim? berapa banyak wartawan taat membayar pajak kendaraan bermotor mereka. berapa banyak pula wartawan yang mengaku dan berikrar tidak menerima amplop tapi membuat macam-macam dan menjadi provokator untuk terciptanya sebuah berita.
untuk wartawan tv, asal tahu saja, satu berita mereka dihargai minimal 250 ribu. jika mereka berhasil menyetor tiga berita dalam sehari, hitung sendiri berapa yang mereka dapat dari tindakannya yang sok suci itu dalam sebulan. ingin kutanya darimana ia dapat data penghasilan wartawan itu, tapi mengajaknya berdebat akan lebih banyak menyita waktu daripada memberinya kesempatan untuk menyelesaikan semua ini.

pasti kau akan mengingatkanku untuk tidak keluar konteks lagi, kan? tanyanya kepadaku. kujawab saja tidak, daripada ia tambah lagi penjelasannya. lagian aku tak tega untuk memotong semangatnya, meski kebaikanku itu harus dibayar mahal dengan makin kembungnya perut ini rasanya.

di jalan, tadi sudah kuminta kau untuk mencari tahu berapa wartawan yang punya sim. tapi mereka memang lebih pede dengan kartu pres yang menjadi senjata andalan dalam bernegosiasi dengan polantas. sejak kapan mereka punya keistimewaan itu? menjijikkan!!!

kali ini aku sudah tidak tahan lagi. ia makin ngawur saja dan sepertinya tidak ada kata akhir dari analisisnya ini. segera kuambil hp dan menyetel ringtone. sejurus kemudian aku berpura-pura menjawabnya, seolah ada lawan bicara di seberang sana. "oh ya, dimana? sekarang? tungguma pale". segera kuminta pamit tanpa perduli apa ia menahanku atau tidak. sambil bergegas aku berfikir. jika ia tahu aku pura-pura, tentu saja ia akan memasukkanku ke dalam golongan-golongan yang dibencinya, meski dengan jenis yang lain dari penguasa jalan...

Friday, June 10, 2005

orang tambun ngomong kemiskinan

beberapa waktu lalu dalam sebuah bedah buku bertajuk "revolution of microfinance" terjadi sebuah paradoks yang luar biasa. setelah seluruh pembedah memaparkan materinya, diadakanlah sesi diskusi.

seorang dosen meminta waktu untuk menguraikan pendapatnya. sekilas tak ada keanehan, ini jika melihat respon peserta diskusi yang lain. tapi bagiku, itu keanehan, respon peserta lain adalah keanehan pula bagiku.

begini ceritanya. dalam memulai argumennya ia memaparkan aktivitasnya sebagai konsultan dari ADB (asian development bank) dan Worldbank dalam proyek pengentasan kemiskinan. ia memaparkan bagaimana ia melaksanakan proyek itu, (parahnya lagi) ditambah dengan jumlah honor yang diterimanya. rentang waktu pelaksanaan poryek itu lumayan lama. sejak tahun 1990-an. berarti jika dihitung, proyek yang ditanganinya telah berjalan sekitar sepuluh tahunan.

yang aneh bagi saya adalah bahwa kemiskinan dipotretnya dari sisi data kuantitatif semata. miskin berarti tidak memiliki penghasilan tetap, lantainya tidak bersemen, dan tidak makan nasi. keanehan lain, ia seperti berbangga dengan profesinya sebagai konsultan untuk masalah kemiskinan tanpa merinci apa yang telah ia lakukan.

kondisi ini sebenarnya jamak dalam lingkungan akademik, terkhusus yang ada kaitannya dengan penelitian yang dilakukan para akademisi. proyek ini kemudian melahirkan mental-mental proyektor, dimana orientasi penyelesaian program menjadi utama tanpa memperhatikan proses dan bagaimana hasilnya diimplementasikan.

perdebatan soal ini sebenarnya pula telah lama berlangsung. namun saya tidak tertarik membahas itu. yang saya pikirkan, kenapa kemudian kemiskinan seolah menjadi komoditas yang sangat marketable. semua orang seperti berlomba untuk memanfaatkan momen miskinnya orang lain untuk memperkaya diri.

tak ada upaya yang serius, ini jika indikator kemiskinan BPS yang kita jadikan rujukan, untuk membantu mereka. bukankah kemiskinan sebenarnya lebih pada keterbatasan akses yang mereka miliki? nah, akses inilah yang seharusnya dibuka dan diupayakan untuk diperbanyak. jika model penyelesaian kemiskinan seperti tadi yang tetap ditempuh, rasanya akan makin banyak orang yang berdagang kemiskinan, entah dengan mengobral atau menjuualnya dengan eceran ataupun partai...